Jika ingin melestarikan budaya kita sendiri, maka kita harus menghargainya.Bukan orang lain, karena kita sendiri yang menjiwai budaya itu. Menghargai bukan hanya dinilai dengan materi, namun bisa juga dengan merawat peralatan yang mendukung budaya tersebut ataukah menjaga penampilan dari unsur budaya itu sendiri.
Saya cukup kaget ketika seorang penari Bali mengatakan bahwa dirinya dibayar hanya beberapa puluhribu rupiah untuk membawakan dua tarian bali. Barangkali kalau diukur dari lamanya tampil di panggung yang hanya beberapa menit mungkin iya sepadan.Sebuah tarian paling lama sekitar 5 menit.Namun proses untuktampil 5 menit itu memerlukan waktu berjam-jam. Minimal 4 jam. Sungguh tidak masuk akal dari segi bisnis, pikir saya.
Saya adalah orang tua salah satu penari bali. Sulit saya menjawabnya ketika anak saya menyampaikan keluhannya kepada saya. Kok tega sekali aku dikasi uang cuman beberapa puluh ribu rupiah, aku sudah rela ninggalin mata pelajaran disekolah, kadang aku harus tidak ikut ulangan, demi ikut pentas, kata anak saya. Kamu sudah besar nak, silakan pikirkan dan ambil keputusan sendiri, ambil yang terbaik buat masa kini dan masa depan, kata saya. Selebihnya saya merenung . Ini untuk siapa? Untuk si penari bali? Demi kelestarian kesenian itu sendiri? Demi keuntungan seseorang? Entahlah saya tidak tahu. Mari kita merenung. Jangan sampai ada kesan mengexploitasi orang lain demi keuntungan sendiri.
Dilain pihak saya cukup kagum, sujatinya iri, ketika bertemu dengan beberapa orang penari daerah lain. Mereka biasanya tampil dengan 4 sampai enam orang penari,bukan penari profesional, bahkan sama sekali belum pernah nari/ pentas seblumnya. Berapa kalian dibayar menari seperti itu, tanya saya. Ya cuman 200 ribu per orang kata mereka. Itu sudah diluar ongkos rias dan sewa pakaian. Saya kaget dalam hati sambil membayangkan bagaimana ribetnya penari bali dengan dandanannya dibandingkan dengan seperti ini, yang hanya dikasi uang beberapa puluh ribu saja. Mereka nari bukan dengan lemah gemulai, tapi lemah lembut sekali. Tidak perlu dandanan yang memerlukan waktu berjam-jam, latihanpun hanya beberapa kali saja. Ini benar-benar tidak adil.
Siapa lagi yang menghargai budaya sendiri kalau bukan kita sendiri.
Senin, 19 Desember 2011
Sabtu, 10 Desember 2011
Sulit Dipercaya namun Nyata
Sore itu saya bersama teman-teman akan pentas di sebuah hotel di nongsa. Kami sudah sampai di tempat pentas pada pukul 2 sore. Cukup banyak waktu luang sebelum pentas dimulai. Hujan gerimis sesekali turun. Kami sedikit merasa was-was kalau-kalau terjadi hujan deras karena pentasnya di halaman hotel tanpa tenda.
Ketika jalan-jalan disekitar areal hotel, perhatian saya tertuju pada seorang kakek tua lusuh dengan pakaian yang sedikit kumal duduk santai di kursi butut di sebuah pondok hotel dengan rokok kretek terselip diantara dua jarinya. Dia duduk menghadap ke pantai sekitar 100 meter dari tempat pentas. Di depan si kakek mengepul asap pembakaran dari sebuah kaleng besar, tidak tau persis apa saja yang dibakar. Saya lihat ada arang, beberapa potong kayu, sejenis daun-daunan yang sudah diikat seperti menyerupai bungkusan kue bali.
Saya iseng bertanya pada si kakek. “hari ini cukup cerah ya pak”. Iya, semalem dikasi hujan sampe pagi, kata si kakek itu. Saya hanya manggut-manggut takut keberadaan saya disitu mengganggu aktifitas si kakek tersebut. Ini nanti acaranya sampai pukul berapa, Tanya si kakek. Sepertinya sih sampai sekitar jam 9 malam pak, jawab saya. Ooo saya usahakan nanti sampai jam 9 tidak ujan. Setelah itu boleh turun hujan, kata si kakek. Maunya saya banyak bertanya pada si kakek itu, namun dia mulai sibuk dengan pembicaraannya di hp. Terdengar dari percakapannya bahwa ada seseorang yang memerlukan bantuannya agar tidak terjadi turun hujan.
