Selasa, 10 November 2020

ENAKNYA ORANG ENAK (Bagian 2)

 Batasi job dan ambil aset

Ketika ada karyawan yang merasa tidak nyaman, dia melaporkan apa yang dialaminya ke yang punya perusahaan di Negara asalnya sana. Saya tidak tahu pasti tentang apa yang dia laporkan. Terlepas dari benar atau salah, saya pikir tindakannya untuk menyampaikan yang sebenarnya. Meski ada yang mempertanyakan, apa urusannya dia lapor ke orang yang posisinya paling tinggi. Apa untung buat dia. Atau kerugian apa yang dia alami. Kecurigaan saya sih hanya mau mencari simpati si owner perusahaan saja.

Ternyata apa yang disampaikan karyawan tersebut direspon owner perusahaan. Tentu dipertanyakan oleh si owner, mengapa hal sepele begitu tidak bisa diselesaikan, mengapa owner harus turun tangan. Apa saja kerja kalian bertiga di sana. Mungkin seperti itu. Kebetulan ada 3 orang asing di perusahaan ini.

Akhirnya management ambil tindakan kepada karyawan tersebut. Hingga pada akhirnya yang bersangkutan harus di warning dan dipaksa menandatangani surat warning. Tentu saja yang bersangkutan tidak terima karena dia merasa tidak bersalah.

Laptop diambil paksa oleh yang berwenang dengan menunjukkan surat tugas dari atasannya. Si karyawan tidak mau melepas laptopnya. Katanya disuruh si owner untuk mempertahankan sampai ada keputusan dari jepang. Saya saksikan sendiri saat laptopnya mau diambil.

Email si karyawan telah di blok. Internetnya juga di blok. Otomatis tidak bisa berhubungan lagi lewat email/ internet. Entah apakah dia bisa internetan dengan teetering dari handphonenya. Saya perhatikan hari hari sudah tidak ada kerjaan lagi. Jadwal masuk malam ya masuk malam, hanya begadang, mungkin. Sepintas kasian sekali lihatnya. Entahlah.


Sabtu, 07 November 2020

KANTOR SAMSAT

 Kebetulan ada kawan yang bertugas di samsat kota. Saya minta saran bahwa saya mau balik nama kendaraan roda empat. Saat perpanjangan STNK 5 tahunan. Prosesnya di kantor samsat Polda, setau saya memang harus disana ngurusnya.

Berangkat dari rumah jam  7 pagi bersama anak saya. Tujuan saya agar ada pengalaman ngurus STNK di kemudian hari.

Tiba di Samsat Polda sekitar jam setengah 9 pagi. Masih sepi. Tidak seperti biasanya. Atau mungkin karena pas hari sabtu dimana  perkantoran buka setengah hari. Langsung menuju pendaftaran di bagian check physic. Isi formulir, gosok nomor mesin dan menuju gedung utama di lantai 2. Check kelengkapan dokumen, lancer. Kemudian bayar biaya ganti BPKB dan biaya map sebesar 280 ribu. Proses selesai dan disuruh langsung ngurus STNK ke Samsat Kota.

Hujan cukup deras. Langsung menuju bagian pendaftaran. Ada beberapa yang perlu di photo copy. Kemudian disuruh ke lantai 2 ke Loket 1.

Jam menunjukkan pukul 10.30, kemudian antri nunggu panggilan ke loket Bank. Sekitar jam 11.30 dipanggil loket pembayaran. Total kena 2juta delapan ratus ribuan. Untung bawa kartu ATM, duit cash tidak mencukupi. Kemudian nunggu lagi panggilan dari loket penyerahan. Jam 12.15 dipanggil penyerahan STNK. Lega meski harus sabar antri dan menunggu. Kini STNK sudah atas nama sendiri.

Tinggal ambil plat nomor dan ambil BPKB satu bulan kemudian.


Kamis, 05 November 2020

BERANTEM DI PURA

 Bertepatan dengan tegak piodalan Pura Agung Amerta Bhuana Batam, sabtu 31 oktober 2020. Purnama Kalima menurut perhitungan sasih. Suasana dingin karena baru saja diguyur hujan deras. Tidak seperti piodalan sebelumnya. Meriah karena umat yang bersebahyang cukup banyak.

Kali ini berhubung ada wabah pandemic covid-19, upacara piodalan dilaksanakan dengan sangat sederhana.

Saya langsung menuju bale paselang, mengeluarkan peralatan gamelan dan mendampingi anak-anak megambel.

Ada orang yang menyampaikan bahwa barusan ada umat yang ‘mesiat’ atau berkelahi. Dalam hati saya berkata, ah masak sih berantem di pura. Sayapun tidak menanggapi omongan tersebut.

Kemudian saat akan sembahyang bersama, ada dharma wacana panjang lebar yang dibawakan oleh ketua Parisada Kepri. Menyinggung sejarah pendirian pura dan sampai nangis nangis bahwa tanggung jawab umat ada dipundaknya. Kenapa harus ada umat yang berkelahi. Kalau ada yang salah, salahkanlah saya. Demikian kata pendharma wacana tersebut.

Setelah beberapa hari kemudian, kebetulan ada yang menyinggung masalah berantem saat piodalan itu. Saya agak kaget. Rupanya kejadiannya serius juga. Menurut versi yang cerita, katanya kelian banjar, pak AS di Tanya oleh pak MS saat di Jaba pura. Pak MS bertanya masalah iuran warga di banjar, karena pak MS satu banjar juga.

Ditanya begitu, klian banjar katanya mukul perut pak MS. Apakah hanya salah paham. Menurut logika saya tidak mungkinlah pak AS mukul beneran perut pak MS. Saya kenal baik pak AS. Orangnya professional, berpendidikan, pengalaman luas. Katanya, karena dipukul perutnya, pak MS kemudian membalas dengan ‘menahan’ leher pak AS. Apa ya bahasa indonesianya yang tepat.

Kebetulan pak AS perawakannya lebih kecil dari pak MS. Hingga muka pak AS dipukulnya hingga berdarah. Syukurlah bisa didamaikan. Kalau sampai ke aparat keamanan, urusannya akan panjang.

Waduh, kok di pura berantem.


Kamis, 22 Oktober 2020

ENAKNYA ORANG ENAK

 Rasanya tangan ini gatal untuk menulis. Terlalu banyak hal yang bisa dituangkan dalam tulisan. Menulis apa saja. Meski saya bukan orang yang berlatar belakang jurnalistik. Tapi dasar dasar ilmu jurnalistik saya tau. Secara otodidak. Meski pernah mengikuti pelatihan jurnalistik beberapa kali. Saya suka membaca. Dari banyak membaca saya tau gaya tulisan seseorang.

Dipenghujung usia kerja saya, meski saya masih merasa terlalu muda untuk pension, umur saya kini 54 tahun. yang orang masih mengira saya baru berumur sekitar 35 tahunan. Haaaa. Ada factor yang membuat saya seperti muda. Lebih jelasnya, ada factor yang membuat saya tidak seperti orang tua. Lalu apa bedanya?

Kini, 

Ketika sebuah perusahaan dipimpin oleh orang yang tidak kredibel, atau tidak punya capability dalam memanajement perusahaan, maka perusahaan tersebut tidak punya arah tujuan yang jelas. Terombang ambing bagaikan perahu dengan nakhoda yang tidak tau arah mata angin. Hanya mengandalkan bawahan yang belum tentu jujur menunjukkan arah tujuan. Percaya atau tidak suatu saat jika sang kapten tidak memperbaiki sikap, maka cepat atau lambat kapal akan karam. Jika kapten berganti, maka saya yang akan teriak paling lantang.

Ada banyak awak kapal. Hanya segelintir yang dipercaya nakhoda. Dan kelewat percaya. Karangpun jika awak kapal mengatakan itu hanya onggokan sampah dan bisa di terjang, maka sang kaptenpun menerjang itu karang. Ombak bergulung di depan menghadang. Ketika awak mengatakan itu hanya riak gelombang kecil, maka sang kapten percaya saja. Akibatnya apa, penumpang pada kalang kabut ndak karoan. Bentur sana bentur sini.

Para awak kapal berpesta pora. Cari tangkapan ikan sendiri sendiri sebanyak banyaknya. Yang penting kenyang sendiri, bila perlu sampai muntah-muntah. Mau fasilitas apa lagi. Kerja seenaknya sendiri. Ada yang masuk dua hari sekali alasan sakit. Ada yang ijin sesuka hatinya. Mau sakit kek, mau permisi berapa haripun ndak masalah, toh bayaran tidak berkurang. Satunya bilang, kalau dia bisa kenapa saya ndak bisa. Ini tidak termonitor oleh nakhoda. Sepintas kapal masih jalan terus. Lah ujung ujungnya pada klaim punya sisa cuti berpuluh puluh hari. Jika perlu diuangkan katanya. Apa kurang enak? Bonus enam bulan sekali. Sekali bonus, minimal bisa untuk beli sepeda motor. Kurang enak apa lagi.

