Kamis, 18 Desember 2014
What's on your mind?
What's on your mind? begitu pertanyaan facebook tiap kali saya buka facebook. apa urusannya denganmu nanya2 saya segala si fb ini. baik kali kamu facebook. baiklah aku jawab pertanyaanmu fb ! malam ini tentu sangat bahagia dan senang pulang dari pura sembahyang bersama hari raya galungan hari kemenangan dharma melawan adharma. apakah saya menang? hanya saya yg tau. sehabis salam2an saya langsung pulang, dalam perjalanan satu pertanyaan yg sangat mengganggu pikiran saya dan diikuti oleh pertanyaan2 lainnya. berapa sih sebenarnya jumlah lembaga hindu yang berkedudukan di batam? adakah lembaga yg tidak diakui oleh umatnya? kalau iya, nah mengapa? apa kurang sosialisasi? apa ketuanya tidak disukai? apa karena ketuanya sedikit bicara sedikit kerja sedikit nyumbang, tidak seperti lembaga yg lainnya? yang hanya diingat kalo ada yg perlu diphoto, perlu pengeras suara? apa kurang sosialisasi menghias halaman fb? kalau semua itu benar adanya, betapa malunya sang ketua. kenapa ketuanya ndak tau diri? mugnkin perlu diusulkan dihilangkan aja, penting bagi negara karna mengurangi anggaran bantuan. pertanyaan saya terakhir dibenak sendiri, apakah saya bagian dari orang yg diatur oleh sekelompok paduan suara melankolis ? demikian, mudah2an pertanyaan si facebook tentang apa yg ada di benak saya bisa terjawab, jika tidak nanti saya tanyakan di scope nasional. trima kasih facebook
Senin, 15 Desember 2014
Inspirasi
berbagi anandam, barangkali demikian perasaan kami pada kamis malam di medan kemarin bersama bapak Wayan Catra Yasa penasehat Ssgbatam. dijemput oleh bhakta sai brother alex menuju ke salah satu sai center untuk bhajan. mampir ke restoran vegi berkah miliknya. masakan vegi yg pas sekali dengan lidah org indonesia. kemudian menuju center, bhajan di center vihara lt 3 yg diikuti sebagian besar etnis china, tertib, tepat waktu, tertata dengan rapi. salah satu bhakta sedang membangun gedung 9 lantai, lt 1 s/d 8 untuk vihara dan kegiatannya, lt 9 untuk sai center. kemudian bro alek menunjukkan satu ruangan khusus yg saat itu lampunya agak redup yaitu ruang penyimpanan abu jenasah para orang tua. biaya penyimpanan saja ratusan juta rp per abu jenasah belum termasuk biaya perawatan tahunan. wow fantastic. kemudian pulang ke restoran bro alek lagi2 disuguhi makan malam. setelah tutup restorant, bro alek dan putranya membawa skitar 15 nasi bungkus dan air putih. berangkatlah kami putar2 kota mencari tukang becak, pengemis, gelandangan dan orang gila yg tidur di emperan toko diberi nasi bungkus gratis. wow lagi2 pengalaman pertama selama hidup. namun ini kegiatan bro alek rutin setiap malam. wow its very inspiring.
