Senin, 16 Januari 2023

RAPAT BANJAR BATU AJI TIMUR 15 JAN.2023

 Bertempat di rumah salah satu umat di Perumahan Taman Lestari. Yang saya sempat salah alamat karena yang bersangkutan memang punya beberapa rumah. Untung hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya yang pertama yang saya ketahui. Seorang guru Sekolah Dasar di salah satu sekolah swasta di batam. Suaminya bekerja di perusahaan peternakan yaitu di pulau Bulan. 

Akhir akhir ini saya sebenarnya enggan sekali menghadiri rapat banjar. Agenda rapat dan informasi yang disampaikan ke warga seolah olah informasi mengambang. Agenda utama adalah berkaitan dengan pembentukan Yayasan. Selama saya di Batam, isu ini sudah berulang kali dibahas, bahkan pada jamannya Pak Nyoman Winata sebagai ketua Parisada Kepri, yang ikut duduk di pendiri Yayasan harus urunan untuk membentuk dana awal Yayasan. Waktu  itu saya juga ndak ikut sebagai Pendiri. Masak harus urunan, bukankah dana di organisasi itu ada. Akhirnya usaha inipun kandas entah sampai dimana, entah apa masalahnya. Tidak pernah jelas. Karena ketidakjelasan itu maka dibuatlah rencana Yayasan yang baru lagi. 

Nah saat membahas Yayasan itu yang berkomentar atau memberi masukan hanya beberapa orang saja. Sayapun hanya sebagai pendengar. Harusnya komentar itu bertitik tolak pada tujuan mengapa mendirikan Yayasan. Fokus pada tujuan tersebut. Bukan seolah olah nanti setelah Yayasan berdiri maka semua lembaga keagamaan harus legowo berada di bawah pengurus Yayasan. Kata legowo ini rasanya kurang pas ditelinga saya. Ini kesannya menakut nakuti. Kesan arogansi. Apakah tidak tahu mengukur kemampuan sendiri dari pengalaman selama ini. Adakah pengurus yang sanggup mengontrol semua lembaga di bawah Yayasan. Apa lupa bahwa pengurus hanya ngayah. Artinya kalau ada waktu, ya ngayah. Semuanya punya kerja utama. 

Terutama masalah keuangan masing masing lembaga. Apa tidak jadi runyam. Kalau nanti demikian dampaknya, terus apa gunanya mendirikan Yayasan. Toh tanpa Yayasan, selama ini aman aman saja. Bantuan dari Pemerintah juga tetap ada. Ada pendapat demikian. Sebenarnya alasan utama diperlukannya Yayasan adalah masalah Legalitas Pura. Sebagai payung hukum jika ada masalah dikemudian hari yang berkaitan dengan hukum. Kalau dilihat dari lokasinya Pura Agung sangat strategis. Meskipun pada awalnya adalah berupa tanah bukit dan berupa hutan. Namun seiring pesatnya pembangunan, wilayah tersebut tentu memiliki nilai jual yang tinggi.

Adapun hasil rapat yang saya copy paste, sebagai berikut. 

Nama perwakilan dari Banjar untuk Pendiri Yayasan

1.Bpk Gusti Ngr Brunayasa

2.Bpk Gusti Bagus Galika

3.Bpk Putu Suardika

Masukan-Masukan Terkait Terbentuknya Yayasan,sbb

a.Yayasan harus merangkul semua lembaga independent Pura,seperti Pasraman,Koperasi dan BOP.

b.Semua lahan dan Aset Pura adalah milik Yayasan,termasuk bangunan suci srilalita.

c.untuk lembaga yg selama ini mengurus Pasraman,Koperasi dan Pura secara independent agar dapat dg legowo  dibawah  Yayasan sesuai Bidang masing².

d.di bentuk nya Sub Bendahara Pasraman dan BOP untuk mempermudah jalan nya lembaga yg nanti nya semua pengeluaran nya harus di laporkan ke Bendahara Yayasan.

Ya mari kita tunggu kelanjutannya seperti apa.


Minggu, 15 Januari 2023

KUNINGAN ISTIMEWA 14 JANUARI 2023


Areal Sembahyang sementara

Saya kebetulan sembahyang pagi ke Pura Satya Dharma di mukakuning. Bersama anak saya yang besar. Persembahyangan sedang berlangsung. Saya datang agak telat. Harus nunggu gelombang kedua. Beruntung masih ada beberapa umat yang juga datang terlambat. Jadi ada kawan sembahyang berikutnya. Posisi sembahyang di belakang areal Pura yang sedang dibangun.

Sebagian umat dari banjar saya pergi sembahyang ke Pura yang ada di Polda Kepri. Entah apa nama Puranya. Saya kurang perhatian. Kebetulan banjar saya dapat giliran menyiapkan persembahyangan di sana. Ini sebenarnya yang saya ingin komplin, tanpa ada pemberitahuan atau pembahasan sebelumnya kok ada giliran bikin persiapan persembahyangan di Pura tersebut. Tapi saya urungkan niat saya itu, takut dibilang merusak suasana hari suci. 

