Sabtu, 25 Maret 2023

DIALOG RUKUN



 Jumat 24 Maret 2023 bertempat di swissbell Hotel harbour bay Batam. Saya berkesempatan menghadiri undangan dari pemko Batam yaitu Badan Kesatuan Bangsa dan Politik ( kesdangpol). Mewakili majelis agama Hindu. Dialog kerukunan dengan tema ‘keberagaman sebagai modal demokrasi’. Acara dimulai pukul 15.30 sampai selesai yang sekaligus adalah berbuka puasa bersama.

Undangan di share di grup pada pagi harinya oleh ketua Lembaga Agama Hindu. Khususnya di banjar saya, seperti biasa kalau ada tawaran menghadiri suatu pertemuan, pada sepi tidak ada yang unjuk tangan. Akhirnya saya bersedia kalau ada teman dari satu banjar saya. Ternyata semua sibuk kerja. Tidak ada yang bisa berangkat. Saya coba tanya kawan ke banjar lain. Rupanya gayung bersamput. Mencari 5 orang, di banjar sana sudah ada 3 wanita dan satu laki laki yang bisa hadir. Berarti kurang satu. Kemudian saya diikutkan. 

Saya berangkat sendiri pakai mobil. Yang empat orang sudah duluan. Sampai di lokasi jam 15.45. tempat duduk baru terisi separonya. Namun demikian acara tetap dimulai. Sambutan demi sambutan disampaikan oleh para pejabat yang berwenang. 

Hadir sebagai narasumber yaitu kepala kantor kementerian agama kota batam Dr. H. Zulkarnain, S. Ag., M.H. dan Dr. Drs I Wayan Catra Yasa, M.M sebagai ketua Parisada Kepri. Pemaparan presentasi materi kedua narasumber kurang lebih selama satu jam. Karena terbatas oleh waktu berbuka puasa.

Kemudian sekitar 45 menit diberikan kesempatan kepada Perwakilan majelis majelis agama yang ada di Kota Batam, tokoh tokoh masyarakat Batam, dari TNI Polri, Lembaga Adat Melayu untuk menyampaikan pandangannya tentang keberagaman sebagai modal demokrasi yang menjadi tema dialog tersebut.

Dari Hindu kebetulan saya yang ditunjuk oleh narasumber yang membisiki moderator untuk sedikit memberikan komentar tentang dialog sore itu. Inilah pertama kali saya berbicara ditengah tengah umat beragama, lintas agama lintas suku, daerah.

Menjelang menit menit berbuka puasa, acara dialog ditutup untuk kemudian menikmati hidangan buka puasa bagi yang puasa. Beraneka hidangan, makan besar, soto medan, aneka kue, aneka buah, es, dan lain lainnya. Pokoknya saya perhatikan makanan berlimpah. Mungkin separonya tidak habis. Rata rata orang ambil makan sedikit kemudian pergi.

Lumayan peningkatan gizi.


Selasa, 21 Maret 2023

PERAYAAN NYEPI 2023 DI BATAM

 


Untuk tahun 2023 atau tahun caka 1945,sampai pada acara pengerupukan sudah berjalan aman dan lancar. Sejak terbentuknya kepanitiaanboleh dibilang jarang rapat. Bahkan hanya dua kali sampai saat ini. Rapat pertama fokus pada acara Nyepi yang dipimpin oleh wakil ketua panitia yaitu I made Sudarta. Itu awal bulan maret 2023. Kemudian rapat kedua mencakup acara Dharma santi. Yang saat rapat belum dipastikan kapan dilaksanakan.

Apakah ada rapat rapat terbatas diluar dua rapat yang saya sebutkan di atas? Saya tak tahu. Saya lihat waktu dan tenaga semua tertuju ke pembuatan ogoh-ogoh. 

Saya coba iseng bertanya di group WA panitia, yang nama grupnya grup terbatas panitia nyepi dan dharmasanti. Tak habis pikir dan sulit dicerna akal sehat, mengapa harus grup terbatas. Untuk apa bikin grup kalau terbatas orang dan terbatas yang dibahas. Saya menanyakan boleh tidak SK panitia Nyepi dishare di group atau ke japri saya. Saya juga perlu koordinasi dengan personal seksi lain.

Tidak ada yang merespon saya di grup. Padahal itu dua hari menjelang acara melasti. Ada yang bertanya di grup, kapan sih acara melasti. Kapan sih acara pengerupukan. Apakah yang bertanya ini karena memang tidak tahu atau hanya basa basi. Sepertinya sih bukan basa basi. Karena yang bertanya kebetulan menghandle konsumsi. Lha ya tentu khawatir juga dengan konsumsi apakah order atau masak masak. Sementara, waktu semakin mepet.

