Om swastyastu,
Cerita lain.
anak remaja 15 tahun asli aceh yg mau memeluk agama hindu.
Namanya ‘putra’ inipun nama pemberian orang kepadanya. Katanya hidup yatim piatu, tempat tinggalnya kost di daerah aceh sana, kerja di usaha bunga, tamat madrasah mts setingkat smp saja. Suatu saat katanya pingin punya nama ala nama orang bali. Katanya pingin jadi pemangku. Ambisi belajar hindu sangat tinggi. Ikuti kisahnya dari rangkuman hasil obrolan saya di awal Agustus 2021, tepatnya tanggal 5 agustus sore, selama 88 menit 19 detik, yg ternyata dia nelpon dengan pulsa, saya kira lewat WA. Wow. Mari simak kisahnya sebagai berikut.
Putra lahir dan besar di lingkungan keluarga muslim. Seperti kita ketahui aceh identik dengan islam, bahkan dulu sering disebut serambi mekah. Putra tumbuh di lingkungan pesantren sudah pasti sangat baik pengetahuan agamanya.
Putra : Itu kalau dilihat dari luar. Putra sering harus makan nasi basi, sementara kawan kawanbisa makan enak. Saya di pesantren kan gratis tidak bayar, harus bayar pakai apa, sedangkan kawan kawan yang dapat makan enak karena mereka bayar.
Penulis : lho kok bisa. (Tentu saya tidak akan menulis disini apa pandangan dia selama hidup di pesantren). Nah mengapa putra tertarik hindu ?
Putra melanjutkan kisahnya. Beruntung sekali bisa bicara lewat telpon dengan bapak, kalau chat di WA harus di enter per kalimat agar lebih enak dibaca, kata dia. Setelah keluar dari pesantren dan tamat dengan ijazah MTs (mungkin setingkat SMP, saya kurang paham) bathin putra mulai berkelana mencari tahu agama lain yang cocok dihatinya. Agama yang paling masuk akal yang mau dia cari. Menurut versi dia tentunya. Dia mengatakan agamanya hanya ajaran dengan om..... ko..... (sensor). Agama yang merasa paling benar. Hanya dia yang beragama sementara orang yang bukan seiman adalah kafir. Masak di sorga disediakan 72 bidadari cantik cantik. Kan tidak masuk akal sifat sifat duniawi masih ada di sorga. Kata dia.
Lagi pula bidadarinya perawan terus. Kalau bapak sih seneng aja disediain bidadari cantik dan perawan. Kata saya sambil ketawa. Putrapun ikut tertawa.
Disinilah Tuhan itu tidak adil. Kata Putra. Kalau memang hanya agama tertentu saja yang benar, mengapa Tuhan harus menciptakan agama-agama lain. Saya sudah belajar agama kristen katolik, kristen protestan, budha dan terakhir agama Bahai. Bapak pernah denger agama Bahai? Tanya Putra.
Ooo tahu, pernah denger dan dulu pernah ikut beberapa kali pertemuannya. Kayak pengajian gitu. Bapak diundang boss tempat kerja dulu di acaranya. Kebetulan istrinya orang iran dan pemeluk bahai. Itu kalo tak salah ajarannya dibawa dari Iran kan. Kata saya.
Iya pak, hampir mirip islam, kata Putra.
Kalau bapak sih ndak bisa komentar dan menilai ajaran agama lain selain hindu, bapak tidak mempelajari agama lain. Daripada salah menilai. Kata saya. Padahal mungkin semua agama mengajarkan yang baik tapi praktek pemeluknya yang keliru.
Setelah saya mempelajari semua agama yang saya sebutkan itu, tak ada satupun yang cocok di hati saya. Kata Putra. Nah di bulan February 2021 entah kenapa, saya seperti di arahkan sang hyang widhi. Demikian kata Putra.
Nah di bulan February 2021 entah kenapa, saya seperti di arahkan sang hyang widhi untuk belajar agama Hindu. Saya mulai browsing di internet mencari tau apa itu Hindu. Saya baca di wikipedia, agama hindu berasal dari India, kitab sucinya Weda, tempat sucinya Pura, dan sebagainya. Padahal tadinya saya menilai hindu itu agama kuno, agama primitif. Kok orang bali masih juga beragama Hindu. Demikian kata Putra. Ternyata saya salah. Agama hindu adalah agama universal. Semuanya masuk akal. Dari konsep kelahiran, hidup dan kematian. Kalau di islam ada aliran yang namanya sufi (maaf kalo salah nulis, red) sama juga sifatnya universal. Banyak berkembang di timur tengah, kata dia. Tadinya saya kira Tuhan hindu banyak jumlahnya. Terus menyembah patung. Ternyata ada di sebutkan di bait tri sandhya bahwa Tuhan itu satu tidak ada duanya. Kata dia.
Ya betul, di bait ke-2 kata saya.