HP dan pulsanya adalah fasilitas kapal. Boleh pakai sesuka hati. Tidak ada yang ngontrol. Tidak seperti jaman sebelumnya. Terkontrol sampai ke detail detailnya.

Saya pernah juga dapat bonus, meski tidak rutin. Dimasa nakhoda sebelumnya. Dan jumlahnya hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan bonus para awak kapal. Saya merasa dihargai, dengan bayaran bulanan saya paling kecil dan posisi yang mentok. Diawal pemberian bonus dulu, ini karena saya yang mengusulkan. Meski orang tidak melihat ini sebagai hal yang penting baginya.

Ketika ada buruh yang melaporkan awak kapal ke pemilik kapal, bagaimana kelakuan awak kapal selama ini. Minta jatah hasil tangkapan nelayan lain. Sepintas ada kerjasama. Si buruh malah di cap membocorkan rahasia perusahaan. Malah dikasi surat peringatan. Kesannya dipaksa menerima surat peringatan. Lha rahasia perusahaan yang mana. Tentu si buruh tidak terima dituduh membocorkan rahasia perusahaan. Kalau rahasia pribadi mungkin iya. Tanggung jawab si buruh hampir ditiadakan. Hanya bagian bersih bersih. Malah fasilitas kerjanya seolah olah mau disita. Diambil paksa bahkan dengan didampingi security perusahaan. Diperlakukan kayak pencuri saja.  Tentu si buruh mempertahankannya. Karena merasa tidak bersalah. 

GA Personnel, 

harusnya kedua tugas itu dijalankan. Jangan cuman semangat ngejar proyek GA. Apalagi hanya karena ada invoicenya. Tapi yang tak kalah penting juga adalah tugas Personnel. Bagaimana menciptakan iklim kerja karyawan itu enak. Hubungan kerja antar karyawan dalam perusahaan harus diciptakan senyaman mungkin. Bukan mentang mentang punya lawyer, semuanya diandalkan ke lawyer. Lha wong dia digaji. Kok kesannya berusaha menjerat karyawan agar bersinggungan dengan hokum. Apakah bangga kalau berhasil mengadili karyawannya sendiri?

Mata sipit.

Denger-denger prestasi kerja di perusahaan sebelumnya kurang sedap. Makanya dikeluarkan. Masuk ke sini berlagak paling pintar dan paling benar sendiri. Merasa dirinya sempurna. Pekerjaan orang lain tidak ada yang benar. Padahal pekerjaan dia adalah pekerjaan anak buahnya. Hanya pintar melapor ke atasannya. Dikit dikit kata bos. Dikit dikit lapor bos. Ini sangat berbahaya terhadap suasana kerja. Cukup bangga karena membongkar kasus penyelewengan uang perusahaan lewat gaji karyawan, yang orangnya sedang dalam proses persidangan. Semua ini ada udang di balik batu. Semua permainan uang. Si terdakwa dalam posisi lemah. Lemah dalam artian tanpa pembela bayaran. Hanya pendampingan hokum yang gratis pula.

Bipartit.

Mahluk apa satu ini. Apa tugasnya. Apa fungsinya. Saya tidak tau persis. Ketuanya petantang petenteng cari muka, menyelamatkan diri. Jika pada posisi aman, teriak paling kencang. Jika pada posisi sulit, mengkerut mundur perlahan sembunyi bagai kura kura diketok hidungnya.

Buruh permanen.

Tak sedikit buruh merasa kecewa dengan sikap penguasa. Entah siapa penguasanya, tau sendirilah. Pura-pura memperjuangkan anak buah agar bisa dijadikan buruh permanen. Padahal usahanya nol. Lain dimulut lain kelakuannya. Buruh kerja bertahun tahun, over kontrak sana sini agar tidak permanen. Ternyata kental nuansa KKNnya. Keluarga sendiri bisa langsung dipermanenkan. Jika orang lain kenapa susah. Intinya mengapa menyusahkan bangsa sendiri. Ini perusahaan asing.

Bersambung……


Jumat, 09 Oktober 2020

HARLEY DAKOCAN


 

Membayangkan betapa bangganya bisa pakai Harley Davidson, motor gede. Dengan semua atribut HD dari jaket, helm, sarung tangan, sepatu. Tapi apalah daya anggaran untuk itu tidak ada. Melebihi harga mobil yang bisa kubeli.

Yang KWpun jadi. Kisar Ruby 150cc tahun 2005. Ternyata harganya juga tidak seperti yang kukira. Tadinya saya kira dibawah 10jt untuk seken 10 tahun. Harga barunya saja dua kali lipatnya.

Dengan susah payah merayu agar dapat harga miring. Tapi mentok. Untungnya pajaknya masih hidup.

Kamis 8 oktober 2020, sepulang kerja langsung jemput ke rumahnya, perumahan Taman Valencia Blok M. di daerah cikitsu batam center. Ternyata sampai ditujuan hujan gerimis. Untung kawan yang diajak jemput sangat baik hati. Karena saya minta tolong kawan yang bawa ke batu aji. Sementara saya pakai mobil.

Dalam perjalanan ke batu aji saya was was apa motor tidak masalah di jalan. Ternyata katanya ada kendala di rem belakang dan kunci kontak sering diskonect. Sedikit lega ketika kawan reply WA saya bahwa dia sudah sampai di rumah dengan aman tapi basah kehujanan.

Mudah mudahan motor tidak masalah, karena saya tidak begitu paham masalah motor.


Jumat, 04 September 2020

DUNIA FRANK

 Tanpa sengaja saya klik link video di fb saya. Mungin secara kebetulan saya buka videonya waktu itu. Bisa jadi sebelum sebelumnya juga sudah ada notifikasi video namun tidak pernah saya buka. Link tersebut saya masukkan ke menu simpan di fb saya. Ternyata mengasikan nonton video frank. Saya bisa menikmatinya. Dan saya ketagihan. Langsung saya klik subscribe dan gambar lonceng agar ada notifikasi jika owner channel upload video baru.

Setiap hari kalau tidak nonton video frank rasanya ada sesuatu yang kurang. Hingga saya tandai beberapa channel yang saya suka. Beberapa yang saya suka seperti channel aya_ibrahim04, xxditto, xdjtrisuaka, mohamadsidiq. Masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri. Setelah saya amati Ngefrank kuncinya harus pede dan siap mental. Mental harus tinggi. Jika tidak siap maka akan kliatan kaku dan yang di frank akan dengan mudahnya curiga. Harus pintar bikin scenario.

Kebanyakan yang jadi korban frank adalah cewek cewek, karena youtubernya laki-laki. Jika content videonya bagus maka viewer akan cepat naik, subscribernya bisa jutaan. Receh miliaran dengan mudah di dapat. Sungguh menggiurkan. Rata-rata youtuber sudah bisa beli mobil sendiri. Digaji oleh you tube.

Saya khawatir bila suatu saat youtuber kehabisan ide, jangan sampai norma norma ketimuran diabaikan. Melihat ide para youtuber juga content videonya sudah mulai sama. Misal ngefrank menjadi supir taxi online. Targetnya penumpang cewek cewek cantik. Di setting agar cewek duduk di jok depan disamping supir, karena kamera dipasang di dashboard. Hamper semua franker melakukan itu.

Sebenarnya ini sangat positif dan kreatif. Disamping menyalurkan hobby dan bakat, juga sebagai tempat mencari penghasilan. Bermodalkan video kamera, kamera go-pro dan tentu saja computer set untuk proses editing. Editor video juga harus kreatif agar video terkesan lucu dan menarik.

Namun demikian, ada juga video yang diberi judul video wik wik. Isinya Kadang istri ngefrank suami, kadang suami ngefrank istri di tempat tidur. dan itu direkam. Ini yang saya perhatikan kurang etis. Semoga saja tidak terlanjur jauh melenceng. Disamping merusak citra youtuber juga bisa berurusan dengan hokum.

Awal sep’20


Rabu, 02 September 2020

PEMANGKU RESIGN

 Awal Juli 2020 ketika pertama kali dilaksanakan persembahyangan bersama di Pura Agung selama era new normal, saya sempat bertanya dalam hati mengapa Jro Mangku yang memimpin persembahyangan hanya sendiri yaitu Jro Mangku Putu Satriayasa saja. Biasanya berdua dengan Jro Mangku Agung Arif. Bahkan Jro Mangku Arif datangnya belakangn dari saya. Beliau bukan duduk di depan, di tempat Jro mangku biasa memimpin persembahyangan. Beliau sembahyang seperti umat biasa.

Saya sempat diberitahu seseorang bahwa Jro Mangku Arif sudah resign jadi Mangku. Haaa, kata saya. Kok bisa begitu, Tanya saya ke kawan itu. Ndak cocok dengan Mangku Putu, katanya singkat. Wah berarti ini kejadian kedua kalinya yang saya tahu. Aneh, kata saya dalam hati.

Bagaimana tidak aneh. Jro Mangku adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang sudah dianggap suci. Meskipun seorang pemangku itu belum di dwijati namun sudah melewati persyaratan berupa Pewintenan khusus menjadi Pemangku/ Pinandita.

