Senin, 25 Desember 2023

WANA DARPA MMHD

 


Tidak ada undangan maupun tradisi untuk menghadiri acara Natal dari teman teman umat kristen. Tanggal 25 Desember adalah hari Natal. Tanggal merah. Kebetulan ada undangan dari anak anak muda mudi kota batam. Di undangannya tertulis acara pengukuhan pengurus muda mudi hindu dharma batam periode 2024. Undangannya ditandatangani oleh ketua mmhd periode 2023 yaitu Ni Putu Ellena.

Saya bergegas menuju lokasi acara yaitu di gedung sekretariat bersama PHDI karena waktu menunjukkan pukul 10.30. undangannya jam 10.00. saya tiba ternyata ruangan masih lengang. Pikir saya sebagian besar belum datang. Ternyata ya peserta dan undangan tidak lebih dari 25 orang. Pada kemana ini anggota mmhd.

Ruangan memang kelihatan dirias dengan usaha yang tinggi. Dekorasinya mencerminkan dekor anak muda. Apalagi tema acaranya adalah WANA DHARPA yang konon mengambil falsafah hutan, yang penuh dengan aneka tumbuh tumbuhan berbagai jenis dengan kehidupan aneka hewan liarnya. Hutan menyimpan kekayaan yang harus digali potensinya. 

Ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya, mungkin lagi menghemat petugas dirigen. Tanpa dirigen. Rasanya sedikit canggung.

Kemudian saat ketua mmhd yang lama yaitu Ni Luh Putu Ellena memberikan kata sambutan yang tidak sampai 5 menit, tanpa teks, tidak ada menyinggung apa saja kegiatan mmhd selama setahun. Apa saja program yang telah dijalankan dan apa saja yang belum dilaksanakan. Sama sekali tidak menyinggung kegiatan. Padahal seharusnya inti pokok yang harus disampaikan adalah kegiatan.

Sambutan ketua PHDI Kepri sebagai inisiator berdirinya mmhdbatam disampaikan oleh sekretarisnya yaitu I Made Kasa Astawa karena ketuanya sedang berhalangan hadir. Parisada mengapresiasi acara pengukuhan pengurus bari tersebut. Paling tidak usaha untuk mengadakan acara pengukuhan tersebut patut diacungi jempol. Semangat yang luar biasa.

Acaranya memang terasa sedikit garing. Pengukuhan dilakukan oleh Sekretaris PHDI Kepri dan secara ritual dipandu oleh Jro Mangku Putu Satriayasa.

Sebelum acara ditutup, ditampilkan video yang berkaitan dengan jasa jasa ibu kepada anak anaknya. Menampilkan photo slide keluarga hindu yang ada di batam beserta nak anaknya yang sudah lulus sekolah.

Sebagai umat senior atau tokoh Hindu di Batam, I Putu Suardika diakhir acara memberikan pesan kepada pengurus baru agar mulai aktif menunjukkan eksistensinya. Bisa dengan berperan aktif saat persembahyangan. Misalnya jadi pembawa acara, pembagian dupa, bunga dan sebagainya. Disamping juga kegiatan utama organisasi yang melibatkan semua anggota. Misalnya pelatihan. Bisa kesenian, IT dan sebagainya. Dengan demikian para orang tua akan melihat bagian mananya yang harus disupport. Jangan hanya membuat acara satu yaitu acara pengukuhan.


Minggu, 17 Desember 2023

BANYU PINARUH AKHIR 23

 




Kembali dilaksanakan di pantai Tanjung Pinggir Sekupang. Sekitar 120 umat Hindu yang hadir bersembahyang bersama memuja Betara Baruna. Ini masih rangkaian hari suci Saraswati.

Beberapa hari sebelumnya telah diumumkan oleh Direktur Pasraman bahwa jika datang sebelum jam 6 pagi maka tiket masuk gratis alias dibayarkan oleh Pasraman. Jika datang di atas jam 6 maka umat harus bayar sendiri tiket masuknya.

Ada sebanyak 91 orang yang dibayarin oleh Pasraman. Sisanya adalah bayar sendiri.

Cuaca cukup bersahabat. Tidak hujan seperti hari hari sebelumnya.

Setelah sembahyang bersama yang dipimpin oleh Jero Mangku Putu Satria Yasa dan didampingi oleh Jero Mangku Agung Arif, umat khususnya anak anak Pasraman diminta berbaris di pantai. Dimulai dengan membasahi kaki, tangan, badan, kemudian ke muka.

Kemudian semua umat punya kesibukan berkelompok. Ada yang main volly. Ada yang sibuk berphoto ria dengan berbagai gaya. Ada yang langsung nyebur ke laut. Ada yang dari awal sampai akhir sibuk tiktokan. Yang tidak begitu banyak yang memperhatikan. Mungin pada bosan lihatnya.

Anak anak usia remaja pada menyewa perahu dayung. Satu perahu untuk dua orang yang mengayuh berbarengan. Perlu keahlian khusus untuk menggerakkan perahu ke depan atau membelokkannya. Padahal ada teorinya. Tidak perlu langsung dikayuh dengan sekuat tenaga.

Umatpun satu persatu meninggalkan lokasi, karena hari sudah beranjak siang. Dan semakin panas.

Tak lupa sehabis main di laut membilas diri dengan air tawar yang kotor. Satu ember 10 ribu.


Sabtu, 16 Desember 2023

HARI JADI 194

Ibu ibu whdi

 

IKB bersama Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman dan Pertamanan

Latar belakang Gedung Pemko

Penyerahan Gebogan ke Walikota


Ibu ibu Jegeg

Bersama mahasiswi Poltek Bali di Batam

Puncak acara peringatan hari jadi Pemko Batam dilaksanakan dengan Pawai Budaya yang diikuti oleh seluruh peguyuban yang ada di Batam. Sabtu 16 Desember 2023. Seperti biasa setiap ada pawai budaya ruas jalan yang dijadikan rute pawai selalu krodit. Saking banyaknya peserta.

Kebetulan bertepatan dengan hari suci Saraswati. Maka persembahyangan Saraswati di ajukan pada pagi hari dengan harapan umat Hindu khususnya dapat mengikuti pawai budaya tersebut di siang sampai sore hari.

Sebagian ibu ibu yang akan mengisi pawai dengan suatu atraksi tari bali harus berhias di gedung sekretariat mulai pukul 11 pagi. 

Istri kebetulan dapat pesanan nasi bungkus untuk acara pawai tersebut. Saya dan istri bisa sama sama ke pura pada jam 11. 

Saya mempersiapkan perlatan gamelan untuk setting baleganjur untuk diangkut duluan ke lokasi start.

Pada pukul 13.30 ada info dari lokasi kalau harus segera berangkat.

