Rabu, 28 November 2018

Tanah Gratis

Masih ingat di era tahun 90an setelah ditawari beberapa lokasi untuk mendirikan Pura di kota Batam oleh pemerintah daerah saat itu yaitu namanya Badan Otorita Batam (OB), dipilihlah lokasi yang strategis di lokasi berdirinya pura agung sekarang. Waktu itu diberikan tanah berbukit dan berhutan seluas  4 Ha. Dengan pertimbangan mahalnya biaya Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) waktu itu maka tanah hanya mau diterima setengahnya yaitu 2 Ha saja. Sisanya dikembalikan ke OB
Kalau saat ini barangkali ceritanya akan beda. Apalagi lokasinya sangat strategis, di atas bukit dengan pemandangan Singapore dan kota batam, selain juga lapangan golf shouthlink dan danau sei ladi. Pasti saat ini banyak yang ngincer lokasi tersebut.
Tanah gratis

Malah justru tanah hasil galian atau tanah buangan, entah dari mana, diberikan secara gratis. Puluhan truk tanah menghiasi sepanjang jalan akses di pura.  Saat musim hujan begini tanah jadi lengket dan sulit sekali diratakan. Untungnya ada umat yang bisa mengusahakan ban-ban mobil bekas sebagai penahan tanah urugan tersebut sehingga tidak cepat tergerus hujan.
Ban bekas sebagai penyangga

Setiap hari minggu, umat yang kebetulan ke Pura kebanyakan karena ngantar anak-anaknya sekolah minggu, disibukkan dengan gotong royong meratakan tanah tersebut. Ya begitulah uniknya. Orang lain berlomba mendapatkan tanah berhektar hektar, tapi umat hindu mendapatkan tanah gratis bertruk truk. (igstng2018).


Senin, 26 November 2018

Bunga Tidur

Mata ngantuk banget. Semalem Hujan deras sekitar jam 3 subuh. Terbangun dan sulit tidur lagi. Tapi Sekitar jam 4 pagi ternyata tertidur. Dan mimpi aneh. Pergi ke suatu tempat bertiga bersama teman-teman kantor. Seperti didaerah Barelang. Tempat orang cina. Entah ngapain sampai disana. Tiba-tiba datang sejumlah orang yaitu anak buah waktu bekerja di PT yang pertama dulu. Beberapa orang saya kenal baik dan selebihnya adalah anak-anak yang baru masuk, namun PT keburu tutup. Mereka memeluk saya satu persatu. Senang sekali rasanya.
Rasanya lama main disana dengan mantan anak buah itu. Sambil Tanya beberapa orang, kerjanya dimana. Anak sudah berapa. Seperti di alam nyata saja rasanya. Ada yang pergi nyari tiket pesawat karena mau pulang kampong.
Anak-anak operator itu semua dah berkumpul dan siap-siap pulang ke rumah masing. Sebelum berkumpul rasanya si tuan rumah habis minum-minum sampai mabuk bahkan sambil banting-banting botol minuman.
Saya sudah menyiapkan kata-kata sambutan kepada anak-anak mengucapkan banyak terima kasih sudah mau menjumpai saya.
Bel alarm keburu berbunyi, tanda jam menunjukkan pukul 5.45 pagi. Saatnya bangun dan kasi piaraan makanan. (igstng2018)

Toleransi karena terlalu polos.

Rabu jam 4.15 sore dapat info dari WA bro Sugiarta katanya Santi kritis di rumah sakit. Tak ada kawan. Bro sugiarta di Merauke. Ternyata yang tinggal Jauh malah tahu duluan infonya. Sampai di rumah jam 5 sore, sai bhakta sgp bro harri nelpon agar saya segera ke rumah sakit katanya santi sakit serius.

Jam 6 sore saya berangkat ke rs dengan istri dan anak. Langsung menuju UGD. Hujan deras. Sampai di rs langsung ke ugd, ketemu dokter. Dokter Tanya keluarga, untuk penanganan lebih lanjut. saya katakan suaminya datang besok, masih dibali. Dokter kelihatan pasrah. malah sempat bilang kalau si pasien sudah sempat meninggal dan segera dipasangi alat bantu.

Tidak banyak yang bisa diperbuat. Nelpon beberapa kawan. Ada temannya santi dua orang yang sama sama pernah kerja di Malaysia. hanya duduk-duduk di kursi tunggu sambil menginformasikan ke grup WA.

Jam 9 malam saya pulang, disana masih sdri Amik dan kedua temannya itu. Saya pesen jika ada apa-apa segera hubungi saya. Saya sempat bilang ke istri, sepertinya sulit karena sudah kritis. Mudah-mudahan ada mukzizat. Saya WA ke grup banjar. Tidak ada yang merespon ataukah mungkin saling tunggu mau bilang apa.

Kamis, 22 nov jam 08.45 pagi ada respon WA di grup tentang Santi. Ketut Wahyu, yang notabene masih keluarga mantan suami Santi. Kemudian direspon beberapa umat lainnya.

Saya WA amik nanya kondisi Santi. Katanya masih sama tidak ada perubahan. Nebus obat. Kebetulan di tas Santi ada duit Ringgit Malaysia. Cukup untuk nebus obat. Kata dokter mau diusahakan cari kamar ICU. Namun akhirnya tidak jadi dipindah, lepas selang ndak berani.

Siangnya Amik WA klo badan Santi sudah mulai dingin. Percuma juga kalau dipindah ruangan. Kita berdoa yang terbaik buat Shanti, kata saya.

Agak sore Bro Hari datang berdua dengan kawannya. Ngasi sejumlah uang ke Amik untuk biaya Santi. Disuruh ngasikan Putu Arya yg rencananya sore datang. Bro Hari sangat menyarankan agar Santi pindah Rumah Sakit. Semua harus bergerak cepat. Kata dia.

Saya minta informasi seperlunya tentang Santi karena rencananya malam itu sehabis sembahyang Purnama akan dirapatkan di Pura. Agar tidak salah informasi.

Saya komunikasi terus sama Amik. Ndak ada harapan, kata Amik. Pulang kerja langsung ke rumah sakit. Ada Jero Mangku Putu Satria Yasa di sana. Saya lihat keduanya sudah berkaca-kaca. Tidak ada kata yg bisa saya ucapkan. Mata terasa basah. Beberapa  menit kemudian suster datang melepas selang dan peralatan. Dinyatakan meninggal. Saya info ke semuanya. Ucapan bela sungkawa dari mana-mana. Jenazah dibawa ke Kamar jenazah.

