Sabtu, 29 November 2014

Pelatihan Setengah Hati

Ini sebenarnya program rutin tahunan dari Pemerintah Kota untuk mengalokasikan anggaran pelatihan bagi umat Hindu. Acara ini atas kerjasama dengan Parisada kota Batam untuk menghadirkan seratus peserta.
Saya terima SMS dua hari sebelum acara, yaitu hari Kamis menjelang siang. Intinya isi SMS adalah undangan menghadiri pelatihan selama dua hari di hotel Nagoya Plaza dari Jumat pagi sampai Sabtu siang. Sayapun merespon SMS tersebut dengan mereplynya bahwa akan menghadiri acara itu. Dalam pikiran mulai direka-reka jadwal kerja di pt agar dapat cuti.
Setelah jam makan siang hp berbunyi bahwa ada SMS masuk. Isinya undangan sembahyang bersama di pura agung bersama seorang tokoh hindu dari Dirjen Hindu Kemenag RI. Undangan di SMS untuk sembahyang jam 7 malam di hari yang sama. Sayapun berangkat dari rumah jam 7 malam, dengan anggapan paling-paling sembahyangnya juga molor. Saya berangkat sendiri, dan sampai di pura saya menjumpai baru ada satu keluarga dan salah satu Jero Mangku. Kemudian menyusul datang tamu yang dari Jakarta yaitu bapak Gede Jaman didampingi oleh Ketua Parisada Kota Batam yaitu Pak Dewa Yuda.
Kami menuju mandala utama, yang sedikit aneh bahwa salah satu Jero Mangku tidak tahu ada acara sembahyang bersama. Teman disebelah saya bertanya 'yang lainnya pada kemana?'. Saya jawab, 'mungkin ntar lagi pada datang, mungkin pada masih di jalan'. Namun ternyata samapai selesai sembahyang yang ikut hanya 13 orang termasuk dua orang Jero Mangku dan dua orang anak-anak.
Keesokan harinya acara dilaksanakan di sebuah hotel (Nagoya Plaza), saya sedikit terlambat datang yaitu sekitar jam 10. Saya mengisi daftar hadir pada urutan peserta nomor 17. Kok terasa sepi, ternyata setelah masuk ruangan, dari seratusan kursi meja yang disediakan hanya terisi sepertiganya. Mubasir sekali pikir saya. Dalam sambutan sesepuh Hindu di Batam meminta maaf kepada pemerintah kota bahwa peta umat hindu di kota batam seperti ini, sebagian besar bekerja di perusahaan, makanya kalau acara dilaksanakan pada hari kerja, maka yang hadir tidak maksimal.
Umat akan datang di sore hari dan besok karena sabtu adalah hari libur sehinga bisa hadir seratusan peserta.
Ternyata ucapan tokoh ini tidak terbukti, karena di sore hari hampir jumlah peserta tidak bertambah, malah sebaliknya banyak yang pulang duluan setelah makan siang.
Keesokan harinyapun, yang panitia menargetkan untuk menghadirkan umat minimal 60 orang hanya datang tak lebih dari 35 orang. Atas dasar apa panitia menargetkan 60 orang, kenapa tidak sekalian seratus orang seperti target yang diharapkan pemerintah kota. Menyedihkan sekali sebenarnya. Tapi apakah ada yang peduli untuk memperbaiki kondisi ini? Bukankah panitia bisa minta bantuan kelian banjar untuk menghadirkan umatnya. Tidak cukup hanya kirim SMS. Yang jauh lebih penting adalah konfirmasi hadir atau tidak. Apa tidak malu kita menghadirkan pembicara dari pusat namun peserta yang hadir hanya segelintir orang? Ketua-ketua lembaga keagamaan hindu juga diundang lewat SMS untuk menghadiri acara pembukaannya, namun tak satupun yang mengatasnamakan lembaga keumatan hadir disitu. Saya terlanjur ambil cuti satu hari untuk bisa hadir di acara tersebut.
Kesimpulannya : Hal yang penting dan serius harus disikapi dengan serius juga. Jika tidak maka akan terkesan main-main saja.

