Di pagi buta jam 4 pagi, saya harus bangun meski dinginnya pagi terasa menusuk ke tulang. Mandi dengan air hangat yang telah disiapkan oleh ibu. Pagi gerimis, mobil butut dipacu dengan perlahan.
Dalam perjalanan menuju negara saya perhatikan kendaraan besar seperti truk dan bus yang penuh muatan beriringan sepanjang jalan dari arah berlawanan yang rata-rata berplat nomor seberang, yang artinya barang bawaan berasal dari pulau seberang. Dalam hati saya berpikir bahwa penduduk Bali memang sudah sangat tergantung pada pulau jawa. Seandainya saja terjadi gangguan pada transportasi dari jawa ke bali, bagaimanakah nasib penduduk Bali? Ah tidak mungkin separah itu, demikian pikir saya. Apakah semua barang-barang yang diangkut truk truk besar itu semua kebutuhan pokok penduduk Bali? Tentu tidak.
Begitu memasuki kabupaten Jembrana, rasa heran saya semakin bertambah, betapa banyaknya bangunan tempat ibadah agama islam baik yang baru dibangun maupun sedang pemugaran. Berapa sih penduduk agama islam di kabupaten Jembrana sehingga begitu banyaknya butuh tempat ibadah yang harus di bangun ? Rumah penduduk sepanjang perjalanan saya perhatikan, jika dihalaman rumahnya tidak ada bangunan pura keluarga/ pelinggih, pastilah rumah tersebut di huni oleh orang non-hindu, demikian dalam hati saya. Ah mengapa pusing amat.
Saya tidak begitu paham peta Jembrana. Lewat kebarat sedikit dari kota Jembrana, melaya. Belok kiri, jalan sudah jauh dari kata mulus seperti umumnya jalan jalan di kampung di bali saat ini. Kiri kanan terlihat gersang sepertinya sudah lama tidak pernah turun hujan. Jalanan berdebu, sangat mengganggu pernapasan jika berkendaraan tanpa AC seperti halnya saya. Penduduk sekitar adalah warga muslim, terlihat dari bentuk bangunan rumahnya. Sekitar 10 menit dari jalan utama tersebut sampailah dilokasi Pura Dalem. Ternyata setengah dari lokasi parkir sudah terisi kendaraan rata-rata roda empat. Tempat parkir yang masih sedang diratakan memang cukup luas sekitar 2 hektar. Tenda memanjang terpasang seperti orang punya hajatan.
Saya mengikuti adik, istrinya dan kedua anaknya menuju tenda dan menggelar tikar. Barang bawaan ditaruh disana. Mirip orang sedang kemah rasanya, cumin berpakaian sembahyang. Barangkali ini namanya wisata religius atau kemah religius. Orang mau sembahyang pada bawa makanan bak orang kemping. Ada yang sibuk diwarung membeli nasi bungkus, ada yang sibuk mempersiapkan peralatan sembahyangnya. Saya perhatikan masing-masing keluarga megretgotan membawa beberapa botol air kemasan 1,5l yang masing-masing botol berisi nama. Jika yang datang sembahyang berlima, maka botol yang dibawa juga 5.
Saya menuju ke halaman Pura, paling tidak untuk mengobat rasa penasaran, dan hendak ke mandala utama. Namun ternyata dipintu masuk mandala utama dijaga oleh beberapa pecalang/ sekuriti yang tidak mengijinkan masuk. Kemudian saya turun dan duduk di bawah tenda. Tak berapa lama dating yang memimpin upacara persembahyangan. Bliau mulai memberikan ceramah yang terkesan ngalor ngidul tanpa mempersiapkan topic apa yang mau disampaikan. Sesekali diselingi guyonan dan pemedek pada tertawa dibuatnya. Tidak seperti urut-urutan persembahyangan Hindu pada umumnya, persembahyangan dilakukan sendiri-sendiri tidak mengikuti ketentuan parisada yaitu panca sembah. Demikian juga nunas tirta tidak dilakukan oleh pinandita. Tirta ada dua jenis yaitu tirta penglukatan dan Tirta Tamba.
Hari sudah siang, para pemedek pada menikmati makan siang yang mereka bawa. Sementara secara bergantian, pemedek yang sudah menjadi member melakukan stamp dibeberapa tempat. Stampel secara niskala. Sebelum berpamitan masing-masing pemedek menghaturkan paramasanthi. Yang membuat saya heran, tidak seperti di tempat-tempat lain, dari awal saya dating sampai pulang, tidak satupun saya melihat orang berphoto ria. Tidak ada orang yang asyik main hp. Entah kenapa.