Minggu, 13 Agustus 2023

PAWAI BUDAYA


Tak terhitung sudah berapa kali saya mengikuti acara Pawai Budaya yang diselenggarakan oleh Pemko Batam dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI. Rela berpanas panasan dan rela basah kuyup jika hujan. Tidak pasti kadang dilaksanakan pagi sampai siang atau siang sampai sore, tergantung panitianya.

Acara ini diikuti oleh seluruh peguyuban yang ada di Batam. Menyambut hari Kemerdekaan RI ke 78. Minggu 13 Agustus 2023. Dibuka oleh wakil Gubernur Kepri, Marlin Agustin yang didampingi oleh Walikota Batam yang juga suaminya yaitu Muhamad Rudi. Konon ada sekitar 5000 orang yang ikut pawai tersebut. Termasuk juga dari Guru, Murid , Mahasiswa, Ormas, PKK, Gow. Tak terkecuali IKB Ikatan Keluarga Bali yang hadir 100 orang yang dikoordinir oleh Dinas perumahan rakyat, pemukiman dan pertamanan kota batam.

Entah mengapa animo masyarakat Bali sangat kecil untuk ikut acara begini. Mungkin tidak tahan berpanas panasan. Padahal siswa siswi Hindu dibawah Pasraman Jnana Sila Bhakti mewajibkan hadir mengikuti pawai tersebut. Kurang lebih sepuluh orang siswa Hindu, diluar anak anak yang ikut mengiringi pawai dengan Baleganjur, berjumlah 12 orang dibawah koordinator saya.

Saya sendiri sebenarnya salah satu orang yang enggan berangkat. Tiga hari sebelum hari H saya berulang kali dihubungi oleh koordinator peguyuban. Diminta menampilkan gamelan bali baleganjur. Angkutan untuk Peralatan akan disediakan oleh pemko. Saya iyakan saja. Nanti saya koordinir dengan teman teman. Kata saya.

Ternyata dugaan saya benar. Dari quota peserta yang diharapkan hadir sebanyak 100 orang, paling kenyataannya hanya 50 orang. Ini saya hitung dari jumlah nasi kotak yang disediakan sebanyak 100 kotak, sisa ada 5 bungkus kali 10 kotak. Meskipun pada akhirnya habis juga karena beberapa orang bawa pulang beberapa kotak.

Sebelum hari H, yaitu saat persembahyangan Kuningan di Pura Agung, sangat mengherankan mengapa koordinator pawai tidak ada mengumumkan ulang perihal acara Pawai esok harinya. Malah yang diumumkan acara kegiatan yang masih jauh ada waktu. Saya waktu itu semakin ragu akan acara pawai tersebut. Jangan jangan saya kena frank lagi. Jangan jangan nanti ujung ujungnya saya juga yang diserahin. Dan ternyata benar, selesai acara satu persatu ijin pulang duluan karena ada keperluan.

Saya tahu hari itu juga ada acara tandingan oleh sekelompok warga Bali Hindu di wantilan Pura Agung. Sering sekali mereka mengadakan acara begini. Nguling, Ngelawar dan terakhir minum minuman keras yang bahkan sampai mabuk mabukan dikawasan Pura. Saya pribadi merasa prihatin melihat kondisi seperti ini. Entah orang lain.

Ya sepanjang bisa dinikmati kondisi seperti ini, ya kita nikmati saja.

Kamis, 03 Agustus 2023

MAYADENAWA NGEGALUNG

Umat Hindu khususnya yang berada di Indonesia merayakan Hari Suci Galungan setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari. Itu perhitungan kalender Bali, 6 kali 35 hari. Tepatnya pada Hari Rabu Kliwon wuku Dungulan.

Banyak referensi dan sering diulas rentetan perayaan hari suci Galungan. Mulai dari Tumpek Wariga yaitu sekitar empat minggu sebelum wuku dungulan. Momen mengingatkan kita pada tanaman yang akan dipakai sarana di hari suci Galungan. Kemudian ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, yaitu biasanya membersihkan tempat tempat suci dan momen pembersihan secara rohani. dan rentetan terakhir setelah Galungan adalah Kuningan.