Jadi Tuhan dengan Dewa itu beda ya pak. Tanya Putra. Trus orang Hindu menyembah Tuhan apa menyembah Dewa pak.
Umat Hindu menyembah satu Tuhan. Secara umum di Indonesia sebutan Tuhan adalah Sang Hyang Widhi Wasa atau Hyang Widhi. Sedangkan Dewa adalah sinar suci dari tuhan. Dewa jumlahnya buanyak menurut tugas atau fungsinya. Coba Putra cari cari lagi referensi di internet yang menjelaskan apa itu Dewa. Demikian kata saya.
O ya pak. Kata Putra. Saya tau dewa dewa dalam Tri Murti. Yaitu dewa Brahma, Wisnu, Siwa. Saya sudah tau panca srada. Lima dasar keyakinan agama hindu. Percaya adanya Brahman atau Tuhan. Percaya adanya atman, Karma phala, Punarbhawa dan Moksa, kata dia. Saya pingin sekali punya buku-buku hindu, dasar-dasar ajaran agama hindu. Saya pingin punya buku kayak yang dipegang anak kecil photo profile bapak. Demikian kata Putra.
Lalu saya jawab, ooo itu photo anak saya waktu kecil megang buku sekelumit sejarah hindu di jawa jaman dulu. Judulnya Sabdapalon dan Dharmagandhul. Itu bagian koleksi buku saya. Tidak saya berikan ke orang lain. Nanti saya coba cari donatur yang bisa menyumbangkan buku buku hindu, seperti Upadeca yg di Bali banyak ada bukunya.
Saya lihat di website hindu-batam.com di batam ada pasraman juga ya pak. Itu website punya bapak ya pak. Saya mau masuk pasraman. Buku bukunya juga banyak ya pak. Boleh saya dikirimi buku buku itu pak. Kata Putra.
Saya jawab, ya itu website milik umat di batam atau kepri. Itu dirintis sejak tahun 2004. Saya hanya sebagai adminnya. Di batam ada pasraman seperti halnya daerah daerah lain di indonesia. Fungsinya kalau diluar bali adalah untuk menyelenggarakan pelajaran agama hindu dari usia paud sampai perguruan tinggi. Karena di sekolah tidak ada guru agama hindunya. Buku-buku hindu di pasraman sangat buanyak. Tak banyak yang baca. Itu buku proyek pemerintah. Bukunya belum begitu terurus dengan baik, mungkin dah kemakan rayap. Masih banyak yang masih utuh dalam box bertahun tahun. Kalau dik Putra ke Batam, ambil saja itu bukunya semua untuk dibaca. Demikian kata saya sejujurnya.
Sampai disini apa pendapat bapak sama putra. Setelah putra cerita pengalaman saya itu. Demikian tanya putra.
Ya tentu saja patut bersyukur. Ini anugerah yang luar biasa dari Hyang Widhi. Tidak semua orang diberi anugerah seperti Putra. Kenapa orang lain tidak, ini tidak terlepas dari karma Putra dimasa lalu. Demikian kata saya.
Saya ingin pergi ke Batam. Batam adalah kota vaporit saya setelah Bali. Saya lihat perkembangan hindu di batam sangat maju. Puranya besar. Saya ngumpulin uang dulu. Kalau saya ke batam apakah bapak mau jadikan Putra anak angkat bapak? Bisakah bapak bantu Putra untuk sudiwadani ? Saya juga lihat di erofa sudah ada pura. Kalau saya cukup uang saya juga mau ke selandia baru. Kehidupan di sana kayaknya enak. Di sana saya mau mendirikan pura. Dan kalau ada orang lain mau mendirikan pura harus seijin saya. Demikian kata Putra penuh semangat.
Ya mudah mudahan covid ini cepat berlalu, dan kondisi normal kembali. Putra kumpulin uang dulu biar bisa ke batam. Banyak nanti yang bisa jadi bapak angkat Dik Putra di batam. Prihal sudiwadani, itu bukan masalah. Ada lembaga yang menghandle itu, namanya parisada kota batam. Ada jro mangku nanti yang mengupacarai. Yang terpenting dik Putra siapkan mental dan pengetahuan agama hindu dulu. Di batam sangat sueriiing ada sudiwadani. Ada yang suaminya orang hindu malaysia atao singapore, si calon istri orang indonesia. Ya tergantung kepentingannya juga. Biasanya sebelum di sudiwadani ada konseling dulu. Tergantung ketersediaan waktu. Nanti semua tata caranya akan dijelaskan terlebih dulu. Demikian jawaban saya. (tambahan : beberapa kali penulis perhatikan, sebaiknya copy lembar sudiwadani diberikan ke calon yang disudiwadani untuk dipelajari agar pengucapan bagian doa/ mantra saat acara tidak terkesan S3 - sangat sangat susah).
Demikian akhir percakapan saya dengan Putra.
Om Shanti Shanti Shanti, Om