Dalam tulisan tulisan saya sebelumnya, saya pernah menyinggung apa itu banjar. Yaitu sekelompok masyarakat dalam satu wilayah kecil. Mungkin kalau di kota setingkat RT. Itu sebutan untuk warga Bali. Berlaku juga di rantauan. Saya termasuk banjar batu aji timur. Anggotanya yang terdaftar ada 29KK.
Acara pertemuan bulanan dilaksanakan secara bergilir di rumah anggota banjar. Kebetulan saya kebagian pertama setelah pembaharuan jadwal. Saya pilih di akhir Juli 2022, hari minggu. Biasanya si tuan rumah yang menentukan tanggal pertemuan. Tidak diwajibkan menyediapak konsumsi berupa makan malam. Boleh berupa snack dan air saja. Boleh juga disatukan dengan acara syukuran. Apakah itu ulang tahun, atau yang lainnya.
Saya kebetulan pelihara ayam dan entok. Tinggal beli bumbu dan masak sendiri. Lumayanlah untuk menjamu warga.
Yang hadir sekitar 75% dari warga terdaftar. Yang 25% kenapa tidak ada kofirmasi.
Agenda pertemuan adalah menyampaikan informasi informasi penting oleh ketua banjar (kelian banjar) dari keputusan rapat ditingkat yang lebih tinggi dari banjar.
Informasi pertama tentang Sri Lalita. Yang katanya mentok, diminta dicarikan masukan masukan dari banjar. Katanya sudah dibentuk team 13 yang anggotanya dari perwakilan masing masing banjar. Ini diputuskan saat Rapat Istimewa DPU di gedung sekretariat Parisada. Saya kaget. Seharusnya tidak ada kata mentok. Toh anggota team 13 rata-rata yang paling tahu permasalahan. Begitu kesan saya. Paling banyak komentar di group. Apakah selama ini tidak pernah rapat. Terus apa saja yang dilakukan mereka.
Informasi kedua tentang rapat DPUdi hotel. Ini kok dianggap polemik. Kan yang komentar bisa dilihat siapa saja orangnya. Mengapa hal begini ditanggapi. Betapa jauh mundur kebelakang berpikirnya. Lagi pula kan komentarnya di grup tidak resmi, atau grup yang tidak termasuk dalam mekanisme komunikasi lembaga. Saya pribadi menyebutnya grup suka-suka. Saya plesetkan dari grup suka duka. Karena saya lihat tujuan grup itu bukanlah murni untuk urusan suka duka warganya. Ya pokoknya membuat suasana kisruh. Menurut saya. Bukankah seharusnya bersyukur bisa rapat di hotel. Yang sebenarnya berhubung ada yang mensponsori. Atau apa salahnya rapat di hotel jika memang dibudgetkan. Itu kalau memang yang berkomentar itu mengerti berorganisasi.
Informasi ketiga tentang pembangunan Pura Sathya Dharma yang sudah dimulai. Konon harus ada progres terlebih dahulu agar anggaran dari yang berwenang bisa turun. Semoga saja berjalan lancar. Ini juga sempat ada yang mempermasalahkan bagaimana tehnis menentukan kontraktornya. Saya tidak mengikuti perkembangan itu.
Informasi keempat tentang Pura di Polda. Kebetulan ada satu orang dari tiga warga banjar yang bertugas di kepolisian polda kepri. Yaitu Putu Ariadi. Sedangkan dua lainnya tidak hadir mungkin sedang tugas yaitu Made Juniada dan Made Muliadi. Sebenarnya saya ingin sekali mendengarkan informasi dari Putu Ariadi berkaitan dengan status Pura tersebut. Memang di salah satu grup beberapa kali sempat diposting photo Pura atau tepatnya Padmasana yang telah selesai di bangun di Polda. Informasi terakhir katanya tinggal penghijauan. Mungkin sengaja tidak diinformasikan atau mungkin hanya ke beberapa umat saja yang di beritahu pembangunan padmasana tersebut. Bahkan konon lembaga hindu saja tidak dilibatkan. Yang jadi tanda tanya saya adalah bagaimana status Pura tersebut. Apakah pura exlusive khusus untuk keluarga polisi yang tugas di polda ataukah untuk semua umat Hindu di Kepri. Kedepannya perlu ada ngenteg linggih, piodalan maupun persembahyangan hari suci lainnya. Yang saya khawatirkan, jika suatu saat nanti ada kendala atau masalah justru menyalahkan lembaga atau umat keseluruhan. Misalnya kalimat seperti ini, bagaimana tidak ada masalah, wong lembaga saja cuek ndak mau tau. Mudah mudahan tidak. Photo diambil dari Grup WA.
.jpeg)

.jpeg)
