Kamis, 13 Juli 2017

Ilustrasi dalam Cerita

Mungkin ini adalah pengalaman yg tak terlupakan, kejadiannya saat pulang dari latihan megambel (seni karawitan Bali) di pura. 
Jam sudah menunjukkan waktu menjelang tengah malem, saya starter mobil butut sambil mendengarkan music yang bukan dari tape player audio mobil karna mobil tak ada tapenya, melainkan dari hp. Ada beberapa lagu hits sperti I’am the one dari Justin Bieber, Galway Girl – ed sheeran, castle on the hill –ed sheeran, sampai lagu chicken kook doo koo. Semua lagu itu diberikan oleh anak saya yg paling kecil yg baru berumur 8 tahun yg sempat membuat saya heran kok dia tau lagu-lagu orang dewasa begitu. 
Belum habis satu lagu kira-kira setelah jalan 1 kilometer sesampai di seberang gerbang southlink kok kliatan ada seorang wanita di keremangan yg kebetulan lampu jalan dihalangi pepohonan. Dari sekitar seratus meter kelihatan dia pake rok mini dan pakai kaos agak ketat sehingga kelihatan bentuk bodynya. Tangan kirinya digerakkan tanda nyetop taksi. Sayapun menepi meski saya bukanlah supir taxi, tadinya sempat bimbang. Kok cewek malem2 gini sendirian di tempat sepi. 
Setelah masuk mobil cewek itu duduk dibelakang, saya tanya mau kemana dik. Suaranya lembut hampir tak terdengar entah bilang mau kemana. Disamping itu lagu2 di hp masih bunyi, dalam hati saya ah biarin lah biar sedikit gaul. Mobil butut saya pun melaju pelan, saya putar dikit kaca spion di atas kepala agar bisa nyuri-nyuri pandang wajah cewek itu. Saat wajahnya diterpa sinar lampu mobil dari depan, kliatan wajahnya mulus, bibirnya tipis, alisnya juga tipis nyerarit. Dia tetap sibuk dengan hp yg dipegangnya. Saya cuman nyanyi-nyanyi kecil nirukan lirik lagu di hp saya, mau ajak ngobrol kok ragu, sempat merinding juga apa ini cewek beneran atau apa. Ihhh bulu kuduk saya berdiri. Saya berusaha menginjak gas agar cepet sampai, tapi namanya mobil butut ya lajunya stabil segitu aja. Sesampai di simpang sei harapan dia tetep diem, sampai tiban koperasi juga diem, saya terus melaju. Kirain turun di mata kucing, tapi kok diem aja. Sempat juga terlintas dipikiran, seandainya saya masih muda lagi, seandainya, seandainya ahhh. Seribu pikiran jahat melintas dipikiran. Setelah melewati kuburan temiang dia minta turun. Kiri bang, kata dia. Kok ditempat gelap gini, di depan dikitlah terang, kata saya. Ndak disini aja, kata dia. Kali ini suaranya agak jelas. Akhirnya dia turun, saya melirik dan kliatan dia merogoh sakunya, namun belum sempat membayar ongkos, tanpa dikomando kaki nginjek gas sampai mentok dan akhirnya saya sampai dirumah. Saya ngebayangin bagaimana seandainya cerita ini bener terjadi. Ih ngeri juga ya.