Karena saya merasa tidak sempat diperhatikan lagi oleh si kakek, saya berlalu sambil mengarahkan kamera saya ke sekitar si kakek. Beberapa jepretan saya ambil tanpa disadari oleh si kakek. Ini pengalaman langka, pikir saya. Sayapun berlalu. Senja hari cukup cerah. Wah hebat juga si kakek itu, pikirku. Perlukah dia sekolah setinggi-tingginya untuk keahliannya tersebut? Bagaimanakah menjelaskan keahlaian si kakek tersebut dengan keilmuan/ logika? Entahlah, yang jelas ini bias terjadi.
Begitu acara selesai sekitar jam 8.30 malam, hujan pun mulai turun mengguyur sekitar hotel. Wah hebat si kakek, pikirku.
Ketika jalan-jalan disekitar areal hotel, perhatian saya tertuju pada seorang kakek tua lusuh dengan pakaian yang sedikit kumal duduk santai di kursi butut di sebuah pondok hotel dengan rokok kretek terselip diantara dua jarinya. Dia duduk menghadap ke pantai sekitar 100 meter dari tempat pentas. Di depan si kakek mengepul asap pembakaran dari sebuah kaleng besar, tidak tau persis apa saja yang dibakar. Saya lihat ada arang, beberapa potong kayu, sejenis daun-daunan yang sudah diikat seperti menyerupai bungkusan kue bali.
Saya iseng bertanya pada si kakek. “hari ini cukup cerah ya pak”. Iya, semalem dikasi hujan sampe pagi, kata si kakek itu. Saya hanya manggut-manggut takut keberadaan saya disitu mengganggu aktifitas si kakek tersebut. Ini nanti acaranya sampai pukul berapa, Tanya si kakek. Sepertinya sih sampai sekitar jam 9 malam pak, jawab saya. Ooo saya usahakan nanti sampai jam 9 tidak ujan. Setelah itu boleh turun hujan, kata si kakek. Maunya saya banyak bertanya pada si kakek itu, namun dia mulai sibuk dengan pembicaraannya di hp. Terdengar dari percakapannya bahwa ada seseorang yang memerlukan bantuannya agar tidak terjadi turun hujan.
Karena saya merasa tidak sempat diperhatikan lagi oleh si kakek, saya berlalu sambil mengarahkan kamera saya ke sekitar si kakek. Beberapa jepretan saya ambil tanpa disadari oleh si kakek. Ini pengalaman langka, pikir saya. Sayapun berlalu. Senja hari cukup cerah. Wah hebat juga si kakek itu, pikirku. Perlukah dia sekolah setinggi-tingginya untuk keahliannya tersebut? Bagaimanakah menjelaskan keahlaian si kakek tersebut dengan keilmuan/ logika? Entahlah, yang jelas ini bias terjadi.
Begitu acara selesai sekitar jam 8.30 malam, hujan pun mulai turun mengguyur sekitar hotel. Wah hebat si kakek, pikirku.
Sabtu, 05 November 2011
Pura Dalem Peed Melaya Bali, Minggu 16 Okt 2011
Di pagi buta jam 4 pagi, saya harus bangun meski dinginnya pagi terasa menusuk ke tulang. Mandi dengan air hangat yang telah disiapkan oleh ibu. Pagi gerimis, mobil butut dipacu dengan perlahan.
Dalam perjalanan menuju negara saya perhatikan kendaraan besar seperti truk dan bus yang penuh muatan beriringan sepanjang jalan dari arah berlawanan yang rata-rata berplat nomor seberang, yang artinya barang bawaan berasal dari pulau seberang. Dalam hati saya berpikir bahwa penduduk Bali memang sudah sangat tergantung pada pulau jawa. Seandainya saja terjadi gangguan pada transportasi dari jawa ke bali, bagaimanakah nasib penduduk Bali? Ah tidak mungkin separah itu, demikian pikir saya. Apakah semua barang-barang yang diangkut truk truk besar itu semua kebutuhan pokok penduduk Bali? Tentu tidak.