Saya, Jero Mangku dan Amik mau langsung pulang. Akhirnya ingat kenapa tak nengok ke kamar Jenazah dulu.
Diskusi dengan Jero Mangku, apa tindakan selanjutnya. Keputusan terakhir ada di tangan keluarga mantan suaminya, yaitu Putu Arya.

Setelah registrasi, katanya jenazah sebaiknya di bersihkan dulu sebelum dimasukkan ke freezer. Saya tinggal pulang karena mau ke pura. Ada kawan-kawan dan umat dari beda banjar yang datang. Saya tahunya dari postingan photo mereka di grup banjar. Katanya jenazah lagi dimandikan. Bayar rp 650 ribu. Mereka urunan dulu bayar biaya memandikan jenazah.

Putu arya nelpon, jenazah diambil keluarga almarhumah. Kita umat Hindu hanya mengiringi saja. Atau melayat biasa. Saya plong. Berarti ndak ada masalah.

Sehabis sembahyang di pura, saya, pak Brunayasa, pak Putu Suardika dan pak Anom Sudibya rapat kecil di Bale Paselang. Saya sampaikan semuanya. Voice call Putu Arya agar semua dengar langsung. Berarti informasi benar. Semua merasa plong. Saya konfirmasi ke Jero Mangku. Katanya belum dihubungi Putu Arya. Gimana ini, pikir saya. Saya sampaikan seperti yang dibicarakan dalam rapat singkat tadi.

Jumat 23 Nov pagi saya komunikasi dengan Amik. Saya harus kerja. Jam 10.15, Jro Mangku nelpon saya, katanya beliau sendirian masih kesulitan nyari petugas yang ngafanin, memandikan, dan menyolatkan jenazah. Lho bukannya urusannya keluarganya yang dari Tanjung Riau, tanya saya. Entahlah, ini apa-apa belum ada yang urus. Mereka serba tidak tau, kata Jero Mangku. Syukurlah akhirna dapat semua. Beres.

Menjelang jam 12 saya nyusul ke rumah sakit. Saya pikir dah beres. Saya Tanya Jero Mangku. Katanya permasalahan muncul ketika petugas Rumah sakit mempermasalahkan agama di KTP almarhumah adalah Hindu. Pihak keluarga kurang ngotot. Petugas ngafanin minta saksi kalau almarhumah kembali ke Islam. Pihak Hindu mencoba meyakinkan kalau yang bersangkutan sudah tidak pernah sembahyang secara Hindu lagi, dikasi sarana sembahyang Hindu tidak mau. Sayangnya saksi yang paling penting ternyata ketinggalan pesawat di Jogja. Tambah runyam. Tidak salah kalau saya berprasangka buruk.

Saksi terakhir adalah Ketua RW tempat tinggal almarhumah dulu.
Ok. Masalah selesai. Jenazah dimandikan secara Islam lagi dan dikafanin. Maslah muncul lagi ketika ustad tidak mau menyolatkan jenazah. Kurang yakin kalau almarhumah muslim. Jro Mangku ngamuk. Siapa yang menghalangi perjalananmu Santi, carilah dia dari alam sana. Biarlah dosa-dosamu dia yang menanggung. Kurang lebih demikian kata-kata ngamuknya Jero Mangku sambil menggedor-gedor keranda jenazah.

Akhirnya almarhumah disolatkan, dikubur ke sei temiang. Diringi beberapa umat muslim, lebih banyak yang mengiringi dari umat Hindu. Ngangkat jenazah juga umat Hindu.

Keanehan muncul. Liang lahat terisi air. Air dikeluarkan dengan ember. Tiba-tiba tanah penyangga tepi liang kubur ambrol. Ditahan triplek dan mayat segera dimasukkan. Ditimbun. Beres.
Sampai disini banyak yang mengartikan ini akibat terlalu polos. Sementara yang seharusnya punya tanggung jawab adalah keluarga almarhumah. (igst 2018)
Mantan suami mendiang, dua hari setelah pemakaman



Minggu, 04 November 2018

Tuhanku Bagai dikrangkeng

Tidak ada niatan untuk saling menyalahkan. Karena dasarnya semua ngayah. Berlindunglah dibalik kata ngayah, maka anda akan aman. Kata ngayah ini bagaikan kata sacral,  suci, tak seorangpun bisa membantahnya. Kata ngayah seolah-olah sebagai pembenaran untuk bekerja setengah hati. Lha wong ndak ada sangsi atau denda apalagi ‘kesepekang’.

Di kampong saya ngayah adalah kegiatan yang sifatnya wajib yang dilakukan secara bersama-sama, biasanya menjelang hari raya atau piodalan di pura. Kalau di rantauan apapun yang dilakukan secara sukarela, tepatnya yang tidak ada ikatan, itu namanya ngayah. Mungkin semacam pengabdian.

Terus apa hubungannya ngayah dengan judul tulisan ini. Mari kita simak kejadian berikut. Tanggal 1 nopember 2018 saya dikirimi photo yang diambil dari Instragrams, photo seorang anak muda naik ke bale papelik di mandala utama pura Agung. Bale Papelik nota bene adalah bangunan suci tempat ‘beristirahatnya’ ida betare. Photonya hasil screen shoot hp. Di photo tersebut kelihatan si kawan saya ini justru meminta maaf kepada orang yang ada dalam photo tersebut. Mohon maaf jangan diulangi lagi, karena ini tidak baik. Kalau masuk pura alas kaki harus dilepas. Demikian komentar kawan saya ini. Maklum yang namanya orang ketimuran ya memang begitu.
Screen shoot HP

Beberapa saat kemudian saya forward photo tersebut ke salah satu grup WA. Tidak banyak komentar. Ada yang memforwardnya lagi ke grup lain. Ada yang komentar ‘semoga dia mendapat hukuman dari yang di atas’. Komentar semacam ini hanya beda tipis antara memang bijak dengan malas ngomong. Kalaulah semua orang punya prinsip begitu, ngapain kita susah susah bikin pagar, ngapain masang CCTV yang biayanya puluhan juta, yang begitu dibuka hasil rekamannya ternyata hard disk kosong. Yang saat kehilangan rekamannya tidak ada, yang katanya tumben lupa ngunci pintu pura, dan sebagainya.
Pintu dari arah Lalita
Pintu di depan Kori Agung (bawah)


Pintu sebelah kiri Kori
Pintu sebelah kanan Kori

Pintu Bale Barong

Yang jelas sehari setelah issue ini beredar di grup, pengurus segera ambil tindakan dengan menggembok semua pintu masuk. Depan kori Agung, sisi kiri ke Lalita, dan pintu pemesuan kiri kanan kori agung. Di photo dan informasikan ke semua umat. Aman. Tak ada lagi orang masuk pura sembarangan. Tapi kasian, Ida Betare tidak bebas bisa keluar, bagai dikerangkeng.
Terlepas dari itu semua, berapa lama kah gembok ini akan bisa bertahan. Sampai kapan si gembok tidak akan digergaji. Apakah suatu saat kita saksikan jika pintunya digembok namun kondisinya terbuka. Hihihi lucu. Tapi praktis. Kadang jadi realita.

