Rabu, 27 Desember 2017

TOUR D’PADANG

 Minggu 23 Desember 2017. Kenangan yang luar biasa tak terlupakan. Satu rombongan pesepeda PT berangkat tour sekalian rekreasi ke Padang Sumatra Barat. Kapan lagi saya bisa menginjakkan kaki di Sumatera barat.

Naik Lion, jam 10 pagi. Masing masing membawa sepeda dengan boxnya dus besar. Satu sepeda rata rata tidak sampai 20kg dimana maximum berat bagasi adalah 20Kg. Dalam perjalanan ke bandara hujan turun tiada henti. Langsung check in kolektif dan barang dimasukkan ke bagasi.


Tiba di Bandar Udara International Minangkabau jam 11.15. Meski tidak hujan tapi langit redup. Sepeda dinaikkan ke pick up. Sementara penumpang dijemput mini bus.

Makan siang dulu di rumah makan padang yang katanya cukup terkenal ‘LAMUN OMBAK’. Jam sudah menunjukkan jam 1 siang. Memang pengunjung restoran juga ramai. Saya berpikir kini saatnya saya makan nasi padang yang benar benar asli di padang. Entah karena lagi lapar atau memang enak, saya merasakan menunya enak sekali.



Sekitar jam 2 sore, perjalanan dilanjutkan menuju penginapan. Hujan mulai turun cukup deras. Kabut menyelimuti ruas ruas jalan maupun hutan sekitar.

Jam 8 malam sampailah ke tempat penginapan. Kantor PTP NUSANTARA IV, UU DANAU KEMBAR, SOLOK – SUMBAR yang juga digunakan sebagai puskesmas. Hujan diluar masih turun. Angin berhembus terasa dingin sekali. Dinginnya menusuk ke tulang. Saya memakai penutup kepala, baju hangat, kaos kaki. Meski telah disediakan tempat tidur berupa karpet dan selimut tebal tapi saya tidak bisa tidur sedikitpun. Ditambah kawan ada yang tidurnya ngorok.



Jam 7 pagi keesokan harinya yaitu 24 desember’17, bersiap siap menuju titik start, dimana 4 orang lainnya yang juga satu rombongan menunggu. Setting sepeda, berphoto bersama dan jam 8.30 goo. Meski hujan gerimis masih turun. Jalanan terus menurun. Sampai di kota Solok sekitar jam 09.40 berhenti istirahat sejenak.


Melintasi kawasan persawahan yang sangat indah dengan latar belakang gunung. Sebagian ada tanaman padi yang sudah menghijau sebagian masih ada kelihatan petani yang membajak. Saya lupa bertanya itu gunung apa. Cuaca terasa sangat panas. Saya terpaksa naik pick up karena tidak kuat lagi ngayuh sepeda.


Jam 12.00 siang sampailah di tepi danau singkarak, tempat rekreasi. Sebenarnya lingkungannya sangat indah namun sayang sepertinya kurang dikelola dengan baik. terutama sampah berserakan disana sini, apalagi di air danau banyak sampah terapung.


Setelah makan siang, rombongan kembali ke kota. Sepeda semua dinaikkan ke pick up.

Mampir ke “ISTANO BASA PAGAR UYUNG” istana Pagar Uyung. Pengunjung berjubel. Mugkin karena bertepatan dengan hari Minggu. Karena sebagian besar rombongan adalah orang minang, mereka kelihatannya ogah masuk ke bangunan utama. Kapan lagi kesini, pikir saya. Saya pun dengan beberapa kawan naik ke bangunan utama tersebut yang struktur bangunannya semua dari kayu. Rumah adat minang, yaitu rumah panggung. Memasuki rumah adat tersebut harus melepas alas kaki. Saya lihat ada petugas yang menawarkan tas kresek untuk menyimpan alas kaki agar tidak ilang atau tertukar. Tentu saja harus bayar sejumlah uang sukarela. Namun saya taruh begitu saja sepatu sepeda saya, hilangpun tak apa, pikir saya. Saya naik sampai ke lantai 2. Saya perhatikan banyak peninggalan bersejarah seperti senjata tradisional, pakaian adat, patung kesultanan. Ada perasaan ngeri naik ke lantai 2. Takut roboh, padahal strukturnya sangat kokoh. mungkin setelah direnovasi katanya sempat terbakar. Pengunjung juga ramai naik sampai ke lantai 2.


Pulang dari Istana Pagar Uyung melewati jalan jalan kecil. Saya tidak tahu apakah itu jalan pintas karena kendaraan sangat padat. Melewati persawahan mengingatkan di kampong saya. Sempat mengalami kemacetan panjang.


