Rabu, 28 November 2018

Tanah Gratis

Masih ingat di era tahun 90an setelah ditawari beberapa lokasi untuk mendirikan Pura di kota Batam oleh pemerintah daerah saat itu yaitu namanya Badan Otorita Batam (OB), dipilihlah lokasi yang strategis di lokasi berdirinya pura agung sekarang. Waktu itu diberikan tanah berbukit dan berhutan seluas  4 Ha. Dengan pertimbangan mahalnya biaya Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) waktu itu maka tanah hanya mau diterima setengahnya yaitu 2 Ha saja. Sisanya dikembalikan ke OB
Kalau saat ini barangkali ceritanya akan beda. Apalagi lokasinya sangat strategis, di atas bukit dengan pemandangan Singapore dan kota batam, selain juga lapangan golf shouthlink dan danau sei ladi. Pasti saat ini banyak yang ngincer lokasi tersebut.
Tanah gratis

Malah justru tanah hasil galian atau tanah buangan, entah dari mana, diberikan secara gratis. Puluhan truk tanah menghiasi sepanjang jalan akses di pura.  Saat musim hujan begini tanah jadi lengket dan sulit sekali diratakan. Untungnya ada umat yang bisa mengusahakan ban-ban mobil bekas sebagai penahan tanah urugan tersebut sehingga tidak cepat tergerus hujan.
Ban bekas sebagai penyangga

Setiap hari minggu, umat yang kebetulan ke Pura kebanyakan karena ngantar anak-anaknya sekolah minggu, disibukkan dengan gotong royong meratakan tanah tersebut. Ya begitulah uniknya. Orang lain berlomba mendapatkan tanah berhektar hektar, tapi umat hindu mendapatkan tanah gratis bertruk truk. (igstng2018).


Senin, 26 November 2018

Bunga Tidur

Mata ngantuk banget. Semalem Hujan deras sekitar jam 3 subuh. Terbangun dan sulit tidur lagi. Tapi Sekitar jam 4 pagi ternyata tertidur. Dan mimpi aneh. Pergi ke suatu tempat bertiga bersama teman-teman kantor. Seperti didaerah Barelang. Tempat orang cina. Entah ngapain sampai disana. Tiba-tiba datang sejumlah orang yaitu anak buah waktu bekerja di PT yang pertama dulu. Beberapa orang saya kenal baik dan selebihnya adalah anak-anak yang baru masuk, namun PT keburu tutup. Mereka memeluk saya satu persatu. Senang sekali rasanya.
Rasanya lama main disana dengan mantan anak buah itu. Sambil Tanya beberapa orang, kerjanya dimana. Anak sudah berapa. Seperti di alam nyata saja rasanya. Ada yang pergi nyari tiket pesawat karena mau pulang kampong.
Anak-anak operator itu semua dah berkumpul dan siap-siap pulang ke rumah masing. Sebelum berkumpul rasanya si tuan rumah habis minum-minum sampai mabuk bahkan sambil banting-banting botol minuman.
Saya sudah menyiapkan kata-kata sambutan kepada anak-anak mengucapkan banyak terima kasih sudah mau menjumpai saya.
Bel alarm keburu berbunyi, tanda jam menunjukkan pukul 5.45 pagi. Saatnya bangun dan kasi piaraan makanan. (igstng2018)

Toleransi karena terlalu polos.

Rabu jam 4.15 sore dapat info dari WA bro Sugiarta katanya Santi kritis di rumah sakit. Tak ada kawan. Bro sugiarta di Merauke. Ternyata yang tinggal Jauh malah tahu duluan infonya. Sampai di rumah jam 5 sore, sai bhakta sgp bro harri nelpon agar saya segera ke rumah sakit katanya santi sakit serius.

Jam 6 sore saya berangkat ke rs dengan istri dan anak. Langsung menuju UGD. Hujan deras. Sampai di rs langsung ke ugd, ketemu dokter. Dokter Tanya keluarga, untuk penanganan lebih lanjut. saya katakan suaminya datang besok, masih dibali. Dokter kelihatan pasrah. malah sempat bilang kalau si pasien sudah sempat meninggal dan segera dipasangi alat bantu.

Tidak banyak yang bisa diperbuat. Nelpon beberapa kawan. Ada temannya santi dua orang yang sama sama pernah kerja di Malaysia. hanya duduk-duduk di kursi tunggu sambil menginformasikan ke grup WA.