Senin, 08 Oktober 2018

SUSAH ‘NGULAT’ KLANGSAH

Praktek Ngulat Klangsah
Entah berasal dari kata apa, yang jelas klangsah tidak asing lagi bagi rakyat bali Hindu, yang sering menggunakan klangsah bagian dari upacara agama. Hanya merupakan anyaman daun kelapa yang hanya anyaman bersilang. Sangat simple. Sedangkat kata ‘ngulat’ bahasa indonesianya adalah menganyam.

Secara umum klangsah digunakan sebagai atap bangunan diladang atau sawah, atau atap bangunan sementara di lingkungan rumah. Dapat juga digunakan sebagai dinding dan pembatas.
Saya merasakan sesuatu yang aneh ketika di rantauan mungkin sekitar 80% dari umat hindu dari bali yang tidak tahu bagaimana ‘ngulat’ klangsah yang menurut saya sangat gampang. Pengalaman saya sekitar 40 tahun yang lalu, ketika usia saya dibawah 10 tahun. Ketika itu sering diajak bapak atau panggilan saya ‘aji’ membantu tetangga yang akan punya hajatan, dalam istilah bali disebut metulungan. Nah bagi anak-anak seusia saya pekerjaan yang paling mudah dilakukan adalah ngulat kelangsah. Saya memperhatikan bagaimana orang menyiapkan daun kelapa sebelum dianyam dan cara menganyam agar rapi. Termasuk diajarin itungannya, patokannya bagaimana. Seperti berapa anyaman yang efektif. Tidak perlu dianyam sampai ke ujung helai daun.

Suatu saat atau pada akhirnya nanti, sebagian besar kemungkinan yang di rantauan akan balik ke kampong halaman ke bali. Apa tidak ditertawakan orang kampong, cuman ngulat klangsah saja tidak bisa.

Kini usia saya sudah setengah abad, pengalaman atau ilmu tersebut tidak sirna dari memory saya. Padahal praktis setelah tamat sekolah dasar pengalaman tersebut tidak pernah dipraktekkan lagi karena saya sekolah ke kota dan merantau.
Kalau dikampung saya di Bali sana, siapapun pasti bisa ngulat klangsah. Tidak pandang apakah dia I Wayan, I Gusti atau Ida Bagus.

Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana orang masang kelangsah sebagai atap bangunan atau atap pondok. Bagaimana menyusunnya. Bagaimana mengikatnya. Dari arah mana mulai masang.
Kurang setuju kalau dirantauan itu ada yang mengatakan, oh tidak boleh anyamannya begini, tidak boleh begitu. Padahal itu hanya bawaan dari kebiasaan dari daerah asal masing-masing di bali.
Igstng-dalam rangka persiapan piodalan purnama kalima 2018.

Kamis, 27 September 2018

SUDAH GRATIS MINTA LEBIH

Suasana Persiapan Pembagian Bingkisan
Saya ingin menulis berita tapi rasanya susah mencari judul yang pas. Focus berita juga sulit ditentukan. Maklum bukanlah seorang penulis atau berlatar belakang  jurnalistik.
Dalam acara rutin yang diselenggarakan tiap bulan yang disebut seva, pelayanan suci kepada masyarakat. Berupa pembagian bingkisan secara gratis kepada masyarakat ‘kurang mampu’. Kali ini dilaksanakan di sebuah kampong yang agak jauh dari kota, sekitar 25 Km kearah Barelang (Batam Rempang Galang). Pulau Batam dihubungkan dengan enam pulau-pulau kecil yang hamper dalam satu garis lurus. Yang terkenal adalah jembatan pertama, yang biasa  disebut jembatan satu. Padahal tiap jembatan mempunyai nama melayu, namun tidak popular. Yang popular adalah sebutan jembatan satu, dua, tiga, dst. Ada yang mengatakan jika pergi ke Batam belum sah jika tidak  mengunjungi dan berphoto di Jembatan Barelang, jembatan satu ini. Disamping juga tulisan monument di bukit clara batam center sekitar 300 meter dari kantor wali kota batam ‘WELCOME TO BATAM’.
Jalan utama Muka Kuning – Batu Aji, ada simpang lampu merah yang biasa disebut simpang barelang. Sekitar 3 Km dari simpang tersebut kea rah Barelang ada namanya simpang gundap. Kurang lebih 1km sebelum Yonif 136TS.
Masuk jalan tanah ke kiri, jalanan menurun tajam, jika hujan pasti licin dan lengket. Jika supir tidak terbiasa dengan medan begini, jangan harap bisa kembali dengan lancer.
Jam 10 pagi, masyarakat sudah berkumpul dibawah terik matahari. Ada yang berteduh di emperan rumah penduduk sekitar, ada yang berteduh dibawah  pohon. Sambil menyiapkan bingkisan, ketua RT dan perangkat RT/ RW mengajak warganya bernyanyi-nyanyi, pak polisi dari polsek Sagulung memvideokan warga dengan tema mari mendukung pemilu yang damai.
Ada sekitar 30 biji kacamata baca, kacamata plus dibagikan secara gratis kepada orang tua. Dengan range +2.00 ~ +3.50.
Meski suasana panas terik, pembagian bingkisan berjalan lancer, aman terkendali. Pukul 11.30 bingkisan sudah habis dibagikan. Masyarakat kembali ke rumah masing-masing. Tinggal beberapa orang dilokasi termasuk para pengurus RT. Ketika akan berpamitan ibu tuan rumah, istrinya pak RT hendak memberikan bingkisan hasil kebun kepada rombongan, cuman sedikit terkendala komunikasi bahasa. Sementara siibu ambil bungkusan ke dalam, dan rombongan masih saling tanda Tanya, mungkin dalam hati, ada seorang warga, perempuan dengan sedikit menor, saya kebetulan disampingnya, dia berkata kok tuan rumah tidak dapat apa-apa sudah capek, rumahnya dipakai. Tapi untung rombongan dari Singapore sepertinya tidak mengerti maksud si wanita menor itu. Ketika si ibu RT keluar bawa bungkusan tas kresek yang berisi sayur dan ubi, si wanita itu langsung diem. Saya perhatikan wajahnya masam.
Bagi saya ini hal biasa dimana masih banyak yang tidak mengerti bahwa sudah dikasi gratis kok malah minta lebih lagi.