Beberapa ruas jalan sudah mulai ditutup karena akan dilewati route pawai. Cuaca terasa sangat panas. Saya cari tempat parkir. Kebetulan ada ruas jalan ke arah kampung tua Belian  masih kosong. Lampu merah simpang BI masih terus ke kiri kalau dari arah Mega Mall. Meski harus berjalan kembali ke kawasan depan DPRD Batam karena start pawainya dari sana.

Suasana hiruk pikuk. Suara musik tradisional dari masing masing paguyuban yang membawa alat musiknya saling beradu keras. Sayapun langsung tancap gas, nabuh gamelan sekuat tenaga.

Kemudian berurutan sesuai urutan paguyuban yang disusun oleh panitia menuju garis start dengan atraksi masing masing. Rute pawai tidak jauh jauh amat. Mungkin sepelemparan batu orang dewasa. Dari panggung depan kkantor Pemko menuju simpang lampu merah masjid agung kemudian belok kanan dan masuk ke pintu utama lapangan engku putri terus masuk menuju panggung acara utama yang membelakangi kantor Pemko. Selepas itu bubar. Istirahat sebentar sambil menikmati snack dari panitia dan akhirnya bubar.


Senin, 27 November 2023

PERTEMUAN NIKMAT





 Pertemuan Banjar Batu Aji Timur untuk bulan Nopember 2023 dilatksanakan pada Minggu 26 Nopember 2023 bertempat di rumah Pak Ketut Sukarata, di perumahan Griya Prima Blok G no 9. Hanya berseberangan dengan perumahan tempat tinggal saya.

Seperti biasanya pertemuan dibuka oleh Ketua Banjar, kemudian melantunkan Tri Sandhya bersama dan pembacaan sepuluh mantram weda. Doa nya dibaca bersama sama dan artinya dibaca secara bergilir secara berurutan melingkar.

Kemudian kelian banjar kembali menyampaikan informasi progress pembangunan dan beberapa kegiatan umat Hindu. Sebenarnya dalam kesempatan tersebut diharapkan umat yang hadir menyampaikan informasi, apa saja. Termasuk ketua PHDI kota Batam juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan satu dua informasi. Namun sepertinya peserta pertemuan lebih memilih ngobrol ringan tanpa dipandu.

Saya pun diberi kesempatan, namun saya juga memilih sibuk ngobrol. Saya ingin menikmati pertemuan kali ini tanpa ada diskusi yang tak jelas juntrungannya, apalagi perdebatan. Seperti selama ini. Saya hanya ingin ngobrol dan makan.

Tuan rumah menyediakan makan malam berupa soto bandung. Soto ayam. Kebetulan perut saya juga trasa lapar. Sengaja sebelum berangkat tidak makan malam dulu. Sotonya terasa nikmat bagi saya. Entah memang enak ataukah karena faktor lapar. Saya mau tambah, tapi kok tak enak sama yang lain, tak ada yang nambah.

Pertemuan diakhiri sebelum jam 10 malam. Tumben cepat. Nikmatnya soto ayam bandung.


Senin, 30 Oktober 2023

KESEPAKATAN RAMAI

 



Purnama kelima adalah tegak piodalan Pura Agung Amerta Bhuana Batam. Konon tidak boleh melaksanakan piodalan karena pengerjaan renovasi Padmasana sedang berlangsung. Disepakatilah dalam rapat para stake holder hanya dengan melaksanakan upacara “mapekeling”. Mungkin dalam bahasa Indonesianya “mengingatkan”. Sekaligus ditentukan apa saja sarana upakara yang harus disediakan. Seperti biasa, tugas dibagi bagi tiap banjar.

Minggu 29 Oktober 2023. Ada yang bilang acara persembahyangannya seperti biasa, seperti saat Purnama atau Tilem. Katanya. Bukan rentetan persembahyangan piodalan. Begitulah kalau tidak mau tau masalah bebantenan.

Berangkat dari rumah agak cepat, karena saya tahu bahwa meskipun sudah dijanjikan peralatan gamelan ada yang ngangkut ke atas ke mandala utama, pasti belum dilaksanakan. Saya juga memberi pengumuman agar anggota datang lebih awal. Saya tak pernah ambil pusing masalah itu. Saya tidak boleh terlalu berharap banyak. Biar tidak stress.

Jam 6 petang mulailah saya dengan anggota yang rata rata anak anak untuk megambel sembari mengiringi ibu ibu petugas banten meletakkan banten di lokasi lokasi yang ditentukan. Keringat masih membasahi baju sembahyang saya meski saya sudah ganti baju sebelumnya. Megambel sekitar satu jam lebih. Sekali sekali pembawa acara terdengar menyampaikan sesuatu lewat pengeras suara yang tak jelas terdengar, karena suara gamelan. Tidak ada koordinasi sama sekali. 

Tibalah acara persembahyangan. Diisi dengan dharma wacana yang dibawakan oleh sesepuh umat Hindu, I Wayan Jasmin. Penyampaian dhrma wacana yang tidak menarik sama sekali. Kalau tidak salah temanya Tiga Kerangka dasar Agama Hindu. Dharma wacananya selama kurang lebih 45 menit. Tidak ada yang komplin.

Sebelum melakukan Kramaning sembah, diselingi dengan acara pengukuhan Serati Banten oleh PHDI Kota Batam. Serati banten adalah orang orang yang terpilih dan mau menyiapkan sarana upakara bebantenan saat dibutuhkan. Misalnya saat hari Piodalan atau saat Nyepi. Hal yang sama untuk laki lakinya. Yang disebut Mancagra.

Selesai nunas tirta, diselingi lagi dengan acara penandatanganan kesepakatan antara pihak Pura dengan pihak Sri Lalita. Poin poin perjanjiannya sudah di share ke umat sebelumnya. Kesepakatan antara ketua PHDI dan ketua BOP dengan ketua pengurus Sri Lalita. Kemudian diketahui oleh semua kelian banjar sebaga saksi. Ada yang tidak lazim dalam surat perjanjian. Biasanya perjanjian atau kesepakatan antara dua pihak, bukan dua pihak lawan satu. Dalam hal ini seharusnya hanya antara BOP dengan Sri Lalita. Selebihnya hanya mengetahui. Inilah ketua lembaga atau kelembagaan yang cari selamat dikemudian hari. Kan sama sama semua tanda tangan. Mungkin begitu salah satu cara membentengi dirinya.

Pada kesempatan itu Sri Lalita juga menyerahkan bantuan secara simbolis uang pembangunan Pura sejumlah 125 juta rupiah. Diterima oleh ketua BOP I Made Sudarta.

Selesai persembahyangan kembali saya dan beberapa teman teman sekeha gong harus bermandikan keringat mengembalikan peralatan gamelan ke ruangan di bawah di wantilan. Berkali kali saya dengar pengumuman agar bapak bapak membantu mengangkat gamelan. Namun sepertinya semua cuek bebek.

