Minggu, 15 Januari 2012

FENOMENA HANDPHONE

Buku Manual yang saya photo di bulan mei 2020
Saya masih ingat yaitu pada 28 Januari tahun 1997 saya termasuk orang beruntung bisa membeli sebuah handphone pertama kali dengan merk Ericsson. Kebiasaan saya sejak dulu jika beli suatu barang yang menurut saya nilainya tinggi saya selalu menulis tanggal beli di buku manualnya. Manualnyapun saya simpan. Tak lebih hanya untuk kenangan dikemudian hari saja.

Saat itu handphone memang termasuk barang langka/ mewah. Masih sangat jarang orang yang memiliki handphone kala itu kecuali untuk keperluan bisnis atau sekedar untuk gengsi-gengsian seperti halnya saya saat itu. Membawa handphone kemana-mana saat itu adalah bagian dari prestise meski sangat jarang dipakai untuk komunikasi atau menerima panggilan. Sebagian orang juga tidak mau dihubungi dari HP ke fix telpon (telpon rumahnya) karena takut dikenakan beban biaya lebih. Harga handphone di toko yang baru saat itu masih tergolong mahal sekitar 1,5 juta rupiah (sebelum krisis moneter melanda, setara dengan Tab saat ini). Untuk mendapatkan sebuah kartu handphone juga tidak begitu mudah. Kita harus deposit ke provider seluler saat itu untuk mendapatkan nomor kartu. Pembayaran pulsa yang kita pakai juga harus dibayar diloket provider seluler, harus rela antri berjam-jam mengorbankan waktu jam istirahat ataukah harus minta ijin keluar kerja kecuali bisa pergi pada hari sabtu.

Dibandingkan dengan handphone saat ini, handphone jaman itu bentuknya sangat unik disamping besar juga tentu berat. Handphone saat itu susah dimasukkan kedalam saku, harus digantung dipinggang atau ditaruh di dalam tas. Bateray hp jaman itu tidak seawet bateray hp saat ini. Harus di charge setiap hari.

Fasilitas SMS sebenarnya juga sudah ada saat itu, namun karena pemakai hp masih jarang, komunikasi sms lewat hp jarang dilakukan. Dengan berjalannya waktu, bentuk hp semakin kecil dan tidak memerlukan antenna luar. Pada umumnya orang meletakkan hpnya di saku baju depan. Sering kejadian karena orang lupa, hpnya jatuh ke bak kamar mandi saat membungkuk ambil air di kamar mandi. Orang menyiasatinya dengan memakai tali digantungkan di leher. Sering terdengar orang kecurian hp karena harganya masih tergolong mahal.

Kini hp bagaikan kacang goreng. Sangat aneh rasanya jika seseorang tidak memiliki hp. Dari tak lebih hanya sebagai mainan oleh anak-anak sampai dengan alat komunikasi bisnis. Suatu keharusan seseorang memiliki hp. Ada tiga hal yang selalu harus saya ingat jika akan pergi dari rumah, yaitu dompet, kunci rumah dan hp. Hp bahkan seperti teman setia kemana kita pergi. Apalagi punya hape yang private. Kemanapun kita pergi, klo kita perhatikan orang-orang disekitar kita, semuanya pegang hp, minimal satu hp. Orang pada asyik dengan hp masing-masing. Sekarang orang tidak berkomunikasi lagi dengan teman-teman disebelahnya, orang kini berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh di sana. Apalagi sekarang ada fasilitas BBM. Inilah phenomena hp di Negara berkembang karena kemajuan tehnologi.