Jam 9 malam saya pulang, disana masih sdri Amik dan kedua temannya itu. Saya pesen jika ada apa-apa segera hubungi saya. Saya sempat bilang ke istri, sepertinya sulit karena sudah kritis. Mudah-mudahan ada mukzizat. Saya WA ke grup banjar. Tidak ada yang merespon ataukah mungkin saling tunggu mau bilang apa.

Kamis, 22 nov jam 08.45 pagi ada respon WA di grup tentang Santi. Ketut Wahyu, yang notabene masih keluarga mantan suami Santi. Kemudian direspon beberapa umat lainnya.

Saya WA amik nanya kondisi Santi. Katanya masih sama tidak ada perubahan. Nebus obat. Kebetulan di tas Santi ada duit Ringgit Malaysia. Cukup untuk nebus obat. Kata dokter mau diusahakan cari kamar ICU. Namun akhirnya tidak jadi dipindah, lepas selang ndak berani.

Siangnya Amik WA klo badan Santi sudah mulai dingin. Percuma juga kalau dipindah ruangan. Kita berdoa yang terbaik buat Shanti, kata saya.

Agak sore Bro Hari datang berdua dengan kawannya. Ngasi sejumlah uang ke Amik untuk biaya Santi. Disuruh ngasikan Putu Arya yg rencananya sore datang. Bro Hari sangat menyarankan agar Santi pindah Rumah Sakit. Semua harus bergerak cepat. Kata dia.

Saya minta informasi seperlunya tentang Santi karena rencananya malam itu sehabis sembahyang Purnama akan dirapatkan di Pura. Agar tidak salah informasi.

Saya komunikasi terus sama Amik. Ndak ada harapan, kata Amik. Pulang kerja langsung ke rumah sakit. Ada Jero Mangku Putu Satria Yasa di sana. Saya lihat keduanya sudah berkaca-kaca. Tidak ada kata yg bisa saya ucapkan. Mata terasa basah. Beberapa  menit kemudian suster datang melepas selang dan peralatan. Dinyatakan meninggal. Saya info ke semuanya. Ucapan bela sungkawa dari mana-mana. Jenazah dibawa ke Kamar jenazah.

Saya, Jero Mangku dan Amik mau langsung pulang. Akhirnya ingat kenapa tak nengok ke kamar Jenazah dulu.
Diskusi dengan Jero Mangku, apa tindakan selanjutnya. Keputusan terakhir ada di tangan keluarga mantan suaminya, yaitu Putu Arya.

Setelah registrasi, katanya jenazah sebaiknya di bersihkan dulu sebelum dimasukkan ke freezer. Saya tinggal pulang karena mau ke pura. Ada kawan-kawan dan umat dari beda banjar yang datang. Saya tahunya dari postingan photo mereka di grup banjar. Katanya jenazah lagi dimandikan. Bayar rp 650 ribu. Mereka urunan dulu bayar biaya memandikan jenazah.

Putu arya nelpon, jenazah diambil keluarga almarhumah. Kita umat Hindu hanya mengiringi saja. Atau melayat biasa. Saya plong. Berarti ndak ada masalah.

Sehabis sembahyang di pura, saya, pak Brunayasa, pak Putu Suardika dan pak Anom Sudibya rapat kecil di Bale Paselang. Saya sampaikan semuanya. Voice call Putu Arya agar semua dengar langsung. Berarti informasi benar. Semua merasa plong. Saya konfirmasi ke Jero Mangku. Katanya belum dihubungi Putu Arya. Gimana ini, pikir saya. Saya sampaikan seperti yang dibicarakan dalam rapat singkat tadi.

Jumat 23 Nov pagi saya komunikasi dengan Amik. Saya harus kerja. Jam 10.15, Jro Mangku nelpon saya, katanya beliau sendirian masih kesulitan nyari petugas yang ngafanin, memandikan, dan menyolatkan jenazah. Lho bukannya urusannya keluarganya yang dari Tanjung Riau, tanya saya. Entahlah, ini apa-apa belum ada yang urus. Mereka serba tidak tau, kata Jero Mangku. Syukurlah akhirna dapat semua. Beres.

Menjelang jam 12 saya nyusul ke rumah sakit. Saya pikir dah beres. Saya Tanya Jero Mangku. Katanya permasalahan muncul ketika petugas Rumah sakit mempermasalahkan agama di KTP almarhumah adalah Hindu. Pihak keluarga kurang ngotot. Petugas ngafanin minta saksi kalau almarhumah kembali ke Islam. Pihak Hindu mencoba meyakinkan kalau yang bersangkutan sudah tidak pernah sembahyang secara Hindu lagi, dikasi sarana sembahyang Hindu tidak mau. Sayangnya saksi yang paling penting ternyata ketinggalan pesawat di Jogja. Tambah runyam. Tidak salah kalau saya berprasangka buruk.

