Kamis, 29 Agustus 2019

Tokoh Agama

Di Indonesia saat ini diakui ada 6 Agama resmi. Konghucu adalah agama resmi yang terakhir diakui Negara. Saya pikir sebagian besar tahu agama apa saja. Islam, Kristen, katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.
Undangan dari wali kota batam. Kepada para tokoh agama di batam.
Acara Silaturahmi Pimpinan Forum Koordinasi Perangkat Daerah (FKPD) dengan Tokoh Agama kota Batam tanggal 28 Agustus 2019, hari Rabu. Undangan disampaikan lewat penyelenggara Hindu Kota Batam. Dihimbau para ketua lembaga agar bias hadir di acara tersebut. Terutama ketua Parisada Kota Batam dan Ketua Wanita Hindu kota Batam wajib hadir karena ada penandatanganan kesepakatan bersama.
Bertempat di Aula Engku Hamidah kantor walikota batam, jam 10.00 sampai selesai.
 Paling tidak ada 3 perwakilan Hindu di sana. Ditambah satu tokoh Hindu yang datang menyusul.
Photo Papan kesepakatan bersama di share ke grup WA. Ternyata kolom untuk perwakilan Hindu tidak ada. Lha wong nama perwakilan agama lain semua ada, termasuk Konghucu. Coba perhatikan Photo di bawah. Kasak kusuk dan sangat marah dalam hati. Begitu pengakuan salah satu yang saya hubungi.
Saya malah menyarankan agar lembaran kesepakatan tersebut jangan dipakai. Bila perlu pergi meninggalkan tempat acara.
Ini masalah serius. Malah sensitive. Jika dibiarkan, kedepannya pasti juga akan terjadi. Bagaimana jika kejadian ini terjadi pada agama lain? Cukupkah panitia bilang maaf, ini tidak disengaja, hanya kelupaan. Apa kita cukup bangga memaafkannya?
Anehnya di share di grup, ndak ada yang berani komentar. Apa yang harus dilakukan. Apa pura pura tidak baca. Mustahil!. Coba kalau ada info ngajak makan-makan atau masak-masak, ngelawar. Seketika rame tanggapannya.
Photo pertama.


Tentunya sangat bersyukur kita punya tokoh agama yang mumpuni. Sepak terjangnya sudah seharusnya dihormati, diperhitungkan. Baik dari internal maupun external. Wali kotapun akhirnya di lobi karena ini adalah acara wali kota. Hanya dalam hitungan menit, lembaran kesepakatan yang baru sudah bias datang. Artinya apa. Kita harus berani bersuara. Jangan ngedumel di kamar mandi sendiri.

Photo kedua.


Senin, 26 Agustus 2019

PEMBINAAN UMAT HINDU BATAM

Jumat 23 Agustus 2019 bertempat di Aula Pasraman Jnana Sila Bhakti Batam,  umat Hindu khususnya yang berada di Batam, mendapat pembinaan dari ketua Prajaniti Pusat dan Pengurus Parisada Pusat. Untuk mengisi waktu kosong beliau sebelum menjadi narasumber di acara Dharma Camp siswa pasraman untuk tingkat SMP. Acara Dharma Camp diselenggarakan selama dua hari yaitu pada Sabtu 24 Agustus siang sampai Minggu 25 Agustus Sore.
Acara Pembinaan tersebut dimulai pukul 20.30 molor 30 menit dari jadwal yang ditentukan. Narasumber baru tiba di Batam sekitar pukul 18.00. terus check in hotel dan makan malam.
Sekitar 60 orang peserta siap menanti kehadiran KS Arsana di aula pasraman yang ‘hangat’. Sedianya acara ini dikhususkan bagi pasangan yang sudiwadani saja. Namun nyatanya hanya sebagian kecil peserta yang pasangan sudiwadani yang hadir. Selebihnya adalah peserta umat umum.
Secara logika acara seperti ini seharusnya dihadiri oleh antusias umat Hindu yang tinggi. Namun kenyataannya yang hadir hanya beberapa persen dari seluruh umat hindu di batam. Apakah ini artinya tingkat kesibukan umat Hindu di Batam untuk urusan duniawi cukup tinggi?
Di suatu kesempatan, ketua lembaga hindu menghimbau dan menhajak seluruh umat Hindu untuk lebih memperdalam ajaran agamanya. Terutama bagi pasangan yang mengikuti sudiwadani. Pernikahan bukan hanya semata-mata karena cinta. Namun jauh dari itu suami harus mampu memberikan pemahaman agama yang lebih jauh kepada istri. Jangan sampai nelpon tengah malem hanya untuk menyampaikan rencana pisah sebagai suami istri. Demikian ketua lembaga mencontohkan.
Tema dari pembinaan tersebut yaitu Mewujudkan keluarga Sejahtera Melalui Peningkatan Crada dan Bhakti. Lebih specific, KS Arsana menyampaikan materi pembinaan dengan judul Menjadi Dharmika. Memaparkan tentang ajaran Hindu dengan contoh-contoh yang mudah dipahami dan masuk akal.
Dipenghujung acara, pasangan yang pernah disudiwadani diminta maju berpasangan suami istri, mengungkapkan perasaannya masing-masing. Bahkan ada yang sampai berlinang air mata.
Testimony bagaimana pengalaman seorang istri semenjak memeluk Hindu. Rata-rata mengatakan bangga dan merasa damai. Begitu juga ada satu keluarga yang beberapa tahun yang lalu melaksanakan sudiwadani, kembali ke jalan Dharma. Sampai matipun akan tetap di jalan Dharma.
Acara berakhir pukul 11.30 tengah malam. Masih dilanjutkan keesokan harinya sabtu pagi.
Igstng2019









