![]() |
| Bale Panjang mid 2021 |
Di penghujung tahun 2020, saya tidak ingat dengan pasti tanggal berapa. Ada rapat antar lembaga di bale Paselang mandala utama. Kebetulan saya ikut hadir rapat. Hadir juga ‘tokoh’ umat Pak Ketut Ar. Disamping juga hadir Pak Wayan Catra sebagai ketua PHDI Kepri. Ada juga Jero Mangku S. Yang lainnya perwakilan Lembaga dan masing masing klian banjar. Seingat saya ketua Parisada Batam tidak hadir, diwakili sekretarisnya, Kade S.
Agenda utama pertemuan tersebut adalah mereview pembangunan pura dan isu isu lainnya. Beberapa kesepakatan diantaranya pengecoran di level bedawang nala karena betonnya amblas. Perlu di beton ulang dengan besi yang lebih kokoh.
Disepakati juga untuk membangun pondasi bale panjang. Hanya pondasinya karena rencananya pembangunan di fokuskan ke renovasi padmasana.
Isu lainnya adalah matur guru piduka pada saat persembahyangan bersama berikutnya. Isu inipun jadi menarik. Sulit menjelaskan mengapa harus melaksanakan guru piduka. Contoh jeleknya, suatu saat ada yg dipukul di pura. Ini tanpa disadari. Apakah juga harus ngaturang guru piduka. Seperti tulisan saya sebelumnya ‘berantem di pura’ yang terjadi gara gara kesalah pahaman antara klian banjar tertentu dengan salah satu anggota banjarnya. Akibat kesalah pahaman tersebut mengakibatkan keduanya baku hantam.
Saya menyoroti satu isu yaitu pembangunan bale panjang. Bagi saya ini cukup menarik untuk diulas. Di awal tahun 2021 dimulailah langkah awal pembangunannya. Matur piuning, pasang patok dan membuat pondasi. Sejak saat itulah Umat rajin gotong royong setiap minggu. Sayapun beberapa kali ikut gotong royong.
Mulailah ada satu atau dua orang yang omongannya mendiskreditkan seseorang atau beberapa orang. Yang nota bene pengurus lembaga dan kelembagaan. Isu isu miring semakin tendensius. Apalagi dibarengi dengan dibuatnya grup WA. Komentar di grup saling bergantian. Tiada kontrol. Gambar gambar yang kurang senonoh bertebaran. Padahal di awal sudah disampaikan bahwa tujuan grup WA tersebut adalah untuk mempermudah koordinasi atau komunikasi semua umat, yang katanya selama ini tidak jalan.
Seiring berjalannya waktu kubu kubuan semakin jelas. Grup WA diganti menjadi grup Suka Duka Umat Hindu Batam. Entah apa alasannya. Mungkin mau mengambil alih juga hal hal yang berkaitan dengan kedukaan. Yang saya pernah plesetkan menjadi grup suka suka umat hindu batam. Kesan saya memang grup itu suka suka mereka. Mau ngomong apa,mau berbuat apa, pokoknya suka suka mereka. Sejujurnya saya merasa bersebrangan dengan sekelompok orang di grup itu. Hati kecil saya tidak bisa dipungkiri demikian. Bahkan saya buat status di fb saja dibahas digrup tersebut. Bahkan ada nada ancaman.
Semangat gotong royong dan semangat menggalang dana grup tersebut boleh diacungi jempol. Namun apapun itu, menurut penilaian saya hanya sebagai kedok atau ada motif tertentu dibalik semangat itu. Semoga bale Panjang tersebut setelah selesai (entah sampai bagaimana bentuk selesainya) tidak menjadi monumen perpecahan, sebagai cikal bakal perpecahan umat di batam.
KOndisi ini saya rasa cukup unik. Ibarat calo yang mengatur kendaraan di persimpangan atau di u-turn. yang jumlahnya kian marak. Kalau di Jawa biasa disebut pak ogah. Keberadaan mereka tidak membuat arus lalulintas menjadi lancar. Kalau dipikir, itu bukan ranahnya. Jika dipandang perlu kan ada polisi lalulintas yang harus mengatur. Namun banyak juga yang menyodorkan duit receh ke mereka. Yang otomatis para calo itu merasa keberadaannya diakui. Padahal menurut saya justru keberadaannya mengganggu kenyamanan lalu lintas. Contohnya cara menggerakkan tangannya yang ndak jelas apakah nyuruh maju apa berhenti.
Alangkah mulianya jika niat bekerja tersebut memang tujuannya punia. Bukan yang lain. Benar tidaknya judul diatas, hanya waktu yang menentukan. Kita tunggu saja.