Senin, 10 September 2018

Wiro Sableng Pendekar Kapak Naga Geni 212


Seumur umur selama d batam baru kali ini nonton film Indonesia yg bukan komedi, sujatinya hanya demi menyenangkan si kecil dan untuk menghiasi status fb, katanya. lebih pas film ini bergenre film laga. Wiro sableng pendekar kapak naga geni 212. Ini film remake film lama di th 90an. Apa makna dari 212? Seandainya saja sebelum nonton film ini saya tau ada angka 212 mungkn saya tak jadi nonton. Terlalu apriori dan anti klo liat ato denger 212. Menurut penulis novel wiro sableng yg nota bene adalah mendiang ayah vino g bastian, 212 mulanya hanya meniru identitas tokoh seperti di james bond 007. Namun bisa juga di artikan bahwa angka 2 itu karena tuhan menciptakan sesuatu dengan berpasang pasangan, angka 1 melambangkan tuhan dan angka 2 satu lagi katanya agar jumlahnya 5, yg memiliki makna pada agama tertentu, katanya.
Film ini menceritakan kejadian di Nusantara, abad ke-16, Wiro Sableng (Vino G Bastian), seorang pemuda, murid dari pendekar misterius bernama Sinto Gendeng (Ruth Marini), mendapat titah dari gurunya untuk meringkus Mahesa Birawa (Yayan Ruhian), mantan murid Sinto Gendeng yang berkhianat. Dalam perjalanannya mencari Mahesa Birawa, Wiro terlibat dalam suatu petualangan seru bersama dua sahabat barunya Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi). Pada akhirnya Wiro bukan hanya menguak rencana keji Mahesa Birawa, tetapi juga menemukan esensi sejati seorang pendekar.
Penonton yg jumlahnya mungkin tidak lebih dari 50 orang, yg rata2 adalah remaja dan anak2 pada tertawa menyaksikan adegan2 yg mungkin dianggapnya lucu dan konyol. Menjelang diakhir cerita ternyata ada anak kecil kedengaran bertanya sama ibunya, mah kok yg meinggal itu dibakar mah. Mamahnya jawab sekenanya, waktu itu belum ada kuburan.
Tidak demikian halnya degan saya, malah ngantuk banget dan hamper tertidur. Ini film diproduksi oleh 20th century fox, dengan anggaran 2juta usd, saya rasa tidak match sama sekali antara bahasa, make up, kostum dan lokasinya. Ini film tidak mencerminkan /menceritakan kejadian masa lampau. Kata orang jerman, ceritanya ‘matah kial’. Musiknyapun tidak nyambung. Kalaulah boleh kasi nilai 1 – 10, saya kasi nilai 5 untuk film ini. lha wong yg kasi nilai ini juga wirasableng ngurah ray. hihihihi
Yang penasaran, silakan nonton.

Senin, 03 September 2018

KFC Fun day

Gowes sepi peminat.

Minggu 2 September 2018, KFC Tiban mengadakan Gowes bareng dalam rangka ultahnya yang kedua. Saya sampai di sana sekitar jam 6.30 pagi. Di tiket tercantum acara dimulai jam 6.00 yang diawali dengan senam zumba. Kok sepi. Hanya segelintir orang. Saya parkir mobil agak diluar dengan maksud agar mudah keluar kalau pulang.
Saya ikut pemanasan yang dipandu 3 orang instruktur dengan gerakan gerakan yang sulit saya ikuti. Senam Zumba. Matahari kian beranjak tinggi. Keluar keringat karena sudah terasa panasnya matahari. Tak banyak penambahan peserta yang datag. Paling sekitar 100 peserta. Tidak ada kata sambutan dari top management atau perwakilan dari pemerintah. Tanda pelepasan dimulainya acara gowes dilakukan barangkali oleh karyawan KFC.
Keluar dari KFC belok kiri ikut arus lalu lintas, langsung tanjakan. Kemudian belok kiri di tiban center, terus nanjak. Ini daerah yang pernah saya lalui sekitar akhir 2016 saat saya nyari nyari penjual tanaman hydroponic.
Belok kiri lagi yang rata rata menanjak. Semuanya bisa saya lalui dengan baik. Masuk perumahan Winner Mangrove Millenium di daerah Tiban Mentarau. Istirahat sambil  menikmati snack. Ada penanaman mangrove secara simbolis. Rupanya pengembang ini mengambil kesempatan mempromosikan perumahannya. Bentuk rumahnya unik. Bentuk atap dibuat miring. Bagian puncak rabung dipasang hiasan. Mirip ukiran bali. Kalau tidak salah namanya Patra Punggel.
Keluar dari perumahan tersebut belok kanan menuju jembatan mentarau yang ternyata daerah pesisir pantai. Kontur daerahnya berbukit. Melewati perumahan penduduk. Sampa pertigaan dangas, saya salah ngikut rombongan lain. Mereka belok kanan. Saya ngikut belok ke kanan. Untung saya diberitau kalau mereka mau ke bukit dangas. Belum terlalu jauh. Mungkin mereka lihat saya pakai jersey KFC. Akhirnya saya terpaksa balik lagi menuju rombongan. Eh ternyata saya jadi paling belakang.
Lega rasanya setelah mencapai kawasan hotel Acasia, yang dulu bernama Hill Top hotel. Tidak ada tanjakan lagi, praktis hanya pegang stang tak perlu ngayuh sampai di kawasan sekupang.
Belok kiri lewat depan Sangrilla, STC belok kiri dan kembali ke KFC.
Hujan deras mengguyur disertai petir dan guruh. Sambil menunggu acara pengundian Lucky draw dan redanya hujan, makan ayam KFC. Ternyata hujan tidak reda juga. Akhirnya karena juga ada keperluan, saya cabut duluan. Acara selanjutnya diadakan di dalam ruanagan.