Tiap tahun ada acara dengan Tema ini.
Kali ini saya perhatikan judul spanduknya
sudah benar

Rabu, 21 Agustus 2019

KETIKA NAKHODA BERGANTI

Ketika Nakhoda Berganti, ombak datang, kapal oleng, para perompak menyelamatkan dirinya masing2.
Kenapa saya susah menilai seseorang disini. Siapa teman siapa, siapa lawan siapa. Yang dulunya saya lihat akrab sekarang jaga jarak. Yang dulunya saling cuek, sekarang saling berangkulan. Dulunya kliatan seseorang berjasa sekali baik terhadap perusahaan maupun pribadi, sekarang dicuekin. Bahkan ada yang di phk karena mungkin sudah tidak ada artinya di matanya.
Sementara saya cuek cuek saja. Ndak pernah pro ke siapa-siapa. Semua saya jadikan teman. Cumin ke teman tertentu saya sedikit jaga jarak.
Dalam hati saya hanya senyum-senyum. Kalau memperhatikan situasi di sini. Pokoknya kalau dipikir malah jadi mbulet. Ribet. Dulu satu kapal, sekarang saling serang. Terlalu banyak isu. Isu kantin kek, isu taman, isu sepatu, isu uniform. Bahkan sampai ke isu mobil.
Intinya, orang luar terlalu banyak ikut campur urusan PT. bukan Cuma ikut campur, tapi malah ingin jadi penentu. Missal ada karyawan yang tidak dia sukai, jika karyawan kontrak pasti tidak boleh diperpanjang. Hebat. Padahal hanya berawal dari jualan kantin. Kini lagaknya melebihi direktur. Maklum istri lokalnya direktur adalah orang yang punya kantin. Inilah awal kisruh dalam perusahaan.
Belum lagi isu pengalihan modal perusahaan ke perusahaan milik keluarga kantin. Ini sangat krusial. Bias jadi bekerjasama dengan konsultan bayaran perusahaan. Seolah tidak ada yang dilanggar. Seharusnya selisih keuntungan perusahaan menjadi harta pemilik perusahaan atau pemilik modal.
Misalnya kalau kita berjualan. Untung 10 rupiah. Yang dilaporkan ke perpajakan 5 rupiah, dan dilaporkan ke induk perusahaan juga 5 rupiah. Nah yang 5 rupiah lagi disimpan tidak dilaporkan kemana-mana. Dalam kurun waktu sekian tahun yang 5 rupiah 5 rupiah tersebut terus berakumulasi. Inilah yang disinyalir digelapkan oleh para petinggi yang bias di ajak kong kalikong. Berbeda dengan perusahaan milik Negara. Bias diaudit oleh bpk atau kpk.
Kini nakhoda kapal berganti. Entah apa gebrakannya untuk eluruskan laju kapal. Yang jelas para perompakpun sudah kasak kusuk mendekati nakhoda baru.
Selamat menikmati.


