Rasanya tangan ini gatal untuk menulis. Terlalu banyak hal yang bisa dituangkan dalam tulisan. Menulis apa saja. Meski saya bukan orang yang berlatar belakang jurnalistik. Tapi dasar dasar ilmu jurnalistik saya tau. Secara otodidak. Meski pernah mengikuti pelatihan jurnalistik beberapa kali. Saya suka membaca. Dari banyak membaca saya tau gaya tulisan seseorang.
Dipenghujung usia kerja saya, meski saya masih merasa terlalu muda untuk pension, umur saya kini 54 tahun. yang orang masih mengira saya baru berumur sekitar 35 tahunan. Haaaa. Ada factor yang membuat saya seperti muda. Lebih jelasnya, ada factor yang membuat saya tidak seperti orang tua. Lalu apa bedanya?
Kini,
Ketika sebuah perusahaan dipimpin oleh orang yang tidak kredibel, atau tidak punya capability dalam memanajement perusahaan, maka perusahaan tersebut tidak punya arah tujuan yang jelas. Terombang ambing bagaikan perahu dengan nakhoda yang tidak tau arah mata angin. Hanya mengandalkan bawahan yang belum tentu jujur menunjukkan arah tujuan. Percaya atau tidak suatu saat jika sang kapten tidak memperbaiki sikap, maka cepat atau lambat kapal akan karam. Jika kapten berganti, maka saya yang akan teriak paling lantang.
Ada banyak awak kapal. Hanya segelintir yang dipercaya nakhoda. Dan kelewat percaya. Karangpun jika awak kapal mengatakan itu hanya onggokan sampah dan bisa di terjang, maka sang kaptenpun menerjang itu karang. Ombak bergulung di depan menghadang. Ketika awak mengatakan itu hanya riak gelombang kecil, maka sang kapten percaya saja. Akibatnya apa, penumpang pada kalang kabut ndak karoan. Bentur sana bentur sini.
Para awak kapal berpesta pora. Cari tangkapan ikan sendiri sendiri sebanyak banyaknya. Yang penting kenyang sendiri, bila perlu sampai muntah-muntah. Mau fasilitas apa lagi. Kerja seenaknya sendiri. Ada yang masuk dua hari sekali alasan sakit. Ada yang ijin sesuka hatinya. Mau sakit kek, mau permisi berapa haripun ndak masalah, toh bayaran tidak berkurang. Satunya bilang, kalau dia bisa kenapa saya ndak bisa. Ini tidak termonitor oleh nakhoda. Sepintas kapal masih jalan terus. Lah ujung ujungnya pada klaim punya sisa cuti berpuluh puluh hari. Jika perlu diuangkan katanya. Apa kurang enak? Bonus enam bulan sekali. Sekali bonus, minimal bisa untuk beli sepeda motor. Kurang enak apa lagi.
HP dan pulsanya adalah fasilitas kapal. Boleh pakai sesuka hati. Tidak ada yang ngontrol. Tidak seperti jaman sebelumnya. Terkontrol sampai ke detail detailnya.
Saya pernah juga dapat bonus, meski tidak rutin. Dimasa nakhoda sebelumnya. Dan jumlahnya hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan bonus para awak kapal. Saya merasa dihargai, dengan bayaran bulanan saya paling kecil dan posisi yang mentok. Diawal pemberian bonus dulu, ini karena saya yang mengusulkan. Meski orang tidak melihat ini sebagai hal yang penting baginya.
Ketika ada buruh yang melaporkan awak kapal ke pemilik kapal, bagaimana kelakuan awak kapal selama ini. Minta jatah hasil tangkapan nelayan lain. Sepintas ada kerjasama. Si buruh malah di cap membocorkan rahasia perusahaan. Malah dikasi surat peringatan. Kesannya dipaksa menerima surat peringatan. Lha rahasia perusahaan yang mana. Tentu si buruh tidak terima dituduh membocorkan rahasia perusahaan. Kalau rahasia pribadi mungkin iya. Tanggung jawab si buruh hampir ditiadakan. Hanya bagian bersih bersih. Malah fasilitas kerjanya seolah olah mau disita. Diambil paksa bahkan dengan didampingi security perusahaan. Diperlakukan kayak pencuri saja. Tentu si buruh mempertahankannya. Karena merasa tidak bersalah.
GA Personnel,
harusnya kedua tugas itu dijalankan. Jangan cuman semangat ngejar proyek GA. Apalagi hanya karena ada invoicenya. Tapi yang tak kalah penting juga adalah tugas Personnel. Bagaimana menciptakan iklim kerja karyawan itu enak. Hubungan kerja antar karyawan dalam perusahaan harus diciptakan senyaman mungkin. Bukan mentang mentang punya lawyer, semuanya diandalkan ke lawyer. Lha wong dia digaji. Kok kesannya berusaha menjerat karyawan agar bersinggungan dengan hokum. Apakah bangga kalau berhasil mengadili karyawannya sendiri?
Mata sipit.
Denger-denger prestasi kerja di perusahaan sebelumnya kurang sedap. Makanya dikeluarkan. Masuk ke sini berlagak paling pintar dan paling benar sendiri. Merasa dirinya sempurna. Pekerjaan orang lain tidak ada yang benar. Padahal pekerjaan dia adalah pekerjaan anak buahnya. Hanya pintar melapor ke atasannya. Dikit dikit kata bos. Dikit dikit lapor bos. Ini sangat berbahaya terhadap suasana kerja. Cukup bangga karena membongkar kasus penyelewengan uang perusahaan lewat gaji karyawan, yang orangnya sedang dalam proses persidangan. Semua ini ada udang di balik batu. Semua permainan uang. Si terdakwa dalam posisi lemah. Lemah dalam artian tanpa pembela bayaran. Hanya pendampingan hokum yang gratis pula.
Bipartit.
Mahluk apa satu ini. Apa tugasnya. Apa fungsinya. Saya tidak tau persis. Ketuanya petantang petenteng cari muka, menyelamatkan diri. Jika pada posisi aman, teriak paling kencang. Jika pada posisi sulit, mengkerut mundur perlahan sembunyi bagai kura kura diketok hidungnya.
Buruh permanen.
Tak sedikit buruh merasa kecewa dengan sikap penguasa. Entah siapa penguasanya, tau sendirilah. Pura-pura memperjuangkan anak buah agar bisa dijadikan buruh permanen. Padahal usahanya nol. Lain dimulut lain kelakuannya. Buruh kerja bertahun tahun, over kontrak sana sini agar tidak permanen. Ternyata kental nuansa KKNnya. Keluarga sendiri bisa langsung dipermanenkan. Jika orang lain kenapa susah. Intinya mengapa menyusahkan bangsa sendiri. Ini perusahaan asing.
Bersambung……
