Senin, 20 Agustus 2018

Pasraman Malam – sebuah usulan

Minggu 19 agustus 2018, undangan rapat orang tua murid pasraman di pura agung. Hanya dihadiri beberapa orang pengurus pasraman dan perwakilan banjar.
Ada gotong royong menghaluskan ukiran bale papelik yang dikirim dari bali dan sampai di batam tgl 5 agustus 2018 yg diangkut dengan container bersamaan dengan barang2 milik dokter putu widiantara di sukajadi.
Pengamplasan ukiran dilakukan rame-rame dibawah pohon jambu. Tidak ada komando bagaimana caranya mengampelas dan bagian mana saja yg harus ditekankan pengamplasannya. Jadi hanya kerja sesuai dengan cara pandang sendiri sendiri.
Cuaca sangat panas menyengat. Sesekali saya pergi ke kantin memonitor istri yang kebetulan dapat tugas julan. Julan bergiliran setiap tiga bulan sekali. Jual nasi jingo bungkus daun, jaje bali dan minumannya es daluman.
Saya masuk kantor pasraman yang sedikit sejuk untuk mendinginkan badan karena ruangan ber AC. Sambil baca-baca postingan yang masuk di grup WA, FB dan subscribe email.
Sepintas ada denger perihal hasil rapat orang tua murid. Banyak usulan-usulan yang sangat bagus. Salah satunya katanya ada usulan pelaksanaan kelas pasraman dilakukan malam hari. Rekrut guru pengajar dan digaji. Setiap malam ada yang belajar di pasraman. Hari minggunya hanya pemantapan dan diisi dengan praktek keagamaan dan sosialisasi. Nah duit untuk menggaji dari mana. Ya dengan menambah uang SPP. Ataukah subsidi dari lembaga keagamaan. Begitu kira kira poin usulannya.
Tentu saja usul tersebut sangat bagus. Paling tidak jika dilihat dari sudut pandang yang punya usulan. Pertanyaannya, bisakah dilaksanakan. Nah kalau tidak bisa, apa masalahnya dan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Teorinya begitu. Inipun mungkin ada unsure paksaan.
Lha wong ke pura seminggu sekali saja belum tentu bisa dating, dan itupun pagi/ siang hari, bagaimana mau tiap malam, atau katakanlah satu malam dalam satu minggu. Belum lagi kegiatan kegiatan lain yang pasti ada saja selama seminggu. Sanggupkah orang tua mengantarkan anaknya malam malam ke pura. Kembali ke yang namanya komitmen. Tapi apakah kita sudah terbiasa menjaga komitmen?
Kita tunggu saja kelanjutannya.