Senin, 20 Agustus 2018

Pasraman Malam – sebuah usulan

Minggu 19 agustus 2018, undangan rapat orang tua murid pasraman di pura agung. Hanya dihadiri beberapa orang pengurus pasraman dan perwakilan banjar.
Ada gotong royong menghaluskan ukiran bale papelik yang dikirim dari bali dan sampai di batam tgl 5 agustus 2018 yg diangkut dengan container bersamaan dengan barang2 milik dokter putu widiantara di sukajadi.
Pengamplasan ukiran dilakukan rame-rame dibawah pohon jambu. Tidak ada komando bagaimana caranya mengampelas dan bagian mana saja yg harus ditekankan pengamplasannya. Jadi hanya kerja sesuai dengan cara pandang sendiri sendiri.
Cuaca sangat panas menyengat. Sesekali saya pergi ke kantin memonitor istri yang kebetulan dapat tugas julan. Julan bergiliran setiap tiga bulan sekali. Jual nasi jingo bungkus daun, jaje bali dan minumannya es daluman.
Saya masuk kantor pasraman yang sedikit sejuk untuk mendinginkan badan karena ruangan ber AC. Sambil baca-baca postingan yang masuk di grup WA, FB dan subscribe email.
Sepintas ada denger perihal hasil rapat orang tua murid. Banyak usulan-usulan yang sangat bagus. Salah satunya katanya ada usulan pelaksanaan kelas pasraman dilakukan malam hari. Rekrut guru pengajar dan digaji. Setiap malam ada yang belajar di pasraman. Hari minggunya hanya pemantapan dan diisi dengan praktek keagamaan dan sosialisasi. Nah duit untuk menggaji dari mana. Ya dengan menambah uang SPP. Ataukah subsidi dari lembaga keagamaan. Begitu kira kira poin usulannya.
Tentu saja usul tersebut sangat bagus. Paling tidak jika dilihat dari sudut pandang yang punya usulan. Pertanyaannya, bisakah dilaksanakan. Nah kalau tidak bisa, apa masalahnya dan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Teorinya begitu. Inipun mungkin ada unsure paksaan.
Lha wong ke pura seminggu sekali saja belum tentu bisa dating, dan itupun pagi/ siang hari, bagaimana mau tiap malam, atau katakanlah satu malam dalam satu minggu. Belum lagi kegiatan kegiatan lain yang pasti ada saja selama seminggu. Sanggupkah orang tua mengantarkan anaknya malam malam ke pura. Kembali ke yang namanya komitmen. Tapi apakah kita sudah terbiasa menjaga komitmen?
Kita tunggu saja kelanjutannya.

Senin, 25 Juni 2018

TIRTAYATRA ke pura besakih

Asing di tanah sendiri
Minggu 24 Juni 2018, Menyewa mobil avanza, saya, istri dan anak yang paling kecil serta adik sekeluarga berangkat dari rumah jam 6 pagi tujuan Pura Besakih. Setelah jalan sekitar 3 kilometer dari rumah, saya baru inget dompet ketinggalan. Akhirnya balik lagi ke rumah ambil dompet dan beberapa barang lainnya.
Sambil tterus berdoa semoga semuanya berjalan lancer, tancap gas mesti jalanan di desa tidak mulus. Harus sedikit lihai mengendalikan stir kalau tidak mau masuk lubang.
Adik berperan sebagai navigator. Setiap persimpangan senantiasa member aba aba, lurus, kiri atau kanan.
Jalanan tidak begitu ramai, mungkin karena suasana liburan. Hampir disepanjang perjalan hujan gerimis sehingga perjalanan tidak terasa gerah. sepertinya ambil jalan pintas sehingga sampai di tujuan lebih cepat.
Sampai di besakih ternyata salah parkir dan hendak jalan kaki menuju tempat sembahyang yang jaraknya masih sangat jauh. Untung ada ibu ibu yang berjualan memberitahu bahwa kalau mau sembahyang boleh bawa kendaraannya sampai ke depan gerbang pura.
Pertama jalan kaki menuju pura gua raja. sepanjang jalan menuju pura banyak penjaja canang dan sarana sembahyang menawarkan dagangannya dengan sedikit memaksa dan seperti nada memelas agar dagangannya dibeli. Kami kebetulaln membawa sarana sembahyang dari rumah sehingga tidak usah beli.

Menuruni tangga yang sangat licin. Menuruni anak tangga satu demi satu dengan  extra hati-hati takut kepeleset. Jalanan kelihatan berlumut, tapi kok tidak ada orang yang jatuh terpeleset.
Masuk ke dalam pura yang mirip goa. Sepertinya para pemedek sembahyangnya bergantian sesuai rombongan. Kami menunggu sebentar karena sedang ada rombongan yang sedang bersembahyang. Menurut cerita di pura inilah kita mencurahkan segala permasalahan yang kita miliki dan mohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk mengatasi permasalahan.
Ada 3 buah pelinggih yang masing-masing dibawahnya dililit oleh naga, yang menurut cerita adalah Naga Basuki, Naga Tatsaka dan Naga Anantaboga. Sembahyang dilakukan sendiri-sendiri atau dipimpin oleh Pemangku rombongan masing-masing dan saat nunas tirta diperciki oleh seorang Pemangku wanita yang kelihatannya masih muda. Pantat harus rela berbasah-basahan karena lantai sembahyang basah dan sedikit kotor. Kami permisi dan mohon ijin sudah diberikan kesempatan tangkil di Pura Gua Raja.

Jumat, 22 Juni 2018

Perjalananku pulang ke Bali

Kamis 21 juni 2018.

Perjalananku pulang ke Bali.
Aku berangkat ke bandara jam 7 pagi dianter tetangga pakai mobilku. Berdoa semoga semuanya baik baik. Kunci aku titip ditetangga. Kebetulan pak min masuk malam.
Sampai di Surabaya jam 11 pagi. Perut mulai lapar. Aku keluar cari makan dengan harapan ada yg murah. Akhirnya makan nasi campur, eh ternyata di bandara tidak ada yg murah. 60 ribu sekali makan siang.
Nungguin agus kirain sempat datang, ternyata ndak bisa. Sebenarnya sangat berharap Agus menyempatkan diri datang ke bandara, paling tidak rasa sepi dan sedih ku bisa terobati. Entahlah perasaanku sangat sedih. 

