Jam 6 sore saya berangkat ke rs dengan istri dan anak. Langsung menuju UGD. Hujan deras. Sampai di rs langsung ke ugd, ketemu dokter. Dokter Tanya keluarga, untuk penanganan lebih lanjut. saya katakan suaminya datang besok, masih dibali. Dokter kelihatan pasrah. malah sempat bilang kalau si pasien sudah sempat meninggal dan segera dipasangi alat bantu.
Tidak banyak yang bisa diperbuat. Nelpon beberapa kawan. Ada temannya santi dua orang yang sama sama pernah kerja di Malaysia. hanya duduk-duduk di kursi tunggu sambil menginformasikan ke grup WA.
Jam 9 malam saya pulang, disana masih sdri Amik dan kedua temannya itu. Saya pesen jika ada apa-apa segera hubungi saya. Saya sempat bilang ke istri, sepertinya sulit karena sudah kritis. Mudah-mudahan ada mukzizat. Saya WA ke grup banjar. Tidak ada yang merespon ataukah mungkin saling tunggu mau bilang apa.
Kamis, 22 nov jam 08.45 pagi ada respon WA di grup tentang Santi. Ketut Wahyu, yang notabene masih keluarga mantan suami Santi. Kemudian direspon beberapa umat lainnya.
Saya WA amik nanya kondisi Santi. Katanya masih sama tidak ada perubahan. Nebus obat. Kebetulan di tas Santi ada duit Ringgit Malaysia. Cukup untuk nebus obat. Kata dokter mau diusahakan cari kamar ICU. Namun akhirnya tidak jadi dipindah, lepas selang ndak berani.
Siangnya Amik WA klo badan Santi sudah mulai dingin. Percuma juga kalau dipindah ruangan. Kita berdoa yang terbaik buat Shanti, kata saya.
Agak sore Bro Hari datang berdua dengan kawannya. Ngasi sejumlah uang ke Amik untuk biaya Santi. Disuruh ngasikan Putu Arya yg rencananya sore datang. Bro Hari sangat menyarankan agar Santi pindah Rumah Sakit. Semua harus bergerak cepat. Kata dia.
Saya minta informasi seperlunya tentang Santi karena rencananya malam itu sehabis sembahyang Purnama akan dirapatkan di Pura. Agar tidak salah informasi.
Saya komunikasi terus sama Amik. Ndak ada harapan, kata Amik. Pulang kerja langsung ke rumah sakit. Ada Jero Mangku Putu Satria Yasa di sana. Saya lihat keduanya sudah berkaca-kaca. Tidak ada kata yg bisa saya ucapkan. Mata terasa basah. Beberapa menit kemudian suster datang melepas selang dan peralatan. Dinyatakan meninggal. Saya info ke semuanya. Ucapan bela sungkawa dari mana-mana. Jenazah dibawa ke Kamar jenazah.
Saya, Jero Mangku dan Amik mau langsung pulang. Akhirnya ingat kenapa tak nengok ke kamar Jenazah dulu.
Diskusi dengan Jero Mangku, apa tindakan selanjutnya. Keputusan terakhir ada di tangan keluarga mantan suaminya, yaitu Putu Arya.
Setelah registrasi, katanya jenazah sebaiknya di bersihkan dulu sebelum dimasukkan ke freezer. Saya tinggal pulang karena mau ke pura. Ada kawan-kawan dan umat dari beda banjar yang datang. Saya tahunya dari postingan photo mereka di grup banjar. Katanya jenazah lagi dimandikan. Bayar rp 650 ribu. Mereka urunan dulu bayar biaya memandikan jenazah.
Putu arya nelpon, jenazah diambil keluarga almarhumah. Kita umat Hindu hanya mengiringi saja. Atau melayat biasa. Saya plong. Berarti ndak ada masalah.
Sehabis sembahyang di pura, saya, pak Brunayasa, pak Putu Suardika dan pak Anom Sudibya rapat kecil di Bale Paselang. Saya sampaikan semuanya. Voice call Putu Arya agar semua dengar langsung. Berarti informasi benar. Semua merasa plong. Saya konfirmasi ke Jero Mangku. Katanya belum dihubungi Putu Arya. Gimana ini, pikir saya. Saya sampaikan seperti yang dibicarakan dalam rapat singkat tadi.
Jumat 23 Nov pagi saya komunikasi dengan Amik. Saya harus kerja. Jam 10.15, Jro Mangku nelpon saya, katanya beliau sendirian masih kesulitan nyari petugas yang ngafanin, memandikan, dan menyolatkan jenazah. Lho bukannya urusannya keluarganya yang dari Tanjung Riau, tanya saya. Entahlah, ini apa-apa belum ada yang urus. Mereka serba tidak tau, kata Jero Mangku. Syukurlah akhirna dapat semua. Beres.
Menjelang jam 12 saya nyusul ke rumah sakit. Saya pikir dah beres. Saya Tanya Jero Mangku. Katanya permasalahan muncul ketika petugas Rumah sakit mempermasalahkan agama di KTP almarhumah adalah Hindu. Pihak keluarga kurang ngotot. Petugas ngafanin minta saksi kalau almarhumah kembali ke Islam. Pihak Hindu mencoba meyakinkan kalau yang bersangkutan sudah tidak pernah sembahyang secara Hindu lagi, dikasi sarana sembahyang Hindu tidak mau. Sayangnya saksi yang paling penting ternyata ketinggalan pesawat di Jogja. Tambah runyam. Tidak salah kalau saya berprasangka buruk.
Saksi terakhir adalah Ketua RW tempat tinggal almarhumah dulu.
Ok. Masalah selesai. Jenazah dimandikan secara Islam lagi dan dikafanin. Maslah muncul lagi ketika ustad tidak mau menyolatkan jenazah. Kurang yakin kalau almarhumah muslim. Jro Mangku ngamuk. Siapa yang menghalangi perjalananmu Santi, carilah dia dari alam sana. Biarlah dosa-dosamu dia yang menanggung. Kurang lebih demikian kata-kata ngamuknya Jero Mangku sambil menggedor-gedor keranda jenazah.
Akhirnya almarhumah disolatkan, dikubur ke sei temiang. Diringi beberapa umat muslim, lebih banyak yang mengiringi dari umat Hindu. Ngangkat jenazah juga umat Hindu.
Keanehan muncul. Liang lahat terisi air. Air dikeluarkan dengan ember. Tiba-tiba tanah penyangga tepi liang kubur ambrol. Ditahan triplek dan mayat segera dimasukkan. Ditimbun. Beres.
Sampai disini banyak yang mengartikan ini akibat terlalu polos. Sementara yang seharusnya punya tanggung jawab adalah keluarga almarhumah. (igst 2018)
![]() |
| Mantan suami mendiang, dua hari setelah pemakaman |

