Senin, 25 November 2019

Kecewa

Capek tapi hambar. Tak ngerti juga mengapa begitu. Apakah ini memang sudah karmaku begitu. Harus bangun pagi-pagi, entah mengapa juga kok susah tidur. Semalamnya habis pertemuan banjar. Itupun setelah pulang dari merias ruangan di aula pasraman untuk acara hari ulang tahun Sad Guru.

Pertemuan banjar hingga jam 11 malam, ada yang dibicarakan serius. Kemudian keliling nyari nyari ATM karena perlu duit. Tapi ternyata semua ATM pada jam 11 malam pada ada maintenant system. Tidak bisa narik duit.

Pagi itu hari minggu istri saya menyiapkan makanan untuk acara hari itu di pura. Syukur ada yang bisa bantuin. Sayapun harus turun tangan. Lumayan terbantu. Jam 09.00 makanan bisa siap dan berangkat.

Sampai di aula, persiapan dilanjutkan dengan bhakta dari Singapore. Bhakta adalah sebutan pengikut Ajaran Bhagavan Sri Sathya Sai Baba. Tahun ini adalah perayaan ulang tahunnya ke 94.
Jam 10.00 acara dimulai. Masing-masing mempersiapkan diri. Saya sendiri masih harus nyambi ngontrol keperluan lainnya.

Kaos dibagikan untuk 20 orang anak kelas 5 dan 6 SD dan mereka harus ikut di acara tersebut. Disinilah letak permasalahannya. Saya ternyata salah ngasi tulisan sablon di kaos. Seharusnya 94 tapi tertulis 84. Waduh fatal. Apa boleh buat. Terlanjur di cetak. Ya dipakai saja. Banyak yang mempertanyakan ini. Saya tidak bisa jawab.

Acara selesai. Tiba giliran makan. 70 bungkus gado-gado ternyata sebagian dipindahkan dari meja. Karena tempatnya tidak cukup untuk tempat prasmanan. Akibatnya tidak semua kebagian gado-gado. Ketika saya ditanya saya katakan habis. Tapi ternyata masih ada beberapa bungkus dibelakang. Anehnya kok selama acara tidak ada yang ngeh, bahasa indonesianya ‘tidak ada yang lihat dengan sadar’.

Saya tidak rela jika dituduh menyembunyikan makanan. Akhirnya saya suruh membawa semua makanan tersebut ke bus. Itu hak dia.
Berangkat menuju lokasi bhakti social. Perlu sekitar 1 jam untuk persiapan pengemasan. Begitu selesai pembagian bingkisan, hujan turun dengan derasnya. Beberapa saat sebelum bubar datang 2 orang petugas kepolisian. Ngajak bisik bisik. Ya akhirnya saya harus salam temple. Itulah tradisi, mungkin.

Sampai dirumah, hujan tambah deras dan petir menyambar-nyambar. Rumah kebanjiran. Saat sedikit agak reda, barang diturunkan dari mobil. Basah kuyup. Berangkat lagi ke batam center antar teman. Ternyata daerah batam center tidak ada hujan sama sekali.

Langsung menuju pura jemput anak dan istri. Sampai disana sudah jam 4 sore. Ternyata saya lupa makan siang. Perut kok bunyi-bunyi. Untunglah masih ada sisa makanan sebagai pengganjal perut.
Sampai di rumah harus bersih-bersih rumah karena banjir. Terasa capek luar biasa. Tapi ya dinikmati saja.

Dimanakah letak kecewanya.

Ya itu ternyata ada yang kecewa padahal tidak ikut kerja.

Siapapun bisa jika hanya ngasi ide, sementara yang mengerjakan orang lain.

Kamis, 07 November 2019

'Dedudonan' Acara


Mirip nama beberapa restoran, seperti de bottle, de patros. Kata de mirip dengan kata ‘the’ pada bahasa inggris. Saya bukan ahli bahasa. The dalam bahasa Inggris menunjukkan kata benda dari kata yang mengikutinya. Apakah De dengan The artinya sama? Bisa jadi. Entahlah. Mungkin karena yang menulis terbiasa makan di restoran tersebut. Atau yang bersangkutan terbiasa berbahasa Inggris. Saya tidak berniat mencari tau jawaban keduanya itu.

Saya coba masukkan key word ‘dedudonan’ di google. Dalam hitungan 0,4 detik google menemukan lebih dari 25 ribu kata dudonan. Bukan ‘dedudonan’. Jika mode viewnya dipilih Gambar, maka bermacam macam contoh file gambar yang berisi judul dudonan akan tampil. Satupun belum menemukan kata dedudonan.

Atau mungkin bermaksud menggunakan bahasa bali yang super halus. Sehalus halusnya biar orang yang baca kagum. Ataukah mungkin pencetus kata ‘dedudonan’ adalah seorang ahli bahasa Bali. Artinya saya tidak upgrade pengetahuan berbahasa bali saya. Padahal, bukankah lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia saja jika merasa tidak pede dengan bahasa Bali halus? Untuk apa menulis sesuatu jika kita sendiri tidak tau maknanya, atau salah makna. Dari pengalaman bertahun tahun saya biasa bikin ‘dudonan acara’ dimana kata ‘dudonan’ saya gunakan bahasa Indonesia ‘susunan acara’ atau ‘rangkaian acara’. Mungkin lebih mudah dimengerti oleh orang kebanyakan, apalagi dalam kontek upacara ini bukan hanya untuk orang Bali.

Entahlah.

Saya ibarat sedang bertanya dalam sebuah sangkep di bale bengong. Dimana pesertanya semua bengong. Mengapa tidak pakai kata ‘dudonan’, saya belum pernah menemukan kata ‘dedudonan’, kata saya. Tak satupun peserta sangkep menanggapi pertanyaan saya. Ya sudahlah, pikir saya. Toh kalau ditanya semua orang pasti mengerti pesan yang mau disampaikan adalah rangkaian acaranya. Bukan judulnya.

Kalau kita perhatikan bahasa jurnalistik, kualitas judul adalah mencerminkan isi tulisan. Judulnya saja sudah tidak bermutu, bagaimana isinya. Misalnya kalau kita baca Koran, penulisan judulnya saja salah atau kurang menarik, maka orang tidak akan tertarik membaca isinya.
Saya menyesal harus menulis ini. Tapi inilah ungkapan hati saya yang gundah. Hati saya terusik jika saya merasa diabaikan. Dan inilah jawabannya.

Selamat menyongsong upacara Piodalan dengan penuh keiklasan.