Saat tulisan ini dibuat proses renovasi padmasana pura agung Amerta Bhuana Batam sedang berlangsung. Rencana awalnya hanya merenovasi bagian paling bawah dari bangunan padmasana. Kalau kita naik dari tangga yang di apit dua naga itu, nah area di kanan dan kiri ujung atas tangga itulah yang mengalami keretakan cukup lebar dan permukaannya turun. Ini akibat struktur bangunan dimana filler untuk nimbun ke dalam padmasana kurang padat.
Maka dibulan juni 2020 dimulailah renovasi dengan melobangi beton yang retak dan ditimbun. Menurut dugaan saya saat melakukan pengeboran dan pembongkaran disekitar naga, yang diberinama naga Taksaka itu, otomatis penyangga naga ikut lemah. Dan tentu saja akibatnya sang naga ambruk berkeping keping. Naga yang selalu saya amati dimana dalam cuaca apapun pada gigi atas naga selalu keluar air. Entah bagaimana fenomena itu terjadi. Seperti halnya stalagtit kalau di gua gua.
Fenomena itu membuat saya selalu teringat akan di rumah di kampung dimana kusen pintu salah satu kamar, meskipun sudah usianya bertahun tahun dan juga sudah dicat tebal, ternyata masih juga mengeluarkan getah. Lagi pula setiap saya pulang kampung dan tidur di kamar tersebut, dalam salah satu malam saya pasti mimpi ada pencuri masuk rumah. Karena masih remaja, saya ndak ambil peduli dengan mimpi begitu. Setelah dewasa dan tua baru berpikir mengapa ada fenomena seperti itu.
Nah setelah ambruknya kepala naga, renovasi sempat berhenti agak lama. Ditambah lagi ada wabah pandemi covid19. Perdebatanpun mulai muncul. Akankah direnovasi dengan mengembalikan ke bentuk semula ataukah membangun dua naga sekaligus. Mungkin acuan yang mau dipakai tidak ada dasarnya, maka perdebatan tidak kunjung selesai. Dibukalah momen diskusi denga mengundang dua Pedanda yang dianggap memiliki pengetahuan tentang padmasana. Salah satunya beliau pernah lama berkecimpung dengan umat di kegiatan di pura. Meetingnya di zoom secara online. Pada tanggal 03 agustus 2021. Di pertemuan tersebutlah diambil keputusan bahwa renovasi akan dikembalikan seperti kondisi semula. (saat ini saya masih menyimpan rekaman zoom meeting tersebut).
Seiring berjalannya waktu dan renovasi sedang berlangsung, ternyata masih ada umat yang nota bene ikut saat zoom meeting, tapi diem, masih mempermasalhkan berapa naga seharusnya dibangun. Alasannya dimana mana jumlah naga harus dua. Lha photo yang ditunjukkanpun adalah photo dikedua sisi tangga entah dipura mana.
Seiring perubahan jaman dan berjalannya waktu harusnya manusia berpikiran semakin maju. Bila perlu berpikir sampai ke luar angkasa. Lha orang sudah berdoa dari luar angkasa meski hanya kurang lebih 10 menit, kita masih ribut ngurusin satu naga, dua naga, tiga naga. Padahal urusan naga itu urusan orang main scatter.
Kok naga jahat ditaruh disitu. Ada juga yang berkata begitu. Entah darimana ilmunya.
Apakah lupa, dulu saya pernah bersama sama sembahyang dibelakang bangunan padmasana sekarang itu. Bahkan sempat nanam pedagingan dan bikin turus lumbung disana. Beralaskan seadanya. Kalau habis ujan tanahnya becek. Tidak ada listrik. Malah saya yang bertugas membawa dan menyalakan lampu petromak setiap ada persembahyangan bersama. Bayangkan, tidak ada air kran. Tangan masih bau minyak tanah saat nunas tirta.
Jikapun sekarang anda dibuatkan satu naga, anda maunya dua naga, apakah anda tidak akan sembahyang ke pura lagi? Apakah keimanan anda akan berkurang?