Semoga kelak tulisan ini menjadi catatan bersejarah mengenang kepergian sahabatku I Wayan Mesra Ariawan. Sesuai ajaran yang diikuti, beliau sudah bergelar Prabu. Sabtu 24 Juli 2021 sebenarnya hari suci Purnama. Tatkala saya bangun pagi, seperti biasa yang pertama saya ambil adalah hp, buka WA. Baca kalau ada informasi up to date, atau dengan kata lain informasi penting.
Amor ing Acintya
Mewali ring Sangkan Paraning Dumadi
Saudara tercinta,
Wayan Mesra Ariayawan
Dumogi polih genah sane Becik
Manunggal ring Brahman
lugrayang tiang nunas sinampure agung paripurne antuk Wenten wicara lan pari laksana , tiang madue Saudara sane sampun ke margiang daweg maurip , turmaning dumogi ledang Semeton Sareng sami arse ngerestitiyang sang lampus ngemolihan genah sane becik sekadi karme wasane ipun dumun
wantah asapuniki tiang preside mapaungu atur tune liwat tune langkung ngiring druenang Sareng Sareng .
Ketut Santosa & Keluarga.
Itulah informasi di salah satu grup WA warga Bali. Saya langsung mengucapkan turut berduka cita yang mendalam di gup tersebut. Kebetulan dulu pernah jadi teman baiknya Wayan. Di Bali saya kebetulan satu kecamatan dengan dia. Orangnya humoris, banyak senyum dan tawa. Orangnya baik, humble dan banyak punya ide. Awal kenal saat sama-sama di Sai Baba. Kemudian dia aktif di Hare Krishna. Mulai saat itulah saya jarang ketemu dia.
Informasi yang saya dapatkan, Wayan ini sudah beberapa hari yang lalu mengalami demam tinggi sekeluarganya. Tidak mau test antigen, takut hasilnya positif. Namun 4 hari yang lalu sebelum almarhum, Wayan tidak bisa gerak dan tidak bisa bicara. Akhirnya sempat dibawa ke beberapa rumah sakit. Hasil testnya negatif, namun ada flek di photo rontgen paru parunya. Jantungnya bengkak dan tensi tidak normal. Di test PCR, hasilnya positif covid. Hingga terakhir sempat dapat penanganan khusus di RSBK dan sampai meninggal. Istrinya masih dalam suasana isolasi.
Warga banjar atau umat tidak memungkinkan untuk mengiringi kepergian Wayan dalam kondisi covid seperti ini. Hanya disarankan untuk berdoa. Hanya beberapa orang yang bisa mendampingi saat di kremasi di sembau pada hari itu juga. Tidak perlu ada persiapan khusus secara keagamaan. Harus mengikuti prosedur penanganan jenazah terpapar covid. Jenazah tidak mungkin dikirim ke bali.
Jero Mangku yang mengiringi kepergian Wayan adalah Jero Mangku Arif. Jero Mangku Putu Satria yasa sedang kondisi kesehatannya kurang baik.
Saat nganyut abu jenazah juga dituntun oleh Jro Mangku Arif, pada hari minggunya ke esokan harinya.
Selamat jalan Sobat, semoga tenang dan damai di alam sana.