Rentenir
barusan kedatangan tamu seorang wanita 'ni luh' bersama suaminya yg 'baru'. singkat cerita ni luh ini sudah nikah lagi dgn pemuda asal jawa timur setelah meninggalkan suami dan anaknya di bali, katanya sudah ndak tahan sama suaminya hanya kerjanya mabuk2an tak punya kerjaan tetap. miris juga dengernya. dulu nikah di batm sepertinya karna kecelakaan dgn suaminya itu. dulu di batam ikut numpang di kluarga salah satu umat hindu boleh dibilang tokoh umatlah. saat datang ke dua kali ini katanya ndak tahan ikut numpang di kluarga tokoh ini akhirnya kos di daerah batu aji karena kerjanya di mukakuning. singkat cerita nikah lagi sama pemuda dan ikut agama yg laki ini. kemudian ambil kredit rumah, uang muka pinjam ke kluarga 'tokoh' ini. tanpa ada perjanjian hitam di atas putih dan ni luh ini terkesan lugu dan polos, pinjamlah dia 10 jt kpada si ibu tokoh ini. nah ternyata pinjem 10jt dikasi hanya 9 jt katanya yg satu jt cicilan bunganya saja, pembayaran bulan pertama. sampe di sini saya langsung inget banyolan lawak di tv. nah terus katanya bulan kedua tidak usah bayar dulu. tapi ternyata si ibu tokoh ini nelpon terus sambil memaki2 ni luh ini. trus saya tanya kepada niluh ini, brapa bunganya yg harus kamu bayar. kata dia 50%, harus kembali 15jt. astaga kata saya. tiap bulan saya harus bayar 1 jt selama lima bulan, habis itu baru nyicil pokok pinjaman. saya ditunjukin kwitansi pembayaran 1jtnya. astagafirullah kata saya lagi. dengan gerem saya bilng ke ni luh, ini ndak bener ini pemerasan, kamu bilang ke si ibu itu bahwa ini ndak bener, ini melebihi rentenir, kamu bisa lapor polisi. kamu dibodoh2in. dengan polosnya dia jawab, saya takut, ndak berani, saya takut diancam, saya takut sama bapak. anggap ini pelajaran bagi saya, makanya saya mau jual lagi rumah saya untuk melunasi utang saya, kata dia. sebagai orang bali saya merasa malu juga dengernya , ternyata ada toh orang bali begitu kejam ke sesama orang bali di rantauan. pada intinya ni luh ini tidak bisa berbuat apa2 kecuali bagaimana caranya untuk membayar utang dengan bunganya 15 jt ini.
silakan pembaca untuk merenungkannya.
silakan pembaca untuk merenungkannya.
Senin, 08 Desember 2014
Kiprah Orang Bali di Perkit
Minggu 7 Desember 2014, pelantikan pengurus perkit di hotel pasific batam.
Khusus umat Hindu disediakan satu buah bus kapasitas 35 orang dari pura agung menuju hotel pasific dan kembali lagi ke pura agung setelah acara.
Acara dimulai pukul 10 pagi karena dihadiri oleh Gubernur Kepri HM Sani, yang waktunya sangat terbatas berhubung harus menghadiri acara ditempat lain. Sampai acara penandatanganan surat pengukuhan pengurus Perkit, rombongan umat hindu yang dari Pura Agung belum muncul-muncul juga. Tidak lebih dari 10 orang 'bali' yang hadir. beberapa menit kemudian kelihatan rombongan dari Pura Agung berjumlah 5 orang duduk di deretan kursi belakang. Mubasir dan kontras sekali dengan perwakilan provinsi lain yang masyarakatnya berbondong-bondong datang.
Acara demi acara terlewati, hingga tiba waktu makan siang pada jam 12.15. Menu makan siang masih ukuran standard hotel, tidak terlalu jelek.
Satu acara pokok selesai kemudian dilanjutkan dengan acara ke 2 yaitu rapat kerja. Dari 10 orang pengurus perwakilan Hindu/ Bali sudah pada pulang termasuk saya karena ada keperluan lain. Meski saya sempat ditelpon oleh Sekjen pada saat acara Raker dimulai karena tidak terlihat ada di tempat. Praktis yang tersisa disana dari perwakilan Hindu adalah satu peserta dan satu sekjen.
Dua hari menjelang acara pelantikan, semua perwakilan dari IKB diundang meeting di Gedung otorita Batam di ruangan ketua IKB. Saya berhalangan hadir, ternyata yang hadir cuman 4 orang. Wah kenapa begini? Mungkin orang Bali itu cocoknya hanya jadi penghibur sementara daerah lain saling antusias menyuarakan kepentingannya.
Khusus umat Hindu disediakan satu buah bus kapasitas 35 orang dari pura agung menuju hotel pasific dan kembali lagi ke pura agung setelah acara.
Acara dimulai pukul 10 pagi karena dihadiri oleh Gubernur Kepri HM Sani, yang waktunya sangat terbatas berhubung harus menghadiri acara ditempat lain. Sampai acara penandatanganan surat pengukuhan pengurus Perkit, rombongan umat hindu yang dari Pura Agung belum muncul-muncul juga. Tidak lebih dari 10 orang 'bali' yang hadir. beberapa menit kemudian kelihatan rombongan dari Pura Agung berjumlah 5 orang duduk di deretan kursi belakang. Mubasir dan kontras sekali dengan perwakilan provinsi lain yang masyarakatnya berbondong-bondong datang.
