Jumat, 19 Juli 2019

Direktur 'Preman' VS Direktur 'Karbitan'

Saya bergabung di perusahan assembly Valve di daerah Latrade Tanjung Uncang Batam pada tahun 2007 sekitar bulan Juni. Karyawannya tidak banyak. Tidak lebih dari 100 orang. Beberapa staff office. Presdirnya orang Jepang. Sudah agak berumur. Dulu katanya sempat bekerja di Kantor Pemerintahan di Batam. Saat itu mungkin belum ada Pemko. Sekarang namanya Badan Pengusahaan Batam. Sebelum dibubarkan atau digabung ke Pemko Batam.

Sebut saja namanya Mr. Takai. Dari awal saya bergabung, saya lihat performa direktur ini kurang greget. Hanya sekedar jalan. Terkesan sering ‘dibohongi’ staff local. Terlalu banyak excuse. Maklum lama kerja dengan orang kita. Terlalu Indonesia style. Saya sering dipanggil ke ruangannya, yang khusus. Tentu urusan kerjaan. Mejanya penuh tumpukan kertas. Apa saja. Kiri kanan, depan belakang. Pokoknya bertumpuk tumpuk. Sering saya lihat si direktur ini hanya mainan game di laptopnya. Bukan Game yang canggih. Hanya sekelas Solitaire.

Tahun 2009 masuklah penggantinya, sebut saja namanya Mr. Fu. Darah segar. Sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan di Muka Kuning. Banyak yang sudah mengerti tipe direktur ini kasar. Banyak gebrakan. Mirip temperamental. Biasa gebrak-begrak meja kalau meeting. Biasa bergurau kalau ngobrol diluaran.
Mr. Fu sangat berprestasi untuk membat perusahaan profit. Marginal profit, sales dikurangi cost material saat dia baru masuk hanya sekitar 20%. Cost down dipacu. Effisiensi disana sini. Profit naik secara significant. Hanya bagian yang punya authority saja yang paham. Laporan ada 3 jenis, paling tidak. Laporan original, laporan untuk ke head office dan laporan ke pajak yang dipakai acuan oleh pemegang saham. Kini, marginal profit saja sudah mencapai hamper 40%. Dua kali lipat.

Sang direktur ini ndak peduli marah kepada siapa, dimana saja kalau ada laporan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Bukan rahasia lagi, yang bikin laporan terpaksa ABS, asal bapak senang. Dibuatlah laporan yang bagus-bagus. Selisih antara kenyataan dengan yang dilaporkan ke head office cukup besar. Perusahaan sangat royal mengeluarkan duit untuk social, welfare, atau beli peralatan kerja seperti computer, printer dsb.

Sang direktur ini suka tidur di kursinya. Padahal di ruangan bersama dengan staff lainnya. Bahkan ngorok yang bikin telinga risih mendengarnya. Sebelum meeting biasanya tidur dulu. Ngumpulin tanaga untuk marah-marah saat meeting.

Kemungkinan duit masih ada banyak. Perlu cari spare brankas. Maka issuenya sang direktur bikin PT sendiri, gabung dengan kawannya. Mengalirlah duit simpanan ke brankas barunya. Tentu harus ada yang bias diajak sejalan. Agar usaha ini mulus. Perusahaan baru ini bak broker. Sebagai supplier yang mensupply barang-barang kebutuhan Tomoe. Cara nyerobotnyapun dengan cara yang tidak professional. Banyak supplier aslinya yang di putus ditengah jalan. Tentu mereka kelimpungan karena stoknya tidak bisa dijual.

Disamping sebagai supplier Tomoe, juga berfungsi sebagai distributor produk jadi. Tanpa usaha mencari pembeli. Malah salesman Tomoe difungsikan untuk mencari pembeli local. Sebagai karyawan Tomoe harusnya merasa digencet. Tapi pertanyaan besarnya, mengapa pada diem anteng-anteng saja. Ya ibarat anak kecil disuruh ambil sesuatu, cukup senang walau hanya dikasi permen.

Kini, akhir 2018 beredar isu direktur ini bakal diganti. Kasak kusuk, ada yang senang, tentu ada yang tidak. Calon pengganti nyapun datang di awal 2019. Namanya Mr. Tsu. Yang stylenya 180 derajat berbeda. Yang selalu jadi bulan-bulanan. Harga dirinya sering dijatuhkan. Hand over rencananya bulan april namun mundur ke Juni. Bulan juni Mr Tsu secara organisasi sudah menduduki jabatan direktur, sementara yang digantikannya sebagai advisor. Sepertinya Mr Fu berat melepas jabatannya. Mr Tsu, yang sekelas direktur, masih pontang panting dibuatnya. Harusnya focus ke isu manajemen. Tidak semua tanggung jawab diberikan oleh Mr Fu. Maka, keputusan apapun masih lewat Mr. Fu. Katanya sampai September. Tanda tangan juga harus oleh dia. Ya kita tunggu saja.

