Minggu, 04 Agustus 2019

Kuningan

Saya tidak akan membahas apa makna hari raya kuningan yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Indonesia. Hari Raya sebagai rangkaian terakhir hari Raya Galungan. Yang jatuh 10 hari setelah Galungan.
Pagi itu persembahyangan dilaksanakan di Pura Satya Darma Mukakuning. Meski ada juga sebagian uma yang sembahyang pagi di Pura Agung. Satu Jro Mangku stand by di Pura Agung yaitu Jro Mangku Putu Satria Yasa. Dan satu lagi Jro Mangku Agung Arif memimpin sembahyang bersama di Pura Satya Dharma.
Sehari sebelumnya ada pengumuman via WA dari ketua UKHB Unit Kerohanian Hindu Batamindo bahwa persembahyangan pagi dilaksanakan pada pukul 09.00. Saya mencoba memberikan masukan meski hanya masukan iseng-iseng. Artinya usulan saya tidak serius. Sembahyang sebaiknya dilaksanakan jam 7 atau jam 8 pagi. Kalau sembahyang jam 9 bukankah matahari sedang terik teriknya. Tidak ada yang menanggapi usulan saya tersebut. Hanya komentar angin lalu bahwa kalau sembahyang dilaksanakan terlalu pagi, nanti banyak umat yang datang terlambat. Terus yang salah siapa. Dalam hati saya, walah beginilah cara pemimpin umat mengatur umatnya.
Saya datang jam 9 pagi toh persembahyangan juga belum dimulai. Saya masih ingat setahun yang lalu 2018 saat persembahyang kuningan juga. Waktu itu saya buru buru berangkat dari rumah untuk sembahyang. Sampai di pura muka kuning jam 7 pagi. Eh kaget juga, ndak ada orang. Sempat curiga pada diri sendiri apa saya salah hari. Tunggu 30 menit, belum juga ada umat lain yang nongol. Tunggu sampai satu jam. Belum juga ada yang datang. Tunggu satu setengah jam, masih sendiri. Akhirnya saya sms ketua ukhb. Apakah ada persembahyangan di pura muka kuning. Dijawab, oo ada. Jam 9 akan dimulai. Datag saja ke pura muka kuning, katanya. Saya memang tidak bilang kalau saya sudah nunggu lama di pura.
Kali ini cuaca cukup bersahabat. Mendung mendung dan tidak gerah. Persembahyangan memang molor hamper satu jam karena sound system tidak normal. Jam 11 selesai sembahyang dan ngelungsur. Sayapun pulang bersama anak dan istri.
Malam harinya saya bersama anak dan istri sembahyang ke pura agung. Berangkat agak telat sekitar jam 7.30 malam. Sorenya ada kegiatan antar sumbangan. Saya tiba, acara persembahyangan sudah dimulai, dan sampai acara dharma wacana yang kedengeran dari parkiran diisi oleh penyelenggara Hindu Kota Batam.
Saya ambil posisi duduk agak ke depan. Biasa istri saya seperti ada yang kurang lengkap jika tidak dapat mekidung.
Selesai sembahyang, ada doa tambahan untuk umat yang lagi opname di rumah sakit. Semoga cepat sembuh.
Pengumuman, isinya ajakan atau himbauan dari ketua PHDI kota Batam tentang megang teguh ajaran Hindu. Jika istri dari non Hindu, si suami harus bertanggung jawab penuh terhadap pemahaman ajaran Hindu kepada istri. Wah sempat berpikir mengapa harus ada himbauan seperti ini. Harusnya secara kelembagaan harus ada program yang mengcover masalah masalah keumatan.
Pengumuman kedua dari ketua PHDI provinsi, I wayan Jasmin. Intinya beliau menyampaikan kabar gembira bahwa setelah berjuang dengan gigih, dikabulkan oleh pusat untuk mendirikan gedung secretariat bersama di lingkungan Pura Agung. Dana 600 juta disetujui. Namun tahap awal akan turu bantuan 250 juta. Bertahap tiap tahun. Tepuk tangan umat menyambut berita tersebut.
Pengumuman ketiga, dari ketua Paruman Walaka, Dr. I Wayan Catra Yasa. Baru pulang dari Nepal membawakan misi agama hindu ditingkat Internasional. Beliau membawa oleh-oleh entah apa namanya, kain kuning katanya sebagai blessing dari salah satu kuil di Nepal. Lima orang yang di blessing, katanya. Yaitu kedua Jero Mangku, Ketua BOP, Ketua PHDI Kota Batam, dan penyelenggara Hindu Batam.
Kenapa yang lainnya tidak di Blessing?
Suasana Persembahyangan di pura Sathya DHarma MK