Eforia perayaan Galungan sangat terasa dengan ciri khasnya saat hari Penampahan yaitu sehari sebelum Galungan. Masyarakat Hindu biasanya pesta masakan khas Bali seperti Lawar, urutan, tum dan lain sebagainya. 

Pada hari Galungan biasanya umat Hindu melakukan persembahyangan baik bersama sama maupun pribadi ke tempat tempat suci dimana mereka berada. Umat Hindu road show dari pura satu ke pura selanjutnya, tergantung rute yang lebih simple. Terakhir biasanya malam hari dilaksanakan di Pusat Pura atau Pura yang dianggap utama. Seperti halnya di Batam, yaitu Pura Agung Amerta Bhuana.

Pada pagi hari saya bersama istri mengikuti persembahyangan bersama di Pura Sathya Dharma di Muka Kuning. Informasinya persembahyangan dimulai jam 8 pagi agar tidak terlalu panas. Ternyata jam 8 pagi umat hanya beberapa yang baru hadir. Memang rangkaian persembahyangan sudah dimulai. Kemudian sekitar jam 9 baru kemudian umat lebih banyak yang hadir, sehingga pelataran Jeroan hampir penuh. Ya berarti waktu terpagi umat bisa hadir itu jam 9 pagi.

Persembahyangan di Pura Satya Dharma dipimpin oleh Jro Mangku Agung Arif Suryanata didampingi istri. Saat Jro Mangku mulai membunyikan Gentanya saya perhatikan sepasukan monyet berdatangan dari dalam hutan. Ini yang kadang merusak konsentrasi saat sembahyang. Bagaimana tidak, monyet mencari kesempatan saat kita sembahyang. Jadi terpaksa sibuk sat set sat set ngusir monyet sambil sembahyang atau sembahyang sambil ngusir monyet.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pura yang berlokasi di komplek Polda Riau di daerah Nongsa. Kurang lebih jaraknya sekitar 30Km. Nama Puranya Pura Adistana Samanasya. Cukup sulit mengingat namanya dan melafalkannya. Lebih gampang disebut Pura Polda saja. Ini  pertama kali saya kesana, sempat bertanya kepada polisi yang saya jumpai, dan dengan ramahnya polisi tersebut menunjukkan lokasi Pura. Bersebelahan dengan Gereja, tepatnya disamping atas lapangan bola. Di sana juga dilaksanakan persembahyangan pagi, saat saya dan rombongan tiba, persembahyangan bersama sudah usai. Akhirnya sembahyang sendiri sendiri. Kamipun pamitan setelah bersalam salaman dengan “tuan rumah” dan beberapa umat yang masih menunggu di aula Pura, bersebelahan dengan bangunan Pura.

Pada malam harinya persembahyangan bersama dipusatkan di Pura Agung. Disini dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa. Umat memang cukup banyak yang hadir. Terbukti diakhir persembahyangan MC menyampaikan dana Punia yang terkumpul sekitar 4 jutaan. Rangkaian acara persembahyangan seperti biasanya. Hal yang cukup beda dan ada kemajuan dimana pendharmawacana dibawakan oleh ketua bidang Perencanaan dan Pembangunan Pura Agung yaitu I Gusti Ngurah S. Tema yang dibawakan adalah Mitologi atau cerita Mayadenawa dan kaitannya dengan Hari Raya Galungan. Cerita klasik yang populer di Bali. Yang melahirkan adanya perayaan Galungan. Pesan terselip diakhir dharma wacanya bahwa kita sebagai orang tua harus menjaga anak cucu kita agar tidak terpengaruh oleh ajaran Mayadenawa yang saat ini berubah wujud menjadi ajaran ajaran yang menyimpang dari ajaran hindu Bali. Sudah mulai ada membuat caru yang tidak boleh memakai daging atau hewan. Begitu katanya. Inilah sebenarnya benang merah yang mau disampaikan oleh pendharmawacana. Padahal sifat sifat Mayadenawa ada di setiap orang. Tidak jauh jauh. Dalam Kakawin Ramayana disebutkan “ragadi musuh maparo, ri hati ya tongganya, tan madoh ring awak”. Apakah ini  seperti pepatah Bali, bagaikan mungutin buah gatep (sejenis jengkol) pilih pilih mana yang berisi mana yang kosong.

Suksma