 Bukankah sering kita dengar ungkapan ‘jero mangku yang saya sucikan’ atau ‘jero mangku yang saya wangikan’. Jro mangku adalah sosok yang dihormati, atau dimuliakan karena perannya mengemban tugas suci yang salah satunya adalah memimpin persembahyangan atau upacara keagamaan. Ada istilah Jan banggul. Yaitu sebagai penghubung umat dalam mendekatkan dirinya kepada Tuhan/ Sang Hyang Widhi Wasa.

Jika dua orang Pinandita dalam kondisi konflik, bagaimana halnya dengan lantunan doa yang diucapkan. Apakah doa tersebut sampai kepada Sang Hyang Widhi?

Sudah diadakan beberapa kali rapat antar lembaga keagamaan namun tidak ada titik temu. Semoga saja kedepannya akan kembali menjadi baik baik saja. Tanpa mengenal istilah resign.


MENYELAMATKAN WARISAN LELUHUR

 



Sepintas kedengaran seolah olah warisan leluhur ada yang menjarah sehingga perlu diselamatkan. Padahal sebenarnya usaha menyelamatkan tersebut bukan sesuatu yang disengaja atau direncanakan. Lha wong puluhan tahun, mungkin ratusan tahun tersimpan tidak ada yang berani menyentuhnya.

19 agustus 2020, ada yang share photo pembersihan lontar di grup keluarga jero dalang. Seketika anggota keluarga yang tinggal diluar bali langsung berkomentar. Lha kok dalam photo Nampak beberapa orang asing, maksudnya bukan anggota keluarga. Disamping juga ada Nampak utusan perwakilan masing-masing keluarga. Perwakilan bale dangin, bale delod, bale daje, bale dauh, jro munduk malang, denpasar, dan puri tampak siring yang kebetulan Ida waktu kecilnya berada di Jero dalang. 

Barulah kemudian salah satu mengatakan bahwa ada petugas dari Penyuluh Bahasa Bali Provinsi dibawah pengawasan dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Memang ini agenda mereka untuk melestarikan warisan budaya leluhur. Katanya. 

Kemudian ada pertanyaan, bagaimana awalnya kok sampai orang lain tahu kalau di jero dalang ada warisan leluhurnya berupa lontar? Siapa yang ngasi tahu? Mengapa mereka punya agenda duluan untuk menyelamatkan lontar. Namun pertanyaan mendasar ini tidak terjawab dengan jelas. Kan aneh, tiba-tiba orang lain datang mau membersihkan lontar, sementara di internal jeroan saja tidak semua tahu ada warisan leluhur berupa lontar. Bagaikan kekayaan alam Indonesia yang dikeruk habis oleh Negara asing karena tidak mampu mengolahnya dan karena ketidak tahuan.

Apa sebenarnya tujuan dari dinas untuk membersihkan asset perorangan atau keluarga. Meskipun denger denger ada anggaran untuk itu dari pemerintah. Murnikah tujuannya untuk membantu masyarakat. Tidak ada yang tahu pasti. Karena yang mereka utarakan hanya bertujuan baik. 

Klasiffikasi dan identifikasi lontar. Itulah tujuannya mereka datang. Namun sampai berita ini saya tulis belum ada kelanjutannya. Mengapa anggota keluarga tidak ada yang membuat orat oret sendiri lontar apa saja yang kita miliki. Finalisasi pembersihan dilakukan tanggal 26 agustus 2020.

Saya Tanya salah satu anggota keluarga di bali yang kebetulan bisa menemani petugas membersihkan lontar. Dari yang disampaikan petugas, ada 3(tiga) kotak lontar, kotak pertama katanya berisi riwayat perjalanan penglinsir/ leluhur dari puru Blahbatuh menetap di Dalang, nama keluarga katanya Puru Dalang Tegeh. Sampai mempunyai Pura yang namanya Pura Beji. Kotak kedua katanya berisi lontar tentang Kepemangkuan dan Pengobatan (usadha). Dan kotak ketiga tentang Pedalangan. 



Setiap lontar katanya diisi label nama. Entah bagaimana wujudnya, kita tunggu sampai petugasnya menyerahkan data ringkasannya. 


Selasa, 25 Agustus 2020

TEKAD DI JALAN DHARMA (sebuah catatan pribadi)


 Saya menanggapinnya masih dingin karena terus terang saya ragu dengan apa yang disampaikan bu Isti (istri almarhum Pak Yudistira) yang asli Palembang yang kembali ke jalan Dharma. Apalagi setelah pak Yudistira tiada.

Kini tinggal Ibu Isti bersama 4 anaknya yang satu orang lagi sudah berumah tangga dan sedang menunggu lahiran. Inilah satu anak perempuannya yang tetap memeluk islam. Tinggal 33 anak laki dan 1 anak perempuan.

Ketika itu jam 11 tengah malam. Saya terima WA dari Ibu Isti yang mengabarkan bahwa mereka akan berangkat ke Bali 2 hari kemudian, tepatnya hari Minggu 23 Agustus 2020 sore. Saya balas dengan singkat. Ya bu hati hati dijalan, semoga selamat sampai di tujuan. Kami cukup panjang chatting di WA. Biasalah selalu diakhiri dengan mohon bantuan saya karena tidak punya dana sama sekali. Lha saya sempat berpikir, ndak punya biaya bagaimana caranya beli tiket. Bagaimana caranya nanti bayar transport darat. Saya sempat bertanya apakah sudah berkoordinasi dengan para tokoh umat. Katanya sudah, namun hanya ucapan selamat jalan dan semoga selamat sampai tujuan.

Yang mengherankan saya kok tidak ada satu orangpun yang memberi tahu saya. Saya ndak habis pikir dan bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan.

Saya ndak peduli, terserah nanti apa kata orang. Saya posting di salah satu grup WA. Kok juga tidak ada yang merespon. Hanya dua orang kawan yang tadinya memang saya japri yang merespon saya di grup. Padahal saya juga sudah sertakan bukti tiket pesawat.

Terkumpullah duit 2 juta rupiah. Dari urunan bertiga.

Di hari minggu hujan deras tiada henti dari pagi hingga siang. 

Sekitar jam 11 siang saya bersama keluarga berangkat ke pura menjemput bu Isti untuk diantar ke bandara. Saat itu masih turun ujan gerimis. Saya menuju ruang Pasraman dimana Bu Isti dan anak-anaknya nginap selama ini. Bayangan saya mereka semua akan sedih. Namun ternyata semua raut wajahnya ceria.

Jam 1 siang kamipun berangkat dengan 3 mobil. Satu mobil dibawa oleh bro Made, satu dibawa Jro Mangku dan satu lagi saya.

Sampai di bandara ada tambahan satu lagi pengantar yaitu keluarga Wayan Betran.

Kamipun salam-salaman, dan uang titipan saya serahkan ke bu Isti dalam amplop, sambil berpesan dan berharap semoga selamat sampai tujuan dan senantiasa sehat selalu.

Kalau memang bertekad di jalan dharma, jangan mikirin yang aneh aneh lagi. Harus focus ke tujuan. Jangan lagi bimbang setelah tiba di tujuan. Sampai jumpa.


Rabu, 05 Agustus 2020

TERLANJUR ENAK

Kebetulan giliran masuk malam. Setiap 2 minggu sekali. Isu isunya sih sampai desember 2020 masih dua shift. Wah repot juga. Kalau masuk malam otomatis siangnya dipakai untuk tidur. harus cukup tidur. jika tidak maka akan tidak kuat begadang masuk malam berikutnya. Apa boleh buat.

Di pertengahan Juli, tepatnya hari rabu malam, teman-teman di office pada kasak kusuk ada satu karyawan sudah dua hari tidak masuk kerja. Sebut saja namanya Yn. Menimbulkan kecurigaan karena computer dan monitor tidak ada di mejanya. Maka saling Tanya satu sama lain. Ada  juga yang bilang kalau yang bersangkutan tidak ada dirumahnya, sehingga anggota keluarganya mencari kesana kemari. Dan lucunya kakaknya mendatangi kediaman direktur perusahaan. Ada yang memberitahu alamat tinggal direktur.

Saya sendiri mencari informasi bertanya ke kakak ipar yang bersangkutan. Meski rasanya ndak enak bertanya itu. Ya salah satunya karena masalah di keluarganya. Katanya masalahnya lagi dalam proses. Ya sudah saya tidak melanjutkan bertanya lagi karena juga pas menjelang tengah malam.

Belakangan ada panggilan dari pihak berwajib untuk beberapa karyawan. Kalau ndak salah ada 7 orang yang dipanggil untuk dimintai keterangan berkaitan dengan isu penggelapan uang yang nilainya tidak tanggung tanggung 1.3 M. Waow. Diperkirakan sejak February 2015. Hitung saja dari 2015 sampai pertengahan 2020. Paling tidak ada 20an juta lebih tiap bulannya. Jumlah yang fantastis. Bisa foya foya. Bisa tiap hari nraktir kawan kawannya. Bisa beli rumah. Bisa beli motor besar.