Ya begitulah dinamika umat hindu di batam. Ada yang semangat sekali jika ada acara ngelawar atau nguling. Ada yang duduk manis dengan hpnya, ada yang asik ngobrol meski orang lain sibuk, ada yang duduk kusuk semedi seolah olah lagi ngobrol sama Tuhan, ada yang pura pura menggendong anaknya.  Ya nikmati saja.

*Photo photo lainnya bisa dilihat di https://www.facebook.com/photo/?fbid=3452086075103658&set=pcb.3452086125103653


Jumat, 22 September 2023

SURYA GUESTHOUSE

 





Setelah sekitar 35 tahun saya tidak pernah ke kawasan sanur, setelah tamat SMAN2 Denpasar yang waktu itu saya tinggal di daerah Panjer. Hanya beberapa kilometer dari Sanur. Sewaktu sekolah di SMA hampir setiap sore saya berolah raga sepeda.  Sambil cari tahu jalan jalan yang ada diseputar Sanur. Bahkan saya pernah bersepeda sampai ke Tuban dan sempat pegang puing puing badan pesawat terbang yang mengalami kecelakaan. Kawasan Kuta juga pernah saya kelilingi naik sepeda. Dan saya bersepeda sendirian.
Penginapan ini terletak di ujung jalan sempit bak masuk sebuah gang. Kebetulan tempat tinggal mempelai pria ponakan saya di kawasan tersebut, tepatnya dibelakang SMAN 6 Denpasar. Konon kawasan tersebut adalah milik keluarga besarnya. Bangunan rumahnya keliatan masih baru dengan style Bali, halaman sempit dan pondasi bangunan sekitar 1 meter tingginya. Ada tiga bangunan utama. Saya tidak tahu bangunan apa saja namanya.
Kebetulan di bookingkan dua kamar di dua penginapan. Satu di penginapan Cemara dan satu di penginapan Surya.
Saya tidak habis pikir, dikedua penginapan tersebut tidak disediakan tempat parkir mobil. Sebenarnya ada Parkiran, tapi penjaga bilang tidak boleh parkir disana. Hanya untuk tamu, katanya. Saya hampir naik darah, saya juga tamu. Saya disarankan memarkir kendaraan di bahu jalan sempit tersebut.
TERNYATA, menurut penjaganya penginapan tersebut tidak diperuntukkan untuk tamu short stay, satu dua malam. Hanya untuk long stay, tahunan, bahkan ada yang sudah tinggal disana puluhan tahun. Wow. Kalau tidak kenal dengan yang bookingkan, pasti tidak diijinkan nginap disana. Begitu katanya.
Jarak antara penginapan Cemara dengan penginapan Surya tidak terlalu jauh. Sekitar 500 meter. Jalan kaki masih OK.
Kondisi penginapan yang saya tempati, Surya Guest House, termasuk lumayan bagus. Tempat tidur ukuran king, dapur dengan peralatan lengkap, kamar mandi ada air panasnya. Hanya sabun dan sampo tidak disediakan. Nginap dua malampun tidak masalah. Karena pagi pagi harus balik ke kampung lagi.






Senin, 18 September 2023

KERASNYA KEHIDUPAN




 Tanggal 17 september 2023 saya pulang ke Bali, kebetulan sendiri tidak bersama keluarga. Sudah tiga tahun belum pernah pulang lagi semenjak Bapak tiada yaitu bulan Maret 2020. Saat heboh wabah Covid baru mulai. Yang waktu itu dibikin serba takut atau ditakut takuti. Upacara Pitra yadnya almarhum bapak juga termasuk hanya dilaksanakan oleh keluarga besar saja dan tentu dibantu oleh masyarakat sekitar.

Kebetulan jadwal keberangkatan pesawat agak sorean. Saya masih sempat mampir ke Pura, melatih anak anak seni tabuh sambil ngantar anak sekolah minggu. Hujan deras sempat turun sebentar. Saya numpang mandi dan ganti baju di toilet pasraman.

Diantar kedua anak dan istri saya sampai loby keberangkatan hang nadim batam. Cuaca cukup cerah. Naik Citylink yang ciri khasnya dari dulu ada pantun oleh krunya. Pantunnya asik asik meski kadang ada juga pantun pemaksaan yang kedengaran dipaksakan biar pas.

Transit di Sukarno Hatta Jakarta. Di terminal tiga, untuk Garuda Grup. Sekitar tiga jam menunggu penerbangan lanjutan ke Denpasar. Ternyata saya kelelahan dari Gate 1 menuju Gate 24, padahal ada buggy car yang dikhususkan untuk penumpang. Saya kira jarak dari Gate satu ke Gate 24 jaraknya beberapa meter saja, tapi ternyata jauuuhhh sekali. Terminal ini kelihatannya baru saja direnovasi bahkan beberapa bagian ada yang sedang dikerjakan. Saya berjalanmengikuti arus orang saja. Sesekali bertanya ke petugas yang saya yakini mereka adalah petugas bandara, dari seragamnya. 

Sampai di ruang tunggu ada sedikit tanda tanya dalam hati. Kok ruang tunggunya sepi hanya ada dua atau tiga orang saja. Saya duduk sambil ngecash Hp yang sudah lowbatt. Indera pendengaran saya pasang agar sewaktu waktu ada pengumuman saya dengar. Dan akhirnya panggilan kepada penumpang yang menuju denpasar silakan menuju ke pesawat melalui pintu 24. Saya bergegas masuk antrian agar tidak susah dapat tempat tas di kabin pesawat kalau masuk pesawatnya belakangan. Itulah mengapa biasanya orang buru buru naik ke pesawat.

Saya memang susah tidur di dalam pesawat. Mungkin termasuk phobia terutama jika pesawat melintasi gumpalan kabut yang menurut saya sangat terasa getarannya. Bahkan jantung saya sering berdetak kencang jika terasa ada goncangan. Biasanya saya mengalami ngantuk berat sesaat sebelum pesawat take off. Selanjutnya kantuk langsung hilang sampai mendarat.

Penerbangan dari Jakarta ke Denpasar ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit. Saya perkirakan pesawat masih di atas kota Surabaya sudah mulai menurunkan ketinggian terbang. Saya nengok dari jendela pesawat sudah kelihatan lampu lampu kota yang gemerlap di bawah.

Beberapa saat sebelum mendarat kembali seperti biasa pilot pesawat menyampaikan terima kasih kepada para penumpang yang telah terbang bersama Citylink. Tentu dibumbui dengan pantun pantun khas citylink. Selamat datang di pulau Dewata. Selamat bekerja dan selamat beraktifitas kembali mulai esok hari dan selamat menikmati kerasnya kehidupan di Bali.