Senin, 19 Agustus 2019

ITU PURAKU

Secara sepontan itulah kalimat yang terucap dari seorang anak kecil. Kami memasuki areal Pura tepatnya disamping parkiran pura agung, atau biasa disebut parkiran Kak Dadut. Baru saja pulang dari mengikuti pawai Budaya dan Pembangunan hari kemerdekaan RI ke 74 di komplek RH Fisibililah batam center. Mengambil rute dari depan edukits menuju simpang lampu merah Gelael.
Nama lengkapnya saya lupa, biasa dipanggil Nanda yang pernah saya tulis disini juga, yang saya provokasi di grup WA, minta bantuan yang bias ngurus sekolahnya, yang sudah 2 tahun putus, pindah dari Palembang.
Kebetulan Nanda dan Ibunya ikut satu mobil dengan saya sekeluarga. Disamping jalan masuk akses ke pura, ada beberapa orang berboncengan motor, ada sekitar 6 motor. Spontan si Nanda itu bilang, lho ada apa orang itu ke Pura kami. Ini Puraku lho. Meski hanya berucap dalam mobil, tapi ucapannya yang polos membuat saya kagum. Terlepas apakah dia bercanda atau serius.
Memasuki Mandala Utama (areal suci tempat sembahyang) si Nanda ini buru buru buka sepatu dan kaos kakinya. Mau sembahyang Ganesha, kata dia. Saya coba intip, dia duduk bersila di hadapan patung Ganesha dan mencakupkan kedua tangannya di atas ubun-ubun. Hanya dia yang tau doa apa yang dia lantunkan.
Disaat teman temannya asyik bermain, anak ini juga ada disana tapi asyik dengan pikirannya sendiri sambil menggerak gerakkan kedua tangannya meniru orang nari bali. Entah tarian apa yang ada di benaknya.
Sekian

Kamis, 15 Agustus 2019

Dipindah Keluar agar berada di dalam

Pengumuman BOP
Om swastyastu,
Megharapkan kehadiran umat yg mempunyai waktu sambil memgantar putra putri ke pasraman untuk bergotong royong pada minggu 11 agu 2019.
Kegiatan:
1. Matur piuning
2. Membongkar pondasi tembok penyengker didekat bale kul kul.
Lebih detail akan di koordinasi dilapangan.
Atas kerjasamanya kami haturkan terima kasih.

Demikianlah isi pengumuman BOP yang di forward oleh klian banjar saya.
Tembok penyengker yang dimaksud seperti gambar dibawah.
Ada yang bertanya mengapa kok pondasi tembok yang kokoh harus dibongkar. Apakah dulu tidak bertanya. Sayang sekali pondasi beton kokoh harus dibongkar. Duit yang sudah dikeluarkan jadi mubasir. Kenapa tidak dilanjutkan saja temboknya. Demikian pertanyaan bagi yang peduli atau punya otak usil seperti saya.

Memangnya kita harus bertanya ke siapa. Apa perlu “nunasang” istilah bertanya ke orang pintar seperti di Bali. Padahal dulu sering ada wacana, kita bukan membawa Bali ke Batam. Jadi maksudnya tidak mutlak harus semua seperti di Bali. Ya nggak juga. Terus apakah kita tidak perlu ada rujukan. Jika perlu rujukan, siapa atau kemana rujukannya. Jangan sampai sama-sama buta tapi ngasi tau arah jalan.

Setelah saya mereka reka mencari jawaban dengan asumsi sendiri, karena saya tidak pernah mendengar kapan dibahas, siapa saja yang ikut membahas, saya tidak tau. Ternyata mungkin posisi bale kulkul harus berada di jeroan/ mandala utama. Saat ini bale kul kul berada di luar mandala utama karena temboknya berada di dalam. Untuk menjadikan bale kul kul berada di jeroan, maka tembok penyengker dibuat di luar. Perhatikan photo.
Gbr 1, Pandangan dari Dalam.
Tembok penyengker ada di dalam


Saya mencoba mencari referensi di dunia maya dimana seharusnya letak Bale Kul kul apakah di Mandala Utama atau di Madya Utama atau di Nista Mandala. Jika itu masalahnya. Ataukah ini hanya ide pribadi seseorang yang harus diikuti semua orang.