Kenapa bisa keterusan begitu. Apakah awalnya kebetulan salah dan karena tidak ada atasan yang ngecek, sementara yang bersangkutan sadar ada kesalahan. Mungkin merasa aman, ya keterusan.
Namun ada juga yang lucu. Ada satu orang yang pinjem duit 50juta ke yang bersangkutan. Seharusnya dia tidak ada urusan dengan PT, karena dia pinjam secara pribadi. Entah bagaimana masalah sebenarnya, yang pinjem duit tersebut diminta mengembalikan uang ke perusahaan.

Terlanjur enak.

Kita tunggu saja kelanjutannya. Dan semoga kasus kasus besar lainnya juga ditelusuri. Kalau ada. 

Rabu, 22 Juli 2020

GOWES COVID-19


Minggu 19 juli 2020, gowes perdana bersama team Perusahaan. Saya memang kebiasaan kalau ada acara bareng gitu susah tidur. jam 12 tengah malam baru membaringkan badan. Sekitar jam 4 subuh sudah bangun dan susah tidur lagi.

Kumpul di Mall Top 100 tembesi. Masih sepi ketika saya sampai. Sempat berpikir apakah saya salah loksai kumpul. Eh ternyata jam 7an pada baru nongol. Cuaca sudah mulai terasa panas oleh matahari.
Dari rencana yang ikut ada 15 orang. Tapi ternyata hanya 9 orang. 5 laki dan 4 perempuan.

Jam 7.15 start dari Top 100. Pertama jalan beriringan. Namun karena ada peserta yang tidak kuat maka terpaksa saya yang sampai duluan di jembatan satu harus menunggu beberapa saat. Setelah semua datang saya langsung meluncur lagi hingga sampai disuatu tempat gubuk kecil. Saya istirahat sambil nunggu rombongan.

Perjalanan dilanjutkan, sampai disimpang setokok menunggu pick up tiba. Belok kea rah pantai setokok. Satu anggota kebablasan sampai jembatan 4.
Jalanan menuju pantai naik turun, curam dan mendaki.

Masuk pantai, dijaga petugas. Mungkin orang kampong sana. Minta karcis masuk. Setelah bayar kami diijinkan masuk. Satu orang rp. 10 ribu. Total 10 orang termasuk supir pick up.
Di pantai harus sewa satu gazebo untuk berteduh. Bayar 60 ribu. Perbekalan semua dikeluarkan. Ada jagung rebus, pisang rebus, roti, telor ayam kampong dan kelapa muda. Haus dan lapar cukup terobati.
Semakin siang pengunjung semakin ramai. Orang pada mandi di laut meski air laut lagi surut. Mungkin pada sudah lama tidak mandi di laut semenjak wabah corona.

Jam 11 tak terasa. Sinar matahari serasa semakin panas di kulit. Siapa yang sanggup melanjutkan gowes kembali ke top 100 tembesi. Ndak ada yang sanggup. Terpaksa berhimpit himpitan di pick up yang dengan 9 sepeda saja sudah penuh.

Sepanjang perjalanan kendaraan cukup ramai, baik mobil, motor atau sepeda. Seakan ndak ada lagi yang namanya wabah corona. Semoga saja aman-aman semua. Bahkan antrean kendaraan di pom bensin arah barelang yang biasanya sepi terlihat antrean cukup panjang.

Akhirnya kami bubar di tempat start tadinya yaitu di Top100 tembesi. Tinggal menyisakan rasa pegal di kaki dan wajah terasa panas.

Jumat, 10 Juli 2020

PERSEMBAHYANGAN ERA NEW NORMAL

Sabtu 4 juli 2020 bertepatan dengan hari raya Saraswati dimana umat Hindu khususnya di Indonesia meyakini Hari Saraswati sebagai moment hari memperingati turunnya Ilmu Pengetahuan. Pada umumnya keluarga mengadakan upacara persembahan di rumah masing-masing dimana buku-buku atau yang berhubungan dengan alat tulis akan diupacarai dengan banten saraswati. Termasuk juga kalau ada yang memiliki lontar, juga diupacarai. Tidak heran jika masih ada pandangan bahwa di hari Saraswati tidak boleh belajar. Jika belajar atau baca-baca buku maka akan menjadi bodoh. Hal ini adalah pandangan turun temurun, dimana jika ditelusuri ada benarnya juga. Karena saat hari saraswati buku-buku diupacarai istilah Balinya dibantenin. Meskipun sebenarnya kalau jaman sekarang paling juga beberapa buku yang diupacarai sebagai perwakilan buku.

Dari sudut pandang spiritual, mengapa pada hari Saraswati tidak diperkenankan baca-baca buku, adalah karena disaat hari Saraswati kita diajak untuk berkontemplasi, atau mereview diri bahwa ilmu yang telah kita dapatkan selama ini seberapa jauh memberi manfaat dalam hidup kita, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. 

Sepertinya tidak ada pengaturan tata cara sembahyang bersama setelah diterapkan era new normal. Hampir terlupakan untuk mengikuti Protokol kesehatan Covid-19. Saat saya bersama keluarga sampai di Pura Agung persembahyangan ternyata sudah hamper selesai. Katanya dibuat beberapa gelombang agar posisi duduk tidak berhimpitan. Saya perhatikan posisi duduk yang sembahyang di gelombang pertama posisi duduknya biasa saja. Tidak ada pengaturan jarak atau physical distancing. 

Agak aneh yang mengatur jalannya persembahyangan justru Jro Mangku. Mengapa tidak pengurus BOP yang mengatur.

Saat saya datang belum ada petugas yang mengukur suhu badan. Mungkin petugasnya terlambat datang.
Saya menggelar tikar di deretan paling depan. Duduk berempat bersama istri dan anak. Kemudian petugas menghimbau agar duduknya jangan berdekatan. Minimal satu atau dua meter. Sepertinya bagi yang sudah duduk nyaman enggan pindah. Apalagi duduk tanpa tikar, sayang kambennya. Petugas sampai beberapa kali mengumumkan agar mengatur jarak. Akhirnya dimaklumi untuk satu keluarga boleh duduknya satu kelompok. Padahal dalam protokol kesehatan tidak ada perkecualian seperti itu.

Persembahyangan berlangsung sekitar 1 jam. Sembahyang bersama yang super kilat, tercepat. Biasanya persembahyangan paling tidak memakan waktu dua jam lebih.



Selasa, 23 Juni 2020

TEMAN SEJATI

Pepatah mengatakan ‘Teman sejati adalah teman yang peduli kepada anda disaat anda kesusahan.’ Bukan teman yang peduli anda di saat anda bahagia.

Teman sejati tentunya orang yang anda percaya.

Namun Jika anda ditanya siapakah orang yang paling anda percaya di dunia ini? Maksudnya selama anda hidup. Apakah istri anda, suami anda, orang tua anda (bapak/ Ibu),saudara anda (kaka/ adik), keluarga anda (selain keluarga langsung), kawan baik anda, guru anda ataukah bahkan musuh anda? Saya pikir jawabannya akan berbeda beda. Banyak factor yang mempengaruhi.

Ada pepatah cina mengatakan, ‘jika anda berburu harimau, maka ajaklah saudaramu’. Siapakah yang akan menyelamatkan anda jika seekor harimau akan menyerang anda. Jika anda mengajak kawan berburu anda, dan dia adalah kawan baik anda, apakah dia membantu anda sementara jiwanya juga terancam. Jika anda bersama istri atau suami anda, apakah dia juga akan membantu anda, sementara juga jiwanya terancam. Istri atau suami anda adalah orang yang anda kenal setelah dewasa.

Coba perhatikan orang-orang disekeliling anda. Baik itu di rumah, di masyarakat, atau di tempat anda bekerja.

Dengan usia yang sudah lebih setengah abad, saya sudah banyak melihat watak orang. Disaat orang itu berbuat jahat kepada saya, saya tidak merasa sedih. Begitu juga saat orang lain berbuat sangat baik kepada saya, saya tidak merasa terlalu senang. Sama saja. Orang berbuat baik di satu waktu, akan berbuat yang kurang baik di lain waktu.

Begadang di Kantor

Rasanya aneh saja, kerja malem saat pandemic korona ini. Rasanya sudah terlalu tua untuk kerja malam. Orang tua sebaiknya tidak begadang. Namun apa boleh buat. Periuk harus tetap berisi nasi. Kompor harus selalu bisa nyala.

Ndak ubahnya bagaikan hanya pindah begadang. Dari jam ke jam, dari menit ke menit, dari detik ke detik hanya menunggu bel pulang berbunyi. menghitung berapa lama waktu tersisa untuk pulang. jemu dan jenuh.

Menahan kantuk tanpa tidur sama sekali. Mata pedih, perut mual-mual, badan pegel semua. Beginilah bangsaku masih saja dijajah jepang. Jika ada yang ketiduran, maka keesokannya pasti ditegur atasan karena dilaporin oleh orang jepang satu itu.

Sewaktu saya masih suka mancing malam, saya juga harus begadang sampai pagi. Ada rasa berlomba untuk mendapatkan ikan paling banyak dan paling besar. Tak peduli ombak, tang peduli hujan. Pokoknya pegang stick pancing terus sampai pagi.

