Perdebatan juga sampai dibahas di pertemuan banjar. Kebetulan hadir ketua pengurus/ pengempon pura. Pertama diberi kesempatan pengurus lembaga menyampaikan historis pembangunan toilet di lingkungan pura Agung. Yang tidak mengarah ke penyelesaian masalah. Setiap hendak membangun toilet, sepintas adalah pekerjaan yang sangat sulit terwujud. Harus penuh ke hati hatian. Harus dipertimbangkan secara matang. Kalau dilihat kembali, toilet yang ada sekarangpun, baru terwujud di akhir tahun 2009. Itupun karena akan ada acara Ngenteg Linggih waktu itu.
Bukankah membangun sebuah toilet sangat sederhana. Toh bukan uang yang jadi masalah. Tapi kok ribet. Bukankah urusan satu itu ‘kebelakang’ adalah urusan yang tidak bisa ditawar tawar. Kenapa penjelasannya panjang lebar. Bahkan sampai menyinggung masa depan Hindu. Wah rumit jadinya. Ataukah saya berpikiran terlalu simple. Lha coba bayangkan, bagaimana rasanya disaat kita lagi kebelet baik itu ingin buang air besar atau buang air kecil. Tidak ada toilet. Pergi kemana kita. Apakah bisa terus terusan numpang ke tetangga?. Tentu saja tidak.
Setiap ada masalah penyelesaiannya kita harus duduk bersama. Tapi duduk bersama jarang bisa terlaksana. Kalau begitu bagaimana masalah bisa terselesaikan.
Seperti yang disampaikan ketua BOP, pihak Sri Lalita pernah diberi lokasi untuk membangun toilet beserta gambarnya. Dipersilakan membangun sendiri. Tapi tidak terwujud. Berbagai alasan. Kurang besar katanya.
Atau isu lain mengatakan bahwa mereka maunya dibangunkan toilet. Karena mereka merasa pernah bayar UWTO. Padahal hanya kontribusi bayar UWTO dengan pertimbangan mereka ikut numpang disana. Semacem berkontribusi.
Dengan alasan inilah mereka merasa memiliki hak yang sama dengan pihak Pura Agung. Mereka ingin menuntut haknya.
Namun dengan alasan ini pula pihak Pura Agung tidak mau membangunkan toilet untuk mereka. Kalau kita yang membangun, berarti kita mengakui mereka punya hak yang sama dengan kita. Dikemudian hari mereka akan minta dibangunkan macem macem lagi. Demikian kekhawatiran pihak kita.
Karena kedua belah pihak bersikeras dengan pendiriannya masing-masing yang tidak pernah mau bertemu, maka masalah tersebut tidak pernah terselesaikan. Maka yang disebut penentu masa depan hindu di batam, tidak pernah terwujud. Hilang dan timbul seiring berjalannya waktu. Yang terus terjadi adalah buang air di WC alami.