Duduk-duduk di kursi keberangkatan nunggu mendekati jam check in. Akhirnya jam 4 sore masuk ke check in. Dan menuju ruang tunggu. Jadwal pesawat jam 5.30 sore tapi kok tidak ada tanda-tanda berangkat. Kemudian ada pengumuman delay sampai jam 7 malam. Sampai mendekati jam 7 malam belum juga berangkat dan pengumuman bahwa pesawat delay sampe jam 9 malam. Akhirnya karena melewati jam makan malam para penumpang diberi kompensasi nasi kotak. Kemudian karena ketentuan juga karena delay sampai 4 jam, dapat kompensasi uang tunggu 300ribu rupiah berupa check mandiri.
Landing di bali jam 11.30 malam wita, dan sekitar jam 12 malam wita sampai di gerbang kedatangan. Dijemput adik dan istrinya yg sudah kecapean nungguin selama 6 jam.
Mungkin karena sudah tengah malam, jalanan sangat sepi. Sampai rumah di kampong sekitar jam 2 pagi, salaman sama bapak dan anak2. Trus tidur.
Keesokan bangun agak pagi karena susah tidur. Sambil menikmati kopi yg kurang terasa nikmat, berembug bertiga, aku, adik dan bapak.
Mataku ngantuk banget dan ke kamar tidur setelah sarapan pagi. Kemudian aku ke warungnya adik dengan anakku yg kecil sathya untuk lihat2 tiket. Tiket masih ada. Total sekitar 7 juta. Tidak dibooking sapa tau besok harganya turun.
Tgl 23 juni setelah sarapan aku nyusul adik ke warungnya. Aku check tiket ternyata tgl 26 juni tiket habis. Terpaksa ambil yg tgl 27 juni, langsung issued. Total 7 juta lebih. Tidak apa yang penting sampai di batam, meski transit di Surabaya agak lama.

Senin, 16 April 2018

Antara Sampah dan Moralitas

Saya termasuk orang yang jarang-jarang naik pesawat. Tidak ada keperluan yang mengharuskan  dengan naik pesawat. Kalaupun ada yang ngasi tiket gratis setiap minggu untuk naik pesawat, terus terang saya tidak sanggup. Suka jantungan saat cuaca tidak bersahabat dimana laju pesawat tidak stabil. Begitu juga jika saya naik kapal ferry, suka pucet dan deg degan jika ombak besar.

Kembali ke judul di atas, suatu hari sekitar akhir bulan maret 2018, saya pulang dari Jakarta. Check out dari hotel jam 12 siang dan langsung menuju bandara. Jadwal pesawat jam 4.15 sore. Turun di terminal 1c citylink, karena waktunya makan siang, langsung cari-cari tempat makan dengan harapan harganya murah. Eh setelah ke kasir, ternyata makan ayam kremes dan teh dingin untuk dua orang sebesar 160 ribu. Muahal sekali. Ya maklumlah ini harga bandara.

Keuar dari tempat makan langsung masuk ke check in, tadinya mau nyari tempat merokok tapi kok ndak ketemu. Malah ndak ada orang merokok sembarangan, disamping pintu lift atau dipinggir taman misalnya. 
Check in cukup singkat karena tidak bawa bagasi. Langsung menuju ruang tunggu keberangkatan di A7. Niat nyari tempat duduk karena lumayan kaki pegel-pegel jalan lumayan jauh. Eh ruang tunggu penuh sesak kliatannya penumpung ke berbagai tujuan beda flight. Ada dua ruang tunggu berseberangan yang ternyata satunya adalah ruangan vip. Saya hampir salah masuk ke vip  karena kliatannya nyaman dan orang di dalam tidak banyak.

Akhirnya saya duduk lesehan di lorong masuk, yang sebenarnya termasuk nyaman karena juga dipasangin AC, apalagi jika rombongan Pramugari lewat dimana bias menyaksikan pemandangan gratis pakai rok panjang tapi belahan samping sampai di pangkal paha, langkahnyapun cepat. Hiii lumayan anggap aja rejeki. 

Berdekatan dengan saya, ada sekelompok anak muda laki-laki dan perempuan, kliatannya dari penampilannya ini anak-anak sangat beretika, begitu pikir saya. Yang perempuan semua pakai jilbab. Mereka asyik ngobrol sambil makan makanan ringan. Namun yang membuat saya heran saat mereka beranjak pergi. Pergi begitu saja meninggalkan sampah di lantai. Kok ternyata penampilan tidak 100% mencerminkan moralitas seseorang. Tak lama kemudian dating petugas kebersihan, ibu-ibu tua dengan perlengkapan kebersihannya ngambilin sampah yang berserakan.

Karena jadwal flight sudah mendekati, saya beranjak masuk ke ruang tunggu, kebetulan rombongan penumpang yang tadinya memenuhi ruangan sudah menuju ke pesawat. Astaga, saya kaget banget ketika menyaksikan lantai dan tempat duduk bertebaran sampah makanan. Saya duduk disalah satu kursi kosong, disamping saya duduk seorang asing. Mungkin dia sudah terbiasa menyaksikan pemandangan seperti ini  di Indonesia. Makanya si orang asing ini duduk dengan cueknya sambil baca buku. Saya geleng-geleng kepala, petugas kebersihan dating mungutin sampah dan saya bantu ngambilin sampah dis ekitar saya dan memasukkan ke kantong sampah yang dia bawa. Sempat muncul pertanyaan dalam hati, yang habis duduk diruangan ini manusia apa hewan. 

Tak berapa lama panggilan untuk masuk ke pesawat terdengar di pengeras suara. Sayapun bergegas meninggalkan ruang tunggu tersebut dengan sampah sampahnya. Selamat tinggal sampah.

Senin, 02 April 2018

Forum Dialog Kelembagaan Hindu

Minggu 1 april 2018, entah apalah namanya. Yang jelas pertemuan ini difasilitasi oleh penyelenggara hindu kota batam sdr Eko Prasetyo. Saat sosialisasi nama kegiatannya Dialog  Kerukunan antar Lembaga Hindu kota Batam. Sedikit mengandung pertanyaan, mengapa memakai kata kerukunan. Apakah selama ini tidak rukun? Akhirnya nama kegiatannya diganti  menjadi ‘Dialog Pengurus Lembaga Keagamaan Hindu Kota Batam’.
Semua perwakilan lembaga keagamaan hadir dalam acara tersebut. Ada banyak masukan-masukan dari masing masing lembaga. Diantara usulan yang urgent adalah kelanjutan sertifikat Pura, Badan konseling untuk yang pernah di sudi wedani. Dan beberapa hal lain termasuk masukan dari Penyembah Hare Khrishna.

