Sebut saja namanya Mr. Takai. Dari awal saya bergabung, saya lihat performa direktur ini kurang greget. Hanya sekedar jalan. Terkesan sering ‘dibohongi’ staff local. Terlalu banyak excuse. Maklum lama kerja dengan orang kita. Terlalu Indonesia style. Saya sering dipanggil ke ruangannya, yang khusus. Tentu urusan kerjaan. Mejanya penuh tumpukan kertas. Apa saja. Kiri kanan, depan belakang. Pokoknya bertumpuk tumpuk. Sering saya lihat si direktur ini hanya mainan game di laptopnya. Bukan Game yang canggih. Hanya sekelas Solitaire.
Tahun 2009 masuklah penggantinya, sebut saja namanya Mr. Fu. Darah segar. Sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan di Muka Kuning. Banyak yang sudah mengerti tipe direktur ini kasar. Banyak gebrakan. Mirip temperamental. Biasa gebrak-begrak meja kalau meeting. Biasa bergurau kalau ngobrol diluaran.
Mr. Fu sangat berprestasi untuk membat perusahaan profit. Marginal profit, sales dikurangi cost material saat dia baru masuk hanya sekitar 20%. Cost down dipacu. Effisiensi disana sini. Profit naik secara significant. Hanya bagian yang punya authority saja yang paham. Laporan ada 3 jenis, paling tidak. Laporan original, laporan untuk ke head office dan laporan ke pajak yang dipakai acuan oleh pemegang saham. Kini, marginal profit saja sudah mencapai hamper 40%. Dua kali lipat.
Sang direktur ini ndak peduli marah kepada siapa, dimana saja kalau ada laporan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Bukan rahasia lagi, yang bikin laporan terpaksa ABS, asal bapak senang. Dibuatlah laporan yang bagus-bagus. Selisih antara kenyataan dengan yang dilaporkan ke head office cukup besar. Perusahaan sangat royal mengeluarkan duit untuk social, welfare, atau beli peralatan kerja seperti computer, printer dsb.
Sang direktur ini suka tidur di kursinya. Padahal di ruangan bersama dengan staff lainnya. Bahkan ngorok yang bikin telinga risih mendengarnya. Sebelum meeting biasanya tidur dulu. Ngumpulin tanaga untuk marah-marah saat meeting.
Kemungkinan duit masih ada banyak. Perlu cari spare brankas. Maka issuenya sang direktur bikin PT sendiri, gabung dengan kawannya. Mengalirlah duit simpanan ke brankas barunya. Tentu harus ada yang bias diajak sejalan. Agar usaha ini mulus. Perusahaan baru ini bak broker. Sebagai supplier yang mensupply barang-barang kebutuhan Tomoe. Cara nyerobotnyapun dengan cara yang tidak professional. Banyak supplier aslinya yang di putus ditengah jalan. Tentu mereka kelimpungan karena stoknya tidak bisa dijual.
Disamping sebagai supplier Tomoe, juga berfungsi sebagai distributor produk jadi. Tanpa usaha mencari pembeli. Malah salesman Tomoe difungsikan untuk mencari pembeli local. Sebagai karyawan Tomoe harusnya merasa digencet. Tapi pertanyaan besarnya, mengapa pada diem anteng-anteng saja. Ya ibarat anak kecil disuruh ambil sesuatu, cukup senang walau hanya dikasi permen.
Kini, akhir 2018 beredar isu direktur ini bakal diganti. Kasak kusuk, ada yang senang, tentu ada yang tidak. Calon pengganti nyapun datang di awal 2019. Namanya Mr. Tsu. Yang stylenya 180 derajat berbeda. Yang selalu jadi bulan-bulanan. Harga dirinya sering dijatuhkan. Hand over rencananya bulan april namun mundur ke Juni. Bulan juni Mr Tsu secara organisasi sudah menduduki jabatan direktur, sementara yang digantikannya sebagai advisor. Sepertinya Mr Fu berat melepas jabatannya. Mr Tsu, yang sekelas direktur, masih pontang panting dibuatnya. Harusnya focus ke isu manajemen. Tidak semua tanggung jawab diberikan oleh Mr Fu. Maka, keputusan apapun masih lewat Mr. Fu. Katanya sampai September. Tanda tangan juga harus oleh dia. Ya kita tunggu saja.