Minggu, 03 September 2023

ATURAN RANCU

 Purnama katiga tanggal 31 Agustus 2023. Saya sembahyang bersama di Pura Agung Amerta Bhuana. Seperti biasanya ketika saya sampai di Pura saya langsung menuju mandala utama, pelataran tempat sembahyang bersama. Suasanya masih lengang. Ada beberapa orang saja yang sudah duduk di karpet plastik yang dibentangkan sebagai alas duduk. Saaya duduk di barisan paling depan. Kemudian diikuti oleh umat yang datang.

Entah mengapa kok sedikit sekali yang hadir sembahyang bersama, pikir saya begitu. Sampai kemudian pembawa acara yang bertugas malam itu yaitu ketua banjar Batam Center memanggil umat lewat pengeras suara agar segera memasuki mandala utama. Ternyata ya lumayan juga jumlah umat yang hadir, mungkin kalau tidak dipanggil karena waktu sembahyang bersama segera dimulai, mungkin masih pada duduk duduk ngobrol di sekitar wantilan.

Rangkaian acara persembahyangan berjalan seperti biasa. Pembukaan, dharmawacana, ngaturang bebantenan diiringi kekidungan, sembahyang bersama, pengumuman pengumuman dan terakhir penutup.

Tiba acara pengumuman, ketua Parisadha yang beberapa waktu yang lalu baru saja dilantik beserta kepengurusannya, tepatnya saat hari suci Kuningan tanggal 12 Agustus 2023, maju memberikan pengumuman. Demi masa depan umat Hindu di Batam katanya. Katanya ada masukan dari beberapa umat agar sembahyang jangan sampai terlalu malam. Tidak semua umat memiliki kendaraan roda empat. Anak anak harus sekolah esok paginya. Yang menyebabkan waktu persembahyangan sampai malam karena dharmawacana terlalu lama. Padahal cukup 10 menit saja, katanya. Bahkan dia sempat menghitung waktu tiap tiap acara. Misalnya, pembukaan 5 menit, ngantebang banten dan kekidungan 5 menit, sembahyang bersama 10 menit, dan seterusnya. Jadi total hanya perlu waktu satu jam. Wah ini menunjukkan betapa mahalnya waktu yang dimiliki umat hindu. Sudah jarang ke tempat ibadah, sekarang bikin aturan tidak boleh berlama lama di Pura.

Yaa atur saja. Toh ini bukan barang baru. Sejak dulu juga sudah ada aturan seperti itu. Seleksi alam juga yang menentukan. Ya karena segitulah kemampuan umat kita.

Semoga saja apa yang disampaikan oleh ketua Parisadha Batam tersebut tidak bertujuan untuk mengcounter apa yang disampaikan oleh Ketua Parisadha Provinsi saat membawakan Dharmawacananya, yang terlalu lama dan mungkin ada yang merasa tersenggol. Kelihatannya memang sekelompok orang berusaha mengcounter terus omongan Ketua Parisadha Provinsi.

Dua hari kemudian terbitlah surat Parisadha Batam tentang aturan baku persembahyangan tersebut. Padahal ini ranahnya Ketua BOP yang membuat aturan. Bukankah ini aturan rancu? Kelihatan aneh karena aturan tersebut dibuat atas musyawarah mengatas namakan umat Hindu sekota Batam pada tanggal 31 Agustus 2023 di Mandala Utama. Padahal hanya hasil obrolan sekelompok orang saja. Tidak mewakili masukan banjar manapun.

Aturan tersebut effektif mulai berlaku saat persembahyangan Purnama berikutnya yaitu 29 September 2023. Mari kita dukung aturan tersebut.




Minggu, 13 Agustus 2023

PAWAI BUDAYA


Tak terhitung sudah berapa kali saya mengikuti acara Pawai Budaya yang diselenggarakan oleh Pemko Batam dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI. Rela berpanas panasan dan rela basah kuyup jika hujan. Tidak pasti kadang dilaksanakan pagi sampai siang atau siang sampai sore, tergantung panitianya.

Acara ini diikuti oleh seluruh peguyuban yang ada di Batam. Menyambut hari Kemerdekaan RI ke 78. Minggu 13 Agustus 2023. Dibuka oleh wakil Gubernur Kepri, Marlin Agustin yang didampingi oleh Walikota Batam yang juga suaminya yaitu Muhamad Rudi. Konon ada sekitar 5000 orang yang ikut pawai tersebut. Termasuk juga dari Guru, Murid , Mahasiswa, Ormas, PKK, Gow. Tak terkecuali IKB Ikatan Keluarga Bali yang hadir 100 orang yang dikoordinir oleh Dinas perumahan rakyat, pemukiman dan pertamanan kota batam.

Entah mengapa animo masyarakat Bali sangat kecil untuk ikut acara begini. Mungkin tidak tahan berpanas panasan. Padahal siswa siswi Hindu dibawah Pasraman Jnana Sila Bhakti mewajibkan hadir mengikuti pawai tersebut. Kurang lebih sepuluh orang siswa Hindu, diluar anak anak yang ikut mengiringi pawai dengan Baleganjur, berjumlah 12 orang dibawah koordinator saya.

Saya sendiri sebenarnya salah satu orang yang enggan berangkat. Tiga hari sebelum hari H saya berulang kali dihubungi oleh koordinator peguyuban. Diminta menampilkan gamelan bali baleganjur. Angkutan untuk Peralatan akan disediakan oleh pemko. Saya iyakan saja. Nanti saya koordinir dengan teman teman. Kata saya.

Ternyata dugaan saya benar. Dari quota peserta yang diharapkan hadir sebanyak 100 orang, paling kenyataannya hanya 50 orang. Ini saya hitung dari jumlah nasi kotak yang disediakan sebanyak 100 kotak, sisa ada 5 bungkus kali 10 kotak. Meskipun pada akhirnya habis juga karena beberapa orang bawa pulang beberapa kotak.

Sebelum hari H, yaitu saat persembahyangan Kuningan di Pura Agung, sangat mengherankan mengapa koordinator pawai tidak ada mengumumkan ulang perihal acara Pawai esok harinya. Malah yang diumumkan acara kegiatan yang masih jauh ada waktu. Saya waktu itu semakin ragu akan acara pawai tersebut. Jangan jangan saya kena frank lagi. Jangan jangan nanti ujung ujungnya saya juga yang diserahin. Dan ternyata benar, selesai acara satu persatu ijin pulang duluan karena ada keperluan.

Saya tahu hari itu juga ada acara tandingan oleh sekelompok warga Bali Hindu di wantilan Pura Agung. Sering sekali mereka mengadakan acara begini. Nguling, Ngelawar dan terakhir minum minuman keras yang bahkan sampai mabuk mabukan dikawasan Pura. Saya pribadi merasa prihatin melihat kondisi seperti ini. Entah orang lain.

