Senin, 23 Maret 2020

PESAWAT ANGKOT

Kini naik pesawat bukan terkesan wah lagi. Entah mulai kapan makan di pesawat ditiadakan. Padahal dulu jauh dekat pasti dapat makan. Surabaya denpasar yang hanya ditempuh beberapa menit saja juga dikasi makan. Saya merasakan dapat makan di pesawat itu enak sekali rasanya. Bagi sebagaian orang naik pesawat adalah moment atau kesempatan berharga karena bisa mengambil wadah makanan yang ada merk maskai tersebut. Seperti sendok, garpu, piring dan mangkok kecil.
Kini itu semua tidak ada lagi di semua penerbangan. Dapat makanan pengganti kerugian jika keberangkatan pesawat delay 1 jam.
Sekarang kru pesawat menjajakan makanan dan sebagainya di pesawat dengan troley saat pesawat sudah terbang pada ketiggian stabil dan berakhir 20 menit sebelum pesawat mendarat. Saya jarang pesan makanan di pesawat karena harganya berkali kali lipat dari harga normal. Kecuali saya naik pesawat dengan anak kecil saya dan kebetulan dia tidak tidur. Disanalah saya lihat anak saya sangat menikmati makanan di pesawat meski hanya mie gelas dan air putih.
Terbersit pikiran apakah suatu saat nanti akan ada pengamen juga di pesawat seperti halnya di bus antar kota. Semoga saja tidak. Akan semakin jauh dari kenyamanan.
Dulu naik pesawat rasanya sangat elit karena bersih. Namun saat ini sudah jauh dari kesan tersebut. Saya sempat memperhatikan Jok tempat duduk saat naik pesawat salah satu maskapai.
Dibawah ini adalah photo salah satu kursi pesawat terbang yg saya tumpangi tgl 22 maret'20 dari batam menuju sby dengan no penerbangan JT0970. Saya, Istri dan anak saya kebetulan duduk bertiga di seat 17A,B,C. Sambil nunggu take off coba nyari2 bahan bacaan. Kaget bercampur heran betapa kotornya jok/ sarung jok ketika saya mau buka kantong jok di depan saya. Bagaikan tempat duduk angkot yg tidak terawat. Saya tengok tempat duduk yang lainnya juga sama. Lantainya yang dari karpet juga sudah kelihatan lusuh. Kotor seperti tidak di vacuum. Padahal ini pesawat Boeing 737-900ER. Saya buka-buka majalah maskapai tsb. banyak topiknya tentang kesehatan/ kebersihan, seiring dengan wabah virus corona. Semoga ada perhatian



SAYA BUKAN SIAPA SIAPA

Akhirnya saya beserta anak dan istri saya pulang ke Bali tanggal 22 Maret 2020. Sejujurnya saya merasa sedih ketika istri saya nanya saat keluar dari ruang kedatangan, ‘siapa yang jemput kita’?, Tanya istri saya. Saya bilang kita naik taxi saja. Meski terasa asing sekali alias kagok. Dimana harus nunggu taxi, mana yang namanya gedung parker. Mana lift parker.

Seakan saya tidak punya siapa-siapa.

Adik tidak bisa jemput dengan mobil bututnya karena sibuk persiapan upacara mendiang ayah saya. Bersama masyarakat. Kebetulan kakak di Surabaya sudah duluan pulang, bahkan bawa dua mobil, stand by. Jarak bandara dengan kampong lumayan jauh. Apakah taxi mau sampai di kampong.
Saya coba pancing perasaan kakak. Kebetulan jenazah ayah masih dititip di rumah sakit di desa kapal (di kota). Apakah tidak ada rencana ‘memunjung’ ke rumah sakit. Yaitu membawakan sajen dan 'makan' untuk orang meninggal yang dianggap masih hidup. Syukurlah, ada kesamaan pikiran. Bisa jumpa di rumah sakit. Saya bertiga naik taxi dari bandara menuju rumah sakit kapal. Rombongan kakak bawa mobil yang disupiri oleh tetangga. Meskipun saya denger kabar, istri kakak saya tidak iklas sekalian jemput saya. Kenapa saya ndak naik taxi saja sampai di rumah. begitu kata isu yang saya denger.

Akhirnya bertemu di rumah sakit. Kebetulan hari libur, diminta masuk lewat pintu belakang. Kebetulan kamar jenazah deket pintu belakang. Belakang Rumah Sakit ada tanah kosong untuk parkir kendaraan.

Dalam perjalanan pulang sempat mampir di pasar 'senggol' tabanan kota. Ini pasar favorit saya waktu kecil. Betapa senangnya jika diajak orang tua mampir ke pasar senggol. Beli sate kambing atau tahu tipat. 