Jam 17.00 sampailah ditempat nginap, di rumah kosong milik keluarga salah satu rombongan. Sepertinya lama tidak ditempati. Kata teman saya katanya banyak rumah-rumah kosong karena ditinggal pemiliknya ke kota atau keluar kota. Lantainya berdebu. Air keran ngalirnya kecil. Ke Kamar mandi harus antri. Semuanya buru-buru karena sudah ditunggu makan malam ke rumah makan.



Jam 7 malam sampailah di rumah makan ‘pongek or SITUJUAH’. Katanya rumah makan yang sangat terkenal. Ternyata memang benar, banyak sekali pengunjungnya. Semua tempat duduk terisi. Makan malam yang sangat enak saya rasakan.




Keesokan harinya tanggal 25 desember’20 atau hari ke 3 di sumbar, pagi-pagi jam 5 harus bersiap siap menuju start gowes yaitu kelok Sembilan. Saya sebenarnya merasa kurang fit karena sudah 2 malam tidak tidur. namun karena semangat dan ingin merasakan pengalaman baru, dipaksain agar merasa fit.

Jam 07.30 sampai di titik start. Kawasan paling puncak kelok Sembilan. Pemandangan yang luar biasa indah. Jembatan berkelok. Saya lupa menghitungnya apakah memang jumlah keloknya Sembilan atau kurang.




Menuju lembah Harau. Saya naik pick up karena kaki sudah terasa kaku. Posisi jalan berada di dalam lembah. Diapit kiri kanan teping curam. Apakah bumi ini pernah terbelah. Mungkin iya, jutaan tahun lalu. Sampai di Air terjun Harau kemudian berbalik setelah photo bersama. Pulang dari lembah harau saya juga masih naik pick up. Biarlah rombongan yang masih kuat yang meneruskan bersepeda.




Menjelang jam 12 siang rombongan kembali menuju rumah makan untuk makan siang bersama. Makan di ‘pongek or SITUJUAH’ yang terkenal itu. Kemudian kembali ke penginapan. 



Sore harinya saya ikut teman ke kampungnya. Lumayan jauh di desa. Saya lupa bertanya apa nama kampungnya itu. Selama perjalanan saya bisa tidur di bus. Inilah cara saya untuk dapat istirahat karena susahnya tidur di tempat tidur yang bukan biasanya. Di kamar hotel yang nyaman sekalipun.

Kembali ke penginapan untuk berkemas kemas menuju Bukit tinggi ke rumah salah satu rombongan. Hari sudah sore. Sepanjang perjalanan turun hujan. Hingga sampai di rumah teman itu, suasana hujan, gelap dan sepi. Meskipun sebenarnya masih termasuk di perkotaan.

Sambil menunggu datang sepeda yang diangkut pick up, rombongan dijamu makan malam oleh tuan rumah. Betapa ramahnya keluarga teman saya itu. Baik sekali.




Setelah sepeda tiba, kamipun berkemas kemas, memasukkan sepeda ke dalam boxnya masing masing dan mencopot bagian bagian yang harus di lepas agar muat di boxnya. Hamper tengah malam baru selesai.

Besok paginya kami bersiap siap menuju bandara untuk pulang ke batam. Saya dan dua teman lainnya mampir dulu beli oleh-oleh. Di pasar Jam gadang bukut tinggi. Ternyata biasa biasa saja tidak ada yang istimewa buat saya. Ditambah lagi suasana hujan dan kebetulan pasarnya sedang di pugar.



Dalam perjalanan ke bandara, rombongan mampir dulu makan siang di rumah makan. Jam menunjukkan pukul 13.50. tidak sempat mampir ke tempat rekreasi lagi karena sepanjang perjalanan hujan turun deras. Juga khawatir kalau terlambat. Saat itu menjelang akan diadakan relly sepeda Tour de Padang.



Akhirnya jam 17.30 baru naik pesawat setelah delay hamper 1 jam. Cuaca ngeri ngeri sedap. Sampai mendarat di Hang Nadim Batam juga masih hujan deras. Sepertinya pesawat terakhir yang tiba di hang nadim. Bandara sudah sepi.



Itulah perjalananku yang terasa paling berkesan selama ini. Diluar dugaan saya, ternyata dimanapun orang itu baik baik semua. Dimana mana memegang adat ketimuran. Ramah sopan sangat menghormati tamu. Saya rasanya pingin sekali membalas budi baik mereka. Kapan bisa ke kampungku, akan saya perlakukan sama baiknya.