Jumat, 22 September 2023

SURYA GUESTHOUSE

 





Setelah sekitar 35 tahun saya tidak pernah ke kawasan sanur, setelah tamat SMAN2 Denpasar yang waktu itu saya tinggal di daerah Panjer. Hanya beberapa kilometer dari Sanur. Sewaktu sekolah di SMA hampir setiap sore saya berolah raga sepeda.  Sambil cari tahu jalan jalan yang ada diseputar Sanur. Bahkan saya pernah bersepeda sampai ke Tuban dan sempat pegang puing puing badan pesawat terbang yang mengalami kecelakaan. Kawasan Kuta juga pernah saya kelilingi naik sepeda. Dan saya bersepeda sendirian.
Penginapan ini terletak di ujung jalan sempit bak masuk sebuah gang. Kebetulan tempat tinggal mempelai pria ponakan saya di kawasan tersebut, tepatnya dibelakang SMAN 6 Denpasar. Konon kawasan tersebut adalah milik keluarga besarnya. Bangunan rumahnya keliatan masih baru dengan style Bali, halaman sempit dan pondasi bangunan sekitar 1 meter tingginya. Ada tiga bangunan utama. Saya tidak tahu bangunan apa saja namanya.
Kebetulan di bookingkan dua kamar di dua penginapan. Satu di penginapan Cemara dan satu di penginapan Surya.
Saya tidak habis pikir, dikedua penginapan tersebut tidak disediakan tempat parkir mobil. Sebenarnya ada Parkiran, tapi penjaga bilang tidak boleh parkir disana. Hanya untuk tamu, katanya. Saya hampir naik darah, saya juga tamu. Saya disarankan memarkir kendaraan di bahu jalan sempit tersebut.
TERNYATA, menurut penjaganya penginapan tersebut tidak diperuntukkan untuk tamu short stay, satu dua malam. Hanya untuk long stay, tahunan, bahkan ada yang sudah tinggal disana puluhan tahun. Wow. Kalau tidak kenal dengan yang bookingkan, pasti tidak diijinkan nginap disana. Begitu katanya.
Jarak antara penginapan Cemara dengan penginapan Surya tidak terlalu jauh. Sekitar 500 meter. Jalan kaki masih OK.
Kondisi penginapan yang saya tempati, Surya Guest House, termasuk lumayan bagus. Tempat tidur ukuran king, dapur dengan peralatan lengkap, kamar mandi ada air panasnya. Hanya sabun dan sampo tidak disediakan. Nginap dua malampun tidak masalah. Karena pagi pagi harus balik ke kampung lagi.






Senin, 18 September 2023

KERASNYA KEHIDUPAN




 Tanggal 17 september 2023 saya pulang ke Bali, kebetulan sendiri tidak bersama keluarga. Sudah tiga tahun belum pernah pulang lagi semenjak Bapak tiada yaitu bulan Maret 2020. Saat heboh wabah Covid baru mulai. Yang waktu itu dibikin serba takut atau ditakut takuti. Upacara Pitra yadnya almarhum bapak juga termasuk hanya dilaksanakan oleh keluarga besar saja dan tentu dibantu oleh masyarakat sekitar.

Kebetulan jadwal keberangkatan pesawat agak sorean. Saya masih sempat mampir ke Pura, melatih anak anak seni tabuh sambil ngantar anak sekolah minggu. Hujan deras sempat turun sebentar. Saya numpang mandi dan ganti baju di toilet pasraman.

Diantar kedua anak dan istri saya sampai loby keberangkatan hang nadim batam. Cuaca cukup cerah. Naik Citylink yang ciri khasnya dari dulu ada pantun oleh krunya. Pantunnya asik asik meski kadang ada juga pantun pemaksaan yang kedengaran dipaksakan biar pas.

Transit di Sukarno Hatta Jakarta. Di terminal tiga, untuk Garuda Grup. Sekitar tiga jam menunggu penerbangan lanjutan ke Denpasar. Ternyata saya kelelahan dari Gate 1 menuju Gate 24, padahal ada buggy car yang dikhususkan untuk penumpang. Saya kira jarak dari Gate satu ke Gate 24 jaraknya beberapa meter saja, tapi ternyata jauuuhhh sekali. Terminal ini kelihatannya baru saja direnovasi bahkan beberapa bagian ada yang sedang dikerjakan. Saya berjalanmengikuti arus orang saja. Sesekali bertanya ke petugas yang saya yakini mereka adalah petugas bandara, dari seragamnya. 

Sampai di ruang tunggu ada sedikit tanda tanya dalam hati. Kok ruang tunggunya sepi hanya ada dua atau tiga orang saja. Saya duduk sambil ngecash Hp yang sudah lowbatt. Indera pendengaran saya pasang agar sewaktu waktu ada pengumuman saya dengar. Dan akhirnya panggilan kepada penumpang yang menuju denpasar silakan menuju ke pesawat melalui pintu 24. Saya bergegas masuk antrian agar tidak susah dapat tempat tas di kabin pesawat kalau masuk pesawatnya belakangan. Itulah mengapa biasanya orang buru buru naik ke pesawat.