Betapa besar perjuangan menahan kantuk kali ini. Kini menjelang akhir Juni 2020. Sejak Maret ’20 diberlakukan 2 shift siang dan malam, selama 2 minggu. Entah sampai kapan.  Sangat berat rasanya. Beda dengan orang yang bekerja di line produksi. Karena aktifitas fisik mungkin rasa ngantuk tidak terlalu dirasakan.

Sejujurnya, sangat sedih. Demi anak istri.

Semoga anak istriku bisa tidur nyenyak di rumah.

Kamis, 11 Juni 2020

‘maslengagan’ tanpa disangka

Entah apa padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Maslengagan adalah bahasa bali yang mungkin bisa diartikan perasaan kaget karena suatu kejadian diluar dugaan. Atau bisa juga kondisi/ kejadian diluar harapan. Biasanya kejadian yang luar biasa.

Ada film dono kasino warkop dki. Mngkin dulu ada yang sempat nonton. Alkisah dono punya ayam jago satu ekor yang sangat dia sayangi. Suatu hari dono bepergian, ayamnya dititip ke indro dan kasino. Indro kasino mungkin jengkel dengan ayamnya kasino karena ayamnya suka ngotorin dan mengganggu. Saking jengkelnya maka dipotonglah ayam tersebut. Dan dimasak enak. Singkat cerita, dono balik ke rumah. Sebelum sempat lihat ayamnya, dono diajak makan dulu. Betapa lahapnya si dono makan. Setelah selesai makan dono menanyakan ayam kesayangannya. Dan betapa kagetnya dia ketika dikasi tau bahwa ayamnya sudah dipotong yang dimakan tadi.

Contoh yang saya alami. Beberapa hari yang lalu ngasi duit ke istri. Saya pesan agar dibelikan barang. Biar kliatan barangnya. Saya sarankan beli almari buffet. Istri sudah lihat lihat ke tempat jualan perabot rumah tangga yang tak jauh dari rumah. Tapi Katanya belum ada yang cocok modelnya. Saya bilang duitnya simpan saja dulu, nanti lain waktu juga bisa.
Tiap hari istri saya masak enak. Anak-anak suka makannya. Saya tidak menyangka kalau istri saya belanja pakai duit yang saya suruh simpan. Saya pikir karena kebetulan dapat order makan dua kali waktu bulan puasa, saya pikir duit itu saja cukup.

Ketika saya Tanya, duit kmaren yang rencana untuk beli buffet mana. Istri saya jawab, kan sudah dipakai ke dapur. Wah seketika darah saya naik. Amarah saya memuncak. Karena saya merasa tertipu. Bukan oleh orang lain. Tapi rasanya tertipu oleh diri sendiri. Inilah perasaan yang namanya maslengagan.

Jumat, 29 Mei 2020

Bantuan Pandemi Covid-19

Tanggal 20 Mei 2020 bertepatan dengan pembagian bantuan dari Pemko Batam yang kedua kalinya. Saya kebetulan di rumah karena pas libur menjelang Lebaran.
Ada seorang Ibu-ibu manggil manggil istri saya dari jalan. Ketika saya keluar, si Ibu itu nanya istri saya apakah ada di rumah. Saya bilang lagi ke pasar belanja. Si Ibu itu berpesan, silakan ambil bingkisan bantuan beras ke rumah pak RT. Nah saya pikir Ibu itu Istrinya pak RT atau istri salah satu pengurus RT. Saya jawab iya bu, terima kasih nanti kami ambil.
Kebetulan juga ada pesan di grup WA warga dari pak RT bahwa aka nada pembagian bingkisan dari Pemko, silakan ambil ke rumah. Demikian tulis pak RT. Saya kira semua akan dapat, berhubung di pesan WA tidak ada disebutkan bingkisannya untuk siapa saja.
Ketika istri saya datang, saya bilangin kalau tadi ada ibu-ibu yang nyuruh ambil beras bantuan dari pemko ke rumah pak RT. Istri saya jawab, ndak usah lah. Kita kan ndak dapat. Saya bersikeras agar istri saya ke rumah pak RT, berhubung tadinya, istri pak RT atau siapa gitu nyuruh ambil beras. Saya sedikit memaksa agar istri saya jalan. Akhirnya dia ke rumah pak RT. Katanya, nama kami tidak ada. Jadi tidak dapat bingkisan.
Istri saya balik dan ngadu ke saya. Saya ragu-ragu entah siapa tadi yang ngasi tau ke rumah? Apa mungkin istri RT sebelumnya. Nah istri saya ke rumah istri RT yang dulu itu. Ternyata si istri RT lama itu yang tadinya ngasi tau ke rumah. Ternyata dia ngira kami dapat bantuan.
Nah saya konfirmasi ke grup WA Tanya ke pak RT apakah bantuan itu untuk semua warga. Atau apakah semua warga dapat. Kemudian pak RT reply kalau bantuan tersebut tidak semua warga dapat. Ada 6 rumah warga yang tidak dapat. Denger- denger issu bahwa jika suami masih bekerja, maka tidak dikasi bantuan. Lha apakah ada warga yang suaminya ndak kerja? Ini bantuan dari Pemko untuk kedua kalinya.
Akhirnya pak RT japri saya, dia bilang ada warga yang seharusnya dapat bantuan tapi tidak diambilnya. Kalau bapak mau silakan ambil ke rumah. Beberapa menit lagi pak RT melanjutkan japrinya ke saya, mungkin dia mikir. Nanti sore saya antar ke rumah bapak, kata dia. Lha tadi paginya saja istri saya saya suruh ke rumah pak RT, berarti kan saya mau juga. Saya reply, ndak usah pak, lain kali saja kalau memang saya dapat jatah akan saya ambil.
Saya bukan mempermasalahkan karena saya tidak dapat. Tapi cara pak RT mempertimbangkan siapa yang dapat dan siapa yang tidak dapat. Atas dasar apa RT memutuskan itu. Toh semua warga kondisinya rata rata sama. Saya hanya khawatir dan  jadi berprasangka buruk. Jangan jangan ada diskriminasi. Saya tidak melanjutkan chat saya, saya bilang terima kasih di grup bahwa saya sudah clear. Kalau saya tambahin pasti masalahnya jadi panjang.
Harusnya RT mempertimbangkan hak dan kewajiban warganya. Jangan hanya menuntut kewajiban warga, tapi haknya juga harus diberikan. Jika itu sudah terpenuhi, maka pakailah pertimbangan kedua yaitu atas dasar kemanusiaan.
Ya demikianlah gara gara covid-19.

Sabtu, 04 April 2020

ATURAN ADAT

Depan Ruang Jenazah, 'memunjung'

Aturan adat jangan sampai menyusahkan atau menghambat warga. Meskipun sifatnya hukum adat yang sudah barang tentu tidak tertulis, mau tidak mau harus diikuti oleh semua warga. Di Bali dikenal dengan awig-awig. Sifatnya turun temurun. Harusnya awig-awig mengikuti perkembangan jaman.
Hari Jumat pagi 13 Maret 2020, saya ditelpon adik dari Bali mengabarkan bahwa Bapak telah tiada. Saya seketika nyari-nyari tiket ke Bali keesokan harinya. Lumayan mahal. Mungkin karena mendadak. Rp 1,7 juta one way. Untung tiket belum deal, adik berpesan tunggu berita selanjutnya dari Bali, jangan buru-buru. Akhirnya benar bahwa upacara akan dilangsungkan 2 minggu kemudian.
Akhirnya agar tidak terlalu lama saya absen dari tempat kerja, saya pulang ke kampong tanggal 22 maret. Lumayanlah ambil cuti 1 minggu.
Pelan-pelan dibahas mengapa harus nunggu 2 minggu. Ternyata awig-awig desa adat menyatakan bahwa jika sedang ada upacara/ kegiatan di Pura Desa maka pada saat itu tidak diperkenankan ngubur jeazah ataupun ngaben. Waduh. Apa boleh buat, memang aturannya yang nota bene disampaikan oleh ketua adat, yang dominan bersifat subjektif tersebut harus diikuti.
Sambil nunggu hari yang telah disepakati, jenazah orang tua ditip dulu di rumah sakit. Sudah tentu perlu biaya, yang tidak sedikit. Biaya ambulance, biaya peti, biaya perawatan, biaya penitipan. Tergantung lama tidaknya jenazah dititip. Ya apa boleh buat. Masih mending 2 minggu. Bagaimana kalau nunggu 2 bulan?
Opsi lain memang masih ada. Jenazah disemayamkan di rumah dulu selama tidak diperbolehkan ngaben. Nah apa tidak semakin repot kalau begini. Harus menunggui mayat siang malam. Belum lagi masyarakat yang datang harus disediakan makan, ya minimal kopi. Bayangkan kalau sampai 2 bulan kondisi begini.
Belum lagi masalah cuntaka atau ‘sebel’ istilah balinya. Dimana keluarga yang kena cuntaka tidak boleh masuk tempat suci. Atau tidak boleh ikut dalam kegiatan keagamaan. Meskipun ini sebenarnya masalah rasa, tapi akan sangat sulit jika berada di rantauan yang kegiatan keagamaannya berjalan baik.
Harusnya aturan itu ada batasnya. Sejauh mana yang ada dampaknya. Sejauh mana tidak ada hubungannya. Lha ini hanya karena ada renovasi tembok penyengker Pura. Harus menunggu renovasi selesai. Apa ndak menulitkan warganya.
Tentu itu adalah PR bagi generasi penerus. Mencari solusi agar tidak menyulitkan warganya sendiri. Lha warganya sedang kemalangan kok malah dipersulit. Semoga ada perubahan.

