Kamis, 20 Juni 2019

Mengubah Jalan Hidup

Kamis 11 April 2019, saya di hubungi oleh kawan saya Bro Made Sugiartha lewat WA mengabarkan bahwa ada sekeluarga umat Hindu yang perlu dibantu. Apakah ada sisa beras bhakti social. Seketika saya reply ‘ada’. Ambil kerumah, satu karung.
Kami chat WA  panjang lebar masalah keluarga tersebut yang nama aslinya Bapak Nur Rohman, tapi lebih senang dipanggil Pak Yudistira. Beliau asal Bukit asam Palembang. Keluarga ini telah di sudiwadani sekitar dua tahun lalu. Bersama 4 anaknya dari 5 orang anaknya memeluk Hindu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Semenjak memeluk Hindu rupanya nasib berkata lain. Beliau dikucilkan dari keluarga dan masyarakat sekitar. Sampai berdampak ke tempat kerja. Sempat berurusan dengan hukum. Akibatnya harus kelur dari tempat kerja. Kisah hidup keluarga ini pernah dimuat di salah satu majalah hindu. Hidup cocok dengan keyakinan Hindu namun tidak tahan intimidasi warga sekitar. Akhirnya hijrah ke Batam bersama keluarga. Beliau memiliki lima orang anak.. 3 laki2 dua perempuan.. ke empat anaknya sdh kembali ke jalan dharma namun satu anak perempuan nya yg nomor dua masih islam karena dari kecil ikut neneknya. Satu anaknya yg laki2 sulung pernah kerja di Jakarta. Saat ini yg bikin miris 2 anaknya putus sekolah yang usia 15 dan 10 tahun.
Keluarga ini butuh bantuan dana cash untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar sewa rumah. Do something bro, demikian kata teman saya itu. OK kita usahakan pelan-pelan bro, demikian kata saya. Lembaga Hindu sudah tahu masalah ini, dan sudah mengucapkan selamat datang di jalan dharma. Hanya sebatas itu. Bagus juga dari pada tidak ada respon sama sekali, pikir saya.
Istrinya perlu bantuan modal jualan. Perlu 2 juta. Tapi saya usahakan minta bantuan kawan-kawan Singapore dan dikasi pinjaman lunak 5 juta rupiah. Malamnya langsung dikasikan ke rumahnya. Dia sangat senang dengan kehadiran kami berdua. Saya dan bro made ‘bantug’ sugiartha. Mereka antusias menceritakan kisah hidupnya. Kami hanya setia mendengarkan, sekali sekali bro made bantug meyakinkan apa yang mereka ceritakan.
Istri pak Yudistira ini sempat jualan beberapa kali, meski harus berbusana ala muslim. Ya alasannya karena lingkungan. Namun mungkin karena kecapekan si ibu itu sakit dan tidak bias jualan. Sampai tulisan ini saya buat belum jualan lagi. Alasannya cari tempat yang lebih murah dan lokasinya lebih ramai.
Setiap ada kegiatan saya berusaha cari tau apakah pak yudistira hadir. Minimal tau, karena tidak bias jemput antar kerumahnya. Saya ajak bhakti social beberapa kali. Adakah kepedulian dari pengurus lembaga? Saya tidak mengetahuinya. Barangkali sudah berbuat sesuatu secara diam-diam.
Entahlah