Acara demi acara terlewati, hingga tiba waktu makan siang pada jam 12.15. Menu makan siang masih ukuran standard hotel, tidak terlalu jelek.
Satu acara pokok selesai kemudian dilanjutkan dengan acara ke 2 yaitu rapat kerja. Dari 10 orang pengurus perwakilan Hindu/ Bali sudah pada pulang termasuk saya karena ada keperluan lain. Meski saya sempat ditelpon oleh Sekjen pada saat acara Raker dimulai karena tidak terlihat ada di tempat. Praktis yang tersisa disana dari perwakilan Hindu adalah satu peserta dan satu sekjen.
Dua hari menjelang acara pelantikan, semua perwakilan dari IKB diundang meeting di Gedung otorita Batam di ruangan ketua IKB. Saya berhalangan hadir, ternyata yang hadir cuman 4 orang. Wah kenapa begini? Mungkin orang Bali itu cocoknya hanya jadi penghibur sementara daerah lain saling antusias menyuarakan kepentingannya.
Kamis, 04 Desember 2014
Melestarikan Budaya Bali 'MECEKI'
Di suatu hari minggu dibulan nopember tahun 2014, sesuatu yang menggelitik hati saya, barangkali bagi sebagian orang adalah hal yang biasa dan wajar, namun tidaklah demikian bagi saya pribadi. Ataukah karena saya dibesarkan bukan dilingkungan keluarga penjudi. Saya tidak akan mengutarakan apa definisi judi itu sendiri.
Waktu itu, ketua Parisada Kepri yang nota bene adalah Lembaga Tertinggi Agama Hindu di Kepulauan Riau bersama beberapa pengurus lainnya main 'ceki' di areal Pura Agung. Tempatnyapun bukan di tempat sembarangan, yaitu di Graha Pinandita yaitu tempat tinggal Pinandita Pura. Kalau ditanya apanya yang salah. Tentu tidak ada yang salah di sini karena ukuran yang mengatakan salah benar itu tidak ada.
Hanya yang perlu diingat, ini adalah lingkungan tempat suci agama Hindu dan juga lingkungan sekolah bagi siswa agama hindu. Bukankah setiap tingkah laku pengurus lembaga diperhatikan oleh umatnya?
Seharusnya pengurus lembaga berkumpul membicarakan program atau rencana kegiatan yang bersifat keagamaan, harus punya gagasan memajukan umatnya. Paling tidak harus bisa menyempatkan diri datang dalam kegiatan bersama, misalnya sembahyang bersama, arisan, dll. sehingga umat merasa terayomi atau terbina.
Waktu itu, ketua Parisada Kepri yang nota bene adalah Lembaga Tertinggi Agama Hindu di Kepulauan Riau bersama beberapa pengurus lainnya main 'ceki' di areal Pura Agung. Tempatnyapun bukan di tempat sembarangan, yaitu di Graha Pinandita yaitu tempat tinggal Pinandita Pura. Kalau ditanya apanya yang salah. Tentu tidak ada yang salah di sini karena ukuran yang mengatakan salah benar itu tidak ada.
Hanya yang perlu diingat, ini adalah lingkungan tempat suci agama Hindu dan juga lingkungan sekolah bagi siswa agama hindu. Bukankah setiap tingkah laku pengurus lembaga diperhatikan oleh umatnya?
Seharusnya pengurus lembaga berkumpul membicarakan program atau rencana kegiatan yang bersifat keagamaan, harus punya gagasan memajukan umatnya. Paling tidak harus bisa menyempatkan diri datang dalam kegiatan bersama, misalnya sembahyang bersama, arisan, dll. sehingga umat merasa terayomi atau terbina.
Selasa, 02 Desember 2014
FB - Media Caper, media Pamer, Media Curhat
Sampai saat ini Facebook (FB) merupakan media sosial yang paling banyak digunakan orang. Tidak diketahui pasti berapa pengguna facebook diseluruh dunia kecuali pemilik server Facebook. Media ini sebenarnya sangat effective jika digunakan dengan tujuan positif. Misalnya untuk komunitas suku, komunitas keagamaan, spiritual, bisnis atau promosi suatu barang ataukah sebagai tempat berdiskusi.
