Sabtu, 25 September 2010

ANTARA KELAKUAN DAN NIAT BAIK


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering tidak sadar akan apa yang kita perbuat kadang tidak sesuai dengan apa yang kita ucapkan saat itu. Contoh kecil misalnya, saya pernah mendengarkan seseorang yang memberikan dharmawacana saat acara persembahyangan bersama. Dengan nada yang sedikit keras, meski dia sendiri menyadari dirinya bukanlah seorang pendharmawacana yang handal. Namun dia mengkritik beberapa pendharmawacana sebelumnya, kalau memberikan dhrmawacana hendaknya jangan muter-muter di situ-situ saja, jangan bicara terlalu lama, cukup 10 sampai 15 menit saja. Padahal si pendharmawacana ini berbicara begitu pada menit yang ke 18, belum lagi menyampaikan isi dharmawacananya. Dan yang lebih mengherankan lagi, sebagai penutup apa yang dia sampaikan, malah berkata 'saya akhiri dengan paramasanti, om swastyastu'.

Kadang pernah juga terjadi, seorang pembawa acara memohon agar hp di non aktifkan sejenak agar tidak mengganggu kekhusukan kita sembahyang. Namun tak berapa lama kemudian, hpnya sendiri berdering dengan nada ayam berkokok.

Sabtu, 04 September 2010

TEMPAYAN RETAK


Persahabatan bagaikan sebuah tempayan yang patut dijaga keutuhannya bagi setiap orang agar persahabatan tersebut terus terjaga. Jika tepayan tersebut kita pakai untuk mengambil air, maka kita harus memegang tempayan dengan hati-hati agar tidak terjatuh atau pecah. Air bisa dibawa secara utuh sesuai dengan yang kita inginkan. Namun tatkala kita tidak menjaganya dengan benar maka tempayan akan mudah retak, begitu pula dengan persahabatan. Betapa ruginya jika persahabatan itu mulai retak. Manakala tempayan mulai retak bahkan berkeping-keping, perlu usaha yang besar untuk menyatukannya kembali. Bukan mustahil untuk menyatukannya kembali. Namun meskipun kita mampu untuk merangkainya kembali bahkan seperti sedia kala, namun kekuatan rangkaiannya tidaklah sekokoh dan semulus aslinya. Kita bahkan menyebutnya tempayan yang cacat. Demikian pula halnya manakala persahabatan kita retak meskipun kita telah merajutnya kembali sehingga persabatan kita terjalin kembali, namun bekas-bekas keretakan masih tersisa di hati dan tidak bisa dihilangkan.

Jumat, 23 April 2010

Sebuah Catatan Kecil


hari ini Jumat 23 April 2010, masih ingat tentunya baru kemarin terjadi kerusuhan disebuah perusahaan galangan kapal di daerah Tanjung Uncang Batam. Aku yang menginformasikan pertama kali ke kawan-kawan sesama umat hindu lewat milist hindu di Batam. Aku tidak begitu tanggap seberapa jauh dampaknya terhadap orang-orang Bali(baca Hindu). Kebetulan yang menjadi pemicu kerusuhan tersebut adalah etnis India yang nota bene dikenal agamanya mayoritas adalah Hindu. Tak seorangpun yang merespon yang aku upload ke milist. Entah ada yang baca atau tidak. Sementara kawan-kawanku sibuk menerima telpon baik dari kampung maupun dari kawan-kawannya di batam, menanyakan bagaimana kondisinya, apakah kena dampak kerusuhan, apakah dekat dengan lokasi kerusuhan, dan berbagai pertanyaan lainnya. Sementara aku, tak satupun ada telpon yang menanyakan hal serupa terhadap diriku. Apakah saudara-saudaraku di kampung atau di kota lainnya tidak pernah nonton berita Televisi, padahal hampir semua stasiun televisi menyiarkannya. Seandainya aku di sini di batam terjadi sesuatu, apakah keluargaku peduli?