Jumat, 12 Juli 2019

Budaya Bali

Rabu 10 Juli 2019, jadwal latihan megambel seminggu sekali. Sudah lama vacuum tidak  latihan. Terbentur hari ujan, anak-anak lagi ujian, acara banjar.
Waktu menunjukkan jam 2 sore, salah satu anggota group di WA mengingatkan kalau hari ini jadwal latihan. kemudian dikonfirmasi beberapa anggota lainnya. ada 5 anggota yang bisa hadir, plus satu orang yang tinggal di pura. Total 6  orang ditambah dua anak kecil. beberapa yang lainnya tidak ngasi alasan.
Saya dari rumah jam 7.30 malam. Perkiraan jam 8 malam teng sudah pada kumpul. Berangkat sama anak saya. sampai di pura sekitar jam 8 malam. weh apa saya ndak baca WA terbaru, pikir saya agak ragu. Kok ndak ada orang. Sepi hanya terdengar suara anjing menggonggong.
Saya agak lama di mobil sambil buka-buka WA. Kemudian ke atas ke mandala utama sembahyang. Sambil nunggu kawan-kawan datang. Saya memutuskan jika sampai jam 8.30 malam ndak ada yang datang, maka saya akan pulang.
Akhirnya beberepa orang datang. Latihan alakadarnya. Niat ndak niat latihan. Anggap melatih melemaskan tangan.
Jam 9.45 malam istirahat, minum dan makan snack. habis itu kemas-kemas peralatan dan pulang.

Rabu, 10 Juli 2019

Kurir Spiritual

 

Jangan pernah membayangkan bagaimana seorang ibu dengan dua orang anaknya hidup di sebuah gubuk reot tanpa listrik, tanpa sumber air layaknya PDAM. Atau paling tidak ada sumber mata air. Letaknya di tengah perkebunan sayur dan jauh dari jalan utama. Masih mending di siang hari. Betapa sunyinya di malam hari. Mungkin hanya terdengar suara-suara hewan malam. Anda tidak akan mengerti.
Untuk menyambung hidup, bersama dua anaknya yang masih kecil, yang besar kelas 5 SD dan yang kecil belum sekolah, si Ibu ini bekerja sebagai buruh kebun sayur milik seorang majikan, yang dibayar jika panen sayuran dan kalau panennya berhasil atau laku dijual.
Dengan mengendarai sepeda motor butut ibu ini mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Jaraknya tidak terlalu jauh sekitar 3km, naum jika hujan akan sangat becek dan berdebu jika di musim panas. bahkan si ibu ini pernah jatuh dari motor karena jalan licin. Dengan motor itu juga si ibu itu membawa sayuran ke pasar untuk jual.
Dalam kondisi si ibu yg sangat tidak beruntung itu, malahan musibah lain datang. Suaminya terpaksa harus dipenjara. Gara-gara dia mengancam istrinya dan mau dibunuh. Si suami tidak pernah memberi nafkah ke istri dan anaknya. Bahkan jarang pulang. Alasannya kerja tapi tidak jelas dimana. Si ibu ini otomatis berjuang sendiri menghidupi kedua anaknya.
Mungkin anda bertanya. Kok saya sampai di pelosok kebun sayur begitu.
Saya kebetulan ikut di ssg batam yaitu organisasi spiritual lintas agama yaitu organisasi yang diajarkan untuk mengikuti ajaran Guru Spiritual Sai Baba. Kebetulan ada sponsor atau bekerja sama dengan sai bhakta Singapore. Saya diminta mencarikan beberapa tepatnya 4 keluarga kurang mampu yang perlu dibantu. Berkat bantuan seorang teman di forum RT/RW grup whatapps. Ini salah satu keluarga yang diusulkan dapat bantuan. Tiap bulan saya ngantar rombongan ke rumah ibu itu. Sampai berita ini saya tulis, sudah empat kali memberikan bantuan. Dengan membawa beberapa jenis bantuan seperti beras, susu, kopi, gula, mi, the. Menyusuri jalan semak-semak.
Demikianlah tugas kurir spiritual seperti saya.