Jumat, 03 April 2020

DAYA SAING

Dari Gocar, kawasan Airport
Saya landing di Ngurah rai Airport jam 3 sore tanggal 22 Maret 2020. Meski saya orang Bali tapi saya merasa asing di tanah sendiri.
Keluar dari pintu kedatangan, saya ikut arus orang saja. Kebanyakan orang-orang nunggu jemputan. Saya buka aplikasi Gojek dan nyantol satu Gocar. Tertera nama supir dan nomor plat kendaraan serta jenis kendaraan. Tarifnyapun tidak terlalu mahal. Rp 160ribu untuk tujuan Rumah Sakit di daerah Kapal.
Lewat chat saya diminta nunggu di gedung parkir umum depan lift. Saya tak tahu dimana lokasi yang dimaksud. Saya Tanya security yang jaga disana. Dengan sangat sopan dia menunjukkan lokasi yang saya tanyakan. Dan sayapun menuju tempat tersebut.
Sepanjang jalan kaki sambil menggendong dan menjinjing bawaan, supir taxi atau mungkin calo menawarkan angkutan. Meskipun saya sudah bilang bahwa saya sudah booking taxi tapi mereka tetap mengikuti saya. Bahkan ada yang menanyakan berapa harga taxi yang saya booking. Saya sangat merasa terganggu. Salah satu diantaranya masih ngotot menawarkan taxi. Lengan penuh tato, perawakan besar. Terkesan sangar. Saking jengkelnya, saya jawab, saya sudah booking taxi, ini lihat, apa saya batalkan ini. Dia diam dan bertanya pada istri saya di belakang saya. Apakah ibu orang bali, begitu saya dengar. Istri saya jawab dengan polos, iya saya dari bla bla bla.
Taxi yang saya booking pun tiba. Saya naik dan sepanjang perjalanan saya lebih sibuk mengikuti rute jalan dan nama jalan dari HP saya. Ngobrol sesekali dengan supirnya yang asli jawa timur itu.
Tak berapa lama saya tiba di Rumah Sakit tujuan, Rumah sakit Mangusada Kapal. Kakak dan beberapa orang sudah menunggu disana, sambil ‘mepunjung’ yaitu ngaturang prasadam bagi orang yang meninggal dan mayatnya masih disemayamkan. Kebetulan Jenazah Bapak saya dititip di sana selama dua minggu.
Setelah selesai acara Ngaben Bapak, saya kembali ke Batam tanggal 29 Maret 2020 hari minggu. Diantar adik saya dengan mobil langka espas tahun 90an. Sampai mendapat taxi online. Sampai dimanapun. Coba sekali di daerah meliling, tidak ada taxi yang respon. Geser lagi ke timur daerah sembung, juga tidak ada respon. Geser lagi sembung meranggi. Ternyata nyangkut satu. Dan tak berapa lama, taxipun tiba.
Sepanjang perjalanan ngobrol tiada henti dengan sang supir. Asli jawa timur. Supir taxi asli bali apakah tidak ada? Atau pada berlibur. Supir ini di bali sudah sejak sebelum BOM Bali satu. Dia bercerita bagaimana runyamnya perekonomian antara saat bom bali dan saat ini yaitu dampak wabah corona. Syukuri saja, kata dia. Mungkin waktunya kita lebih sering lagi bersama keluarga. Dia sudah seperti orang Bali meski masih muslim. Dia bangga hidup di bali. Dia beli tanah dibali. Waktu jaya jayanya pariwisata, dia bisa nabung tiap hari 500 ribu. Teman seprofesinya juga ada beberapa orang Bali. Tapi beda, kata dia. Orang Bali kurang gigih, cepat nyerah. Toh masih banyak punya tanah orang tua yang bisa sewaktu waktu dijual. Ya begitulah.

Rabu, 01 April 2020

SALAH PAHAM COVID’19

Petugas disinfectant.

Sangat menggegerkan. Bikin acara amburadul. Semua harus dischedule ulang. Itulah akibat wabah covid’19 yang mengglobal. Tidak mengenal tempat, waktu, siapa saja rentan tertular virus satu ini. Berita mengenai virus ini juga berseliweran, entah mana yang benar mana yang salah. Mana yang harus dipercaya, susah.
Saya di bali. Di kampong, saat upacara pengabenan Ayah saya. Banyak acara yang harus dibatalkan untuk mengikuti anjuran pemerintah. Yang utama adalah tidak boleh kumpul-kumpul. Ada sangsi hukumnya, demikian yang disampaikan ketua Adat di kampong. Nah bagaimana tidak kumpul-kumpul, ka nada upacara keagamaan. Kan ndak mungkin acara Ngaben dicancel. Akhirnya disepakati, acara tetap jalan, tapi usahakan jangan ada yang share photo atau videonya di medsos.
Tadinya direncanakan ada pengiring tabuh angklung, terpaksa dibatalkan dan cukup baleganjurnya saja. Tapi juga harus dibatalkan karena melibatkan beberapa penabuh. Ya apa boleh buat. Kita cukup pakai kaset saja.
Yang datang ‘madelokan’ juga tidak ramai amat karena masing-masing daerah membatasi warganya untuk bepergian. Kecuali keluarga dekat.
Saya bersama adik dan ipar naik mobil ke rumah sakit Mangusadha di Kapal menjemput jenazah Bapak. Ini sehari setelah Nyepi. Ada surat edaran Gubernur Bali bahwa semua warga tidak boleh keluar masuk kota. Jika terpaksa keluar harus ada ijin dari kepala desa setempat. Adik sayapun sudah ngurus surat ijinnya. Didampingi oleh ‘pecalang’ yaitu security adat di bali berangkat kenuju rumah sakit.
Setiap sudut kampong yang dilewati dijaga oleh pecalang dan jalan ditutup kayu/ bamboo. Sampai di kotapun terlihat pemandangan serupa. Bahkan jalan utama antar kota juga ada yang ditutup. Mungkin ini berlebihan. Bisa dibayangkan jika truk truk yang beriringan dari jawa tidak boleh lewat, apa tidak kelimpungan ekonomi di bali.
Saat hari Pengabenan, tamu memang kliatan banyak yang datang. Tak terkecuali tetangga yang dulu adik kelas, yang terakhir ketemu saat di SMA. Katanya dia ODP orang dalam pengawasan. Yang habis meeting di beberapa kota dan berinteraksi dengan banyak orang yang bisa jadi diantaranya tertular virus covid19. Makanya dia ODP. Dia menolak saya ajak salaman. Dan dia sudah pakai masker. Ketika ngobrol, datanglah petugas keamanan Babinmas meminta si tetangga ini pulang, secara hati-hati untuk menyampaikan agar tidak salah paham.
Seluruh bagian sudut sudut rumah saya dan orangnya kemudian disemprot disinfektan oleh petugas di kampong. Ternya di kampong cukup tanggap masalah begini.
Sepulangnya dia dari rumah saya, ternyata pihak keluarganya tidak terima. Salah paham. Bahkan jika ada tetangga yang ke rumahnya, langsung diusir. Sampai membuat status yang kurang nyaman di medsos. Yang akhirnya postingan statusnya di remove sendiri.
Itulah sosialisasi ke masyarakat agar masyarakat kelas bawah masih kurang. Masih menimbulkan kesalah pahaman.
Semoga segera berakhir wabah ini.

