Senin, 22 Mei 2023

AMBRUK PUNYAH


Photo hanya pemanis. Tidak ada hubungan langsung dengan judul tulisan ini.

Bertepatan dengan hari Tilem sasih Jiyestha yaitu pada Jumat 19 Mei 2023, pagi hari ada beberapa photo diposting ke group WA kelian Banjar oleh humas BOP. Disertai narasi komentar, kurang lebih begini, diinformasikan bahwa bale papelik pura agung amerta bhuana pagi ini roboh. Sementara di grup WA satunya yang isinya kangin kauh, ditambahi kalimat, mohon umat tidak mengaitkan kejadian ini secara niskala. Masih diinvestigasi. Padahal tidak ada hujan tidak ada angin, Dalam photo terlihat 3 orang, yaitu humas BOP Gusti Ngurah Sudiana, penjaga Pura Komang Artawan, dan Jro Mangku Satriayasa.

Setelah diinvestigasi, ketemulah penyebab ambruknya Bale Papelik tersebut. Katanya pada sendi saka/ kaki bale papelik tidak dibaut. Lho kok mentah begitu hasil investigasinya. Bukankah Bale tersebut sudah bertahun tahun terpasang seperti itu. Mengapa baru sekarang ambruknya.


Baru kemudian saat setelah acara sembahyang bersama Saraswati, humas BOP Gusti Sudiana menyampaikan di hadapan umat yang hadir malam itu. Buru buru dikatakan bahwa kejadian robohnya bale Papelik tidak ada kaitannya dengan hal hal niskala. Katanya, dengan suara remang remang karena suaranya tidak jelas terdengar akibat jarak antara bibir dan mik terlalu jauh, ada bagian atas bale tersebut, katakanlah rangka, kayunya tidak sama dengan bahan yang lain. begitu kurang lebih yang saya dengar. Ya memang benar kita tidak tahu hal hal secara niskala. Makanya kita harus hati hati. Seakan apa yang disampaikan oleh Sudiana tersebut bertujuan mengcounter omongan ketua PHDI Kepri yang sebelumnya saat memberikan dharma wacana malam itu. Meskipun beliau tidak mengatakannya secara explisit kejadian robohnya bale papelik, beliau mengajak umat semua agar senantiasa menjaga tingkah laku, perkataan yang selalu baik, mohon ampunlah kepada Hyang Widhi jika ada berbuat yang tidak baik. 

Malam hari sebelum robohnya bale papelik, sekelompok umat hindu, yang saya perhatikan memang suka pesta dan minum minuman keras di area pura, dan itu sering dilakukan. Bahkan sebelumnya sering minum sampai mabuk di Graha Pinandita, yang menurut saya sesuai namanya seharusnya dijadikan tempat tinggal yang suci, jauh dari perbuatan negatif.

Malam itu kebetulan saya menghadiri rapat pembubaran panitia nyepi di gedung sekretariat PHDI yang harus melewati wantilan/ Pasraman. Saya parkir mobil dan turun. Penasaran ada apa gerangan kok rame dan ribut ribut. Saya perhatikan ada yang teriak teriak dan dipegang ramai ramai menuju salah satu mobil. Ada yang wajahnya serius, ada yang tertawa tawa. Saya mencoba mendekat. Tak ada yang bisa saya sapa. Begitupun mereka tidak ada yang menyapa saya. Mungkin komunitasnya beda. Kebetulan saya lihat ada Jero Mangku disana. Saya tanya, ada apa kok rame. Dia jawab, ah biasaaaa. Spontan saya jawab, haaa kayak gitu biasa? 

Saya ndak habis pikir. Ini kawasan suci. kawasan Pura. Aneh dan sangat aneh. Kok di kawasan Pura mabuk mabukan, minum minuman keras. Saya perhatikan sepintas ada beberapa botol minuman keras yang sudah kosong dan ada yang masih isi tapi tidak penuh. Beberapa orang saya lihat tanpa baju dengan perut buncitnya. Hati saya rasanya mau menangis. Mengapa tidak ke diskotik atau club malam, atau minimal ke Cafe saja. Kan disana tempatnya. Ini kok malah dilingkungan Pura.

Saya kemudian menuju gedung Sekretariat, menyendiri, karena peserta rapat belum pada datang, terus terang saya merasa prihatin.