Ada beberapa masukan yang bias ditanggapi langsung oleh team panelis. Semua masukan di rumuskan oleh team perumus dan dalam waktu dekat akan dirundingkan lagi untuk ditindak lanjuti. Kita lihat nanti apakah team ini bergerak sesuai dengan janjinya termasuk personel yang ditunjuk sebagai team perumus. Seingat saya dulu sekitar tahun 2011 pernah diadakan dialog antar lembaga begini namun tidak ada tindaklanjutnya.
Sempat juga usulan yang masuk untuk jero mangku sebagai pemimpin persembahyangan bersama di pura ditanggapi dan diputuskan oleh ketua Parisada Kepri pak Wayan Jasmin bahwa urutan persembahyangan harus mengikuti tata cara yang baku untuk menghindari kebingungan anak-anak pasraman, karena yang dilombakan dalam Jambore Pasraman adalah tatacara yang  baku dari PSN pusat yang tertuang dalam buku panduan Jambore Pasraman.
Waktu yang sangat singkat yang sedianya ditutup pada pukul 2 sore terpaksa molor 1 jam karena perlu waktu yang lebih lama untuk menampung masukan masukan dari umat.
Semoga ada tindak lanjutnya, bukan sekedar wacana.

Rabu, 21 Februari 2018

Gelang Tri Datu

Agama Hindu di Bali memiliki banyak simbul dalam menjalankan agamanya. misalnya ada ritual yang membuat orang Hindu Bali menggunakan gelang benang Tri Datu. Namun benang merah, hitam dan putih ini bak menjadi trend fashion. Karena tak hanya orang Bali, atau orang hindu. Namun non hindu juga "nyaman" menggunakan gelang Tri Datu (dicopast dari tulisan di internet).
teringat waktu naik pesawat lion terakhir kali, kamera semi pocket selalu on di tangan sapatau ada pemandangan menarik. kata orang pramugari pesawat ini kostumnya rapi, pramugarinya cantik2, baju terusannya panjang menutup mata kaki, namunnnnnn belahan roknya itu sampe di pangkal paha. setau saya juga gitu, ihh serem.
pas masuk pintu pesawat depan kan jalan pelan karna para penumpang mesti macet ya naruh barang bawaan, ya nyari2 tempat duduk sesuai nomor tiket, ya sibuk tukeran tempat duduk. seorang pramugari juga sedang sibuk menata tugas2nya di sekitar lorong masuk itu yang banyak ada laci2 kecil entah apa isinya. secara otomatis tangan nekan shutter kamera entah apanya yg ke shoot. sampai di tempat duduk saya preview photo-photo tadi. termasuk photo pramugari. saya zoom tangannya kok mulus sekali. eh kok kliatan kayak pake gelang tri datu. saya geser2 lagi zoomnya ke name plate di dadanya tapi kok namanya bukan nama bali, begitu kata saya dalam hati. nah pas peragaan alat2 keselamatan ternyata dia lagi yg memperagakan. saya sandarkan kamera saya di atas sandaran tempat duduk depan saya sehingga kamera menghadap ke arah pramugari tersebut. setiap ganti gerakan instruksi jari saya juga menekan tombol shutter. nah selesai peragaan, ternyata si mbak pramugari itu menghampiri saya dimana saya duduk. pesawat belum take off. maaf pak boleh lihat photo2 tadi. deg, saya kaget dan salah tingkah. tapi kesempatan, pikir saya. ya bole, ni kata saya. kok tak ada, kata dia lagi sambil mendekatkan wajahnya hampir nempel di wajah saya. saya menjauh dikit untuk jaim penumpang lainnya. ndak ada kannnn kata saya sambil terus menscroll ke kiri displaynya padahal photo2 dia kliatan klo display di scroll ke kanan. Ternyata si mbak itu ndak tau kamera kali ya.  tolong dihapus ya pak nanti photo2 saya klo ada, kata dia lagi dengan lembut. iya dik eh iya mbak kata saya.
nah setelah take off dan jalanan mulus tidak grundal grundul lagi, saya pura2 ke toilet depan sambil cari2 si pramugari itu tapi kok ndak ada entah sembunyi dimana. Akhirnya saya kembali duduk dan tak lama kemudian ada pemberitahuan klo pesawat sebentar lagi landing.
Saat pintu pesawat sudah dibuka dan penumpang boleh meninggalkan pesawat saya sengaja keluar agak terakhir2. Pramugari berdiri dekat pintu keluar sambil senyum ke setiap penumpang sambil bilang terima kasih sampai jumpa. Nah pas saya mau keluar pas depan pramugari tadi itu, saya masih hafal wajahnya, secara spontan saya tanya, mbak dari bali ya. Ehhh dengan meyakinkan dia jawab, ndaaaakkkk. Setelah noleh ke teman disebelahnya si pramugari itu spontan noleh pergelangan tangannya dan megang gelang yg mirip gelang tridatu (benang hitem merah dan putih). Mungkin saja dalam hatinya dia bertanya2 apakah dengan memakai ini saya dikira orang bali ataukan dia berbohong bisa saja suami atau pacarnya orang bali/ hindu. Semoga…. Sayapun berlalu sambil bilang oooo maaf ya.

Waktu kembali pulang dengan pesawat dari maskapai yang sama, saat hendak naruh tas ke kabin pesawat saya ketemu lagi dengan pramugari yg juga memakai gelang tri datu kliatan saat menata tas2 di kabin. Saya sempat berpikir apakah ini pramugari yg dipesawat saat pergi kmaren. Namun ternyata setelah saya perhatikan wajahnya ternyata beda dengan yg kemaren. Saya perhatikan plat nama di dadanya Ni Ketut…….. sempat sempatin tanya pake bahasa bali, tinggal dimana. Trus dia jawab pakai bahasa indonesia, saya tinggal di tangerang. Oooo kata saya. Padahal maksud pertanyaan saya itu, apakah tinggal di batam dan dimana, kan ini pesawat tujuan batam. Ya tidak semua peswat tujuan batam meskipun sudah malem pesawatnya parkir di batam. Bisa aja itu penerbangan terakhir kembali ke jakarta.
The end.