Pertama saya copast dari link http://www.babadbali.com/pura/plan/pucak-gegelang5.htm
Nista Mandala terdapat palinggih pengapit lawang 2 buah kiri dan kanan, palinggih gedong, paruman alit, bale gong, perantenan (dapur), serta bale kulkul. Antara jaba sisi (Nista mandala) dengan Maddya mandala dibatasi oleh tembok penyengker dan terdapat 2 buah candi bentar bagian utara dan selatan serta di tengah-tengah ke dua candi bentar itu terdapat candi gelung. Dengan adanya dua buah candi bentar ini sirkulasi pemedek pada saat pujawali dapat diatasi untuk menuju ke jeroan atau kembali (mepamit) dari jeroan ke jaba sisi.
Nah disini dikatakan bahwa Bale Kul kul letaknya di Nista Mandala. Apakah si admin link ini salah tulis? Apa maksudnya Madya Mandala?
Yang ke dua saya menemukan link http://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2012/03/halaman-pura.html  yang saya copast sebagai berikut : Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama, di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya

bale gong, perantenan (dapur suci),
bale kulkul,
bale pesandekan (tempat menata tetandingan banten),
bale pesamuan (untuk rapat-rapat), dll.
Di nista mandala ada pelinggih "Lebuh" yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir, penjual makanan, wisata dll.
Disini juga dikatakan Bale Kul kul letaknya di Madya Mandala.
Yang ketiga saya menemukan link : https://hindualukta.blogspot.com/2015/12/struktur-pura-yang-benar.html  disitu dinyatakan bahwa, Madya Mandala adalah zona tengah dimana umat beraktivitas dan fasilitas pendukung. Pada zona ini terdapat Bale Kul-kul, Bale Gong, wantilan, Bale Pesandekan, dan Perantenan. Di beberapa Pura, Bale Kul-kul dan Perantenan ada di Nista Mandala.
Disinipun jelas dikatakan bahwa Bale Kul kul termasuk sarana pendukung yaitu terletak di Madya Mandala.
Gb 2, Pandangan dari Luar.
Tembok Penyengker akan disambung

Kembali ke kondisi di Pura Agung. Tidak jelas pemisahan mana Madya Mandala dan mana Nista Mandala. Yang jelas ada Mandala Utama dengan pintu masuk dua buah apit surang kiri kanan dan Kori Agung. Ada juga pintu akses dari sisi kiri ke Sri Lalita. Di Mandala Utama ada Padmasana, Bale Barong, Bale Paselang, Bale Pegat, Bale Pawedan dan Taman Sari. Setelah tembok dipindah keluar, maka Bale Kul kul akan berada di dalam Mandala Utama.
Gb.3, Day 1 gotong royong

Selasa, 13 Agustus 2019

Niat Bantu (‘catatan pribadi’)

Malam itu 8 agustus 2019, untuk ketiga kalinya ibu itu datang ke rumah. Pinjem duit untuk bayar listrik dan beli obat untuk suaminya. Tiap bulan pinjam duit. Sebelumnya pada bulan Juni, Juli sudah pinjam. Janji akan dikembalikan tanggal 25 agustus setelah anak-anaknya gajian. Saya was was juga jika nanti ternyata tanggal yang dijanjikan tidak juga dibayar. Entahlah. Itu janji mereka. Selebihnya serahkan kepada Yang di atas. Menurut apa yang dia sampaikan di WA hanya kamilah yang bias membantu kesulitan mereka.
Kondisi keluarga ini kurang lebih seperti tulisan saya yang berjudul ‘Mengubah Jalan Hidup’. Benar tidaknya nanti kedepannya, ya hanya mereka sekeluarga yang tau dan yang di atas.
Suatu hari minggu, kami ajak si ibu dan suaminya ini bagi sembako. Sepertinya mereka suka diajak bakti social begini. Memang suka ataukah ada niat lain, saya tidak tau.
Banyak suara suara yang mengganggu di ingatan saya yang sampai ke telinga saya. Diantaranya dengan nada mengingatkan untuk berhati-hati karena hanya dimanfaatkan. Kita bantu orang hindu dari bali saja, demikian kata yang lainnya. Kalau dia ternyata balik lagi ke islam, bagaimana. Demikian omongan-omongan mereka. Ditambah lagi suatu waktu istri salah satu Jro mangku pernah melabrak si ibu itu saat berjualan ternyata menggunakan penutup kepala/kerudung. Mereka memang pernah bilang ke saya bahwa si ibu itu berjualan dengan berjilbab hanya untuk menarik simpati pembeli yang dilingkungan mayoritas muslim. Yang penting hati kami hindu. Hanya Hyang Widhi yang tau, demikian kata si ibu waktu itu, dan saat di mandala utama Pura Agung.
Bias jadi warga hindu satu banjar dengannya merasa terbebani. Bias jadi. Saya tidak tau. Hubungan keluarga si ibu ini dengan warga banjarnya sepertinya tidak harmonis. Saya belum pernah nanya apakah ikut ‘mebanjar’ ikut suka duka perkumpulan banjar atau tidak.
Seandainya warga banjar tidak sreg dengan si ibu itu, kenapa harus dijauhi. Bukankah harusnya dirangkul, diarahkan. Dengan demikian dia semakin tebal keyakinan hindunya. Apalagi anak-anaknya sudah pada beranjak dewasa. Tentu pergaulannya dengan umat agama lain.
Terakhir saya denger ketua lembaga kota yang juga seorang guru agama hindu sudah berkunjung ke tempat tinggal ibu itu didampingi penyelenggara hindu kota batam. Ini gara-garanya saya memposting atau memprovokasi anggota grup WA agar bertindak sesuatu membantu keluarga tersebut. Tahun ajaran baru sekolah sudah berjalan. Sementara anak si ibu itu yang paling kecil tidak bias sekolah. Kesulitan tehnis ngurus kepindahannya. Tak terbayang bagaimana psikis anak kecil yang tidak sekolah sementara melihat kawan kawannya pada sekolah. Syukurlah ada janji untuk membantu si anak tersebut untuk sekolah.
Saya menyarankan kepada si ibu agar berusaha mengajak anaknya ikut sekolah agama hindu di pasraman. Minimal dia mulai bias bergaul dengan sesame anak hindu.
Semoga semuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Nanda (kaos merah)

