Kamis, 28 April 2022

“MONUMEN PERPECAHAN”

Bale Panjang mid 2021

 Di penghujung tahun 2020, saya tidak ingat dengan pasti tanggal berapa. Ada rapat antar lembaga di bale Paselang mandala utama. Kebetulan saya ikut hadir rapat. Hadir juga ‘tokoh’ umat Pak Ketut Ar. Disamping juga hadir Pak Wayan Catra sebagai ketua PHDI Kepri. Ada juga Jero Mangku S. Yang lainnya perwakilan Lembaga dan masing masing klian banjar. Seingat saya ketua Parisada Batam tidak hadir, diwakili sekretarisnya, Kade S.

Agenda utama pertemuan tersebut adalah mereview pembangunan pura dan isu isu lainnya. Beberapa kesepakatan diantaranya pengecoran di level bedawang nala karena betonnya amblas. Perlu di beton ulang dengan besi yang lebih kokoh.

Disepakati juga untuk membangun pondasi bale panjang. Hanya pondasinya karena rencananya pembangunan di fokuskan ke renovasi padmasana.

Isu lainnya adalah matur guru piduka pada saat persembahyangan bersama berikutnya. Isu inipun jadi menarik. Sulit menjelaskan mengapa harus melaksanakan guru piduka. Contoh jeleknya, suatu saat ada yg dipukul di pura. Ini tanpa disadari. Apakah juga harus ngaturang guru piduka. Seperti tulisan saya sebelumnya ‘berantem di pura’ yang terjadi gara gara kesalah pahaman antara klian banjar tertentu dengan salah satu anggota banjarnya. Akibat kesalah pahaman tersebut mengakibatkan keduanya baku hantam. 

Saya menyoroti satu isu yaitu pembangunan bale panjang. Bagi saya ini cukup menarik untuk diulas. Di awal tahun 2021 dimulailah langkah awal pembangunannya. Matur piuning, pasang patok dan membuat pondasi. Sejak saat itulah Umat rajin gotong royong setiap minggu. Sayapun beberapa kali ikut gotong royong.

Mulailah ada satu atau dua orang yang omongannya mendiskreditkan seseorang atau beberapa orang. Yang nota bene pengurus lembaga dan kelembagaan. Isu isu miring semakin tendensius. Apalagi dibarengi dengan dibuatnya grup WA. Komentar di grup saling bergantian. Tiada kontrol. Gambar gambar yang kurang senonoh bertebaran. Padahal di awal sudah disampaikan bahwa tujuan grup WA tersebut adalah untuk mempermudah koordinasi atau komunikasi semua umat, yang katanya selama ini tidak jalan.

Seiring berjalannya waktu kubu kubuan semakin jelas. Grup WA diganti menjadi grup Suka Duka Umat Hindu Batam. Entah apa alasannya. Mungkin mau mengambil alih juga hal hal yang berkaitan dengan kedukaan. Yang saya pernah plesetkan menjadi grup suka suka umat hindu batam. Kesan saya memang grup itu suka suka mereka. Mau ngomong apa,mau berbuat apa, pokoknya suka suka mereka. Sejujurnya saya merasa bersebrangan dengan sekelompok orang di grup itu. Hati kecil saya tidak bisa dipungkiri demikian. Bahkan saya buat status di fb saja dibahas digrup tersebut. Bahkan ada nada ancaman.

Semangat gotong royong dan semangat menggalang dana grup tersebut boleh diacungi jempol. Namun apapun itu, menurut penilaian saya hanya sebagai kedok atau ada motif tertentu dibalik semangat itu. Semoga bale Panjang tersebut setelah selesai (entah sampai bagaimana bentuk selesainya) tidak menjadi monumen perpecahan, sebagai cikal bakal perpecahan umat di batam. 

KOndisi ini saya rasa cukup unik. Ibarat calo yang mengatur kendaraan di persimpangan atau di u-turn. yang jumlahnya kian marak. Kalau di Jawa biasa disebut pak ogah. Keberadaan mereka tidak membuat arus lalulintas menjadi lancar. Kalau dipikir, itu bukan ranahnya. Jika dipandang perlu kan ada polisi lalulintas yang harus mengatur. Namun banyak juga yang menyodorkan duit receh ke mereka. Yang otomatis para calo itu merasa keberadaannya diakui. Padahal menurut saya justru keberadaannya mengganggu kenyamanan lalu lintas. Contohnya cara menggerakkan tangannya yang ndak jelas apakah nyuruh maju apa berhenti.