Rabu, 24 Januari 2018

Sepenggal Cerita

Tiba tiba terinspirasi oleh suatu cerita karangan sendiri dihari yg cerah ini. Cerita fabel, karena ternyata sifat2 kehewanan juga ada pada diri manusia, meskipun tidak 100% sama. Begitu juga sifat2 manusia ada juga pada sifat2 hewan meski juga tidak 100% sama. Contohnya, silakan cari sendiri.
Alkisah segerombolan srigala mengadakan pertemuan di wilayah kerajaannya. Disebarkanlah undangan ke seluruh jagad raya untuk mengundang semua pengikutnya. Beberapa kali tema yang tertulis diundangan harus diubah agar terkesan kekinian. Apapun temanya yang penting diselingi kata NKSH, negara kesatuan srigala hutan. Apapun nanti yang dibahas dipertemuan tersebut yang penting alasannya demi tegaknya negara kesatuan srigala.
Pada hari yang telah ditentukan sesuai dengan undangan, berduyun duyunlah para pengikut raja srigala ke tanah lapang yg dijadikan sebagai alun alun. Dengan gagahnya raja srigala naik ke podium dan mulai bicara dengan berapi api. Tepuk tangan hadirin tiada henti bergemuruh seakan keseluruh pelosok negeri srigala. Sang raja dengan suara yg dibikin berat dan serak semakin bersemangat berbicara. Apapun yang dikatakan sang raja yang penting pengikutnya tepuk tangan.
Singkat cerita, sekelompok kecil domba mendengar pertemuan yang diadakan oleh para srigala. Sesama domba saling pandang tak ada yang mulai bicara. Semua seakan bisu seribu bahasa. Akhirnya salah satu dari mereka berkata, ‘hai teman teman ayo kita kesana kalau kita tidak mau disantap oleh srigala2 itu’. Iiiihhhhh takuttt dan ngeriiii, kata domba domba itu serentak dalam hati. Ada juga yg menjawab, ayo kita kesana, kita tunjukkan bahwa kita adalah domba domba yang baik hati dan toleran. ‘ah jangan’, kata yang lainnya. Lho kenapa, jangan takut, kata yang lainnya lagi. Perdebatan yang tidak sengitpun terjadi diantara mereka. Akhirnya datang domba kurus dan tidak berwibawa berkata, hai teman teman, mari kita urus rumah kita masing2 saja, kita memang diciptakan berbeda. Beda jalan dan beda sifat. Mari kita cari jalan yang aman dan nyaman. Semulia mulianya seekor domba tetep saja hina dimata srigala dan nikmat untuk disantapnya. Sebaik baiknya srigala pasti akan menyantap mangsanya. Akhirnya domba domba tersebut semakin kebingungan antar ya dan tidak.
Nah pesan moral apa yang bisa dipetik dari cerita tersebut. Pesan moralnya adalah kita hendaknya berhati hati baca postingan di fb karena bisa jadi itu hanya hoax atau cerita kosong belaka.
Selamat beraktifitas

Senin, 08 Januari 2018

Fenomena Tari Rejang Renteng

Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengupas tuntas tentang Tari Rejang Renteng ataupun bukan hendak mengatakan bahwa tari Rejang Renteng tersebut boleh tidaknya dipentaskan di tempat umum selain yang katanya fungsi Tari Rejang Renteng adalah untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya. Penulis mencoba mencoba mnecari referensi kekerapa sumber terutama di media online, terutama di youtube sangat banyak yang meng-upload rekaman Tari Rejang Renteng. Tentu saja ada perasaan bangga punya rekaman yang dapt disaksikan oleh seluruh dunia yang dapat mengakses youtube.
Berawal dari pentasnya ibu-ibu whdi Batam di acara perayaan ulang tahun Kota Batam di bulan Desember 2017 dengan mementaskan Tari Rejang Renteng dihadapan para Pejabat dan undangan. Sambutan meriahpun diberikan kepada ibu-ibu baik secara langsung maupun pujian di medsos terutama facebook.
Berikutnya Ibu-ibu hendak tampil kembali di acara yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Batam di bulan Januari 2018. Namun lewat forum media sosial WA salah seorang yang selama ini menjadi panutan khususnya dalam hal upakara upacara melarang penampilan Tari Rejang Renteng di tempat umum karena termasuk Tari Sakral/ Wali. Dari mana rujukannya tidak jelas. Apa dasarnya mengatakan demikian.
Penulis terusik dengan pelarangan tersebut, namun tidak enak berkomentar di group WA tersebut. Akhirnya penulis mencoba minta mendapat dari anggota grup diskusi YJHN. Setelah diposting dan di approved oleh admin, tidak serta merta mendapat komentar dari anggota, barangkali karena penulis minta alasan dan referensi masing masing pendapat. Beberapa komentar masuk, ada yang mengatakan boleh dan ada juga yang megatakan tidak boleh. Tidak ada yang memberikan statemen yang jelas, apa rujukannya. Komentar terakhir mengatakan bahwa baru saja ada di tayangkan diskusi di Balitv tentang rejang renteng. Katanya intinya masih ngambang antara boleh dan tidak boleh. Karena perkembangan jaman, Tarian tersebut sudah biasa dipentaskan di acara umum.
Berikut adalah postingan penulis ke grup YJHN :
om swastyastu, mohon maaf jika seandainya apa yang saya tulis ini kurang pas dihati umat sedharma. mudah2an saya tidak salah kamar. satu hal yg mengganjal dihati saya tentang pementasan tari rejang renteng. sebagai bagian dari umat hindu asal bali yg saat ini di rantauan secara pribadi saya sangat mendukung ibu2 yg lagi giat2nya berlatih tari rejang renteng dimana hampir 50% dari ibu2 tersebut bukan asli dari bali. setiap kesempatan sepertinya ibu2 ingin menunjukkan kebolehannya sekaligus menunjukkan eksistensi umat hindu di rantauan baik dalam acara yg diselenggarakan oleh pemerintah daerah ataupun program2 lintas agama. adakah umat sedharma yang punya referensi atau acuan ataukah opini, apakah tarian tersebut boleh dibawakan dalam acara2 umum seperti di atas. agar tidak terus2an menjadi sesuatu yg seakan2 pembodohan umat. apa acuan seorang jero mangku melarang pementasan tari rejang renteng di acara umum. harusnya kan ada acuan jangan hanya pendapat pribadi dijadikan acuan. contoh bisa kita lihat di link https://www.youtube.com/watch?v=_ATEpTuvVXk
https://www.youtube.com/watch?v=XCM00fOhy8c
https://www.youtube.com/watch?v=GAhyYDz8b7E
apakah ini menyalahi aturan? kalau salah apa konsekuensinya.
ini baru satu contoh saja, mohon maaf jika kurang berkenan.