Akhirnya saya dichat di japri oleh ketua panitia, ternyata dia tidak nyambung dengan maksud saya. Dia malah menekankan kesaya bahwa sekeha gong terlibat dalam tiga acara yaitu melasti, pengerupukan dan dharmasanti. Hadeuh, gerutu saya.

Untung kemudian sekretaris cepat bertindak. Dia share di group SK kepanitiaan sehingga saling tahu siapa menghandle bagian apa. Semua yang terlibat di kepanitiaan nomornya dimasukkan ke group. Nama group juga diubah. Cukup group nyepi dan dharmasanti. Diskusipun terus berlanjut.

Acara melasti pada Minggu 12 Maret 2023, sudah rutinitas. Berjalan apa adanya. Sekembali dari melasti dapat makan malam yang disediakan oleh panitia. Seksi konsumsi melaksanakan masak masak dari pagi harinya.

Acara kedua yaitu pengerupukan dan pawai ogoh-ogoh. Euforia pawai yang sempat absen selama 3 tahun selama pandemi kini sangat terasa gairahnya. Dari pemerintahan juga diundang pada acara tersebut. Walikota yang juga diundang namun tidak sempat hadir dan diwakilkan oleh kepala dinas pariwisata.

Berikut saya copy paste narasi tentang nyepi oleh bimas hindu kantor kementerian agama kepri.

Batam, 21 Maret 2023

Dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 / 2023 Masehi, umat Hindu di Kota Batam melaksanakan rangkaian pelaksanaan Hari Nyepi yang didahului dengan Upacara Melasti yang sudah dilaksanakan pada Minggu, 19 Maret 2023 bertempat di Waduk Sei Ladi, yang mana Melasti mempunyai makna Pembersihan Sarana dan Prasarana Upacara serta Pembersihan Bhuana Agung atau Alam Semesta dan Bhuana Alit atau manusia itu sendiri, dan hari ini Selasa, 21 Maret 2023 dilaksanakan upacara Tawur Kesanga sebagai simbolis untuk menetralisir kekuatan alam yang sifatnya mengganggu kehidupan manusia untuk diberikan persembahan berupa Caru yang bertempat di pelataran parkir Pura Agung Amerta Bhuana, dan acara ini nantinya akan disejalankan dengan pawai atau arak-arakan Ogoh-ogoh sebagai perlambang Bhuta Kala, namun sebelum itu dilaksanakan akan di dahului dengan Persembahyangan Bersama oleh seluruh umat Hindu yang ada di Kota Batam kurang lebih berjumlah sekitar 400 Jiwa, acara ini dipimpin oleh Pinandita Jero Mangku Putu Satriayasa.

Hadir dalam kesempatan tersebut Kadis Pariwisata Kota Batam, Kepala Kemenag Kota Batam, Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Kepulauan Riau, Ketua PHDI Kepri, Ketua WHDI Kepri, Penyelenggara Hindu Kemenag Kota Batam, Pini Sepuh umat Hindu serta Pengurus Lembaga Agama dan Keagamaan Hindu yang ada di Kepulauan Riau.

Dan yang paling bertanggung jawab dalam pelaksanaan Upacara ini adalah Ketua Badan Otorita Pura Agung Amerta Bhuana (Bapak Made Sudarta).

Selesai acara pawai Ogoh-ogoh, maka Ogoh-ogoh itu akan di Somya atau di Pralina di sekitaran areal parkir Pura.

Keesokan harinya umat Hindu akan melaksanakan Catur Brata Penyepian yaitu empat larangan  Nyepi antara lain :

1. Amati Karya yaitu tidak boleh bekerja atau melakukan aktivitas.

2. Amati Geni yaitu tidak boleh berapi api atau menggunakan api, terutama api yang ada dalam diri.

3. Amati Lelungan yaitu tidak boleh bepergian, dan

4. Amati Lelanguan yaitu tidak boleh menikmati hiburan.

Pelaksanaan Catur Brata Penyepian berlangsung selama 24 jam, dimulai dari jam 06.00 pagi tgl 22 Maret sampai dengan jam 06.00 pagi tgl 23 Maret 2023.