Namun sebagian besar pengguna FB tidak lebih menggunakan FB hanya sebagai tempat pamer, misalnya sedang berada dimana, sedang ngapain atau pamer memiliki sesuatu yang orang lain tidak memilikinya.
Di FB kita bebas mengundang setiap orang yang kita ketahui namanya untuk berteman dengan kita, baik orang tersebut kita kenal maupun tidak kita kenal langsung. Setiap orang yang menjadi teman kita akan selalu melihat postingan yang kita buat dan bebas untuk mengomentarinya. Seharusnyalah yang namanya teman pertemanan di FB tidak boleh ada rasa emmbenci atau sakit hati atau tersinggung, toh keputusan ada di ujung jari kita untuk mengklik tombol unfriend.
Saya beberapa kali mengalami hal yang tidak mengenakkan. Beberapa contoh misalnya : pertama, atas dasar pertemanan dan juga kenal baik di darat, ketika seorang ibu membuat status di FB sedang berada disuatu tempat lagi happy-happy sementara malam itu adalah piodalan disuatu pura di Batam. Karena situasinya dilingkungan tempat ibadah, saya mengomentari statusnya dengan satu kalimat pendek 'odalan kok di ...............(suatu tempat-red)' terus si ibu itu mereply kembali dengan kata-kata yang tidak enak dibaca oleh orang tua. Penulis sungguh tidak nyaman membacanya, apalagi dia berkomentar silih berganti dengan orang lain. Entah apa namanya perasaan saat itu, kaget, marah, kecewa, entah apa lagi, karena sama sekali tidak menduga sebelumnya. Membaca replynya saja saya merasa malu, kok jawabannya begitu. Tanpa pikir panjang, langsung yang bersangkutan saya unfriend, bahkan sampai saat ini saya tidak bertegur sapa jika bertemu.
Kejadian yang kedua: kejadian setelah ulangan akhir semester ganjil, kebetulan saya yang menyediakan soal ulangan dari tahun sebelumnya, hanya mengeprint ulang karena guru yang bersangkutan sedang berhalangan. Ketika saya mengoreksi jawaban murid ternyata 50% dapat nilai jelek. Nah saya merasa prihatin kemudian memposting status di FB yang intinya mengapa sampai setengah dari jumlah siswa mendapat nilai jelek, dan intinya ngajak pengurus pasraman mereview kenapa, apa siswa tidak tertarik dengan pelajaran agama? atau masalah lain? Nah belum apa-apa guru yang bersangkutan tersinggung dan mutung, parahnya lagi dikomentari miring oleh teman yang lain. Waduh benar-benar kaget saya membaca tanggapannya, rasanya marah luar biasa tapi tak tahu marah ke siapa. Betapa gampangnya orang tersinggung dan marah. Padahal maksud saya ingin tahu apa yang terjadi dengan siswa, bukan dengan gurunya. Saya jelaskan kepada yang bersangkutan, entah mau terima atau tidak saya tidak mau tahu. Menghindari jadi masalah yang melebar kesana kemari, postinganpun langsung saya hapus.
Kejadian ketiga : dalam suatu acara, seorang yang mewakili lembaga tertinggi hindu berkesempatan memberikan kata sambutan, tanpa teks, kesannya mencla mencle, bicaranya tidak lancar. Nah saya mebuat status di FB, ini juga atas dasar rasa prihatin karena merasa memiliki lembaga tersebut,kok yang namanya mewakili lembaga tertinggi agama seprovinsi bicaranya begitu blepotan. Saya bikin status sebenarnya hanya saran, sebaiknya kalau memberi sambutan itu ditulis biar jelas, siapa saja tamu yang hadir, dari perwakilan mana saja. Nah ini juga yang bersangkutan malah tersinggung. Malu juga membaca replynya, langsung postingan itu saya remove.
Kesimpulan saya : Bagi sebagian orang, Media FB bukanlah untuk media yang sifatnya serius, hanya untuk fun saja, saling sanjung, saling pamer, media untuk membuat sekedar senang orang lain.
Namun sebagian besar pengguna FB tidak lebih menggunakan FB hanya sebagai tempat pamer, misalnya sedang berada dimana, sedang ngapain atau pamer memiliki sesuatu yang orang lain tidak memilikinya.