Ya sepanjang bisa dinikmati kondisi seperti ini, ya kita nikmati saja.

Kamis, 03 Agustus 2023

MAYADENAWA NGEGALUNG

Umat Hindu khususnya yang berada di Indonesia merayakan Hari Suci Galungan setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari. Itu perhitungan kalender Bali, 6 kali 35 hari. Tepatnya pada Hari Rabu Kliwon wuku Dungulan.

Banyak referensi dan sering diulas rentetan perayaan hari suci Galungan. Mulai dari Tumpek Wariga yaitu sekitar empat minggu sebelum wuku dungulan. Momen mengingatkan kita pada tanaman yang akan dipakai sarana di hari suci Galungan. Kemudian ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, yaitu biasanya membersihkan tempat tempat suci dan momen pembersihan secara rohani. dan rentetan terakhir setelah Galungan adalah Kuningan.

Eforia perayaan Galungan sangat terasa dengan ciri khasnya saat hari Penampahan yaitu sehari sebelum Galungan. Masyarakat Hindu biasanya pesta masakan khas Bali seperti Lawar, urutan, tum dan lain sebagainya. 

Pada hari Galungan biasanya umat Hindu melakukan persembahyangan baik bersama sama maupun pribadi ke tempat tempat suci dimana mereka berada. Umat Hindu road show dari pura satu ke pura selanjutnya, tergantung rute yang lebih simple. Terakhir biasanya malam hari dilaksanakan di Pusat Pura atau Pura yang dianggap utama. Seperti halnya di Batam, yaitu Pura Agung Amerta Bhuana.

Pada pagi hari saya bersama istri mengikuti persembahyangan bersama di Pura Sathya Dharma di Muka Kuning. Informasinya persembahyangan dimulai jam 8 pagi agar tidak terlalu panas. Ternyata jam 8 pagi umat hanya beberapa yang baru hadir. Memang rangkaian persembahyangan sudah dimulai. Kemudian sekitar jam 9 baru kemudian umat lebih banyak yang hadir, sehingga pelataran Jeroan hampir penuh. Ya berarti waktu terpagi umat bisa hadir itu jam 9 pagi.

Persembahyangan di Pura Satya Dharma dipimpin oleh Jro Mangku Agung Arif Suryanata didampingi istri. Saat Jro Mangku mulai membunyikan Gentanya saya perhatikan sepasukan monyet berdatangan dari dalam hutan. Ini yang kadang merusak konsentrasi saat sembahyang. Bagaimana tidak, monyet mencari kesempatan saat kita sembahyang. Jadi terpaksa sibuk sat set sat set ngusir monyet sambil sembahyang atau sembahyang sambil ngusir monyet.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pura yang berlokasi di komplek Polda Riau di daerah Nongsa. Kurang lebih jaraknya sekitar 30Km. Nama Puranya Pura Adistana Samanasya. Cukup sulit mengingat namanya dan melafalkannya. Lebih gampang disebut Pura Polda saja. Ini  pertama kali saya kesana, sempat bertanya kepada polisi yang saya jumpai, dan dengan ramahnya polisi tersebut menunjukkan lokasi Pura. Bersebelahan dengan Gereja, tepatnya disamping atas lapangan bola. Di sana juga dilaksanakan persembahyangan pagi, saat saya dan rombongan tiba, persembahyangan bersama sudah usai. Akhirnya sembahyang sendiri sendiri. Kamipun pamitan setelah bersalam salaman dengan “tuan rumah” dan beberapa umat yang masih menunggu di aula Pura, bersebelahan dengan bangunan Pura.

Pada malam harinya persembahyangan bersama dipusatkan di Pura Agung. Disini dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa. Umat memang cukup banyak yang hadir. Terbukti diakhir persembahyangan MC menyampaikan dana Punia yang terkumpul sekitar 4 jutaan. Rangkaian acara persembahyangan seperti biasanya. Hal yang cukup beda dan ada kemajuan dimana pendharmawacana dibawakan oleh ketua bidang Perencanaan dan Pembangunan Pura Agung yaitu I Gusti Ngurah S. Tema yang dibawakan adalah Mitologi atau cerita Mayadenawa dan kaitannya dengan Hari Raya Galungan. Cerita klasik yang populer di Bali. Yang melahirkan adanya perayaan Galungan. Pesan terselip diakhir dharma wacanya bahwa kita sebagai orang tua harus menjaga anak cucu kita agar tidak terpengaruh oleh ajaran Mayadenawa yang saat ini berubah wujud menjadi ajaran ajaran yang menyimpang dari ajaran hindu Bali. Sudah mulai ada membuat caru yang tidak boleh memakai daging atau hewan. Begitu katanya. Inilah sebenarnya benang merah yang mau disampaikan oleh pendharmawacana. Padahal sifat sifat Mayadenawa ada di setiap orang. Tidak jauh jauh. Dalam Kakawin Ramayana disebutkan “ragadi musuh maparo, ri hati ya tongganya, tan madoh ring awak”. Apakah ini  seperti pepatah Bali, bagaikan mungutin buah gatep (sejenis jengkol) pilih pilih mana yang berisi mana yang kosong.

Suksma




 

Senin, 24 Juli 2023

KAPLING SORGA

 


Sepertinya ini adalah babak akhir dari issue relokasi bangunan tempat ibadah Warga India di kawasan Pura Agung Batam. Konon win win solution. Beberapa kali saling berbalas surat antara pihak Pura Agung dengan Sri Lalita. Sebut saja demikian.

Rapat DPU diadakan lagi tanggal 15 Juli 2023 di Gedung sekretariat. Setelah beberapa lama tidak ada perkembangan. Rapat sedianya diadakan sore hari, namun karena alasan kerja, rapat diundur pada malam hari. Padahal ya sama saja, tidak semua undangan bisa hadir. Hasil rapat belum sempat di share. Ternyata pada hari Minggu 16 Juli 2023 sejumlah pengurus BOP dan juga katanya atas nama Team Pembangunan Pura Agung memasang patok patok katanya patok lokasi yang akan dibangun Dapur Suci dan yang satunya Bangunan Serba guna. Bangunan dapur ini overlap dengan bekas bangunan Sri Lalita.

Kemudian baru dishare di grup terbatas photo photo pemasangan patok tersebut. Juga photo Master Plan. Seharusnya Master Plan dulu dishare, baru kemudian memasang patok. Umat yang lainnya biar mengetahui. Ini kesannya sembunyi sembunyi. Dengan rencana pembangunan Dapur Suci tersebut otomatis lokasi bangunan Sri Lalita akan tergeser ke arah Kak Dadut. Sepintas seperti mengkapling tanah untuk rumah rumah liar yang sangat umum di Batam. Siapa duluan mengkapling dan pasang patok maka dialah yang punya tanah tersebut. Karena ini di areal tempat ibadah, ya anggap saja ini kapling sorga. Karena urusannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Atau tak pernah terpikirkan tentang sorga.