Senin, 23 Maret 2020

PESAWAT ANGKOT

Kini naik pesawat bukan terkesan wah lagi. Entah mulai kapan makan di pesawat ditiadakan. Padahal dulu jauh dekat pasti dapat makan. Surabaya denpasar yang hanya ditempuh beberapa menit saja juga dikasi makan. Saya merasakan dapat makan di pesawat itu enak sekali rasanya. Bagi sebagaian orang naik pesawat adalah moment atau kesempatan berharga karena bisa mengambil wadah makanan yang ada merk maskai tersebut. Seperti sendok, garpu, piring dan mangkok kecil.
Kini itu semua tidak ada lagi di semua penerbangan. Dapat makanan pengganti kerugian jika keberangkatan pesawat delay 1 jam.
Sekarang kru pesawat menjajakan makanan dan sebagainya di pesawat dengan troley saat pesawat sudah terbang pada ketiggian stabil dan berakhir 20 menit sebelum pesawat mendarat. Saya jarang pesan makanan di pesawat karena harganya berkali kali lipat dari harga normal. Kecuali saya naik pesawat dengan anak kecil saya dan kebetulan dia tidak tidur. Disanalah saya lihat anak saya sangat menikmati makanan di pesawat meski hanya mie gelas dan air putih.
Terbersit pikiran apakah suatu saat nanti akan ada pengamen juga di pesawat seperti halnya di bus antar kota. Semoga saja tidak. Akan semakin jauh dari kenyamanan.
Dulu naik pesawat rasanya sangat elit karena bersih. Namun saat ini sudah jauh dari kesan tersebut. Saya sempat memperhatikan Jok tempat duduk saat naik pesawat salah satu maskapai.
Dibawah ini adalah photo salah satu kursi pesawat terbang yg saya tumpangi tgl 22 maret'20 dari batam menuju sby dengan no penerbangan JT0970. Saya, Istri dan anak saya kebetulan duduk bertiga di seat 17A,B,C. Sambil nunggu take off coba nyari2 bahan bacaan. Kaget bercampur heran betapa kotornya jok/ sarung jok ketika saya mau buka kantong jok di depan saya. Bagaikan tempat duduk angkot yg tidak terawat. Saya tengok tempat duduk yang lainnya juga sama. Lantainya yang dari karpet juga sudah kelihatan lusuh. Kotor seperti tidak di vacuum. Padahal ini pesawat Boeing 737-900ER. Saya buka-buka majalah maskapai tsb. banyak topiknya tentang kesehatan/ kebersihan, seiring dengan wabah virus corona. Semoga ada perhatian



SAYA BUKAN SIAPA SIAPA

Akhirnya saya beserta anak dan istri saya pulang ke Bali tanggal 22 Maret 2020. Sejujurnya saya merasa sedih ketika istri saya nanya saat keluar dari ruang kedatangan, ‘siapa yang jemput kita’?, Tanya istri saya. Saya bilang kita naik taxi saja. Meski terasa asing sekali alias kagok. Dimana harus nunggu taxi, mana yang namanya gedung parker. Mana lift parker.

Seakan saya tidak punya siapa-siapa.

Adik tidak bisa jemput dengan mobil bututnya karena sibuk persiapan upacara mendiang ayah saya. Bersama masyarakat. Kebetulan kakak di Surabaya sudah duluan pulang, bahkan bawa dua mobil, stand by. Jarak bandara dengan kampong lumayan jauh. Apakah taxi mau sampai di kampong.
Saya coba pancing perasaan kakak. Kebetulan jenazah ayah masih dititip di rumah sakit di desa kapal (di kota). Apakah tidak ada rencana ‘memunjung’ ke rumah sakit. Yaitu membawakan sajen dan 'makan' untuk orang meninggal yang dianggap masih hidup. Syukurlah, ada kesamaan pikiran. Bisa jumpa di rumah sakit. Saya bertiga naik taxi dari bandara menuju rumah sakit kapal. Rombongan kakak bawa mobil yang disupiri oleh tetangga. Meskipun saya denger kabar, istri kakak saya tidak iklas sekalian jemput saya. Kenapa saya ndak naik taxi saja sampai di rumah. begitu kata isu yang saya denger.

Akhirnya bertemu di rumah sakit. Kebetulan hari libur, diminta masuk lewat pintu belakang. Kebetulan kamar jenazah deket pintu belakang. Belakang Rumah Sakit ada tanah kosong untuk parkir kendaraan.

Dalam perjalanan pulang sempat mampir di pasar 'senggol' tabanan kota. Ini pasar favorit saya waktu kecil. Betapa senangnya jika diajak orang tua mampir ke pasar senggol. Beli sate kambing atau tahu tipat. 

Dari jalan raya menuju rumah, tepatnya dari pertigaan Pucuk, di ujung jembatan baru, disinilah pertigaan yang penuh kenangan saat saya sekolah di kota maupun saat saya kuliah di UGM Jogja. Sampai di simpang jalan inilah saya biasa nunggu ankutan umum, atau nunggu bus malam ke Jogja. Begitu juga sebaliknya jika saya pulang ke kampung. Di simpang inilah biasanya saya turun menunggu di jemput bapak saya. Dari simpang ini menuju desa dalang, jalan desa sudah sejak lama kondisinya rusak. Boleh dibilang parah. Lobang sana sini. Memperihatinkan. Jika ada kendaraan khususnya mobil yang datang dari arah berlawanan, salah satu harus menepi.

Selama melintasi jalanan rusak, saya berpikir bagaimana saya menuju rumah jika tidk ada tumpangan. Teringat waktu SMP dulu di tahun 77 – 79, harus jalan kaki sejauh kurang lebih 12 Km dari jalan raya menuju rumah. Karena tidak ada kendaraan. Atau kalau kebetulan ayah saya tidak bisa jemput.
Saya sadar, saya bukan siapa siapa, ternyata.  Mencari rumah dimana dulu dilahirkan kok betapa sulitnya.

Selasa, 03 Maret 2020

Ogoh-ogoh 2020

Antara pemborosan dan manfaat.
ogoh-ogoh 2020


Setiap tahun umat hindu di kota Batam khususnya membuat ogoh-ogoh. Pertama kali pada tahun 2012. Sejak itu pula alasan mengapa ada pawai ogoh-ogoh. Katanya untuk menunjang pariwisata. Tentu selain alasan ritual.

Pernah satu kali pawai dengan mengarak ogoh-ogoh dilaksanakan di seputaran engku putri. Diakhir acara ogoh-ogoh juga dibakar di alun-alun engku putri. Saat itu juga sepertinya ada hadir dari dinas pariwisata batam. Dia berjanji akan mensupport acara ini untuk menarik wisatawan ke batam. Tapi, hanya sebatas wacana. Tidak pernah terealisasi. Bahkan ada juga umat hindu yang bergerak di bisnis pariwisata. Sering juga berjanji bakal menjembatani kegiatan kebudayaan dengan pemerintah daerah. Tapi seingat saya ndak pernah terwujud.

Membuat satu ogoh-ogoh memerlukan dana yang tidak sedikit. Sekitar 10 sampai 15 juta jika dihitung termasuk ongkos pembuatannya. Pengerjaannyapun biasanya butuh waktu lebih dari satu bulan. Itupun biasanya pengerjaannya secara keroyokan untuk menghemat ongkos pengerjaan.
Hamper tidak ada sisi negative yang bisa dikatakan. Dengan catatan kalau kita mau membuang sisi negatifnya. Pembuatan ogoh-ogoh mempererat tali persaudaraan, memupuk jiwa gotong royong. Yang tidak kenal menjadi saling kenal. Yang sudah kenal menjadi semakin akrab. Sebagai daya tarik umat untuk ikut upacara tawur kesanga atau pengerupukan. Bisa jadi pengerupukan akan sepi jika tidak ada pawai ogoh-ogoh. Para pemudanya tidak akan datang. Begitu rumornya. Masyarakat batam menjadi tahu tentang keberadaan umat hindu di batam.

Tidak tanggung-tanggung, tahun ini katanya akan ada 3 buah ogoh-ogoh. Satu buah dari anggaran panitia nyepi. Satu dari swadaya umat HIndu. Satu lagi sumbangan dari salah satu umat yang punya jiwa seni. sebagai penyaluran hobby dan jiwa seninya. Yang pertama adalah ogoh-ogoh untuk bapak-bapak, yang kedua untuk ibu-ibu dan yang ke tiga untuk anak-anak. Semangat umat Hindu di Batam memang patut diacungi jempol.

Di sisi lain masih butuh biaya yang sangat besar untuk kelangsungan pembangunan Pura Agung. Bagimana kalau biaya ogoh-ogoh yang puluhan juta itu dialihkan ke pembangunan. Masih banyak pembangunan yang tertunda. Tapi itu kalau kita berpikirnya ke sana. Kembali lagi ke alasan di atas.
Di sisi yang lainnya lagi, ada usulan membuat taman di areal pura. Untuk memperindah Pura, katanya. Padahal kalau saya pikir, apa bedanya membuat ogoh-ogoh dan membuat taman. Yang membedakan hanya waktu. Bikin ogoh-ogoh bisa cepat selesai, dan begitu prosesi selesai langsung dibakar dan habis tak berbekas. Hanya menyisakan catatan pengeluaran. Bikin taman perlu waktu yang lebih panjang. Saat pembuatan, kedua hal tersebut mempunyai ambisi yang sama. Berapapun tambahan biayanya pasti tertutupi. Seiring berjalannya waktu, taman juga akan hilang. Tidak ada planning perawatan. Merawat yang sudah ada biasanya jauh lebih susah dari pada membuat yang baru.

Ogoh-ogoh; perlu biaya, ada nilai seni, ada nilai ritual, cepat sirna. Taman; perlu biaya, ada nilai seni, tidak ada nilai ritual, sirnanya lama. (igstng)

Senin, 27 Januari 2020

“METATAH/ MEPANDES” UPACARA POTONG GIGI

Ekpektasi dan Realitas.

Saya tiba dikampung halaman ketika hari sudah senja. Sempat mampir dulu beli makan. Di sembung, yang saya kira itu di Banjar Bantas. Ternyata saya salah. Jembatan sembung saya kira itu jembatan Pucuk.

