Photo hanya pemanis. Tidak ada hubungan langsung dengan judul tulisan ini.
Bertepatan dengan hari Tilem sasih Jiyestha yaitu pada Jumat 19 Mei 2023, pagi hari ada beberapa photo diposting ke group WA kelian Banjar oleh humas BOP. Disertai narasi komentar, kurang lebih begini, diinformasikan bahwa bale papelik pura agung amerta bhuana pagi ini roboh. Sementara di grup WA satunya yang isinya kangin kauh, ditambahi kalimat, mohon umat tidak mengaitkan kejadian ini secara niskala. Masih diinvestigasi. Padahal tidak ada hujan tidak ada angin, Dalam photo terlihat 3 orang, yaitu humas BOP Gusti Ngurah Sudiana, penjaga Pura Komang Artawan, dan Jro Mangku Satriayasa.
Setelah diinvestigasi, ketemulah penyebab ambruknya Bale Papelik tersebut. Katanya pada sendi saka/ kaki bale papelik tidak dibaut. Lho kok mentah begitu hasil investigasinya. Bukankah Bale tersebut sudah bertahun tahun terpasang seperti itu. Mengapa baru sekarang ambruknya.
Baru kemudian saat setelah acara sembahyang bersama Saraswati, humas BOP Gusti Sudiana menyampaikan di hadapan umat yang hadir malam itu. Buru buru dikatakan bahwa kejadian robohnya bale Papelik tidak ada kaitannya dengan hal hal niskala. Katanya, dengan suara remang remang karena suaranya tidak jelas terdengar akibat jarak antara bibir dan mik terlalu jauh, ada bagian atas bale tersebut, katakanlah rangka, kayunya tidak sama dengan bahan yang lain. begitu kurang lebih yang saya dengar. Ya memang benar kita tidak tahu hal hal secara niskala. Makanya kita harus hati hati. Seakan apa yang disampaikan oleh Sudiana tersebut bertujuan mengcounter omongan ketua PHDI Kepri yang sebelumnya saat memberikan dharma wacana malam itu. Meskipun beliau tidak mengatakannya secara explisit kejadian robohnya bale papelik, beliau mengajak umat semua agar senantiasa menjaga tingkah laku, perkataan yang selalu baik, mohon ampunlah kepada Hyang Widhi jika ada berbuat yang tidak baik.
Malam hari sebelum robohnya bale papelik, sekelompok umat hindu, yang saya perhatikan memang suka pesta dan minum minuman keras di area pura, dan itu sering dilakukan. Bahkan sebelumnya sering minum sampai mabuk di Graha Pinandita, yang menurut saya sesuai namanya seharusnya dijadikan tempat tinggal yang suci, jauh dari perbuatan negatif.
Malam itu kebetulan saya menghadiri rapat pembubaran panitia nyepi di gedung sekretariat PHDI yang harus melewati wantilan/ Pasraman. Saya parkir mobil dan turun. Penasaran ada apa gerangan kok rame dan ribut ribut. Saya perhatikan ada yang teriak teriak dan dipegang ramai ramai menuju salah satu mobil. Ada yang wajahnya serius, ada yang tertawa tawa. Saya mencoba mendekat. Tak ada yang bisa saya sapa. Begitupun mereka tidak ada yang menyapa saya. Mungkin komunitasnya beda. Kebetulan saya lihat ada Jero Mangku disana. Saya tanya, ada apa kok rame. Dia jawab, ah biasaaaa. Spontan saya jawab, haaa kayak gitu biasa?
Saya ndak habis pikir. Ini kawasan suci. kawasan Pura. Aneh dan sangat aneh. Kok di kawasan Pura mabuk mabukan, minum minuman keras. Saya perhatikan sepintas ada beberapa botol minuman keras yang sudah kosong dan ada yang masih isi tapi tidak penuh. Beberapa orang saya lihat tanpa baju dengan perut buncitnya. Hati saya rasanya mau menangis. Mengapa tidak ke diskotik atau club malam, atau minimal ke Cafe saja. Kan disana tempatnya. Ini kok malah dilingkungan Pura.
Saya kemudian menuju gedung Sekretariat, menyendiri, karena peserta rapat belum pada datang, terus terang saya merasa prihatin.


