Senin, 18 September 2023

KERASNYA KEHIDUPAN




 Tanggal 17 september 2023 saya pulang ke Bali, kebetulan sendiri tidak bersama keluarga. Sudah tiga tahun belum pernah pulang lagi semenjak Bapak tiada yaitu bulan Maret 2020. Saat heboh wabah Covid baru mulai. Yang waktu itu dibikin serba takut atau ditakut takuti. Upacara Pitra yadnya almarhum bapak juga termasuk hanya dilaksanakan oleh keluarga besar saja dan tentu dibantu oleh masyarakat sekitar.

Kebetulan jadwal keberangkatan pesawat agak sorean. Saya masih sempat mampir ke Pura, melatih anak anak seni tabuh sambil ngantar anak sekolah minggu. Hujan deras sempat turun sebentar. Saya numpang mandi dan ganti baju di toilet pasraman.

Diantar kedua anak dan istri saya sampai loby keberangkatan hang nadim batam. Cuaca cukup cerah. Naik Citylink yang ciri khasnya dari dulu ada pantun oleh krunya. Pantunnya asik asik meski kadang ada juga pantun pemaksaan yang kedengaran dipaksakan biar pas.

Transit di Sukarno Hatta Jakarta. Di terminal tiga, untuk Garuda Grup. Sekitar tiga jam menunggu penerbangan lanjutan ke Denpasar. Ternyata saya kelelahan dari Gate 1 menuju Gate 24, padahal ada buggy car yang dikhususkan untuk penumpang. Saya kira jarak dari Gate satu ke Gate 24 jaraknya beberapa meter saja, tapi ternyata jauuuhhh sekali. Terminal ini kelihatannya baru saja direnovasi bahkan beberapa bagian ada yang sedang dikerjakan. Saya berjalanmengikuti arus orang saja. Sesekali bertanya ke petugas yang saya yakini mereka adalah petugas bandara, dari seragamnya. 

Sampai di ruang tunggu ada sedikit tanda tanya dalam hati. Kok ruang tunggunya sepi hanya ada dua atau tiga orang saja. Saya duduk sambil ngecash Hp yang sudah lowbatt. Indera pendengaran saya pasang agar sewaktu waktu ada pengumuman saya dengar. Dan akhirnya panggilan kepada penumpang yang menuju denpasar silakan menuju ke pesawat melalui pintu 24. Saya bergegas masuk antrian agar tidak susah dapat tempat tas di kabin pesawat kalau masuk pesawatnya belakangan. Itulah mengapa biasanya orang buru buru naik ke pesawat.

Saya memang susah tidur di dalam pesawat. Mungkin termasuk phobia terutama jika pesawat melintasi gumpalan kabut yang menurut saya sangat terasa getarannya. Bahkan jantung saya sering berdetak kencang jika terasa ada goncangan. Biasanya saya mengalami ngantuk berat sesaat sebelum pesawat take off. Selanjutnya kantuk langsung hilang sampai mendarat.

Penerbangan dari Jakarta ke Denpasar ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit. Saya perkirakan pesawat masih di atas kota Surabaya sudah mulai menurunkan ketinggian terbang. Saya nengok dari jendela pesawat sudah kelihatan lampu lampu kota yang gemerlap di bawah.

Beberapa saat sebelum mendarat kembali seperti biasa pilot pesawat menyampaikan terima kasih kepada para penumpang yang telah terbang bersama Citylink. Tentu dibumbui dengan pantun pantun khas citylink. Selamat datang di pulau Dewata. Selamat bekerja dan selamat beraktifitas kembali mulai esok hari dan selamat menikmati kerasnya kehidupan di Bali.