Kami chat WA panjang lebar masalah keluarga tersebut yang nama aslinya Bapak Nur Rohman, tapi lebih senang dipanggil Pak Yudistira. Beliau asal Bukit asam Palembang. Keluarga ini telah di sudiwadani sekitar dua tahun lalu. Bersama 4 anaknya dari 5 orang anaknya memeluk Hindu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Semenjak memeluk Hindu rupanya nasib berkata lain. Beliau dikucilkan dari keluarga dan masyarakat sekitar. Sampai berdampak ke tempat kerja. Sempat berurusan dengan hukum. Akibatnya harus kelur dari tempat kerja. Kisah hidup keluarga ini pernah dimuat di salah satu majalah hindu. Hidup cocok dengan keyakinan Hindu namun tidak tahan intimidasi warga sekitar. Akhirnya hijrah ke Batam bersama keluarga. Beliau memiliki lima orang anak.. 3 laki2 dua perempuan.. ke empat anaknya sdh kembali ke jalan dharma namun satu anak perempuan nya yg nomor dua masih islam karena dari kecil ikut neneknya. Satu anaknya yg laki2 sulung pernah kerja di Jakarta. Saat ini yg bikin miris 2 anaknya putus sekolah yang usia 15 dan 10 tahun.
Keluarga ini butuh bantuan dana cash untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar sewa rumah. Do something bro, demikian kata teman saya itu. OK kita usahakan pelan-pelan bro, demikian kata saya. Lembaga Hindu sudah tahu masalah ini, dan sudah mengucapkan selamat datang di jalan dharma. Hanya sebatas itu. Bagus juga dari pada tidak ada respon sama sekali, pikir saya.
Istrinya perlu bantuan modal jualan. Perlu 2 juta. Tapi saya usahakan minta bantuan kawan-kawan Singapore dan dikasi pinjaman lunak 5 juta rupiah. Malamnya langsung dikasikan ke rumahnya. Dia sangat senang dengan kehadiran kami berdua. Saya dan bro made ‘bantug’ sugiartha. Mereka antusias menceritakan kisah hidupnya. Kami hanya setia mendengarkan, sekali sekali bro made bantug meyakinkan apa yang mereka ceritakan.
Istri pak Yudistira ini sempat jualan beberapa kali, meski harus berbusana ala muslim. Ya alasannya karena lingkungan. Namun mungkin karena kecapekan si ibu itu sakit dan tidak bias jualan. Sampai tulisan ini saya buat belum jualan lagi. Alasannya cari tempat yang lebih murah dan lokasinya lebih ramai.
Setiap ada kegiatan saya berusaha cari tau apakah pak yudistira hadir. Minimal tau, karena tidak bias jemput antar kerumahnya. Saya ajak bhakti social beberapa kali. Adakah kepedulian dari pengurus lembaga? Saya tidak mengetahuinya. Barangkali sudah berbuat sesuatu secara diam-diam.
Entahlah






