Tak terhitung sudah berapa kali saya mengikuti acara Pawai Budaya yang diselenggarakan oleh Pemko Batam dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI. Rela berpanas panasan dan rela basah kuyup jika hujan. Tidak pasti kadang dilaksanakan pagi sampai siang atau siang sampai sore, tergantung panitianya.
Acara ini diikuti oleh seluruh peguyuban yang ada di Batam. Menyambut hari Kemerdekaan RI ke 78. Minggu 13 Agustus 2023. Dibuka oleh wakil Gubernur Kepri, Marlin Agustin yang didampingi oleh Walikota Batam yang juga suaminya yaitu Muhamad Rudi. Konon ada sekitar 5000 orang yang ikut pawai tersebut. Termasuk juga dari Guru, Murid , Mahasiswa, Ormas, PKK, Gow. Tak terkecuali IKB Ikatan Keluarga Bali yang hadir 100 orang yang dikoordinir oleh Dinas perumahan rakyat, pemukiman dan pertamanan kota batam.
Entah mengapa animo masyarakat Bali sangat kecil untuk ikut acara begini. Mungkin tidak tahan berpanas panasan. Padahal siswa siswi Hindu dibawah Pasraman Jnana Sila Bhakti mewajibkan hadir mengikuti pawai tersebut. Kurang lebih sepuluh orang siswa Hindu, diluar anak anak yang ikut mengiringi pawai dengan Baleganjur, berjumlah 12 orang dibawah koordinator saya.
Saya sendiri sebenarnya salah satu orang yang enggan berangkat. Tiga hari sebelum hari H saya berulang kali dihubungi oleh koordinator peguyuban. Diminta menampilkan gamelan bali baleganjur. Angkutan untuk Peralatan akan disediakan oleh pemko. Saya iyakan saja. Nanti saya koordinir dengan teman teman. Kata saya.
Ternyata dugaan saya benar. Dari quota peserta yang diharapkan hadir sebanyak 100 orang, paling kenyataannya hanya 50 orang. Ini saya hitung dari jumlah nasi kotak yang disediakan sebanyak 100 kotak, sisa ada 5 bungkus kali 10 kotak. Meskipun pada akhirnya habis juga karena beberapa orang bawa pulang beberapa kotak.
Sebelum hari H, yaitu saat persembahyangan Kuningan di Pura Agung, sangat mengherankan mengapa koordinator pawai tidak ada mengumumkan ulang perihal acara Pawai esok harinya. Malah yang diumumkan acara kegiatan yang masih jauh ada waktu. Saya waktu itu semakin ragu akan acara pawai tersebut. Jangan jangan saya kena frank lagi. Jangan jangan nanti ujung ujungnya saya juga yang diserahin. Dan ternyata benar, selesai acara satu persatu ijin pulang duluan karena ada keperluan.
Saya tahu hari itu juga ada acara tandingan oleh sekelompok warga Bali Hindu di wantilan Pura Agung. Sering sekali mereka mengadakan acara begini. Nguling, Ngelawar dan terakhir minum minuman keras yang bahkan sampai mabuk mabukan dikawasan Pura. Saya pribadi merasa prihatin melihat kondisi seperti ini. Entah orang lain.
Ya sepanjang bisa dinikmati kondisi seperti ini, ya kita nikmati saja.