Selasa, 18 November 2014

MENEBAR FITNAH MENGHARAP SIMPATI

Minggu 16 Nopember 2014 tatkala saya mengkoordinir perayaan hari kelahiran Bhagavan Sri Sathya Sai Baba ke 89 yang bertempat di aula pasraman jnana sila bhakti batam, suatu pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Pertama, acara yang dihadiri juga oleh 48 orang bhakta singapore itu rencananya akan dilaksanakan di bale paselang mandala utama pura agung seperti tahun tahun sebelumnya, kini disarankan untuk dilaksanakan di aula pasraman dengan alasan lebih memadai lagipula untuk memanfaatkan sarana yang ada, mengingat ada umat yang memberi masukan kepada parisada, kemudian parisada menyampaikan kepada pengelola pura dalam hal ini Badan Otorita Pura atau BOP. Cukup bijak langkah yang diambil Parisada dan Ketua BOP.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah yang mengatas namakan umat dan langsung direspon oleh parisada. Jangan-jangan ini hanya ulah segelintir orang yang mengatas namakan umat namun mengapa langsung direspon oleh parisada. Ataukah ini adalah ulah dari orang atau bahkan ikut jadi pengurus lembaga keagamaan dan tidak jauh-jauh dari lingkungan penulis. Penulis sendiripun adalah umat, yang mungkin tidak berlebihan jika saya menyebut diri saya seorang umat yang ‘peteng lemah’di lingkungan pura. Apakah seorang ketua Parisada yang sangat jarang turun ke lapangan atau Pura dengan gampang menerima masukan.
Yang kedua, penulis diminta oleh Bahkta Singapore memberikan 10 kupon kepada anak-anak pasraman/ paud untuk ikut pada acara potong kue agar tidak terlalu banyak anak-anak di deket altar. Kupon dititipkan ke gurunya, namun rupanya entah dibagikan semua atau tidak. Malah pengurus Paud sibuk bicara kesana kemari kenapa kok ndak semua dikasi kupon. Saya kok jadi heran, bukannya bersyukur sudah dikasi, ini malah protes. Bahkan setelah beberapa anak yang hadir di acara mendapat hadih, ada orang tua malah ribut berkata ‘anakku punya kupon kok tidak dikasi hadiah’. Waduh dari tadi saat acara berlangsung anaknya entah kemana diajak orang tuanya, setelah lihat teman-temannya bawa hadiah baru ribut. Nah uniknya lagi, salah seorang pengurus malah sibuk membagi-bagikan bingkisan kepada anak-anak dari biaya sendiri. Bagi sebagian orang yang tidak jeli mungkin hal ini biasa saja, namun penulis melihatnya sesuatu yang unik, istilah kerennya tebar pesona agar dikagumi orang lain.
Yang ketiga, saya dimintai ada penari bali di acara tersebut dan sudah dijanjikan ada 4 penari. Sayapun menginformasikan ke bhakta singapore ada 4 penari, tolong disiapkan bingkisan. Ternyata yang sanggup hanya dua penari. Sayapun tidak tahu persis apa alasannya, apa orang tua tidak mendukung atau alasan lain. Tentunya hanya yang bersangkutan yang tahu.
Yang keempat, kami panitia menyediakan 250 paket gado-gado gratis untuk bhakta dan semua umat yang hadir. Bagi yang hatinya masih lurus-lurus dan polos, tidak ada masalah mau memakannya. Namun segelintir orang yang menyimpan rasa iri dan dengki, rela menahan laparnya karena gengsi ikut makan pemberian kami. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah merasa gengsi karena dikasi gratis? Atau perasaan lain?

Tahun tahun sebelumnya, yang dipermasalahkan adalah sampah bekas makanan setelah acara serupa selesai. Tidak rela orang lain yang membuang sampah. Kata-kata sinis dilontarkannya. Jadi sebenarnya apa yang dibicarakan selama ini, apa hanya ngerumpi menebarkan sifat iri dan dengki. Bukannya hal-hal positif yang dibicarakan, malah mengajak orang lain menebarkan rasa kebencian. Sangat bijaksana jika ada yang mengatakan ‘nak irage jak liu, nak mule keto’. Padahal kata-kata bijak ini meninabobokkan kita, menjerumuskan kita, bukan menyelesaikan masalah. Terima kasih.