Di FB kita bebas mengundang setiap orang yang kita ketahui namanya untuk berteman dengan kita, baik orang tersebut kita kenal maupun tidak kita kenal langsung. Setiap orang yang menjadi teman kita akan selalu melihat postingan yang kita buat dan bebas untuk mengomentarinya. Seharusnyalah yang namanya teman pertemanan di FB tidak boleh ada rasa emmbenci atau sakit hati atau tersinggung, toh keputusan ada di ujung jari kita untuk mengklik tombol unfriend.
Saya beberapa kali mengalami hal yang tidak mengenakkan. Beberapa contoh misalnya : pertama, atas dasar pertemanan dan juga kenal baik di darat, ketika seorang ibu membuat status di FB sedang berada disuatu tempat lagi happy-happy sementara malam itu adalah piodalan disuatu pura di Batam. Karena situasinya dilingkungan tempat ibadah, saya mengomentari statusnya dengan satu kalimat pendek 'odalan kok di ...............(suatu tempat-red)' terus si ibu itu mereply kembali dengan kata-kata yang tidak enak dibaca oleh orang tua. Penulis sungguh tidak nyaman membacanya, apalagi dia berkomentar silih berganti dengan orang lain. Entah apa namanya perasaan saat itu, kaget, marah, kecewa, entah apa lagi, karena sama sekali tidak menduga sebelumnya. Membaca replynya saja saya merasa malu, kok jawabannya begitu. Tanpa pikir panjang, langsung yang bersangkutan saya unfriend, bahkan sampai saat ini saya tidak bertegur sapa jika bertemu.
Kejadian yang kedua: kejadian setelah ulangan akhir semester ganjil, kebetulan saya yang menyediakan soal ulangan dari tahun sebelumnya, hanya mengeprint ulang karena guru yang bersangkutan sedang berhalangan. Ketika saya mengoreksi jawaban murid ternyata 50% dapat nilai jelek. Nah saya merasa prihatin kemudian memposting status di FB yang intinya mengapa sampai setengah dari jumlah siswa mendapat nilai jelek, dan intinya ngajak pengurus pasraman mereview kenapa, apa siswa tidak tertarik dengan pelajaran agama? atau masalah lain? Nah belum apa-apa guru yang bersangkutan tersinggung dan mutung, parahnya lagi dikomentari miring oleh teman yang lain. Waduh benar-benar kaget saya membaca tanggapannya, rasanya marah luar biasa tapi tak tahu marah ke siapa. Betapa gampangnya orang tersinggung dan marah. Padahal maksud saya ingin tahu apa yang terjadi dengan siswa, bukan dengan gurunya. Saya jelaskan kepada yang bersangkutan, entah mau terima atau tidak saya tidak mau tahu. Menghindari jadi masalah yang melebar kesana kemari, postinganpun langsung saya hapus.
Kejadian ketiga : dalam suatu acara, seorang yang mewakili lembaga tertinggi hindu berkesempatan memberikan kata sambutan, tanpa teks, kesannya mencla mencle, bicaranya tidak lancar. Nah saya mebuat status di FB, ini juga atas dasar rasa prihatin karena merasa memiliki lembaga tersebut,kok yang namanya mewakili lembaga tertinggi agama seprovinsi bicaranya begitu blepotan. Saya bikin status sebenarnya hanya saran, sebaiknya kalau memberi sambutan itu ditulis biar jelas, siapa saja tamu yang hadir, dari perwakilan mana saja. Nah ini juga yang bersangkutan malah tersinggung. Malu juga membaca replynya, langsung postingan itu saya remove.
Kesimpulan saya : Bagi sebagian orang, Media FB bukanlah untuk media yang sifatnya serius, hanya untuk fun saja, saling sanjung, saling pamer, media untuk membuat sekedar senang orang lain.
Sabtu, 29 November 2014
Pelatihan Setengah Hati
Ini sebenarnya program rutin tahunan dari Pemerintah Kota untuk mengalokasikan anggaran pelatihan bagi umat Hindu. Acara ini atas kerjasama dengan Parisada kota Batam untuk menghadirkan seratus peserta.
