Kamis, 27 Februari 2014

“NGAYAH” SEBAGAI TEAM SUKSES CALEG

Tahun ini adalah tahun politik, demikian kata-kata yang sering terdengar dari para pembicara baik di ruang public maupun di internal suatu lembaga. Tentu karena di tahun ini diseluruh Indonesia akan digelar hajatan nasional yaitu pemilu legislative yang akan diadakan serentak pada tanggal 9 april.
Sepanjang jalan, gang-gang perumahan, kampung-kampung, dihiasi dengan photo-photo caleg atau spanduk bernuansa pemilu. Moment hari raya keagamaan biasanya digunakan sebagai kesempatan mengucapkan hari raya dan tentunya pengenalan kepada khalayak ramai. Besar kecilnya baliho atau spanduk ucapan tentu berkaitan dengan anggaran yang dimiliki masing-masing caleg.
Masing-masing caleg tentu memiliki strategi tersendiri untuk menarik simpati masyarakat. Dari iming-iming bantuan sarana lingkungan, pengobatan bahkan ada yang memberikan bantuan nyata seperti pembuatan jalan, pengaspalan jalan kampong, dan sebagainya. Tentu diharapkan saat pencoblosan nanti masyarakat akan memilih dia. Secara umum para caleg berharap banyak dari simpati komunitasnya terlebih dulu, kemudian berusaha mencari dukungan ke komunitas lain.
Bagaimanakah halnya dengan umat hindu atau masyarakat Bali di batam? Umat hindu harus buka mata buka hati bahwa urusan politik bukanlah hal yang kotor atau tabu untuk dibicarakan. Siapakah yang akan memperjuangkan hak-hak umat hindu jika tidak memiliki wakil di dewan. Siapakah yang akan mengusulkan kepentingan-kepentingan umat hindu di daerah yang akan dimasukkan dalam peraturan daerah misalnya.
Umat hindu di rantau sepatutnya bersyukur karena ada umat yang maju menjadi caleg. Tentu harus didukung, bukan malah dicemooh. Dukungan harus dengan usaha nyata, bukan sekedar omongan manis dibibir. Tentu berbeda dengan urusan ‘ngayah’ di pura misalnya. Ngayah dipura boleh dibilang suka-suka hati, mau datang silakan, ndak datang juga tidak ada yang komplin, apalagi didenda. Kata ngayah justru sering dijadikan tameng untuk mencari alasan pembenaran.
Meski sudah dibentuk team sukses internal, bahkan saat pembentukannya  bagaikan mengadakan suatu ikrar bersama kebulatan tekad untuk mendukung sang caleg namun nyatanya masih terkesan mandul. Apakah  apa-apa  yang diutarakan hanya isapan jempol belaka. Sampai saat saya menulis ini sama sekali tidak ada usaha team sukses yang mencerminkan usaha kesuksesan caleg yang juga berarti kesuksesan bersama. Penulis cuman bisa berangan-angan barangkali Team sukses ini sedang menyusun strategi untuk melakukan suatu gebrakan jitu.