Persembahyangan pagi ini sepertinya tepat waktu. Jadwalnya jam 8 pagi. Saya berangkat dari rumah jam 8, kurang lebih 20 menit lewat dari jam 8. Persembahyangan baru saja akan dimulai. Lantai tempat sembahyang bersama, yang disebut mandala utama, kondisi ya agak basah. Malam sebelumnya turun hujan.
Saya saran di grup pengurus Pura agar umat yang datang bersembahyang melepas alas kaki di gerbang pertama. Jangan membawa alas kaki ke halaman tengah. Rupanya usul saya itu tidak mendapat perhatian. Sebagian besar melepas alas kakinya di halaman tengah.
Entah mengapa akhir akhir ini monyet monyet tidak seperti biasanya berdatangan saat sedang sembahyang. Monyet monyet Pada mengganggu mencuri persembahan. Buah maupun kue diambilnya dan dibawa ke hutan.
Selesai sembahyang seperti biasa pada photo sana sini,
Disore harinya dilaksanakan upacara melasti. Di taman sari pura agung. Kali ini tidak melasti ke danau. Mengingat kemacetan lalu lintas tidak bisa dihindari. Saya tiba di pura sekitar jam 15.30. Itu saja kemacetan sudah mulai terasa di depan southlink. Bahkan saya harus menyusuri jalan tanah bebatuan disisi kiri jalan, yang berdebu dan panas. Mobil saya kebetulan ACnya bermasalah.
Setiba di Pura langsung mempersiapkan peralatan gamelan dibawa naik ke mandala utama. Tak ada kawan. Kalau seperti ini rasanya peralatan gamelan milik saya sendiri. Hanya beberapa orang yang peduli. Yang lainnya terkesan cuek apalagi panitia. Mikul beratnya gamelan tak seberat mikul tanggung jawab megambel.
Koordinasi adalah sahabat setia kita dalam suatu organisasi. Jika tidak dilakukan maka akan menjadi musuh kita. Perlu satu orang yang mengkoordinir acara atau disebut koordinator.
Prosesi melasti dimulai. Mendak tirta ke halaman parkir depan kak dadut. Air suci diambil dari danau secara perwakilan umat bersama Jro Mangku.
Kurang koordinasi antara seksi acara dengan sekeha gong. Ada yang memberi tahu agar gongnya ikut mengiringi acara mendak. Ada yang bilang yang ikut boleh perwakilan saja. Ada yang bilang ndak perlu, sudah mau balik.
Terakhir adalah acara sembahyang bersama, setelah break makan malam. Jadi ada dua kali sembahyang bersama. Yang pertama sembahyang bersama melasti yang biasanya dilaksanakan di danau. Yang kedua sembahyang bersama Kuningan.