Senin, 24 Juli 2023

KAPLING SORGA

 


Sepertinya ini adalah babak akhir dari issue relokasi bangunan tempat ibadah Warga India di kawasan Pura Agung Batam. Konon win win solution. Beberapa kali saling berbalas surat antara pihak Pura Agung dengan Sri Lalita. Sebut saja demikian.

Rapat DPU diadakan lagi tanggal 15 Juli 2023 di Gedung sekretariat. Setelah beberapa lama tidak ada perkembangan. Rapat sedianya diadakan sore hari, namun karena alasan kerja, rapat diundur pada malam hari. Padahal ya sama saja, tidak semua undangan bisa hadir. Hasil rapat belum sempat di share. Ternyata pada hari Minggu 16 Juli 2023 sejumlah pengurus BOP dan juga katanya atas nama Team Pembangunan Pura Agung memasang patok patok katanya patok lokasi yang akan dibangun Dapur Suci dan yang satunya Bangunan Serba guna. Bangunan dapur ini overlap dengan bekas bangunan Sri Lalita.

Kemudian baru dishare di grup terbatas photo photo pemasangan patok tersebut. Juga photo Master Plan. Seharusnya Master Plan dulu dishare, baru kemudian memasang patok. Umat yang lainnya biar mengetahui. Ini kesannya sembunyi sembunyi. Dengan rencana pembangunan Dapur Suci tersebut otomatis lokasi bangunan Sri Lalita akan tergeser ke arah Kak Dadut. Sepintas seperti mengkapling tanah untuk rumah rumah liar yang sangat umum di Batam. Siapa duluan mengkapling dan pasang patok maka dialah yang punya tanah tersebut. Karena ini di areal tempat ibadah, ya anggap saja ini kapling sorga. Karena urusannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Atau tak pernah terpikirkan tentang sorga.

Kalau memang alasannya seperti di Bali, seharusnya bangunan dapur suci pura letaknya di Mandala Utama. Yang sudah ada pondasinya itu. Dibelakang bale lantang. Yang saya sebut bale monumen perpecahan. Jangan jangan pembangunan dapur suci itu juga seperti pembangunan bale lantang. Hanya kedok untuk membuat kelompok kelompok mana kawan dan mana dijadikan musuh.

Kemudian rencana pembangunan Bale Serbaguna yang megah. Ada juga kios untuk cenderamata. Semangat membangun memang luar biasa. Bukankah aset bangunan yang ada sekarang sudah melebihi dari keperluan. Kalaupun punya dana apakah tidak sebaiknya dialokasikan untuk hal hal yang lebih penting. Misalnya membantu memikirkan sarana pendidikan. Membangun ruangan kelas. Agar anak anak tidak terus terusan belajar lesehan yang sangat menjemukan.

Toh,

Sudah punya gedung wantilan. Yang dulu pernah dijadikan ruangan kelas. Yang sekarang menjadi gudang. Mengapa tidak ini yang ditata ulang sehingga sesuai dengan peruntukannya.

Toh,

Sudah ada bangunan bekas restoran Kak Dadut. Yang habis kontrak sewa lokasi selama 23 tahun yang habis masa kontraknya bulan Maret 2023. Ini bisa digunakan sebagai gedung serba guna. Lebih dari cukup. Tinggal menata ulang. Bangunan yang menjelang masa kontraknya habis yang banyak menimbulkan suara suara bernada curiga. Ada yang bilang umat tidak pernah diberitau perihal masa kontraknya. Ada yang bilang kok diam diam saja padahal masa kontrak sudah mau habis.

Nah sekarang, sampai tulisan ini saya buat, tak pernah ada yang membicaran bangunan kak dadut. Jangankan membahas orang yang mau sewa. Sudah disebarkan lewat para kelian banjar. Kalau ada umat yang mau menyewa, atau kalau ada pihak luar yang mau nyewa agar menghubungi pihak BOP. Hasilnya apa. Nol besar. 

Ya begitulah kalau berbicara tanpa didasari pengetahuan yang cukup.