Kalau memang alasannya seperti di Bali, seharusnya bangunan dapur suci pura letaknya di Mandala Utama. Yang sudah ada pondasinya itu. Dibelakang bale lantang. Yang saya sebut bale monumen perpecahan. Jangan jangan pembangunan dapur suci itu juga seperti pembangunan bale lantang. Hanya kedok untuk membuat kelompok kelompok mana kawan dan mana dijadikan musuh.

Kemudian rencana pembangunan Bale Serbaguna yang megah. Ada juga kios untuk cenderamata. Semangat membangun memang luar biasa. Bukankah aset bangunan yang ada sekarang sudah melebihi dari keperluan. Kalaupun punya dana apakah tidak sebaiknya dialokasikan untuk hal hal yang lebih penting. Misalnya membantu memikirkan sarana pendidikan. Membangun ruangan kelas. Agar anak anak tidak terus terusan belajar lesehan yang sangat menjemukan.

Toh,

Sudah punya gedung wantilan. Yang dulu pernah dijadikan ruangan kelas. Yang sekarang menjadi gudang. Mengapa tidak ini yang ditata ulang sehingga sesuai dengan peruntukannya.

Toh,

Sudah ada bangunan bekas restoran Kak Dadut. Yang habis kontrak sewa lokasi selama 23 tahun yang habis masa kontraknya bulan Maret 2023. Ini bisa digunakan sebagai gedung serba guna. Lebih dari cukup. Tinggal menata ulang. Bangunan yang menjelang masa kontraknya habis yang banyak menimbulkan suara suara bernada curiga. Ada yang bilang umat tidak pernah diberitau perihal masa kontraknya. Ada yang bilang kok diam diam saja padahal masa kontrak sudah mau habis.

Nah sekarang, sampai tulisan ini saya buat, tak pernah ada yang membicaran bangunan kak dadut. Jangankan membahas orang yang mau sewa. Sudah disebarkan lewat para kelian banjar. Kalau ada umat yang mau menyewa, atau kalau ada pihak luar yang mau nyewa agar menghubungi pihak BOP. Hasilnya apa. Nol besar. 

Ya begitulah kalau berbicara tanpa didasari pengetahuan yang cukup.









Sabtu, 01 Juli 2023

PERTEMUAN BANJAR BATU AJI TIMUR 1 JULI 2023



Yayasan Optimis

Kita ini dipermainkan oleh umat sendiri/ kawan sendiri dan oleh pihak SL. Demikian komentar salah satu umat yang kebetulan hadir saat pertemuan warga Hindu di daerah Batu Aji timur. Pertemuan banjar yang rutin dilaksanakan tiap bulan secara bergilir dari rumah ke rumah. Kali ini dilaksanakan di rumah Putu Kertiada. Perumahan Taman Lestari blok B4 no 6. Yang hadir hanya sembilan keluarga dari 25 keluarga yang terdaftar sebagai warga Banjar Batu Aji Timur. Paling ada satu atau dua orang yang memberi informasi ketidakhadirannya. Inilah salah satu kelemahan organisasi jika mengadakan pertemuan.

Saya spontan tertawa mendengar kalimat kawan tersebut. Istilah Balinya mekebris. Saya sejak dulu dari awal mencuatnya masalah dengan SL bisa menebak bahwa permasalahan tersebut akan buntu. Berlarut larut, komunikasi bermasalah, tidak ada kemampuan menghadapi pihak SL yang notabene cara berpikirnya mengutamakan logika. Sementara pihak kita hanya inginnya pakai otot. Coba perhatikan bagaimana umat kita menyelesaikan masalah. Sudah diajak rapat susah. Hadir sekali sekali yang dibahas bolak balik tidak fokus. Tidak konsisten. Di awal bilang A, seiring berjalannya waktu kliatanya arahnya ke B, maka dia berubah pendapat ke B. 

Ada beberapa informasi yang disampaikan oleh klian banjar. Diantaranya naiknya iuran BOP dari 40 ribu menjadi 60ribu per KK tiap bulan. Info perbaikan Bale Papelik dan melanjutkan ukiran karang gajah Padmasana. Kemudian informasi kelanjutan master plan tentang Sri Lalita. Dan yang terakhir mengenai rencana pembentukan Yayasan.

Ada beberapa tanggapan atau informasi tambahan dari umat yang hadir. Seperti Sri Lalita. Minta direlokasi dan ditunjukkan tempatnya, namun yang lain katanya ada yang bilang tidak boleh disitu karena posisinya di hulu Padmasana. Gelak tawapun keluar dari yang hadir. Mungkin lucu.

Informasi penting sebenarnya yang disampaikan oleh mantan ketua BOP, Ngurah Brunayasa yaitu ada yang mempertanyakan bagaimana kelanjutan uang BOP yang statusnya dulu dipinjamkan ke panitia renovasi Padmasana. Apakah uang tersebut dikembalikan atau dihibahkan saja toh untuk pembangunan Pura. Ini berpotensi bola liar dan panas yang ditendang sewaktu waktu. Ini lagi lagi tidak ada notulen rapat. Sekarang harusnya dibuatkan nota kesepemahaman dituangkan dalam berita acara rapat agar statusnya close. Seharusnya ditentukan kapan dan saat apa kesepemahaman tersebut dibuat. Jangan hanya jadi wacana yang sementara hilang dari peredaran.

Isu lainnya adalah tentang legalitas Pura. Harus ada Yayasan yang melindungi legalitas Pura. Konon ketua Yayasan sudah terpilih yaitu Putu Suardika. Entah kapan dipilih dan siapa saja yang milih. Tinggal sekarang membentuk susunan pengurusnya. Dalam diskusi tersebut memang kembali diungkapkan bahwa nanti Yayasanlah yang menaungi semua kegiatan keagamaan. Saya menyela pembicaraan, sebelum lebih jauh membuat rencana, yang pertama harus dibuat adalah Yayasan beserta komponen komponennya. Sampai dimana pembentukan Yayasan. Yang saya dengar ada yang bilang sangat mudah mendirikan Yayasan. Ada yang bilang masih terkendala, entah apa alasannya, masih mbulet. Yang jelas optimis. Demikian kata Putu Suardika. Sekali lagi, optimis.