Senin, 17 Juni 2019

Mahluk bernama kebersamaan

Seminggu sebelum tanggal yang direncanakan akan diadakan check kesehatan atau disebut medical seva gratis, telah diumumkan di depan umat. Bahkan dikatakan acara tersebut diselenggarakan oleh Pasraman Jnana Sila Bhakti Batam yang bekerjasama dengan WHDI dan SSG (SAI Devotees Singapore).
Seharusnya tanggal 16 Juni pasraman libur, menurut perhitungan masuk tiga kali berturut-turut dan sekali libur. Kemudian pihak pasraman membuat pengumuman di grup WA. Dikatakan tgl 16 juni ada pemeriksaan kesehatan gratis. Namun hanya sebatas himbauan. Tidak ada kalimat wajib masuk. Saya reply pembuat pengumuman. Memang tidak disebutkan kata libur, tapi kalo dibaca sepintas memang boleh datang boleh tidak. Ya saya tunggu perkembangannya.
Beberapa hari menjelang acara, kok tidak ada perkembangan. Semuanya diem. Saya sudah memperkirakan begitu. Saya bikin perencanaan. Bagi bagi tugas. Sampai gotong royong mempersiapkan aulapun tidak ada respon dari kedua lembaga, whdi dan pasraman. Beberapa kali saya share ulang di grup. Satupun tidak ada yang menanggapi undangan saya. Saya sampai berpikir, apakah undangan saya ini salah? Bagaimana kalau saya buat pengumuman ngajak ngelawar? Akan sama kah?
Akankah kejadian tgl 18 nopember 2019 terulang lagi? Saya agak pesimis. Waktu itu adalah perayaan ultah Baba di Pasraman, pinjem ruangan aula. Sudah diplankan dan sengaja disediakan prasadam/ makan siang untuk umat dan siswa pasraman. 200 pax. Tiba-tiba dibuat pengumuman bahwa pasraman diliburkan. Tentu saja makanan mubasir. Ini ulah siapa? Kenapa tidak bicara terus terang apa maksud dibalik semua itu. Kan seharusnya pihak penyelenggara tidak perlu menyediakan makanan sebanyak itu.
Di tanggal 16 juni saya cross check bhakta yang lainnya. Ok tidak ada masalah. Saya bersama istri mempersiapkan makanan 200 pax. Ditambah 45 porsi dari catering vegy. Pikiran terus was was apakah umat bakalan hadir 200 orang. Ya pasrah saja. Dan berdoa kepada Baba.
Syukurlah kendaraan berjejer di areal pura agung, berarti umat cukup ramai yang datang. Sedikit lega.
Jam 9.30 rombongan bhakta Singapore datang dengan dua bus. Ada 50 orang dalam  rombongan. Mereka breafing terlebih dahulu dan doa bersama. Situasi terasa sedikit crowded. Kemudian satu persatu masuk ke ruang pemeriksaan. Saya perhatikan pemeriksaannya termasuk professional. Cukup lengkap.
Disediakan prasadam 200 pax untuk umat. Hamper habis. Tersisa sekitar 10 bungkus.
Beberapa yang disebut tokoh umat tidak tampak hadir. Mungkin belum bangun atau ada kesibukan lain atau memang anti dengan kegiatan yang berbau aneh baginya.
Entahlah.

Sabtu, 15 Juni 2019

Hidup islam, mati Hindu

untuk kesekian kalinya, hal serupa terjadi lagi. ada orang bali yang dikabarkan meninggal di batam. tentu saling bertanya siapa gerangan orangnya yang tidak pernah selama ini bertegur sapa atau berjumpa sekalipun.
photonya pun di share ke grup umat hindu kepri. sekilas info katanya masih hindu. lha tapi kok ndak ada yang kenal.
saat itu lagi ada pemakaman bayi yang meninggal dalam kandungan padahal sudah berumur 7 bulan kandungan. orang tuanya bernama wayan budi dan istrinya ibu erni. jro mangku Putu Satriayasa menerima telpon dari Bali, mengabarkan kalau ada orang bali meninggal di Batam. Kasak kusuklah umat yang hadir di kuburan saat itu. Oo ternyata ada yang kenal. dulu pernah kerja di Batam View hotel, termasuk orang bali pertama di Batam yang kerja di hotel.
info lebih jauh, yang meninggal itu dulunya sudah masu islam ikut istri, namun sudah cerai. punya 3 orang anak. sempat sukses selama kerja, sudah menjabat GM. pernah tinggal di Kijang. karena cerai dia tinggal sendirian di perumahan Oma batam center namun tidak pernah berinteraksi dengan umat hindu di kepri.
Penjajagan dilakukan oleh para pemuka umat, menggali info sebanyak banyaknya. dapat kabar dari keluarganya di bali bahwa almarhum adalah hindu, dulu istrinya disudi wedani di bali dan sempat minta buku buku hindu. keluarganya ini minta umat hindu di batam membantu mengkremasi jenasah secepatnya. bila perlu malam itu. ini cerita versi keluarganya di bali.
Versi kedua datang dari mantan istrinya yang diundang ke batam. menurut antan istrinya, sewaktu nikah si almarhum masuk islam ikut istrinya. barangkali bagi si almarhum ini tidak lah penting. setelah nikah pergilah ke bali, si suami tidak menjelaskan ke istrinya apakah itu pernikahan atau bukan. Istrinya cuman tau itu sekedar ramai adat budaya. ktp si almarhum dan kartu keluarga semua tertera hindu. Istri almarhu sepakat mantan suaminya diselesaikan secara hindu - di kremasi seperti permintaan kelaurganya di bali.
Para tokoh umat dan Jero Mangku sepakat membantu menyelesaikan almarhum untuk dikremasi. dengan catatan ada pihak keluarga yang datang ke batam.
Ibu-ibu nya sibuk mejejahitan di Pura. Jenasah masih di Rumah Sakit bhayangkara.
Dua orang anggota keluarganya yaitu Kakak almarhum dan anaknya tiba di batam hari Rabu 12 juni'19 malam. sekalian pertemuan di rumah umat yang sedang ada acara di batam center.
Kremasi dilaksanakan di krematorium milik Budha di Sembau Nongsa kamis 13 juni'19. memerlukan waktu 8 jam ditambah 4 jam pendinginan agar jenasah menjadi abu.
keesokan harinya hari jumat, abu jenasah di hanyut ke laut.