Saksi terakhir adalah Ketua RW tempat tinggal almarhumah dulu.
Ok. Masalah selesai. Jenazah dimandikan secara Islam lagi dan dikafanin. Maslah muncul lagi ketika ustad tidak mau menyolatkan jenazah. Kurang yakin kalau almarhumah muslim. Jro Mangku ngamuk. Siapa yang menghalangi perjalananmu Santi, carilah dia dari alam sana. Biarlah dosa-dosamu dia yang menanggung. Kurang lebih demikian kata-kata ngamuknya Jero Mangku sambil menggedor-gedor keranda jenazah.

Akhirnya almarhumah disolatkan, dikubur ke sei temiang. Diringi beberapa umat muslim, lebih banyak yang mengiringi dari umat Hindu. Ngangkat jenazah juga umat Hindu.

Keanehan muncul. Liang lahat terisi air. Air dikeluarkan dengan ember. Tiba-tiba tanah penyangga tepi liang kubur ambrol. Ditahan triplek dan mayat segera dimasukkan. Ditimbun. Beres.
Sampai disini banyak yang mengartikan ini akibat terlalu polos. Sementara yang seharusnya punya tanggung jawab adalah keluarga almarhumah. (igst 2018)
Mantan suami mendiang, dua hari setelah pemakaman



Minggu, 04 November 2018

Tuhanku Bagai dikrangkeng

Tidak ada niatan untuk saling menyalahkan. Karena dasarnya semua ngayah. Berlindunglah dibalik kata ngayah, maka anda akan aman. Kata ngayah ini bagaikan kata sacral,  suci, tak seorangpun bisa membantahnya. Kata ngayah seolah-olah sebagai pembenaran untuk bekerja setengah hati. Lha wong ndak ada sangsi atau denda apalagi ‘kesepekang’.

Di kampong saya ngayah adalah kegiatan yang sifatnya wajib yang dilakukan secara bersama-sama, biasanya menjelang hari raya atau piodalan di pura. Kalau di rantauan apapun yang dilakukan secara sukarela, tepatnya yang tidak ada ikatan, itu namanya ngayah. Mungkin semacam pengabdian.

Terus apa hubungannya ngayah dengan judul tulisan ini. Mari kita simak kejadian berikut. Tanggal 1 nopember 2018 saya dikirimi photo yang diambil dari Instragrams, photo seorang anak muda naik ke bale papelik di mandala utama pura Agung. Bale Papelik nota bene adalah bangunan suci tempat ‘beristirahatnya’ ida betare. Photonya hasil screen shoot hp. Di photo tersebut kelihatan si kawan saya ini justru meminta maaf kepada orang yang ada dalam photo tersebut. Mohon maaf jangan diulangi lagi, karena ini tidak baik. Kalau masuk pura alas kaki harus dilepas. Demikian komentar kawan saya ini. Maklum yang namanya orang ketimuran ya memang begitu.
Screen shoot HP

Beberapa saat kemudian saya forward photo tersebut ke salah satu grup WA. Tidak banyak komentar. Ada yang memforwardnya lagi ke grup lain. Ada yang komentar ‘semoga dia mendapat hukuman dari yang di atas’. Komentar semacam ini hanya beda tipis antara memang bijak dengan malas ngomong. Kalaulah semua orang punya prinsip begitu, ngapain kita susah susah bikin pagar, ngapain masang CCTV yang biayanya puluhan juta, yang begitu dibuka hasil rekamannya ternyata hard disk kosong. Yang saat kehilangan rekamannya tidak ada, yang katanya tumben lupa ngunci pintu pura, dan sebagainya.
Pintu dari arah Lalita
Pintu di depan Kori Agung (bawah)


Pintu sebelah kiri Kori
Pintu sebelah kanan Kori

Pintu Bale Barong

Yang jelas sehari setelah issue ini beredar di grup, pengurus segera ambil tindakan dengan menggembok semua pintu masuk. Depan kori Agung, sisi kiri ke Lalita, dan pintu pemesuan kiri kanan kori agung. Di photo dan informasikan ke semua umat. Aman. Tak ada lagi orang masuk pura sembarangan. Tapi kasian, Ida Betare tidak bebas bisa keluar, bagai dikerangkeng.
Terlepas dari itu semua, berapa lama kah gembok ini akan bisa bertahan. Sampai kapan si gembok tidak akan digergaji. Apakah suatu saat kita saksikan jika pintunya digembok namun kondisinya terbuka. Hihihi lucu. Tapi praktis. Kadang jadi realita.