Begitu memasuki kabupaten Jembrana, rasa heran saya semakin bertambah, betapa banyaknya bangunan tempat ibadah agama islam baik yang baru dibangun maupun sedang pemugaran. Berapa sih penduduk agama islam di kabupaten Jembrana sehingga begitu banyaknya butuh tempat ibadah yang harus di bangun ? Rumah penduduk sepanjang perjalanan saya perhatikan, jika dihalaman rumahnya tidak ada bangunan pura keluarga/ pelinggih, pastilah rumah tersebut di huni oleh orang non-hindu, demikian dalam hati saya. Ah mengapa pusing amat.
Saya tidak begitu paham peta Jembrana. Lewat kebarat sedikit dari kota Jembrana, melaya. Belok kiri, jalan sudah jauh dari kata mulus seperti umumnya jalan jalan di kampung di bali saat ini. Kiri kanan terlihat gersang sepertinya sudah lama tidak pernah turun hujan. Jalanan berdebu, sangat mengganggu pernapasan jika berkendaraan tanpa AC seperti halnya saya. Penduduk sekitar adalah warga muslim, terlihat dari bentuk bangunan rumahnya. Sekitar 10 menit dari jalan utama tersebut sampailah dilokasi Pura Dalem. Ternyata setengah dari lokasi parkir sudah terisi kendaraan rata-rata roda empat. Tempat parkir yang masih sedang diratakan memang cukup luas sekitar 2 hektar. Tenda memanjang terpasang seperti orang punya hajatan.
Saya mengikuti adik, istrinya dan kedua anaknya menuju tenda dan menggelar tikar. Barang bawaan ditaruh disana. Mirip orang sedang kemah rasanya, cumin berpakaian sembahyang. Barangkali ini namanya wisata religius atau kemah religius. Orang mau sembahyang pada bawa makanan bak orang kemping. Ada yang sibuk diwarung membeli nasi bungkus, ada yang sibuk mempersiapkan peralatan sembahyangnya. Saya perhatikan masing-masing keluarga megretgotan membawa beberapa botol air kemasan 1,5l yang masing-masing botol berisi nama. Jika yang datang sembahyang berlima, maka botol yang dibawa juga 5.
Saya menuju ke halaman Pura, paling tidak untuk mengobat rasa penasaran, dan hendak ke mandala utama. Namun ternyata dipintu masuk mandala utama dijaga oleh beberapa pecalang/ sekuriti yang tidak mengijinkan masuk. Kemudian saya turun dan duduk di bawah tenda. Tak berapa lama dating yang memimpin upacara persembahyangan. Bliau mulai memberikan ceramah yang terkesan ngalor ngidul tanpa mempersiapkan topic apa yang mau disampaikan. Sesekali diselingi guyonan dan pemedek pada tertawa dibuatnya. Tidak seperti urut-urutan persembahyangan Hindu pada umumnya, persembahyangan dilakukan sendiri-sendiri tidak mengikuti ketentuan parisada yaitu panca sembah. Demikian juga nunas tirta tidak dilakukan oleh pinandita. Tirta ada dua jenis yaitu tirta penglukatan dan Tirta Tamba.
Hari sudah siang, para pemedek pada menikmati makan siang yang mereka bawa. Sementara secara bergantian, pemedek yang sudah menjadi member melakukan stamp dibeberapa tempat. Stampel secara niskala. Sebelum berpamitan masing-masing pemedek menghaturkan paramasanthi. Yang membuat saya heran, tidak seperti di tempat-tempat lain, dari awal saya dating sampai pulang, tidak satupun saya melihat orang berphoto ria. Tidak ada orang yang asyik main hp. Entah kenapa.
Dalam perjalanan menuju negara saya perhatikan kendaraan besar seperti truk dan bus yang penuh muatan beriringan sepanjang jalan dari arah berlawanan yang rata-rata berplat nomor seberang, yang artinya barang bawaan berasal dari pulau seberang. Dalam hati saya berpikir bahwa penduduk Bali memang sudah sangat tergantung pada pulau jawa. Seandainya saja terjadi gangguan pada transportasi dari jawa ke bali, bagaimanakah nasib penduduk Bali? Ah tidak mungkin separah itu, demikian pikir saya. Apakah semua barang-barang yang diangkut truk truk besar itu semua kebutuhan pokok penduduk Bali? Tentu tidak.