Dari jalan raya menuju rumah, tepatnya dari pertigaan Pucuk, di ujung jembatan baru, disinilah pertigaan yang penuh kenangan saat saya sekolah di kota maupun saat saya kuliah di UGM Jogja. Sampai di simpang jalan inilah saya biasa nunggu ankutan umum, atau nunggu bus malam ke Jogja. Begitu juga sebaliknya jika saya pulang ke kampung. Di simpang inilah biasanya saya turun menunggu di jemput bapak saya. Dari simpang ini menuju desa dalang, jalan desa sudah sejak lama kondisinya rusak. Boleh dibilang parah. Lobang sana sini. Memperihatinkan. Jika ada kendaraan khususnya mobil yang datang dari arah berlawanan, salah satu harus menepi.

Selama melintasi jalanan rusak, saya berpikir bagaimana saya menuju rumah jika tidk ada tumpangan. Teringat waktu SMP dulu di tahun 77 – 79, harus jalan kaki sejauh kurang lebih 12 Km dari jalan raya menuju rumah. Karena tidak ada kendaraan. Atau kalau kebetulan ayah saya tidak bisa jemput.
Saya sadar, saya bukan siapa siapa, ternyata.  Mencari rumah dimana dulu dilahirkan kok betapa sulitnya.

Selasa, 03 Maret 2020

Ogoh-ogoh 2020

Antara pemborosan dan manfaat.
ogoh-ogoh 2020


Setiap tahun umat hindu di kota Batam khususnya membuat ogoh-ogoh. Pertama kali pada tahun 2012. Sejak itu pula alasan mengapa ada pawai ogoh-ogoh. Katanya untuk menunjang pariwisata. Tentu selain alasan ritual.

Pernah satu kali pawai dengan mengarak ogoh-ogoh dilaksanakan di seputaran engku putri. Diakhir acara ogoh-ogoh juga dibakar di alun-alun engku putri. Saat itu juga sepertinya ada hadir dari dinas pariwisata batam. Dia berjanji akan mensupport acara ini untuk menarik wisatawan ke batam. Tapi, hanya sebatas wacana. Tidak pernah terealisasi. Bahkan ada juga umat hindu yang bergerak di bisnis pariwisata. Sering juga berjanji bakal menjembatani kegiatan kebudayaan dengan pemerintah daerah. Tapi seingat saya ndak pernah terwujud.

Membuat satu ogoh-ogoh memerlukan dana yang tidak sedikit. Sekitar 10 sampai 15 juta jika dihitung termasuk ongkos pembuatannya. Pengerjaannyapun biasanya butuh waktu lebih dari satu bulan. Itupun biasanya pengerjaannya secara keroyokan untuk menghemat ongkos pengerjaan.
Hamper tidak ada sisi negative yang bisa dikatakan. Dengan catatan kalau kita mau membuang sisi negatifnya. Pembuatan ogoh-ogoh mempererat tali persaudaraan, memupuk jiwa gotong royong. Yang tidak kenal menjadi saling kenal. Yang sudah kenal menjadi semakin akrab. Sebagai daya tarik umat untuk ikut upacara tawur kesanga atau pengerupukan. Bisa jadi pengerupukan akan sepi jika tidak ada pawai ogoh-ogoh. Para pemudanya tidak akan datang. Begitu rumornya. Masyarakat batam menjadi tahu tentang keberadaan umat hindu di batam.

Tidak tanggung-tanggung, tahun ini katanya akan ada 3 buah ogoh-ogoh. Satu buah dari anggaran panitia nyepi. Satu dari swadaya umat HIndu. Satu lagi sumbangan dari salah satu umat yang punya jiwa seni. sebagai penyaluran hobby dan jiwa seninya. Yang pertama adalah ogoh-ogoh untuk bapak-bapak, yang kedua untuk ibu-ibu dan yang ke tiga untuk anak-anak. Semangat umat Hindu di Batam memang patut diacungi jempol.

Di sisi lain masih butuh biaya yang sangat besar untuk kelangsungan pembangunan Pura Agung. Bagimana kalau biaya ogoh-ogoh yang puluhan juta itu dialihkan ke pembangunan. Masih banyak pembangunan yang tertunda. Tapi itu kalau kita berpikirnya ke sana. Kembali lagi ke alasan di atas.
Di sisi yang lainnya lagi, ada usulan membuat taman di areal pura. Untuk memperindah Pura, katanya. Padahal kalau saya pikir, apa bedanya membuat ogoh-ogoh dan membuat taman. Yang membedakan hanya waktu. Bikin ogoh-ogoh bisa cepat selesai, dan begitu prosesi selesai langsung dibakar dan habis tak berbekas. Hanya menyisakan catatan pengeluaran. Bikin taman perlu waktu yang lebih panjang. Saat pembuatan, kedua hal tersebut mempunyai ambisi yang sama. Berapapun tambahan biayanya pasti tertutupi. Seiring berjalannya waktu, taman juga akan hilang. Tidak ada planning perawatan. Merawat yang sudah ada biasanya jauh lebih susah dari pada membuat yang baru.

Ogoh-ogoh; perlu biaya, ada nilai seni, ada nilai ritual, cepat sirna. Taman; perlu biaya, ada nilai seni, tidak ada nilai ritual, sirnanya lama. (igstng)