Dan sebagai upacara penutup dari rangkaian Nyepi adalah Ngembak Geni yaitu sebagai pertanda berakhirnya rangkaian hari Nyepi, dan sebagai rasa angayubagia  tanda syukur kepada Ida Hyang Widhi, maka pada saat itu umat Hindu akan melaksanakan Dharmasanthi sebagai wujud Simakrama dengan intern umat Hindu, antar umat Hindu dan umat beragama lainnya dan antara umat Hindu dengan pemerintah dengan saling bermaaf maafan yang nanti menurut rencana akan dilaksanakan pada tgl 6 Mei 2023.

 

Narator :

Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Riau


Senin, 06 Maret 2023

SOSIALISASI POOLING 5 MARET 2023?

Anom Gunawan, persiapan presentasi


Pertemuan banjar batu aji timur dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 5 Maret 2023 bertempat di perumahan Taman Lestari, di rumah warga Hindu yaitu I Putu Nila.

Ketika saya datang acara sudah dibuka oleh tuan rumah dan klian banjar. Ada tiga tamu undangan, yang merupakan orang orang penting di warga Hindu di Batam. Ketua Parisada Batam I Ketut Suwitra SH, Ketua Badan Otorita Pura Agung, I Made Sudarta dan Arsitek pembangunan Pura Agung, Anom Gunawan.

Rapat sempat berhenti sejenak karena ada salah satu umat yang harus dilarikan ke rumah sakit karena ada gangguan kesehatan, suasana rapat jadi sedikit rasanya kurang nyaman. Sementara waktu semakin malam.

Setelah ada kata pendahuluan dari ketua Parisada dan ketua BOP, giliran Anom yang memaparkan Master Plan Pura Agung Amerta Bhuana. Sayangnya Master Plan pertama tidak ditunjukkan. Langsung ke Master plan kedua. Perubahan mendasar adalah relokasi bangunan Sri Lalita. Yang katanya menurut Master Plan yang ada di IMB, bangunan Sri Lalita semestinya letaknya di lokasi yang rencananya yang akan direkomendasikan sekarang. Posisinya sebelah kanan dari hadap depan gedung sekretariat Parisada Kepri. Tanahnya miring atau jurang. Katanya sudah dipikrkan dampaknya jika direlokasi kesini. Masalah keamanan, masalah lalulintas kendaraan.

Di lokasi bekas sri lalita katanya akan dibangun taman agar lingkungan indah. Disampingnya akan dibangun gedung serba guna. Untuk kesenian, pentas seni dan dharma santi. Jadi tidak repot lagi nyari lokasi dharma santi. Juga akan dibangun memanjang ruko ruko untuk jualan cendera mata.

Apakah ini sengaja penggiringan opini. Saya tak tahu. Sebelumnya tidak ada disinggung bahwa pertemuan tersebut adalah mengadakan polling. Ada dua pilihan, tidak relokasi atau relokasi. System polling juga dilakukan terbuka. Ditanya satu satu kepala keluarga. Tentu hampir semua pilih relokasi. Hanya satu yang menyatakan tetap dilokasi lama. Hati saya sebenarnya juga menginginkan tetap dilokasi lama. Sekali lagi ini karena penggiringan opini. Terpaksa saya juga pilih relokasi saja.

Ada dua hal yang saya sampaikan. Pertama, dengan keinginan umat yang mayoritas menginginkan relokasi, apakah dari pihak kita punya kekuatan untuk memerintahkan pihak sri lalita untuk relokasi. Sempat disampaikan oleh ketua BOP bahwa sampai saat ini tidak ada titik temu antara keinginan pihak Pura dengan pihak sri lalita. Hal ini langsung ditanggapi oleh narasumber, bahwa kitalah yang menentukan relokasi atau tidak. Sri Lalita tidak memiliki hak membangun disana. Secara hukum mereka yang salah. Demikian katanya. Wah wah, dalam hati saya bicara, kalau demikian halnya, kenapa tidak dari dulu, mengapa sampai berlarut larut sampai sekarang tidak ada realisasi.

Yang kedua, issue ini sudah setahun bergulir. Berkali kali rapat. Surat suratan. Tidak ada kesepakatan. Rapat satu dengan yang lainnya tidak singkron. Tidak menjurus ke akar permasalahan. Ya karena tidak bisa merumuskan masalah. Tiap kali rapat, pembicaraannya simpang siur melebar entah kemana. Harusnya punya target. Kapan masalah ini harus bisa selesai. Kalau tidak ada target maka akan selamanya ngambang. Issue tetap simpang siur yang justru akan semakin menimbulkan gesekan antar umat Hindu. Usul saya ini langsung ditanggapi, enam bulan katanya. Yuk kita sama sama monitor.