Senin, 16 April 2018

Antara Sampah dan Moralitas

Saya termasuk orang yang jarang-jarang naik pesawat. Tidak ada keperluan yang mengharuskan  dengan naik pesawat. Kalaupun ada yang ngasi tiket gratis setiap minggu untuk naik pesawat, terus terang saya tidak sanggup. Suka jantungan saat cuaca tidak bersahabat dimana laju pesawat tidak stabil. Begitu juga jika saya naik kapal ferry, suka pucet dan deg degan jika ombak besar.

Kembali ke judul di atas, suatu hari sekitar akhir bulan maret 2018, saya pulang dari Jakarta. Check out dari hotel jam 12 siang dan langsung menuju bandara. Jadwal pesawat jam 4.15 sore. Turun di terminal 1c citylink, karena waktunya makan siang, langsung cari-cari tempat makan dengan harapan harganya murah. Eh setelah ke kasir, ternyata makan ayam kremes dan teh dingin untuk dua orang sebesar 160 ribu. Muahal sekali. Ya maklumlah ini harga bandara.

Keuar dari tempat makan langsung masuk ke check in, tadinya mau nyari tempat merokok tapi kok ndak ketemu. Malah ndak ada orang merokok sembarangan, disamping pintu lift atau dipinggir taman misalnya. 
Check in cukup singkat karena tidak bawa bagasi. Langsung menuju ruang tunggu keberangkatan di A7. Niat nyari tempat duduk karena lumayan kaki pegel-pegel jalan lumayan jauh. Eh ruang tunggu penuh sesak kliatannya penumpung ke berbagai tujuan beda flight. Ada dua ruang tunggu berseberangan yang ternyata satunya adalah ruangan vip. Saya hampir salah masuk ke vip  karena kliatannya nyaman dan orang di dalam tidak banyak.

Akhirnya saya duduk lesehan di lorong masuk, yang sebenarnya termasuk nyaman karena juga dipasangin AC, apalagi jika rombongan Pramugari lewat dimana bias menyaksikan pemandangan gratis pakai rok panjang tapi belahan samping sampai di pangkal paha, langkahnyapun cepat. Hiii lumayan anggap aja rejeki. 

Berdekatan dengan saya, ada sekelompok anak muda laki-laki dan perempuan, kliatannya dari penampilannya ini anak-anak sangat beretika, begitu pikir saya. Yang perempuan semua pakai jilbab. Mereka asyik ngobrol sambil makan makanan ringan. Namun yang membuat saya heran saat mereka beranjak pergi. Pergi begitu saja meninggalkan sampah di lantai. Kok ternyata penampilan tidak 100% mencerminkan moralitas seseorang. Tak lama kemudian dating petugas kebersihan, ibu-ibu tua dengan perlengkapan kebersihannya ngambilin sampah yang berserakan.

Karena jadwal flight sudah mendekati, saya beranjak masuk ke ruang tunggu, kebetulan rombongan penumpang yang tadinya memenuhi ruangan sudah menuju ke pesawat. Astaga, saya kaget banget ketika menyaksikan lantai dan tempat duduk bertebaran sampah makanan. Saya duduk disalah satu kursi kosong, disamping saya duduk seorang asing. Mungkin dia sudah terbiasa menyaksikan pemandangan seperti ini  di Indonesia. Makanya si orang asing ini duduk dengan cueknya sambil baca buku. Saya geleng-geleng kepala, petugas kebersihan dating mungutin sampah dan saya bantu ngambilin sampah dis ekitar saya dan memasukkan ke kantong sampah yang dia bawa. Sempat muncul pertanyaan dalam hati, yang habis duduk diruangan ini manusia apa hewan. 

Tak berapa lama panggilan untuk masuk ke pesawat terdengar di pengeras suara. Sayapun bergegas meninggalkan ruang tunggu tersebut dengan sampah sampahnya. Selamat tinggal sampah.