Saya terima SMS dua hari sebelum acara, yaitu hari Kamis menjelang siang. Intinya isi SMS adalah undangan menghadiri pelatihan selama dua hari di hotel Nagoya Plaza dari Jumat pagi sampai Sabtu siang. Sayapun merespon SMS tersebut dengan mereplynya bahwa akan menghadiri acara itu. Dalam pikiran mulai direka-reka jadwal kerja di pt agar dapat cuti.
Setelah jam makan siang hp berbunyi bahwa ada SMS masuk. Isinya undangan sembahyang bersama di pura agung bersama seorang tokoh hindu dari Dirjen Hindu Kemenag RI. Undangan di SMS untuk sembahyang jam 7 malam di hari yang sama. Sayapun berangkat dari rumah jam 7 malam, dengan anggapan paling-paling sembahyangnya juga molor. Saya berangkat sendiri, dan sampai di pura saya menjumpai baru ada satu keluarga dan salah satu Jero Mangku. Kemudian menyusul datang tamu yang dari Jakarta yaitu bapak Gede Jaman didampingi oleh Ketua Parisada Kota Batam yaitu Pak Dewa Yuda.
Kami menuju mandala utama, yang sedikit aneh bahwa salah satu Jero Mangku tidak tahu ada acara sembahyang bersama. Teman disebelah saya bertanya 'yang lainnya pada kemana?'. Saya jawab, 'mungkin ntar lagi pada datang, mungkin pada masih di jalan'. Namun ternyata samapai selesai sembahyang yang ikut hanya 13 orang termasuk dua orang Jero Mangku dan dua orang anak-anak.
Keesokan harinya acara dilaksanakan di sebuah hotel (Nagoya Plaza), saya sedikit terlambat datang yaitu sekitar jam 10. Saya mengisi daftar hadir pada urutan peserta nomor 17. Kok terasa sepi, ternyata setelah masuk ruangan, dari seratusan kursi meja yang disediakan hanya terisi sepertiganya. Mubasir sekali pikir saya. Dalam sambutan sesepuh Hindu di Batam meminta maaf kepada pemerintah kota bahwa peta umat hindu di kota batam seperti ini, sebagian besar bekerja di perusahaan, makanya kalau acara dilaksanakan pada hari kerja, maka yang hadir tidak maksimal.
Umat akan datang di sore hari dan besok karena sabtu adalah hari libur sehinga bisa hadir seratusan peserta.
Ternyata ucapan tokoh ini tidak terbukti, karena di sore hari hampir jumlah peserta tidak bertambah, malah sebaliknya banyak yang pulang duluan setelah makan siang.
Keesokan harinyapun, yang panitia menargetkan untuk menghadirkan umat minimal 60 orang hanya datang tak lebih dari 35 orang. Atas dasar apa panitia menargetkan 60 orang, kenapa tidak sekalian seratus orang seperti target yang diharapkan pemerintah kota. Menyedihkan sekali sebenarnya. Tapi apakah ada yang peduli untuk memperbaiki kondisi ini? Bukankah panitia bisa minta bantuan kelian banjar untuk menghadirkan umatnya. Tidak cukup hanya kirim SMS. Yang jauh lebih penting adalah konfirmasi hadir atau tidak. Apa tidak malu kita menghadirkan pembicara dari pusat namun peserta yang hadir hanya segelintir orang? Ketua-ketua lembaga keagamaan hindu juga diundang lewat SMS untuk menghadiri acara pembukaannya, namun tak satupun yang mengatasnamakan lembaga keumatan hadir disitu. Saya terlanjur ambil cuti satu hari untuk bisa hadir di acara tersebut.
Kesimpulannya : Hal yang penting dan serius harus disikapi dengan serius juga. Jika tidak maka akan terkesan main-main saja.
Saya terima SMS dua hari sebelum acara, yaitu hari Kamis menjelang siang. Intinya isi SMS adalah undangan menghadiri pelatihan selama dua hari di hotel Nagoya Plaza dari Jumat pagi sampai Sabtu siang. Sayapun merespon SMS tersebut dengan mereplynya bahwa akan menghadiri acara itu. Dalam pikiran mulai direka-reka jadwal kerja di pt agar dapat cuti.
