Awal tahun 2019 sampai pertengahan tahun 2019 situasi politik tanah air memang lagi memanas. Ajang pemilu legislative dan pilpres dilaksanakan serentak di tanah air maupun luar negeri. Tepatnya 17 april 2019. Pileg sendiri gaungnya tidak begitu kelihatan, nyaris tertutup oleh pilpres. Puncak kampanye awal april. Gegap gempita masa kampanye. Smua mengklaim ratusan juta peserta yang hadir. Jor joran. Luar biasa. Semua orang bebas mengekpresikan dirinya. Tak terkecuali di medsos. Saling caci saling maki, suguhan tiap hari, tiap jam, tiap menit. Dengan mudahnya orang memojokkan kubu lawan dengan mencap ini semua gara gara rezim yang berkuasa saat ini. Rezim yang harus ditumbangkan. Rezim yang membuat Negara hancur. Rezim yang membuat bangsa porak poranda. Sangat mengherankan memang. Bahkan saya sempat denger ungkapan tersebut saat saya makan siang di warung makan. Namun tidak perlu ditanggapi meskipun hati bertentangan.
Tak terkecuali, kawan saya yang sudah mampu ngredit mobil baru yang dipakai sebagai taxi on line. Menurut dia betapa susahnya hidup di jaman jokowi. Cari penumpang sangat susah. Beda dengan dulu. Padahal setau saya, dari jaman dulu, tidak pandang siapa presidennya, sopir angkot atau taxi ya komentarnya begitu. Penumpang tidak bakalan datang sendiri kalau kita tidak rajin mencarinya.
Saat naik angkot. Supir ngeluh susah cari penumpang. Menjelang siding MK penetapan presiden terpilih. Mudah mudahan presidennya ganti, demikian kata sopir itu. Heran. Apa dengan ganti presiden hidupnya dijamin akan berubah. Penumpang akan dengan mudahnya didapat? Bukan malah sebaliknya? Mengingat track record dan prestasi nol calon yang dibelanya. Tanda tanya besar sebenarnya, apanya dibela capres kayak gitu. entahlah.