H-2 ternyata sudah banyak tamu yang datang. Padahal undangannya hari Senin 27 Januari. Sepintas aneh. Ya itulah di kampong halaman. Orang kondangan bukan semata mata mencari makanan. Kehadirannya jauh lebih penting. Tapi mau tidak mau harus dijamu alakadarnya. Kerabatpun sudah mulai berdatangan membantu.
Bagai air mengalir. Sang tuan rumah tidak banyak memberi komando. Semua diserahkan ke warga adat. Tuan rumah hanya menyediakan bahan utama. Selebihnya sumbangan para warga dan kerabat. Begitulah adat didesa saya.

H-1 para undangan semakin ramai berdatangan. Secara resmi menggunakan tenaga banjar. Saya menyapa warga yang kebetulan saya jumpai. Mungkin kebetulan hari minggu. Hari libur kantor atau sekolah.
Satu hal yang sempat saya perhatikan, yang katanya sulit diubah, kebiasaan dari duluuu. Sebagian besar tamu yang datang terutama para orang tua, harus membawa ‘sok’ yaitu wadah semacam nampan atau keben yang berisi beras, bungkusan kado yang biasanya isinya gelas dan lainnya.
Kemudian tamu menyerahkan bawaannya kepada petugas jaga untuk ditempelin nomor pada wadah bawaannya dan satu lagi nomor ditempel di tangan tamu. Ini untuk menghindari tertukar wadah bawaan.


Petugas penerima barang tamu mengambil isi yang dibawa tamu dan ditukar dengan bingkisan yang sudah disiapkan. Beda dengan jaman saya kecil dulu, isi sok yang disiapkan tuan rumah berisi daging mentah satu potong, ada sate lilit, kue-kue dan lain lain. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka dibuat yang praktis dibungkus plastic satu paket berupa makanan ringan yang kering kering. Bisa ditambah minyak goreng.


Pada hari H, saya lebih focus ke acara. Biarlah tamu dihandle oleh panitia.
Semua sarana upakara, perlengkapan, serati banten, jero mangku, sangging(petugas potong gigi) dan pemuput upacara yaitu Ida Pedanda Ratu sudah dalam satu paket yang dipesan jauh-jauh hari sebelum acara. Ini juga bisa dibilang satu kemajuan, dibuat lebih praktis. Dibandingkan jaman saya kecil dulu jika ada yang punya acara keagamaan, yang punya hajat harus mempersiapkan sarana upakara selama berhari-hari. Sehingga saat hari H sarana upakara sudah pada layu bahkan busuk.
Jam 3 menjelang pagi, anak saya dan tiga ponakan sudah harus dirias. Saya sendiri memang susah tidur. sendi sendi tulang terasa ngilu. Itulah kondisi buruk tubuh saya, sulit tidur ditempat selain yang biasanya. Bahkan di hotel sekalipun.

Diawali dengan matur piuning ke pelinggih pemujaan keluarga yang dipimpin oleh Jero Mangku Adat desa. Ada selentingan bahwa ini hanya untuk menghormati niat baik Jero Mangku Desa. Agar tidak tersinggung, dimana sebenarnya semua nantinya tercover dalam satu paket, anggap saja ‘subcont’. Tidak apa, yang penting niatnya baik.

Giliran ‘subcont’ upakara datang dengan semua eteh-etehnya. Juga diawali dengan matuur piuning. Seperti halnya yang dilakukan tadi oleh Jro Mangku Adat Desa.
Lha dalah satu ponakan malah masuk angin, muntah-muntah. Saya ndak puya pikiran yang curiga macam-macam. Paling juga karena masuk angin, dirias dari pagi. Begitu pikir saya. Cuman menurut versinya adik saya, karena ada sesuatu. Sesuatu itu agak susah dijelaskan. Tiba-tiba saja juga ponakan saya itu sembuh kembali.

Satu persatu anak dan ponakan saya berjalan melewati kain kampuh dari tempat pingit menuju tempat potong gigi.

Pertama adalah ponakan saya paling tua. Perempuan. Terlebih dahulu berdoa dengan posisi bersimpuh menghadap sangging. Kemudian tidur terlentang. Disaksikan oleh semua anggota keluarga dan kerabat. Urutan prosesinya, gigi atas dikikir secara simbolis, sebanyak 6 gigi. Yaitu dua gigi seri, dua taring kiri kanan, dua geraham depan kiri kanan. Kemudian kumur kumur dan dibuang ke dalam ‘bungkak’ nyuh gading. Secara simbolis gigi dilihat melalui cermin kecil. Kemudian sekali lagi dirapikan dengan kikir yang menyerupai batu asahan. Kemudian kumur lagi dan dibuang lagi ke dalam bungkak nyuh gading. Terakhir menggigit gulungan daun sirih seperti halnya yang dipakai embah-embah. Daun sirih digigit sampai putus. Dan dibuang ke dalama bungkak. Terakhir menghaturkan terima kasih kepada Hyang Widhi Wasa dan ngayab pebiukaonan.
Demikian untuk peserta potong gigi yang lainnya.



Selanjutnya masih ada tahapan prosesi upacara yang harus dilewati.
Tiba giliran acara sungkeman. Pada sevana, mencuci kedua kaki orang tua. Mohon maaf kepada orang tua atas segala kesalahan yang telah diperbuat. Suasana haru menyelimuti acara ini. Meski persiapannya kurang mateng dimana sebenarnya bisa dibuat lebih khidmat. Persiapan peralatan sangat minim. Tempat nyuci kedua kaki orang tua sebaiknya dipakai baskom yang telah diisi air kemudian dibilas dengan air bersih kemasan. Sebaiknya disediakan lap/ handuk kecil. Air bekas cucian kaki orang tua minimal dibasuhkan kemuka sang anak.

Ya begitulah. Kata orang, jika anda mensetting target terlalu tinggi maka kemungkinan ketidakpuasan akan semakin besar.

Senin, 13 Januari 2020

TOILET MASA DEPAN

Ada warga yang posting perihal pengalamannya menjumpai pejaga sri lalita (mungkin orang sucinya), tempat sembahyang warga India yang bersebelahan dengan Pura Agung di Batam, buang air besar sembarangan di semak semak kawasan Pura Agung. Seketika berbagai komentar muncul. Ada yang prihatin. Ada yang cuek. Ada yang sengaja diem. Bukan berarti cuek.
Perdebatan juga sampai dibahas di pertemuan banjar. Kebetulan hadir ketua pengurus/ pengempon pura. Pertama diberi kesempatan pengurus lembaga menyampaikan historis pembangunan toilet di lingkungan pura Agung. Yang tidak mengarah ke penyelesaian masalah. Setiap hendak membangun toilet, sepintas adalah pekerjaan yang sangat sulit terwujud. Harus penuh ke hati hatian. Harus dipertimbangkan secara matang. Kalau dilihat kembali, toilet yang ada sekarangpun, baru terwujud di akhir tahun 2009. Itupun karena akan ada acara Ngenteg Linggih waktu itu.
Bukankah membangun sebuah toilet sangat sederhana. Toh bukan uang yang jadi masalah. Tapi kok ribet. Bukankah urusan satu itu ‘kebelakang’ adalah urusan yang tidak bisa ditawar tawar. Kenapa penjelasannya panjang lebar. Bahkan sampai menyinggung masa depan Hindu. Wah rumit jadinya. Ataukah saya berpikiran terlalu simple. Lha coba bayangkan, bagaimana rasanya disaat kita lagi kebelet baik itu ingin buang air besar atau buang air kecil. Tidak ada toilet. Pergi kemana kita. Apakah bisa terus terusan numpang  ke tetangga?. Tentu saja tidak.
Setiap ada masalah penyelesaiannya kita harus duduk bersama. Tapi duduk bersama jarang bisa terlaksana. Kalau begitu bagaimana masalah bisa terselesaikan.
Seperti yang disampaikan ketua BOP, pihak Sri Lalita pernah diberi lokasi untuk membangun toilet beserta gambarnya. Dipersilakan membangun sendiri. Tapi tidak terwujud. Berbagai alasan. Kurang besar katanya.
Atau isu lain mengatakan bahwa mereka maunya dibangunkan toilet. Karena mereka merasa pernah bayar UWTO. Padahal hanya kontribusi bayar UWTO dengan pertimbangan mereka ikut numpang disana. Semacem berkontribusi.
Dengan alasan inilah mereka merasa memiliki hak yang sama dengan pihak Pura Agung. Mereka ingin menuntut haknya.
Namun dengan alasan ini pula pihak Pura Agung tidak mau membangunkan toilet untuk mereka. Kalau kita yang membangun, berarti kita mengakui mereka punya hak yang sama dengan kita. Dikemudian hari mereka akan minta dibangunkan macem macem lagi. Demikian kekhawatiran pihak kita.
Karena kedua belah pihak bersikeras dengan pendiriannya masing-masing yang tidak pernah mau bertemu, maka masalah tersebut tidak pernah terselesaikan. Maka yang disebut penentu masa depan hindu di batam, tidak pernah terwujud. Hilang dan timbul seiring berjalannya waktu. Yang terus terjadi adalah buang air di WC alami.