Minggu 10 Maret 2024. Hari Pengerupukan dan Tawur Kesanga sehari sebelum hari raya Nyepi tahun saka 1946. Konon ada tiga ogoh-ogoh yang akan diarak. Saya kurang memperhatikan apa saja bentuk ogoh-ogohnya. Sepertinya satu berbentuk manusia perempuan kurus dengan susu bergelayut. Kurang tau juga apa maknanya. Yang kedua berbentuk manusia raksasa yang berkepala hewan yaitu singa. Yang ketiga berbentuk mahluk aneh dengan gigi menyeramkan dan tanduk yang panjang. Dua patung tersebut akan dipralina, dibakar setelah prosesi selesai. Sedangkan satunya akan disimpan dipakai pawai sewaktu waktu dalam acara pemerintahan kota batam.
Sudah banyak dan sering dibahas apa makna dari ogoh-ogoh. Bukan untuk menyembah ogoh-ogoh. Itulah simbol mahalnya usaha membasmi sifat sifat jahat dalam diri manusia.
Pawai hanya diareal parkiran pura agung. Sengaja tidak melaksankan pawai ke jalan raya. Mengingat kondisi kemacetan lalu lintas karena sedang ada proyek flyover. Tidak bisa dipastikan juga apakah panitia telah mengajukan ijin pawai, kemudian disarankan tidak ke jalan raya, ataukah itu hanya kekhawatiran panitia saja. Kalau bisa dibuat simple kenapa harus dibuat rumit dan melelahkan.
Ada satu tenda kecil di pojok halaman parkir dengan sejumlah kursi. Barangkali untuk persiapan jika ada pejabat pemerintah yang hadir. Atau apakah untuk tenda petugas keamanan.
Disamping sejumlah aparat keamana tni polri, juga masyarakat umum yang kebetulan lewat turut menyaksikan acara tersebut. Juru photo juga banyak terlihat. Tak ketinggalan pedagang mainan anak anak.
Sepertinya juga tidak mengundang pejabat pemerintahan karena tidak ada terlihat hadir.
Dibandingkan tahun sebelumnya memang terasa kurang meriah. Mungkin banyak umat hindu yang sedang liburan keluar batam.
Pawainya hanya mutar mutar di areal parkiran. Paling depan adalah barisan anak anak paud yang juga mengusung beberapa ogoh ogoh mini. Baleganjur hanya mengiringi dari posisi ditempatnya, tidak bisa ikut keliling.
Rupanya kesepakatan panitia berubah lagi. Tadinya ogoh-ogoh akan dibakar di areal di belakang pura. Sehingga umat yang memarkir kendaraannya harus lebih kebelakang diseputaran gedung sekretariat. Ternyata dilakukan di areal parkiran juga.
Panitia menyediakan makan malam, masakan khas bali. Lauknya cukup namun nasinya kurang. harus nunggu lagi nasinya mateng.
Setelah selesai makan malam, umat kembali menuju mandala utama untuk melaksanakan persembahyangan menyambut hari raya Nyepi.
Saya menampilkan anak anak pasraman kelas 5 dan 6 yang mengambil eskul seni karawitan untuk megambel sebagai wujud apresiasi kepada mereka yang telah latihan selama 6 bulan terakhir ini.
Sembahyang bersama dalam rangka Hari Suci pun dimulai.
Selamat hari raya Nyepi dan tahun Baru Saka 1946. Semoga kedamaian menyelimuti hati kita semuanya.


