Tahun ini adalah tahun politik, demikian kata-kata yang
sering terdengar dari para pembicara baik di ruang public maupun di internal
suatu lembaga. Tentu karena di tahun ini diseluruh Indonesia akan digelar
hajatan nasional yaitu pemilu legislative yang akan diadakan serentak pada
tanggal 9 april.
Sepanjang jalan, gang-gang perumahan, kampung-kampung,
dihiasi dengan photo-photo caleg atau spanduk bernuansa pemilu. Moment hari
raya keagamaan biasanya digunakan sebagai kesempatan mengucapkan hari raya dan
tentunya pengenalan kepada khalayak ramai. Besar kecilnya baliho atau spanduk
ucapan tentu berkaitan dengan anggaran yang dimiliki masing-masing caleg.
Masing-masing caleg tentu memiliki strategi tersendiri untuk
menarik simpati masyarakat. Dari iming-iming bantuan sarana lingkungan,
pengobatan bahkan ada yang memberikan bantuan nyata seperti pembuatan jalan,
pengaspalan jalan kampong, dan sebagainya. Tentu diharapkan saat pencoblosan nanti
masyarakat akan memilih dia. Secara umum para caleg berharap banyak dari simpati
komunitasnya terlebih dulu, kemudian berusaha mencari dukungan ke komunitas
lain.
Bagaimanakah halnya dengan umat hindu atau masyarakat Bali
di batam? Umat hindu harus buka mata buka hati bahwa urusan politik bukanlah
hal yang kotor atau tabu untuk dibicarakan. Siapakah yang akan memperjuangkan
hak-hak umat hindu jika tidak memiliki wakil di dewan. Siapakah yang akan
mengusulkan kepentingan-kepentingan umat hindu di daerah yang akan dimasukkan
dalam peraturan daerah misalnya.
Umat hindu di rantau sepatutnya bersyukur karena ada umat
yang maju menjadi caleg. Tentu harus didukung, bukan malah dicemooh. Dukungan harus
dengan usaha nyata, bukan sekedar omongan manis dibibir. Tentu berbeda dengan
urusan ‘ngayah’ di pura misalnya. Ngayah dipura boleh dibilang suka-suka hati,
mau datang silakan, ndak datang juga tidak ada yang komplin, apalagi didenda. Kata
ngayah justru sering dijadikan tameng untuk mencari alasan pembenaran.
Meski sudah dibentuk team sukses internal, bahkan saat
pembentukannya bagaikan mengadakan suatu
ikrar bersama kebulatan tekad untuk mendukung sang caleg namun nyatanya masih
terkesan mandul. Apakah apa-apa yang diutarakan hanya isapan jempol belaka. Sampai
saat saya menulis ini sama sekali tidak ada usaha team sukses yang mencerminkan
usaha kesuksesan caleg yang juga berarti kesuksesan bersama. Penulis cuman bisa
berangan-angan barangkali Team sukses ini sedang menyusun strategi untuk
melakukan suatu gebrakan jitu.