Senin, 27 Januari 2020

“METATAH/ MEPANDES” UPACARA POTONG GIGI

Ekpektasi dan Realitas.

Saya tiba dikampung halaman ketika hari sudah senja. Sempat mampir dulu beli makan. Di sembung, yang saya kira itu di Banjar Bantas. Ternyata saya salah. Jembatan sembung saya kira itu jembatan Pucuk.

H-2 ternyata sudah banyak tamu yang datang. Padahal undangannya hari Senin 27 Januari. Sepintas aneh. Ya itulah di kampong halaman. Orang kondangan bukan semata mata mencari makanan. Kehadirannya jauh lebih penting. Tapi mau tidak mau harus dijamu alakadarnya. Kerabatpun sudah mulai berdatangan membantu.
Bagai air mengalir. Sang tuan rumah tidak banyak memberi komando. Semua diserahkan ke warga adat. Tuan rumah hanya menyediakan bahan utama. Selebihnya sumbangan para warga dan kerabat. Begitulah adat didesa saya.

H-1 para undangan semakin ramai berdatangan. Secara resmi menggunakan tenaga banjar. Saya menyapa warga yang kebetulan saya jumpai. Mungkin kebetulan hari minggu. Hari libur kantor atau sekolah.
Satu hal yang sempat saya perhatikan, yang katanya sulit diubah, kebiasaan dari duluuu. Sebagian besar tamu yang datang terutama para orang tua, harus membawa ‘sok’ yaitu wadah semacam nampan atau keben yang berisi beras, bungkusan kado yang biasanya isinya gelas dan lainnya.
Kemudian tamu menyerahkan bawaannya kepada petugas jaga untuk ditempelin nomor pada wadah bawaannya dan satu lagi nomor ditempel di tangan tamu. Ini untuk menghindari tertukar wadah bawaan.


Petugas penerima barang tamu mengambil isi yang dibawa tamu dan ditukar dengan bingkisan yang sudah disiapkan. Beda dengan jaman saya kecil dulu, isi sok yang disiapkan tuan rumah berisi daging mentah satu potong, ada sate lilit, kue-kue dan lain lain. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka dibuat yang praktis dibungkus plastic satu paket berupa makanan ringan yang kering kering. Bisa ditambah minyak goreng.


Pada hari H, saya lebih focus ke acara. Biarlah tamu dihandle oleh panitia.
Semua sarana upakara, perlengkapan, serati banten, jero mangku, sangging(petugas potong gigi) dan pemuput upacara yaitu Ida Pedanda Ratu sudah dalam satu paket yang dipesan jauh-jauh hari sebelum acara. Ini juga bisa dibilang satu kemajuan, dibuat lebih praktis. Dibandingkan jaman saya kecil dulu jika ada yang punya acara keagamaan, yang punya hajat harus mempersiapkan sarana upakara selama berhari-hari. Sehingga saat hari H sarana upakara sudah pada layu bahkan busuk.
Jam 3 menjelang pagi, anak saya dan tiga ponakan sudah harus dirias. Saya sendiri memang susah tidur. sendi sendi tulang terasa ngilu. Itulah kondisi buruk tubuh saya, sulit tidur ditempat selain yang biasanya. Bahkan di hotel sekalipun.

Diawali dengan matur piuning ke pelinggih pemujaan keluarga yang dipimpin oleh Jero Mangku Adat desa. Ada selentingan bahwa ini hanya untuk menghormati niat baik Jero Mangku Desa. Agar tidak tersinggung, dimana sebenarnya semua nantinya tercover dalam satu paket, anggap saja ‘subcont’. Tidak apa, yang penting niatnya baik.

Giliran ‘subcont’ upakara datang dengan semua eteh-etehnya. Juga diawali dengan matuur piuning. Seperti halnya yang dilakukan tadi oleh Jro Mangku Adat Desa.
Lha dalah satu ponakan malah masuk angin, muntah-muntah. Saya ndak puya pikiran yang curiga macam-macam. Paling juga karena masuk angin, dirias dari pagi. Begitu pikir saya. Cuman menurut versinya adik saya, karena ada sesuatu. Sesuatu itu agak susah dijelaskan. Tiba-tiba saja juga ponakan saya itu sembuh kembali.

Satu persatu anak dan ponakan saya berjalan melewati kain kampuh dari tempat pingit menuju tempat potong gigi.