Sabtu, 01 Juli 2023

PERTEMUAN BANJAR BATU AJI TIMUR 1 JULI 2023



Yayasan Optimis

Kita ini dipermainkan oleh umat sendiri/ kawan sendiri dan oleh pihak SL. Demikian komentar salah satu umat yang kebetulan hadir saat pertemuan warga Hindu di daerah Batu Aji timur. Pertemuan banjar yang rutin dilaksanakan tiap bulan secara bergilir dari rumah ke rumah. Kali ini dilaksanakan di rumah Putu Kertiada. Perumahan Taman Lestari blok B4 no 6. Yang hadir hanya sembilan keluarga dari 25 keluarga yang terdaftar sebagai warga Banjar Batu Aji Timur. Paling ada satu atau dua orang yang memberi informasi ketidakhadirannya. Inilah salah satu kelemahan organisasi jika mengadakan pertemuan.

Saya spontan tertawa mendengar kalimat kawan tersebut. Istilah Balinya mekebris. Saya sejak dulu dari awal mencuatnya masalah dengan SL bisa menebak bahwa permasalahan tersebut akan buntu. Berlarut larut, komunikasi bermasalah, tidak ada kemampuan menghadapi pihak SL yang notabene cara berpikirnya mengutamakan logika. Sementara pihak kita hanya inginnya pakai otot. Coba perhatikan bagaimana umat kita menyelesaikan masalah. Sudah diajak rapat susah. Hadir sekali sekali yang dibahas bolak balik tidak fokus. Tidak konsisten. Di awal bilang A, seiring berjalannya waktu kliatanya arahnya ke B, maka dia berubah pendapat ke B. 

Ada beberapa informasi yang disampaikan oleh klian banjar. Diantaranya naiknya iuran BOP dari 40 ribu menjadi 60ribu per KK tiap bulan. Info perbaikan Bale Papelik dan melanjutkan ukiran karang gajah Padmasana. Kemudian informasi kelanjutan master plan tentang Sri Lalita. Dan yang terakhir mengenai rencana pembentukan Yayasan.

Ada beberapa tanggapan atau informasi tambahan dari umat yang hadir. Seperti Sri Lalita. Minta direlokasi dan ditunjukkan tempatnya, namun yang lain katanya ada yang bilang tidak boleh disitu karena posisinya di hulu Padmasana. Gelak tawapun keluar dari yang hadir. Mungkin lucu.

Informasi penting sebenarnya yang disampaikan oleh mantan ketua BOP, Ngurah Brunayasa yaitu ada yang mempertanyakan bagaimana kelanjutan uang BOP yang statusnya dulu dipinjamkan ke panitia renovasi Padmasana. Apakah uang tersebut dikembalikan atau dihibahkan saja toh untuk pembangunan Pura. Ini berpotensi bola liar dan panas yang ditendang sewaktu waktu. Ini lagi lagi tidak ada notulen rapat. Sekarang harusnya dibuatkan nota kesepemahaman dituangkan dalam berita acara rapat agar statusnya close. Seharusnya ditentukan kapan dan saat apa kesepemahaman tersebut dibuat. Jangan hanya jadi wacana yang sementara hilang dari peredaran.

Isu lainnya adalah tentang legalitas Pura. Harus ada Yayasan yang melindungi legalitas Pura. Konon ketua Yayasan sudah terpilih yaitu Putu Suardika. Entah kapan dipilih dan siapa saja yang milih. Tinggal sekarang membentuk susunan pengurusnya. Dalam diskusi tersebut memang kembali diungkapkan bahwa nanti Yayasanlah yang menaungi semua kegiatan keagamaan. Saya menyela pembicaraan, sebelum lebih jauh membuat rencana, yang pertama harus dibuat adalah Yayasan beserta komponen komponennya. Sampai dimana pembentukan Yayasan. Yang saya dengar ada yang bilang sangat mudah mendirikan Yayasan. Ada yang bilang masih terkendala, entah apa alasannya, masih mbulet. Yang jelas optimis. Demikian kata Putu Suardika. Sekali lagi, optimis.