Rabu, 03 Juli 2019

Presiden Taxi

Awal tahun 2019 sampai pertengahan tahun 2019 situasi politik tanah air memang lagi memanas. Ajang pemilu legislative dan pilpres dilaksanakan serentak di tanah air maupun luar negeri. Tepatnya 17 april 2019. Pileg sendiri gaungnya tidak begitu kelihatan, nyaris tertutup oleh pilpres. Puncak kampanye awal april. Gegap gempita masa kampanye. Smua mengklaim ratusan juta peserta yang hadir. Jor joran. Luar biasa. Semua orang bebas mengekpresikan dirinya. Tak terkecuali di medsos. Saling caci saling maki, suguhan tiap hari, tiap jam, tiap menit. Dengan mudahnya orang memojokkan kubu lawan dengan mencap ini semua gara gara rezim yang berkuasa saat ini. Rezim yang harus ditumbangkan. Rezim yang membuat Negara hancur. Rezim yang membuat bangsa porak poranda. Sangat mengherankan memang. Bahkan saya sempat denger ungkapan tersebut saat saya makan siang di warung makan. Namun tidak perlu ditanggapi meskipun hati bertentangan.
Tak terkecuali, kawan saya yang sudah mampu ngredit mobil baru yang dipakai sebagai taxi on line. Menurut dia betapa susahnya hidup di jaman jokowi. Cari penumpang sangat susah. Beda dengan dulu. Padahal setau saya, dari jaman dulu, tidak pandang siapa presidennya, sopir angkot atau taxi ya komentarnya begitu. Penumpang tidak bakalan datang sendiri kalau kita tidak rajin mencarinya.
Saat naik angkot. Supir ngeluh susah cari penumpang. Menjelang siding MK penetapan presiden terpilih. Mudah mudahan presidennya ganti, demikian kata sopir itu. Heran. Apa dengan ganti presiden hidupnya dijamin akan berubah. Penumpang akan dengan mudahnya didapat? Bukan malah sebaliknya? Mengingat track record dan prestasi nol calon yang dibelanya. Tanda tanya besar sebenarnya, apanya dibela capres kayak gitu. entahlah.

Selasa, 02 Juli 2019

SUSAHNYA ORANG SAKIT

Suatu kesempatan teman saya pernah bilang ‘hindari berurusan dengan yang dua ini’ yaitu dokter dan polisi. Artinya jangan pernah sakit karena kalau sakit itu susah sembuh, cari dokter susah dan berbelit belit. Begitu juga jika berurusan dengan polisi. Makanya hindari melakukan pelanggaran criminal. Hal sepele bias jadi tambah runyam. Hilang ayam harus rela kehilangan sapi juga. Kurang lebih begitu maksud kawan saya itu.
Hari rabu di akhir bulan juni 2019, sekitar jam 7 malam saya sampai di rumah sakit pemerintah daerah menjenguk tetangga yang lagi opname di ICU. Namanya pak Min. umurnya sebaya dengan saya. Baru sempat jenguk padahal sudah masuk rumah sakit ‘hb’ hari sabtu sebelumnya. Hari seninnya dikabarkan bisa pulang, jadi saya urungkan bezuk ke rumah sakit waktu itu.
Sempat bertanya beberapa kali ke pengunjung rumah sakit otorita batam maupun kepada petugas yang kebetulan saya jumpai. Ketemulah bangsal ICU namun tidak berani masuk. Saya mencoba mencari nomor hp istri tetangga saya itu, ibu Karjini. Nomornya ndak aktif. Coba cari di hp istri saya. Ketemu nomor WAnya. Saya hubungi, ndak di respon. Untung menantu (ponakannya) lewat depan ruang tunggu keluarga pasien. Akhirnya kami jumpa ibu Karjini dan cerita panjang lebar.
Pertama pak Min masuk rumah sakit HB tgl 22 Juni 19 hari sabtu. Tekanan darahnya tinggi. Hari seninnya diharuskan pulang. Itu prosedur, kata perawatnya. Menjelang siap-siap mau pulang, saat buang air besar ternyata keluar darah. Akhirnya dimasukkan ke UGD. Dirujuk ke rumah sakit AWB. Lama tidak ada jawaban dri AWB apakah kamar ICU tersedia. Setelah sore baru ada jawaban dan jawabannya pun mengecewakan, tidak ada kamar.
Hanya modal nekat, bu karjini membawa suaminya ke AWB. Di sana dikatakan pak Min harus operasi dan harus dirujuk ke rumah sakit OB. Lama juga tidak ada konfirmasi ketersediaan kamar di OB. Yang mengherankan bahwa keluarga pasien ditanya perawat, apakah mempunyai kenalan atau keluarga yang menjadi dokter. Agar prosesnya bias cepat. Resiko meninggalnya pasien cukup besar jika tidak ditangani segera. Nah apakah berarti jika pasien tidak punya kenalan dokter tidak perlu ditangani dengan cepat? Ternyata sehat itu milih milih.
Menjelang subuh, pak min baru sampai di rumah sakit yang dirujuk yaitu OB, sekupang. Sorenya dipoerasi pembuluh darah di otak. Sampai berita ini saya tulis, pasien masih di rawat di rumah sakit.