Saya memang susah tidur di dalam pesawat. Mungkin termasuk phobia terutama jika pesawat melintasi gumpalan kabut yang menurut saya sangat terasa getarannya. Bahkan jantung saya sering berdetak kencang jika terasa ada goncangan. Biasanya saya mengalami ngantuk berat sesaat sebelum pesawat take off. Selanjutnya kantuk langsung hilang sampai mendarat.

Penerbangan dari Jakarta ke Denpasar ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit. Saya perkirakan pesawat masih di atas kota Surabaya sudah mulai menurunkan ketinggian terbang. Saya nengok dari jendela pesawat sudah kelihatan lampu lampu kota yang gemerlap di bawah.

Beberapa saat sebelum mendarat kembali seperti biasa pilot pesawat menyampaikan terima kasih kepada para penumpang yang telah terbang bersama Citylink. Tentu dibumbui dengan pantun pantun khas citylink. Selamat datang di pulau Dewata. Selamat bekerja dan selamat beraktifitas kembali mulai esok hari dan selamat menikmati kerasnya kehidupan di Bali.


Minggu, 03 September 2023

ATURAN RANCU

 Purnama katiga tanggal 31 Agustus 2023. Saya sembahyang bersama di Pura Agung Amerta Bhuana. Seperti biasanya ketika saya sampai di Pura saya langsung menuju mandala utama, pelataran tempat sembahyang bersama. Suasanya masih lengang. Ada beberapa orang saja yang sudah duduk di karpet plastik yang dibentangkan sebagai alas duduk. Saaya duduk di barisan paling depan. Kemudian diikuti oleh umat yang datang.

Entah mengapa kok sedikit sekali yang hadir sembahyang bersama, pikir saya begitu. Sampai kemudian pembawa acara yang bertugas malam itu yaitu ketua banjar Batam Center memanggil umat lewat pengeras suara agar segera memasuki mandala utama. Ternyata ya lumayan juga jumlah umat yang hadir, mungkin kalau tidak dipanggil karena waktu sembahyang bersama segera dimulai, mungkin masih pada duduk duduk ngobrol di sekitar wantilan.

Rangkaian acara persembahyangan berjalan seperti biasa. Pembukaan, dharmawacana, ngaturang bebantenan diiringi kekidungan, sembahyang bersama, pengumuman pengumuman dan terakhir penutup.

Tiba acara pengumuman, ketua Parisadha yang beberapa waktu yang lalu baru saja dilantik beserta kepengurusannya, tepatnya saat hari suci Kuningan tanggal 12 Agustus 2023, maju memberikan pengumuman. Demi masa depan umat Hindu di Batam katanya. Katanya ada masukan dari beberapa umat agar sembahyang jangan sampai terlalu malam. Tidak semua umat memiliki kendaraan roda empat. Anak anak harus sekolah esok paginya. Yang menyebabkan waktu persembahyangan sampai malam karena dharmawacana terlalu lama. Padahal cukup 10 menit saja, katanya. Bahkan dia sempat menghitung waktu tiap tiap acara. Misalnya, pembukaan 5 menit, ngantebang banten dan kekidungan 5 menit, sembahyang bersama 10 menit, dan seterusnya. Jadi total hanya perlu waktu satu jam. Wah ini menunjukkan betapa mahalnya waktu yang dimiliki umat hindu. Sudah jarang ke tempat ibadah, sekarang bikin aturan tidak boleh berlama lama di Pura.

Yaa atur saja. Toh ini bukan barang baru. Sejak dulu juga sudah ada aturan seperti itu. Seleksi alam juga yang menentukan. Ya karena segitulah kemampuan umat kita.

Semoga saja apa yang disampaikan oleh ketua Parisadha Batam tersebut tidak bertujuan untuk mengcounter apa yang disampaikan oleh Ketua Parisadha Provinsi saat membawakan Dharmawacananya, yang terlalu lama dan mungkin ada yang merasa tersenggol. Kelihatannya memang sekelompok orang berusaha mengcounter terus omongan Ketua Parisadha Provinsi.

Dua hari kemudian terbitlah surat Parisadha Batam tentang aturan baku persembahyangan tersebut. Padahal ini ranahnya Ketua BOP yang membuat aturan. Bukankah ini aturan rancu? Kelihatan aneh karena aturan tersebut dibuat atas musyawarah mengatas namakan umat Hindu sekota Batam pada tanggal 31 Agustus 2023 di Mandala Utama. Padahal hanya hasil obrolan sekelompok orang saja. Tidak mewakili masukan banjar manapun.

Aturan tersebut effektif mulai berlaku saat persembahyangan Purnama berikutnya yaitu 29 September 2023. Mari kita dukung aturan tersebut.