Selasa, 06 Agustus 2019

Selamat jalan Sobat

Selasa 6 juli 2019, sangat sedih saat bangun pagi baca pesan di grup WA yang isinya menginformasikan bahwa seorang teman yang selama ini opname di rumah sakit Awal Bros batam telah pergi untuk selamanya, ke alam sana yang damai.
I Ketut Sugirat Jelantik, meninggal karena inveksi di hatinya dan menurut informasi teman teman juga ada gangguan pencernaan. Ketika saya bersama keluarga berkesempatan bezuk ke rumah sakit, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Masih terpasang selang oksigen dan infuse. Sepertinya masih ada respon. Ketika buang air kecil masih bias bilang ‘pipis’ meski pakai pempers. Ketika saya pamitanpun dia masih bias merespon kata-kata saya. Dia mengagguk ketika saya bilang ‘yang sabar tut, tetap semangat, pasti sembuh’.
Hanya mukjizat yang menyembuhkan suami saya, demikian kata istrinya yang setia mendampingi. Kami berusaha menghibur istrinya agar tabah dan serahkan kepada Hyang Kuasa, tetep berdoa. Keajaiban pasti datang.
Meninggalkan seorang istri yang asli jawa dan seorang putri yang sedang menginjak dewasa. Termasuk warga Bali yang senior di Batam. Bekerja di perusahaan swasta di pulau bulan.
Saya masih ingat sekitar tahun 90an. Ketika itu saya kerja di muka kuning, dan tinggal kost di daerah batu aji bersama istri saya. Tut Sugirat waktu itu datang tergopoh gopoh ke kosan saya membawa lamaran kerja. Bukan untuk dia, tapi untuk warga bali seorang gadis. Dengan senang hati saya menerimanya dan beberapa hari kemudian si gadis yang namanya saya lupa, langsung kerja. Sempat kerja satu atau dua hari saja. Namun kabur tanpa memberi tahu. Katanya lebih suka kerja di hotel. Tidak tahan duduk lama-lama di produksi yang menjemukan.
Setelah itu jarang sekali ketemu almarhum ini. Namanya juga jarang terdengar. Sudah punya istri dan anak. Saat ngantar anaknya mulai ikut sekolah agama hindu di pasraman itulah saya ketemu almarhum. Dia manggil saya Bli Ngurah. Saya inget kata-katanya ketika berjumpa di pura. Bli Ngurah sehat? Bli Ngurah awet muda. Kata dia waktu itu.
Hari ini saya sangat sedih tidak bias ikut prosesi pemulangan jenasahnya mulai dari rumah sakit, terus ke rumah duka dan selanjutnya ke bandara untuk dikirim jenazahnya ke bali. Saya kerja dan ndak bias ditinggalkan.
Selamat jalan semoga damai di alam sana. Kelaurga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan.