Kamis, 29 Juni 2023

RELAWAN QURBAN

 


Saya diminta menjadi relawan saat hari Idul Adha oleh Panitia Qurban di lingkungan RT perumahan. Pada hari Minggu beberapa hari sebelumnya warga diundang rapat persiapan bagaimana tehnis pelaksanaan dari awal sampai pendistribusian daging qurban. Menurut ketua RT setempat katanya kali ini pelaksanaan penyembelihan dilaksanakan sendiri di satu RT. Tidak ikut di penyembelihan masjid.

Perdebatan saat rapat saya lihat cukup unik. Masing masing memberikan masukan bagaimana caranya menumbangkan sapi yang berbobot sekitar 300kg. Tentu sesuai dengan pengalaman masing masing atau seperti yang pernah dilihatnya. Ada yang memperagakan bagaimana mengikat kaki sapi dan menumbangkannya.

Pada sore hari sebelum hari H sesuai dengan hari Idul Adha yang ditetapkan pemerintah, beberapa warga diminta hadir ke lokasi acara untuk gotong royong. Masang tenda dan pembersihan lantai. Saya dapat tugas membersihkan lantai.

Ada satu ekor sapi dan dua ekor kambing yang harus dijaga agar tidak hilang karena lepas atau mungkin dicuri orang. Beberapa warga ditemani anak anak menjaga sapi tersebut sampai pagi.

Pada hari H ternyata kedua kambing sudah disembelih duluan oleh panitia yang kebetulan merayakan Idul Adha kemarinnya. Memang ada perbedaan antara Muhamadiah dan NU atau umum. Saya lihat masih ada satu kambing yang sudah disembelih dan digantung untuk dikuliti. Satunya lagi mungkin sudah disimpan. Sebanarnya bukan urusan saya, karena saya hanya diundang sebagai relawan.

Sebelum dilanjutkan, terlebih dahulu diadakan acara doa bersama. Lumayan ada ceramah agamanya yang saya tidak bisa ikuti. Saya berdoa dengan cara saya sendiri.

Kemudian acara sarapan bersama dengan menu Ketupat dan opor ayam. Bikinan ibu ibu warga RT yang sudah mulai masak malam sebelumnya. Saya memang doyan opor ayam yang kuahnya santan itu.

Hujan deras sesekali turun. Sapi digiring menuju tempat lapangan yang telah dipersiapkan. Dibuatkan lobang untuk membuang darah sapi yang digorok.

Saya sendiri hanya diam di bawah tenda. Disamping karena hujan gerimis, saya memang menghindari melihat penyembelihan hewan secara langsung. Begitupun anak saya, yang kebetulan ikut pada kegiatan tersebut.

Secara keseluruhan acaranya bisa dibilang lancar. Sampai pada pendistribusian. Meskipun kelihatannya saat pembagian mengalami sedikit ketegangan diantara relawan dengan panitia.

Acara selesai jam 2 sore dengan diakhiri acara bersih lokasi.


Kamis, 15 Juni 2023

RAPAT DPU

Rapat DPU ini dilaksanakan tanggal 28 Mei 2023. Notulen rapat tidak kunjung di share. Saya bertanya tanya dalam hati. Apa memang tidak ada notulen rapatnya. Sempat bertanya kepada teman teman, jawabannya selalu tidak tahu. Malah sudah ada beredar di grup WA penggalangan dana untuk renovasi/ perbaikan Bale Papelik yang roboh dan melanjutkan renovasi Padmasana yang konon akan diukir style Bali sampai ke atas. Masing masing perlu dana 70 juta dan 257 juta rupiah. Tidak ada informasi rincian kebutuhan dana tersebut. Entah dimana, kapan dan siapa saja yang membahas kebutuhan tersebut. Beberapa umat saya lihat antusias berdana punia. paling tidak saat saya nulis berita ini sudah ada 44 orang yang menyumbang. Dengan total dana terkumpul sementara sebesar 46,5 juta rupiah.

Baru kemudian tanggal 14 Juni ada postingan Notulen rapat oleh ketua BOP. Notulen Rapat saya copy paste seperti dibawah ini. Kalau diperhatikan, disana juga tidak ada disebutkan rincian kebutuhan dana tersebut. Tidak ada dinyatakan dalam poin poin tersebut apakah perlu atau tidak tindak lanjut kapan dan siapa PICnya.

Notulen Rapat 

 

Pimpinan Rapat   : Bapak I Made Sudarta (Ketua BOP)  

Agenda     : Rencana Kerja & Anggaran Biaya Tahun 2023  

Tempat     : Gedung Sekretariat Bersama PHDI Kepri Pura Agung Amerta Bhuana 

Hari/Tanggal    : Minggu, 28 Mei 2023 

Pukul      : 13.00 – 15.30 WIB  

Lampiran     : Daftar Hadir Rapat, RKAB yang disetujui  

 Hasil rapat antara lain:  

 1.  Menyetujui Rencana Kerja & Anggaran Biaya tahun 2023 terlampir 

2.  Menyetujui kenaikan iuran wajib BOP yang semula Rp 40,000.- /KK/bulan menjadi Rp 60,000.-

/KK/bulan 

3.  BOP  akan  memberikan  subsidi  banten  Rp  500,000.-  untuk  upakara  di  Pura  Agung  Amerta 

Bhuana. 

4.  BOP akan membuat perjanjian hak & kewajiban dengan Petugas kebersihan & keamanan Pura 

serta mengenai fasilitas yang ada di Graha Pinandita. 

5.  Pembangunan toilet akan segera dilakukan dengan dana bantuan dari Kanwil Bimas Hindu yang 

sudah diterima sebesar Rp 40,000,000. 

6.  Renovasi Bale Papelik membutuhkan anggaran Rp 70,000,000 akan menggunakan dana Kas 

BOP serta diupayakan penggalian dana bersumber dari internal umat dan eksternal. 

7.  Status Renovasi Padmasana: 

-  Proses pembangunan sudah selesai sampai dengan tahap ke VI. 

-  Panitia Pembangunan Padmasana akan mengagendakan jadwal rapat untuk penyampaian 

LPJ.  

-  Status  projek  pembangunan  lanjutan  (tahap  VII  dan  seterusnya)  untuk  Padmasana  akan 

ditentukan dalam rapat LPJ apakah dilanjutkan pekerjaannya oleh BOP atau Tim Panitia 

yang sudah ada. 

8.  Usulan dalam rapat. 

-  Bpk. I Putu Nila =>>   Pembangunan dilanjutkan oleh Panitia Pembangunan Padmasana, 

sehingga BOP fokus ke renovasi Bale Papelik 

-  Bpk. Ketut Ngurah =>>   Panitia Pembangunan Padmasana mempunyai target pembangunan 

sampai dimana (tahap VII dan selanjutnya), diselesaikan dahulu sesuai target Panitia, jika 

sudah mencapai target diinginkan, barulah laporan ke BOP.  