Setelah jam makan siang hp berbunyi bahwa ada SMS masuk. Isinya undangan sembahyang bersama di pura agung bersama seorang tokoh hindu dari Dirjen Hindu Kemenag RI. Undangan di SMS untuk sembahyang jam 7 malam di hari yang sama. Sayapun berangkat dari rumah jam 7 malam, dengan anggapan paling-paling sembahyangnya juga molor. Saya berangkat sendiri, dan sampai di pura saya menjumpai baru ada satu keluarga dan salah satu Jero Mangku. Kemudian menyusul datang tamu yang dari Jakarta yaitu bapak Gede Jaman didampingi oleh Ketua Parisada Kota Batam yaitu Pak Dewa Yuda.
Kami menuju mandala utama, yang sedikit aneh bahwa salah satu Jero Mangku tidak tahu ada acara sembahyang bersama. Teman disebelah saya bertanya 'yang lainnya pada kemana?'. Saya jawab, 'mungkin ntar lagi pada datang, mungkin pada masih di jalan'. Namun ternyata samapai selesai sembahyang yang ikut hanya 13 orang termasuk dua orang Jero Mangku dan dua orang anak-anak.
Keesokan harinya acara dilaksanakan di sebuah hotel (Nagoya Plaza), saya sedikit terlambat datang yaitu sekitar jam 10. Saya mengisi daftar hadir pada urutan peserta nomor 17. Kok terasa sepi, ternyata setelah masuk ruangan, dari seratusan kursi meja yang disediakan hanya terisi sepertiganya. Mubasir sekali pikir saya. Dalam sambutan sesepuh Hindu di Batam meminta maaf kepada pemerintah kota bahwa peta umat hindu di kota batam seperti ini, sebagian besar bekerja di perusahaan, makanya kalau acara dilaksanakan pada hari kerja, maka yang hadir tidak maksimal.
Umat akan datang di sore hari dan besok karena sabtu adalah hari libur sehinga bisa hadir seratusan peserta.
Ternyata ucapan tokoh ini tidak terbukti, karena di sore hari hampir jumlah peserta tidak bertambah, malah sebaliknya banyak yang pulang duluan setelah makan siang.
Keesokan harinyapun, yang panitia menargetkan untuk menghadirkan umat minimal 60 orang hanya datang tak lebih dari 35 orang. Atas dasar apa panitia menargetkan 60 orang, kenapa tidak sekalian seratus orang seperti target yang diharapkan pemerintah kota. Menyedihkan sekali sebenarnya. Tapi apakah ada yang peduli untuk memperbaiki kondisi ini? Bukankah panitia bisa minta bantuan kelian banjar untuk menghadirkan umatnya. Tidak cukup hanya kirim SMS. Yang jauh lebih penting adalah konfirmasi hadir atau tidak. Apa tidak malu kita menghadirkan pembicara dari pusat namun peserta yang hadir hanya segelintir orang? Ketua-ketua lembaga keagamaan hindu juga diundang lewat SMS untuk menghadiri acara pembukaannya, namun tak satupun yang mengatasnamakan lembaga keumatan hadir disitu. Saya terlanjur ambil cuti satu hari untuk bisa hadir di acara tersebut.
Kesimpulannya : Hal yang penting dan serius harus disikapi dengan serius juga. Jika tidak maka akan terkesan main-main saja.
Selasa, 18 November 2014
MENEBAR FITNAH MENGHARAP SIMPATI
Minggu 16 Nopember 2014 tatkala saya mengkoordinir perayaan
hari kelahiran Bhagavan Sri Sathya Sai Baba ke 89 yang bertempat di aula
pasraman jnana sila bhakti batam, suatu pelajaran yang dapat diambil hikmahnya.
Pertama, acara yang dihadiri juga oleh 48 orang bhakta singapore itu rencananya
akan dilaksanakan di bale paselang mandala utama pura agung seperti tahun tahun
sebelumnya, kini disarankan untuk dilaksanakan di aula pasraman dengan alasan lebih
memadai lagipula untuk memanfaatkan sarana yang ada, mengingat ada umat yang
memberi masukan kepada parisada, kemudian parisada menyampaikan kepada
pengelola pura dalam hal ini Badan Otorita Pura atau BOP. Cukup bijak langkah
yang diambil Parisada dan Ketua BOP.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah yang mengatas namakan
umat dan langsung direspon oleh parisada. Jangan-jangan ini hanya ulah segelintir
orang yang mengatas namakan umat namun mengapa langsung direspon oleh parisada.