Di Rumah Duka - sebelum jenazah tiba

Suasana haru keluarga dan umat

Minggu, 04 Agustus 2019

Kuningan

Saya tidak akan membahas apa makna hari raya kuningan yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Indonesia. Hari Raya sebagai rangkaian terakhir hari Raya Galungan. Yang jatuh 10 hari setelah Galungan.
Pagi itu persembahyangan dilaksanakan di Pura Satya Darma Mukakuning. Meski ada juga sebagian uma yang sembahyang pagi di Pura Agung. Satu Jro Mangku stand by di Pura Agung yaitu Jro Mangku Putu Satria Yasa. Dan satu lagi Jro Mangku Agung Arif memimpin sembahyang bersama di Pura Satya Dharma.
Sehari sebelumnya ada pengumuman via WA dari ketua UKHB Unit Kerohanian Hindu Batamindo bahwa persembahyangan pagi dilaksanakan pada pukul 09.00. Saya mencoba memberikan masukan meski hanya masukan iseng-iseng. Artinya usulan saya tidak serius. Sembahyang sebaiknya dilaksanakan jam 7 atau jam 8 pagi. Kalau sembahyang jam 9 bukankah matahari sedang terik teriknya. Tidak ada yang menanggapi usulan saya tersebut. Hanya komentar angin lalu bahwa kalau sembahyang dilaksanakan terlalu pagi, nanti banyak umat yang datang terlambat. Terus yang salah siapa. Dalam hati saya, walah beginilah cara pemimpin umat mengatur umatnya.
Saya datang jam 9 pagi toh persembahyangan juga belum dimulai. Saya masih ingat setahun yang lalu 2018 saat persembahyang kuningan juga. Waktu itu saya buru buru berangkat dari rumah untuk sembahyang. Sampai di pura muka kuning jam 7 pagi. Eh kaget juga, ndak ada orang. Sempat curiga pada diri sendiri apa saya salah hari. Tunggu 30 menit, belum juga ada umat lain yang nongol. Tunggu sampai satu jam. Belum juga ada yang datang. Tunggu satu setengah jam, masih sendiri. Akhirnya saya sms ketua ukhb. Apakah ada persembahyangan di pura muka kuning. Dijawab, oo ada. Jam 9 akan dimulai. Datag saja ke pura muka kuning, katanya. Saya memang tidak bilang kalau saya sudah nunggu lama di pura.
Kali ini cuaca cukup bersahabat. Mendung mendung dan tidak gerah. Persembahyangan memang molor hamper satu jam karena sound system tidak normal. Jam 11 selesai sembahyang dan ngelungsur. Sayapun pulang bersama anak dan istri.
Malam harinya saya bersama anak dan istri sembahyang ke pura agung. Berangkat agak telat sekitar jam 7.30 malam. Sorenya ada kegiatan antar sumbangan. Saya tiba, acara persembahyangan sudah dimulai, dan sampai acara dharma wacana yang kedengeran dari parkiran diisi oleh penyelenggara Hindu Kota Batam.
Saya ambil posisi duduk agak ke depan. Biasa istri saya seperti ada yang kurang lengkap jika tidak dapat mekidung.
Selesai sembahyang, ada doa tambahan untuk umat yang lagi opname di rumah sakit. Semoga cepat sembuh.
Pengumuman, isinya ajakan atau himbauan dari ketua PHDI kota Batam tentang megang teguh ajaran Hindu. Jika istri dari non Hindu, si suami harus bertanggung jawab penuh terhadap pemahaman ajaran Hindu kepada istri. Wah sempat berpikir mengapa harus ada himbauan seperti ini. Harusnya secara kelembagaan harus ada program yang mengcover masalah masalah keumatan.
Pengumuman kedua dari ketua PHDI provinsi, I wayan Jasmin. Intinya beliau menyampaikan kabar gembira bahwa setelah berjuang dengan gigih, dikabulkan oleh pusat untuk mendirikan gedung secretariat bersama di lingkungan Pura Agung. Dana 600 juta disetujui. Namun tahap awal akan turu bantuan 250 juta. Bertahap tiap tahun. Tepuk tangan umat menyambut berita tersebut.
Pengumuman ketiga, dari ketua Paruman Walaka, Dr. I Wayan Catra Yasa. Baru pulang dari Nepal membawakan misi agama hindu ditingkat Internasional. Beliau membawa oleh-oleh entah apa namanya, kain kuning katanya sebagai blessing dari salah satu kuil di Nepal. Lima orang yang di blessing, katanya. Yaitu kedua Jero Mangku, Ketua BOP, Ketua PHDI Kota Batam, dan penyelenggara Hindu Batam.
Kenapa yang lainnya tidak di Blessing?
Suasana Persembahyangan di pura Sathya DHarma MK