-  Bpk. I Made Dwi Sutha =>>   Alangkah baiknya jika hasil pekerjaan disampaikan ke umat 

terlebih dahulu, setelah itu ditentukan setuju / tidak untuk dilanjutkan pembangunannya. 

-  Bpk. I Gst Ngurah Sudiana =>>   Panitia Pembangunan tidak dibubarkan, tetap melanjutkan 

pembangunan  Padmasana,  tetapi  pembentukan  oleh  lembaganya  yang  ditentukan  (SK 

Panitia dikeluarkan oleh BOP atau PHDI Kepri) 

-  Bpk. Agus Bhaktiyasa =>> Kejelasan status dana talangan utk renovasi padmasana sebesar 

Rp 126,500,000 dari BOP. 

Minggu, 04 Juni 2023

KELUARGA SUKINAH

 


Minggu 04 Juni 2023 bertempat di Aula Kantor Kemenag Kota Batam, Penyelenggara Hindu melaksanakan Kegiatan Pembinaan Keluarga Sukinah. Kegiatan ini dihadiri oleh Narasumber Bpk Dr.Drs.I Wayan Catra Yasa, M.M. seluruh Ketua Lembaga Keagamaan Hindu, Penyuluh Hindu, dan dibuka langsung oleh Kakan Kemenag Kota Batam Bpk Dr. H Zulkarnain, S.Ag.,M.H.

Nada pesimis sempat dikemukakan oleh Penyelenggara Hindu saat memberikan pengumuman sehabis persembahyangan bersama Pagerwesi bahwa umat Hindu betapa susahnya dibuatkan acara pelatihan keagamaan. Tidak seperti di agama lain yang konon saling berlomba lomba agar bisa ikut di kegiatan agama mereka. 

Namun dari daftar peserta pelatatihan yang dishare oleh staff penyelenggara, pesertanya sesuai quota yang diminta. Yaitu sebanyak 40 orang, atau 20 pasang jika dianggap pasang pasangan, karena ada peserta yang sendiri atau ngajak anaknya.

Sebenarnya acaranya sangat bagus meski narasumbernya terkesan bikin bosan karena terlalu sering mengisi acara sebagai narasumber. Kesannya itu itu sajaorangnya. Itu kalau dari segi personalnya. Dari sisi materi dan cara membawakannya memang sangat bagus. Suasana selalu cair tidak garing istilah orang.

Narasumber hanya satu, sehingga praktis acara hanya sampai tengah hari, yang diakhiri dengan makan siang bersama, nasi kotak.


Senin, 22 Mei 2023

AMBRUK PUNYAH


Photo hanya pemanis. Tidak ada hubungan langsung dengan judul tulisan ini.

Bertepatan dengan hari Tilem sasih Jiyestha yaitu pada Jumat 19 Mei 2023, pagi hari ada beberapa photo diposting ke group WA kelian Banjar oleh humas BOP. Disertai narasi komentar, kurang lebih begini, diinformasikan bahwa bale papelik pura agung amerta bhuana pagi ini roboh. Sementara di grup WA satunya yang isinya kangin kauh, ditambahi kalimat, mohon umat tidak mengaitkan kejadian ini secara niskala. Masih diinvestigasi. Padahal tidak ada hujan tidak ada angin, Dalam photo terlihat 3 orang, yaitu humas BOP Gusti Ngurah Sudiana, penjaga Pura Komang Artawan, dan Jro Mangku Satriayasa.

Setelah diinvestigasi, ketemulah penyebab ambruknya Bale Papelik tersebut. Katanya pada sendi saka/ kaki bale papelik tidak dibaut. Lho kok mentah begitu hasil investigasinya. Bukankah Bale tersebut sudah bertahun tahun terpasang seperti itu. Mengapa baru sekarang ambruknya.


Baru kemudian saat setelah acara sembahyang bersama Saraswati, humas BOP Gusti Sudiana menyampaikan di hadapan umat yang hadir malam itu. Buru buru dikatakan bahwa kejadian robohnya bale Papelik tidak ada kaitannya dengan hal hal niskala. Katanya, dengan suara remang remang karena suaranya tidak jelas terdengar akibat jarak antara bibir dan mik terlalu jauh, ada bagian atas bale tersebut, katakanlah rangka, kayunya tidak sama dengan bahan yang lain. begitu kurang lebih yang saya dengar. Ya memang benar kita tidak tahu hal hal secara niskala. Makanya kita harus hati hati. Seakan apa yang disampaikan oleh Sudiana tersebut bertujuan mengcounter omongan ketua PHDI Kepri yang sebelumnya saat memberikan dharma wacana malam itu. Meskipun beliau tidak mengatakannya secara explisit kejadian robohnya bale papelik, beliau mengajak umat semua agar senantiasa menjaga tingkah laku, perkataan yang selalu baik, mohon ampunlah kepada Hyang Widhi jika ada berbuat yang tidak baik. 

Malam hari sebelum robohnya bale papelik, sekelompok umat hindu, yang saya perhatikan memang suka pesta dan minum minuman keras di area pura, dan itu sering dilakukan. Bahkan sebelumnya sering minum sampai mabuk di Graha Pinandita, yang menurut saya sesuai namanya seharusnya dijadikan tempat tinggal yang suci, jauh dari perbuatan negatif.

Malam itu kebetulan saya menghadiri rapat pembubaran panitia nyepi di gedung sekretariat PHDI yang harus melewati wantilan/ Pasraman. Saya parkir mobil dan turun. Penasaran ada apa gerangan kok rame dan ribut ribut. Saya perhatikan ada yang teriak teriak dan dipegang ramai ramai menuju salah satu mobil. Ada yang wajahnya serius, ada yang tertawa tawa. Saya mencoba mendekat. Tak ada yang bisa saya sapa. Begitupun mereka tidak ada yang menyapa saya. Mungkin komunitasnya beda. Kebetulan saya lihat ada Jero Mangku disana. Saya tanya, ada apa kok rame. Dia jawab, ah biasaaaa. Spontan saya jawab, haaa kayak gitu biasa? 

Saya ndak habis pikir. Ini kawasan suci. kawasan Pura. Aneh dan sangat aneh. Kok di kawasan Pura mabuk mabukan, minum minuman keras. Saya perhatikan sepintas ada beberapa botol minuman keras yang sudah kosong dan ada yang masih isi tapi tidak penuh. Beberapa orang saya lihat tanpa baju dengan perut buncitnya. Hati saya rasanya mau menangis. Mengapa tidak ke diskotik atau club malam, atau minimal ke Cafe saja. Kan disana tempatnya. Ini kok malah dilingkungan Pura.

Saya kemudian menuju gedung Sekretariat, menyendiri, karena peserta rapat belum pada datang, terus terang saya merasa prihatin.