Senin, 26 Juli 2021

SELAMAT JALAN PRABU

 


Semoga kelak tulisan ini menjadi catatan bersejarah mengenang kepergian sahabatku I Wayan Mesra Ariawan. Sesuai ajaran yang diikuti, beliau sudah bergelar Prabu. Sabtu 24 Juli 2021 sebenarnya hari suci Purnama. Tatkala saya bangun pagi, seperti biasa yang pertama saya ambil adalah hp, buka WA. Baca kalau ada informasi up to date, atau dengan kata lain informasi penting.

Amor ing Acintya 

Mewali ring Sangkan Paraning Dumadi

Saudara tercinta,

Wayan Mesra Ariayawan

Dumogi polih genah sane Becik

Manunggal ring Brahman

lugrayang tiang nunas sinampure agung paripurne antuk Wenten  wicara lan pari laksana , tiang madue Saudara sane sampun ke margiang daweg maurip ,  turmaning dumogi ledang Semeton Sareng sami arse  ngerestitiyang sang  lampus ngemolihan genah sane becik sekadi karme wasane ipun dumun

wantah asapuniki tiang preside mapaungu atur tune liwat tune langkung ngiring druenang Sareng Sareng .

Ketut Santosa & Keluarga.

Itulah informasi di salah satu grup WA warga Bali. Saya langsung mengucapkan turut berduka cita yang mendalam di gup tersebut. Kebetulan dulu pernah jadi teman baiknya Wayan. Di Bali saya kebetulan satu kecamatan dengan dia. Orangnya humoris, banyak senyum dan tawa. Orangnya baik, humble dan banyak punya ide. Awal kenal saat sama-sama di Sai Baba. Kemudian dia aktif di Hare Krishna. Mulai saat itulah saya jarang ketemu dia.

Informasi yang saya dapatkan, Wayan ini sudah beberapa hari yang lalu mengalami demam tinggi sekeluarganya. Tidak mau test antigen, takut hasilnya positif. Namun 4 hari yang lalu sebelum almarhum, Wayan tidak bisa gerak dan tidak bisa bicara. Akhirnya sempat dibawa ke beberapa rumah sakit. Hasil testnya negatif, namun ada flek di photo rontgen paru parunya. Jantungnya bengkak dan tensi tidak normal. Di test PCR, hasilnya positif covid. Hingga terakhir sempat dapat penanganan khusus di RSBK dan sampai meninggal. Istrinya masih dalam suasana isolasi.

Warga banjar atau umat tidak memungkinkan untuk mengiringi kepergian Wayan dalam kondisi covid seperti ini. Hanya disarankan untuk berdoa. Hanya beberapa orang yang bisa mendampingi saat di kremasi di sembau pada hari itu juga. Tidak perlu ada persiapan khusus secara keagamaan. Harus mengikuti prosedur penanganan jenazah terpapar covid. Jenazah tidak mungkin dikirim ke bali.

Jero Mangku yang mengiringi kepergian Wayan adalah Jero Mangku Arif. Jero Mangku Putu Satria yasa sedang kondisi kesehatannya kurang baik.

Saat nganyut abu jenazah juga dituntun oleh Jro Mangku Arif, pada hari minggunya ke esokan harinya.

Selamat jalan Sobat, semoga tenang dan damai di alam sana. 



Senin, 19 Juli 2021

DISATUKAN MUSIBAH


 

Pagi itu di hari Sabtu 10 Juli 2021 saya dikirimi sebuah photo keluarga oleh salah seorang bekas teman kerja satu PT. Di keterangan photo tersebut ada kalimat bertanya, apakah saya mengenal orang di photo tersebut. Saya jawab ‘ya kenal’, emang kenapa. Terus teman saya itu mengirimi saya photo lain, photo orang sedang terkapar, dengan wajah menghitam. Di keterangan photo tertulis secara garis besar  mengatakan bahwa yang bersangkutan meninggal karena tersambar petir saat nelpon, kebetulan hujan deras. Kejadiannya dekat pasar sagulung. Wah tragis sekali, kata saya merespon WA kawan saya tersebut.

Kemudian di grup komunitas banjar warga bali, banyak komentar simpang siur. Pokoknya ngaku saling kenal baik. Terus terang respon saya bernada negatif. Saya kebetulan tahu yang bersangkutan sejak lama. Tidak pernah kepura.  Apalagi istrinya. Intinya tidak ikut ‘mebanjar’ yaitu perkumpulan wadah orang bali dalam satu wilayah.  Ada yang bilang kalau anaknya disekolah ikut pelajaran agama islam. 

Saya sarankan biar dari pihak keluarga ada yang menghubungi  ke lembaga umat Hindu di Batam. Mengingat kondisi khusus.

Setelah ada kesepakatan semua pihak, mayat diselesaikan secara Hindu. Semua bergerak. Ada yang mengurus jenazah ke rumah sakit. Ada yang mengurus ke rumah duka. Ada yang mencari perlengkapan.

Berdasarkan hasil visum rumah sakit, tidak ada gangguan kesehatan yang mengarah penyebab meninggal mendadak. Kemugkinan besar saat jalan sembari terima telpon, kaki tersandung dan jatuh. Akibatnya kepala terbentur jalan.

Hari minggunya jenazah dibawa ke rumah duka. Anggota keluarga, istri, 5 anaknya menemani di rumah duka di Baloi.

Hari senin keesokan harinya, jenazah dikremasi ke sembau nongsa. Saya nyusul ke rumah duka sebelum jam 10 pagi. Tapi ternyata rombongan sudah duluan berangkat. Sayapun bersama istri langsung nyusul ke Nongsa.

Prosesi sebelum dikremasi dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satria Yasa. Anak-anak dan istri almarhum tinggal mengikuti arahan jero mangku. Saya lihat anak-anaknya kali ini baru pertama kali mengenal sembahyang secara hindu. Sedih sekali melihatnya.

DOA BERSAMA 7 HARI SETELAH KREMASI.



Ada undangan doa bersama dari Banjar, senin 19 Juli 2021 jam 17.00. tadinya saya pikir apakah jam 7 malam yang dimaksud.  Ternyata tidak. Mengingat kondisi wabah covid-19, jam malam dibatasi. Yang datang tidak banyak. Hanya beberapa orang yang deket istri almarhum. Kebetulan ruang tamunyapun tidak terlalu luas untuk menampung banyak orang. Saya datang bersama istri. Kirain acaranya sudah mulai. Ternyata belum. Hanya saya yang bapak-bapak yang hadir pada jam itu.

Seusai doa bersama, perwakilan tokoh umat yang datangnya juga agak terlambat, berkesempatan memberikan petuah agama kepada anak-anak almarhum. Sekaligus mengajak mereka untuk memulai lembaran baru mengikuti ibadah agama secara Hindu dengan tulus dan sungguh-sungguh. Disarankan untuk segera bergabung ke perkumpulan warga Hindu agar komunikasi bisa berjalan lancar. Ini adalah amanah dari keluarga besarnya di Bali kepada Jro Mangku Putu Satria Yasa untuk membimbing keluarga ini di jalan Sanatana Dharma.

Istri almarhum terus terang mengakui bahwa dia dan suaminya memang beda keyakinan sejak awal. Kedepannya dia minta bimbingan umat tentang ajaran agama hindu. Dia dan Anak-anaknya akan menjalankan ajaran Hindu. Semoga saja musibah tersebut dapat menyatukan kita. Swaha. Dan........ kita lihat saja nanti.