Minggu, 07 Mei 2023

FRANK DHARMA SANTI 2023

 


Rapat finalisasi semua perencanaan kegiatan Dharma santi atau seharusnya sudah dalam bentuk keputusan. Tinggal melaksanakan. Ini rapat yang ketiga. Tentunya tidak perlu sering sering rapat tatap muka. Jaman sudah maju. Bisa saling komunikasi di group WA. Rapat terakhir itu tanggal 2 mei 2023. Di gedung sekretariat PHDI, yang rapatnya sangat molor. Entah kenapa pada suka molor. Kebiasaan tidak mau mengkonfirmasi kehadiran masing masing seksi selalu terjadi. Hanya pasrah terserah siapa saja yang datang.

Ada sekitar 25 poin yang harus dimonitor pelaksanaannya. Masing masing item tersebut sudah termasuk penanggung jawabnya. Seharusnya tidak perlu khawatir. Mungkin ada invisible hand, tangan tangan ajaib yang berkerja di belakang layar, dengan komunikasi yang intens terutama ke pemerintah daerah. Mereka bekerja tidak perlu diketahui oleh anggota team atau panitia. Saya minta hasil rapat tersebut di share di group namun gagal. Entah kenapa. Mungkin tidak penting, karena yang minta hanya saya yang seorang tukang tegen gong.

H-1 diadakan gladibersih. Praktis jalannya gladibersih tidak berjalan dengan lancar. Pemandu acara atau MC tidak ada, hanya dipandu oleh seksi acara. Kebiasaan molor. Diundang jam 7 malam sudah mulai, ternyata baru mulai jam 9 malam.

Gamelan, yang janjinya sudah ditempat sebelum acara gladi dimulai, ternyata hanya omong kosong. Bahkan baru sibuk saling tanya mobil angkutan.

Pada hari H, sabtu 6 mei 2023,  pengisi acara seni tari mulai berhias jam 10 pagi. Acara akan dimulai jam 7 malam. Betapa capeknya tukang rias.

Saya datang ke acara pada jam 4 sore. Masih banyak waktu untuk mengecek keperluan gamelan. Tepat jam 6 sore saya ajak anak anak mulai nabuh gamelan. Sesuai pengumuman saya instruksikan anak anak harus sudah stand by di megambel jam 6 sore. Ternyata masih ada beberapa orang yang belum hadir.

Umat Hindu dan para undangan mulai berdatangan. Dari pengeras suara beberapa kali terdengar himbauan agar hadirin menempati kursi yang telah disediakan.

Dari panggung gamelan saya perhatikan kursi yang tersedia kelihatan penuh. Saya coba tanya kawan disebelah saya, apakah benar jumlah kursi seribu. Ah ndaklah, kata kawan saya itu. Bisa kita hitung deret kesamping berapa, deret kebelakang berapa. Paling 400 buah. Kata kawan saya. Pantesan penuh. Lha saat rapat panitia terakhir, sepertinya pekerjaan paling berat adalah bagaimana menghadirkan undangan termasuk umat hindu dengan quota 1000 orang. Jika kita mampu menghadirkan undangan 1000 orang maka umat Hindu punya nama di Pemko. Demikian katanya.

Undangan yangdatang memang kelihatan lengkap. Walikota Batam, wakil Gubernur, kepala Kantor Kementerian agama, ketua DPRD, anggota DPDRI, dari majelis majelis agama, kepolisian, angkatan laut dan lain lain, sepertinya komplit.

Pendharma wacana didatangkan dari pusat yaitu Tri Handoko Seto, mantan Dirjen Bimas Hindu.
Setelah acara selesai saya menghampiri seksi konsumsi sambil minta sebotol air minum yang dipegangnya. Saya tanya berapa jumlah nasi kotak yang datang tadi apakah ada seribu kotak. Si ibu itu bilang, mana ada seribu. Kalau dengan kue mungkin ada 1000 kotak. Nasi paling 400an. Katanya. Banyak tamu tidak kebagian nasi kotak. Bahkan kawan kawan anaknya si ibu itu juga tidak kebagian nasi. Kok bisa, kata saya. Untung tetangga tetangga saya di perumahan yang saya undang tidak jadi datang.

Ya sudahlah. Sebenarnya ada beberapa kejanggalan selain jumlah kursi dan nasi kotak. Organ tunggal beserta penyanyinya ternyata tetap ada, walaupun hanya tampil dengan 2 lagu saja. Padahal saat rapat diputuskan untuk di cancel. Pembagian kupon luckydraw tidak merata. 
Tidak ada yang tahu pasti. Hanya three musketeerr yang paham. Itulah frank.

Masalah angkut Gong juga dari tahun ke tahun, dari masa kemasa tidak ada perubahan. Saya tidak tahu siapa yang bertanggung jawab untuk mengembalikan Gong. Memang begitu acara selesai, pick up untuk ngangkut gong sudah stand bye, tapi tanpa ada personel yang menaikkan dan menurunkan, apa gong bisa gerak sendiri.