Pertama adalah ponakan saya paling tua. Perempuan. Terlebih dahulu berdoa dengan posisi bersimpuh menghadap sangging. Kemudian tidur terlentang. Disaksikan oleh semua anggota keluarga dan kerabat. Urutan prosesinya, gigi atas dikikir secara simbolis, sebanyak 6 gigi. Yaitu dua gigi seri, dua taring kiri kanan, dua geraham depan kiri kanan. Kemudian kumur kumur dan dibuang ke dalam ‘bungkak’ nyuh gading. Secara simbolis gigi dilihat melalui cermin kecil. Kemudian sekali lagi dirapikan dengan kikir yang menyerupai batu asahan. Kemudian kumur lagi dan dibuang lagi ke dalam bungkak nyuh gading. Terakhir menggigit gulungan daun sirih seperti halnya yang dipakai embah-embah. Daun sirih digigit sampai putus. Dan dibuang ke dalama bungkak. Terakhir menghaturkan terima kasih kepada Hyang Widhi Wasa dan ngayab pebiukaonan.
Demikian untuk peserta potong gigi yang lainnya.



Selanjutnya masih ada tahapan prosesi upacara yang harus dilewati.
Tiba giliran acara sungkeman. Pada sevana, mencuci kedua kaki orang tua. Mohon maaf kepada orang tua atas segala kesalahan yang telah diperbuat. Suasana haru menyelimuti acara ini. Meski persiapannya kurang mateng dimana sebenarnya bisa dibuat lebih khidmat. Persiapan peralatan sangat minim. Tempat nyuci kedua kaki orang tua sebaiknya dipakai baskom yang telah diisi air kemudian dibilas dengan air bersih kemasan. Sebaiknya disediakan lap/ handuk kecil. Air bekas cucian kaki orang tua minimal dibasuhkan kemuka sang anak.

Ya begitulah. Kata orang, jika anda mensetting target terlalu tinggi maka kemungkinan ketidakpuasan akan semakin besar.

Senin, 13 Januari 2020

TOILET MASA DEPAN

Ada warga yang posting perihal pengalamannya menjumpai pejaga sri lalita (mungkin orang sucinya), tempat sembahyang warga India yang bersebelahan dengan Pura Agung di Batam, buang air besar sembarangan di semak semak kawasan Pura Agung. Seketika berbagai komentar muncul. Ada yang prihatin. Ada yang cuek. Ada yang sengaja diem. Bukan berarti cuek.
Perdebatan juga sampai dibahas di pertemuan banjar. Kebetulan hadir ketua pengurus/ pengempon pura. Pertama diberi kesempatan pengurus lembaga menyampaikan historis pembangunan toilet di lingkungan pura Agung. Yang tidak mengarah ke penyelesaian masalah. Setiap hendak membangun toilet, sepintas adalah pekerjaan yang sangat sulit terwujud. Harus penuh ke hati hatian. Harus dipertimbangkan secara matang. Kalau dilihat kembali, toilet yang ada sekarangpun, baru terwujud di akhir tahun 2009. Itupun karena akan ada acara Ngenteg Linggih waktu itu.
Bukankah membangun sebuah toilet sangat sederhana. Toh bukan uang yang jadi masalah. Tapi kok ribet. Bukankah urusan satu itu ‘kebelakang’ adalah urusan yang tidak bisa ditawar tawar. Kenapa penjelasannya panjang lebar. Bahkan sampai menyinggung masa depan Hindu. Wah rumit jadinya. Ataukah saya berpikiran terlalu simple. Lha coba bayangkan, bagaimana rasanya disaat kita lagi kebelet baik itu ingin buang air besar atau buang air kecil. Tidak ada toilet. Pergi kemana kita. Apakah bisa terus terusan numpang  ke tetangga?. Tentu saja tidak.
Setiap ada masalah penyelesaiannya kita harus duduk bersama. Tapi duduk bersama jarang bisa terlaksana. Kalau begitu bagaimana masalah bisa terselesaikan.
Seperti yang disampaikan ketua BOP, pihak Sri Lalita pernah diberi lokasi untuk membangun toilet beserta gambarnya. Dipersilakan membangun sendiri. Tapi tidak terwujud. Berbagai alasan. Kurang besar katanya.
Atau isu lain mengatakan bahwa mereka maunya dibangunkan toilet. Karena mereka merasa pernah bayar UWTO. Padahal hanya kontribusi bayar UWTO dengan pertimbangan mereka ikut numpang disana. Semacem berkontribusi.
Dengan alasan inilah mereka merasa memiliki hak yang sama dengan pihak Pura Agung. Mereka ingin menuntut haknya.
Namun dengan alasan ini pula pihak Pura Agung tidak mau membangunkan toilet untuk mereka. Kalau kita yang membangun, berarti kita mengakui mereka punya hak yang sama dengan kita. Dikemudian hari mereka akan minta dibangunkan macem macem lagi. Demikian kekhawatiran pihak kita.
Karena kedua belah pihak bersikeras dengan pendiriannya masing-masing yang tidak pernah mau bertemu, maka masalah tersebut tidak pernah terselesaikan. Maka yang disebut penentu masa depan hindu di batam, tidak pernah terwujud. Hilang dan timbul seiring berjalannya waktu. Yang terus terjadi adalah buang air di WC alami.