Begitu memasuki kabupaten Jembrana, rasa heran saya semakin bertambah, betapa banyaknya bangunan tempat ibadah agama islam baik yang baru dibangun maupun sedang pemugaran. Berapa sih penduduk agama islam di kabupaten Jembrana sehingga begitu banyaknya butuh tempat ibadah yang harus di bangun ? Rumah penduduk sepanjang perjalanan saya perhatikan, jika dihalaman rumahnya tidak ada bangunan pura keluarga/ pelinggih, pastilah rumah tersebut di huni oleh orang non-hindu, demikian dalam hati saya. Ah mengapa pusing amat.
Saya tidak begitu paham peta Jembrana. Lewat kebarat sedikit dari kota Jembrana, melaya. Belok kiri, jalan sudah jauh dari kata mulus seperti umumnya jalan jalan di kampung di bali saat ini. Kiri kanan terlihat gersang sepertinya sudah lama tidak pernah turun hujan. Jalanan berdebu, sangat mengganggu pernapasan jika berkendaraan tanpa AC seperti halnya saya. Penduduk sekitar adalah warga muslim, terlihat dari bentuk bangunan rumahnya. Sekitar 10 menit dari jalan utama tersebut sampailah dilokasi Pura Dalem. Ternyata setengah dari lokasi parkir sudah terisi kendaraan rata-rata roda empat. Tempat parkir yang masih sedang diratakan memang cukup luas sekitar 2 hektar. Tenda memanjang terpasang seperti orang punya hajatan.
Saya mengikuti adik, istrinya dan kedua anaknya menuju tenda dan menggelar tikar. Barang bawaan ditaruh disana. Mirip orang sedang kemah rasanya, cumin berpakaian sembahyang. Barangkali ini namanya wisata religius atau kemah religius. Orang mau sembahyang pada bawa makanan bak orang kemping. Ada yang sibuk diwarung membeli nasi bungkus, ada yang sibuk mempersiapkan peralatan sembahyangnya. Saya perhatikan masing-masing keluarga megretgotan membawa beberapa botol air kemasan 1,5l yang masing-masing botol berisi nama. Jika yang datang sembahyang berlima, maka botol yang dibawa juga 5.
Saya menuju ke halaman Pura, paling tidak untuk mengobat rasa penasaran, dan hendak ke mandala utama. Namun ternyata dipintu masuk mandala utama dijaga oleh beberapa pecalang/ sekuriti yang tidak mengijinkan masuk. Kemudian saya turun dan duduk di bawah tenda. Tak berapa lama dating yang memimpin upacara persembahyangan. Bliau mulai memberikan ceramah yang terkesan ngalor ngidul tanpa mempersiapkan topic apa yang mau disampaikan. Sesekali diselingi guyonan dan pemedek pada tertawa dibuatnya. Tidak seperti urut-urutan persembahyangan Hindu pada umumnya, persembahyangan dilakukan sendiri-sendiri tidak mengikuti ketentuan parisada yaitu panca sembah. Demikian juga nunas tirta tidak dilakukan oleh pinandita. Tirta ada dua jenis yaitu tirta penglukatan dan Tirta Tamba.
Hari sudah siang, para pemedek pada menikmati makan siang yang mereka bawa. Sementara secara bergantian, pemedek yang sudah menjadi member melakukan stamp dibeberapa tempat. Stampel secara niskala. Sebelum berpamitan masing-masing pemedek menghaturkan paramasanthi. Yang membuat saya heran, tidak seperti di tempat-tempat lain, dari awal saya dating sampai pulang, tidak satupun saya melihat orang berphoto ria. Tidak ada orang yang asyik main hp. Entah kenapa.