Pura Adistana, di Polda Kepri

Pura yang selama proses pembangunannya dari awal sama sekali tidak mau melibatkan umat secara resmi. Harusnya melibatkan lembaga atau minimal ke semua banjar. Ada apa kok kesannya sembunyi sembunyi. Mengapa yang dilibatkan hanya sekelompok orang tertentu saja. Dalam tulisan saya sebelumnya pernah saya singgung apakah nanti suatu saat tidak butuh lembaga atau umat secara umum. Malah yang konon sebagai ketua panitia pernah posting di grup mereka bahwa mereka tidak akan melibatkan umat sampai menjelang upacara Ngenteg Linggih. Namun nyatanya, minta SK ke Lembaga umat. Minta support upakara juga ke umat. Padahal belum Ngenteg Linggih. Untung saja pengurus Lembaga dan sebagian besar umat kita berpikiran positif. Pasti berabe jika semua cara berpikirnya seperti kelompok itu.

Pada malam harinya saya sembahyang ke Pura Agung bersama keluarga. Banjar yang bertugas adalah banjar Nagoya. Saya duduk pada deretan  agak ditengah. Saya tidak nyangka ketika Jro Mangku yang memimpin persembahyangan menyampaikan bahwa sebelum sembahyang bersama atau kramaning sembah akan dilaksanakan upacara mejaya jaya untuk pengurus BOP yang baru dibentuk. Ini adalah puncak acara persembahyangan malam ini. Demikian kata beliau. Yang menurut saya seharusnya susunan acara diatur oleh pembawa acara. Mengapa pengurus ini terasa istimewa sekali. Apakah memang pengurus ini akan menuntaskan semua permasalahan yang ada saat ini? Kita tunggu saja.

Di Pura AGung. Berjejer berdiri di depan Pengurs BOP

Dengan sigap pengurus Lembaga membacakan SK Susunan Pengurus BOP dan sekalian meminta nama nama yang disebutkan untuk maju ke depan. Saya perhatikan 99% anggota yang menjadi pengurus BOP adalah orang orang yang paling banyak berkomentar di grup suka duka milik kelompok mereka.

Setelah sembahyang bersama semua umat yang hadir malam tersebut diminta memberikan ucapan selamat kepada pengurus. Mari kita lihat dan dukung bersama apa yang menjadi program pengurus yang baru. Jangan sampai terulang seperti waktu terpilihnya ketua Lembaga agama beberapa tahun yang lalu. 


Sabtu, 07 Januari 2023

CONTOH HAL MIRIS

Photo ini saya ambil di bulan Oktober 2022



 Contohnya seperti photo di atas. Ini adalah peralatan CCTV di Pura. DVR dan monitor CCTV disimpan. Ketika dilakukan penggantian pintu dan jendela Bale Gong atas ide segelintir orang dengan alasan agar lebih seni karena bernuansa ukiran Bali. Pintu dan jendelanyapun dikirim dari Bali. Penggantian pintu dan jendela ini terkesan dipaksakan. Tidak berdasarkan pertimbangan fungsi bangunan tersebut. Ceritanya kan beli dua set pintu. Kebetulan beli satu set untuk dipasang di bale paselang yang baru dibangun di sisi kiri pelataran Mandala Utama. Mungkin agar sekalian beli, ya sekalian saja beli dua set. Bale paselang yang lama juga minta diganti, padahal kondisinya masih kokoh dan aman.

Peralatan CCTV dibiarkan bergelantungan dan beberapa berserak dilantai. Kesannya tidak mau urus. Bukankah ini semua menggunakan uang umat. Kalau tidak dipergunakan lagi, mungkin sebaiknya dirapikan dan dicopot untuk disimpan. Agar tidak ada kesan terlantar. Semangat membeli sangat menggebu, tapi semangat memelihara tidak ada.

Yang kedua akibat penggantian pintu, betapa sulitnya mengeluarkan dan memasukkan peralatan gamelan. Alas Pintunya dibikin tinggi dan sempit. Gamelan Yang tidak ringan. Yang tentu saja harus diangkat atau diseret. Padahal sedapat mungkin  mengurangi menyeret peralatan gamelan agar sambungan sambungannya tidak longgar. Yang biasa bergelut dengan gamelan pasti paham. Makanya dibuatkan troli.

Yang ketiga, ketika para ibu ibu atau wanita hendak masuk atau keluar dari ruangan tersebut harus mengangkat bagian bawah kainnya. Betapa ribetnya. Silakan dicoba. Kecuali pakai celana panjang atau rok pendek. 

Pintu baru.