Alangkah mulianya jika niat bekerja tersebut memang tujuannya punia. Bukan yang lain. Benar tidaknya judul diatas, hanya waktu yang menentukan. Kita tunggu saja.


Selasa, 19 April 2022

SURAT ‘***TA’ TERBALAS. WHAT’S NEXT

 Setelah melayangkan surat hasil rapat perwakilan DPU (baca Rapat Istimewa) kepada pengurus Sri Lalita yang isinya beberapa poin, maka pengurus Sri Lalita memberikan jawaban tertulis sebagai balasan permintaan umat Hindu. Surat jawaban diterima oleh ketua BOP pada tanggal 26 Maret 2022, yang sempat tertinggal entah dimana, dan beruntung ada yang mengembalikan. kemudian diberikan kepada ketua Tim. Tim selanjutnya mengadakan rapat untuk membahas jawaban dari Sri Lalita. Pembahasan sekitar minggu awal bulan April.

Surat jawaban dari pihak Sri Lalita saya simpan tersendiri. Secara umum mereka menolak untuk direlokasi . konon pembicaraan terakhir mengarah kepada kembali ke luas area awal yaitu 240m2. . Luas area ini seperti yang tertera di master plan awal pura agung. Apakah ini keputusan akhir. Saya kurang tahu pasti. Kita tunggu saja.


Jumat, 15 April 2022

TIRTA YATRA

 


Mengunjungi tempat suci, pura Girinatha Puncak Sari bukit tengkorak di batu 19. Berangkat ber enam di hari sabtu 9 april 2022. Sebenarnya ini tujuannya menjalin keakraban dengan dirut pln batam yang kebetulan orang bali dan baru beberapa bulan menjabat di batam dan telah banyak berkontribusi terhadap pembangunan pura.

Acaranya cukup mendadak, ataukah karena saya yang dihubunginya mendadak. Jam 10 pagi saya dihubungi diminta jam 2 sore dah kumpul. Sebenarnya agak ragu. Saya kira berangkat hanya bertiga. Tapi ternyata enam orang.

Kumpul di pelabuhan punggur jam 3 sore. Dicarterkan speedboat lewat pelabuhan kepri. Hanya butuh waktu 15 menit sampai di tanjung uban. Kemudian naik roda empat menuju tanjung pinang. 

Sempat mampir dulu cari minum. Kebetulan ada warung buka dekat sebuah jembatan. Sepertinya itu di daerah kijang. Tak seperti di batam. Di tanjung pinang warung makan tidak ada yang ditutup gorden.  Biasa saja bagi yang buka. Orang makanpun banyak. Saya pesen kopi susu. Sebenarnya agak khawatir minum kopi lewat siang hari. Tapi kopinya terasa nikmat sekali. Saya juga makan otak otak beberapa biji. Kebetulan perut sudah terasa lapar.


Kemudian booking satu kamar hotel Aston. Untuk numpang mandi dan ganti pakaian.

Jam 7 malam kluar hotel setelah mandi bergantian 2 orang.

Memasuki jalan tanah disekitar bukit tengkorak, keadaan jalan cukup memprihatinkan. Berlumpur dan licin. Baru saja diguyur hujan, dan jalan tersebut baru selesai dikeruk kembali untuk pembetonan.

Dengan segala upaya tiba juga akhirnya di Pura Giri Natha. Langsung menuju jeroan pura dan sembahyang bersama.

Selesai sembahyang telah disediakan santap malam, menu special. Sayangnya kulitnya sudah alot.

Ngobrol ngalor ngidul. Jam 12 tengah malam jro magku kedengaran mepuja. Kamipun ikut ke jeroan dan ikut meditasi. 

Ternyata benar kekhawatiran saya. Efek kopi sangat kuat. Sampai pagi saya tidak bisa tidur sedikitpun. 

Dalam perjalanan menuju hotel, saya sempat tertidur di mobil beberapa saat. Ya lumayan terasa agak segar. Setelah kembali ke hotel untuk mandi dan ganti pakaian, langsung meluncur mencari tempat sarapan yang buka. Akhirnya jumpa satu rumah makan mie tarempa. Saya makan nasi goreng dan mencicipi luti gendang.


Naik speed boat carteran, ndak sampai 15 menit sudah tiba di pelabuhan punggur. Dan pulang ke rumah masing-masing. Semoga nanti ada lagi acara tirta yatra part 2.