Minggu, 15 Mei 2011
Lembaga Kedukaan Hindu Kota Batam
Beberapa hari yang lalu ada sms dari pengurus Parisada Kota batam yang isinya undangan rapat pembentukan Lembaga Kedukaan Hindu pada hari ini minggu 15 mei 2011 di pura agung amerta bhuana. Aku sebenarnya bertanya-tanya apa yang mendasari rencana pembentukan lembaga kedukaan tersebut. Apakah ada hubungannya dengan ke pemerintahan ataukah hanya karena untuk mengakomodir/menanggulangi permasalahan internal. Jika karena alasan yang pertama, aku sangat setuju paling tidak akan menambah pos-pos untuk bantuan dana dari pemerintahan. Tentu petinggi di lembaga keumatan paham akan hal ini. Jika karena alasan yang kedua, aku sangat tidak setuju karena hanya membuang-buang waktu sebatas wacana. Lebih effective dan effisien jika dihidupkan kembali lewat banjar suka duka. Sekiranyapun sistimnya yang belum ada, ya harus dibuat dulu. Tidak perlu yang muluk-muluk. Jadi skupnya tidak hanya sebatas berduka namun juga manakala umat sedang ada sukanya.
Sampai hari ini aku sudah tiga minggu harus menggunakan tongkat, kaki masih sakit karena jatuh di ‘rumah Tuhan’. Aku merasa sangat sengsara dan berduka. Disaat seperti ini apakah harus menunggu terbentuknya lembaga kedukaan untuk paling tidak turut merasakan kedukaanku. Tak seorangpun ingin berduka, namun musibah terkadang tidak bisa dihindari. Hanya teman-temanku sesame pengurus pasraman yang datang menghiburku. Organisasi ditingkat banjar, atau lembaga keumatan ditingkat kota ? atau provinsi? Mimpi di siang bolong rasanya. Aku kecewa pada diriku sendiri. Ada rasa malu, ada rasa iri dibenakku. Sementara mereka yang berdiam diri di rumah sambil berjapa, aman-aman saja. Mereka tenang-tenang saja tanpa pernah merasa khawatir akan disingkirkan oleh umat atau banjar. Apanya yang salah dengan semua ini. Ini yang perlu dicarikan jawabannya.
Sementara, saat ada seorang ‘umat’ yang ditimpa kedukaan, padahal namanya saja belum pernah ada yang mendengarnya di batam padahal sudah bertahun tahun di batam. Beberapa orang entah mewakili lembaga ataukah pribadi, menunjukkan kalau dirinya menaruh perhatian terhadap ‘umat’ yang berduka tersebut. Ini yang membuat aku tidak habis pikir, sementara diantara yang menunjukan diri simpati tersebut, jika ada kegiatan keumatan sangat susah untuk diajak.
Kembali lagi ke masalah lembaga kedukaan tersebut, jikalah memang karena alasan yang pertama, silakan dilanjut, aku sangat mendukung.
Sampai hari ini aku sudah tiga minggu harus menggunakan tongkat, kaki masih sakit karena jatuh di ‘rumah Tuhan’. Aku merasa sangat sengsara dan berduka. Disaat seperti ini apakah harus menunggu terbentuknya lembaga kedukaan untuk paling tidak turut merasakan kedukaanku. Tak seorangpun ingin berduka, namun musibah terkadang tidak bisa dihindari. Hanya teman-temanku sesame pengurus pasraman yang datang menghiburku. Organisasi ditingkat banjar, atau lembaga keumatan ditingkat kota ? atau provinsi? Mimpi di siang bolong rasanya. Aku kecewa pada diriku sendiri. Ada rasa malu, ada rasa iri dibenakku. Sementara mereka yang berdiam diri di rumah sambil berjapa, aman-aman saja. Mereka tenang-tenang saja tanpa pernah merasa khawatir akan disingkirkan oleh umat atau banjar. Apanya yang salah dengan semua ini. Ini yang perlu dicarikan jawabannya.
Sementara, saat ada seorang ‘umat’ yang ditimpa kedukaan, padahal namanya saja belum pernah ada yang mendengarnya di batam padahal sudah bertahun tahun di batam. Beberapa orang entah mewakili lembaga ataukah pribadi, menunjukkan kalau dirinya menaruh perhatian terhadap ‘umat’ yang berduka tersebut. Ini yang membuat aku tidak habis pikir, sementara diantara yang menunjukan diri simpati tersebut, jika ada kegiatan keumatan sangat susah untuk diajak.
Kembali lagi ke masalah lembaga kedukaan tersebut, jikalah memang karena alasan yang pertama, silakan dilanjut, aku sangat mendukung.
Langganan:
Komentar (Atom)