Ataukah ini adalah ulah dari orang atau bahkan ikut jadi pengurus lembaga
keagamaan dan tidak jauh-jauh dari lingkungan penulis. Penulis sendiripun
adalah umat, yang mungkin tidak berlebihan jika saya menyebut diri saya seorang
umat yang ‘peteng lemah’di lingkungan pura. Apakah seorang ketua Parisada yang
sangat jarang turun ke lapangan atau Pura dengan gampang menerima masukan.
Yang kedua, penulis diminta oleh Bahkta Singapore memberikan
10 kupon kepada anak-anak pasraman/ paud untuk ikut pada acara potong kue agar
tidak terlalu banyak anak-anak di deket altar. Kupon dititipkan ke gurunya,
namun rupanya entah dibagikan semua atau tidak. Malah pengurus Paud sibuk
bicara kesana kemari kenapa kok ndak semua dikasi kupon. Saya kok jadi heran, bukannya
bersyukur sudah dikasi, ini malah protes. Bahkan setelah beberapa anak yang
hadir di acara mendapat hadih, ada orang tua malah ribut berkata ‘anakku punya
kupon kok tidak dikasi hadiah’. Waduh dari tadi saat acara berlangsung anaknya
entah kemana diajak orang tuanya, setelah lihat teman-temannya bawa hadiah baru
ribut. Nah uniknya lagi, salah seorang pengurus malah sibuk membagi-bagikan
bingkisan kepada anak-anak dari biaya sendiri. Bagi sebagian orang yang tidak
jeli mungkin hal ini biasa saja, namun penulis melihatnya sesuatu yang unik,
istilah kerennya tebar pesona agar dikagumi orang lain.
Yang ketiga, saya dimintai ada penari bali di acara tersebut
dan sudah dijanjikan ada 4 penari. Sayapun menginformasikan ke bhakta singapore
ada 4 penari, tolong disiapkan bingkisan. Ternyata yang sanggup hanya dua
penari. Sayapun tidak tahu persis apa alasannya, apa orang tua tidak mendukung
atau alasan lain. Tentunya hanya yang bersangkutan yang tahu.
Yang keempat, kami panitia menyediakan 250 paket gado-gado
gratis untuk bhakta dan semua umat yang hadir. Bagi yang hatinya masih
lurus-lurus dan polos, tidak ada masalah mau memakannya. Namun segelintir orang
yang menyimpan rasa iri dan dengki, rela menahan laparnya karena gengsi ikut
makan pemberian kami. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah merasa gengsi
karena dikasi gratis? Atau perasaan lain?
Tahun tahun sebelumnya, yang dipermasalahkan adalah sampah
bekas makanan setelah acara serupa selesai. Tidak rela orang lain yang membuang
sampah. Kata-kata sinis dilontarkannya. Jadi sebenarnya apa yang dibicarakan
selama ini, apa hanya ngerumpi menebarkan sifat iri dan dengki. Bukannya
hal-hal positif yang dibicarakan, malah mengajak orang lain menebarkan rasa
kebencian. Sangat bijaksana jika ada yang mengatakan ‘nak irage jak liu, nak
mule keto’. Padahal kata-kata bijak ini meninabobokkan kita, menjerumuskan
kita, bukan menyelesaikan masalah. Terima kasih.
Kamis, 27 Februari 2014
“NGAYAH” SEBAGAI TEAM SUKSES CALEG
Tahun ini adalah tahun politik, demikian kata-kata yang
sering terdengar dari para pembicara baik di ruang public maupun di internal
suatu lembaga. Tentu karena di tahun ini diseluruh Indonesia akan digelar
hajatan nasional yaitu pemilu legislative yang akan diadakan serentak pada
tanggal 9 april.
Sepanjang jalan, gang-gang perumahan, kampung-kampung,
dihiasi dengan photo-photo caleg atau spanduk bernuansa pemilu. Moment hari
raya keagamaan biasanya digunakan sebagai kesempatan mengucapkan hari raya dan
tentunya pengenalan kepada khalayak ramai. Besar kecilnya baliho atau spanduk
ucapan tentu berkaitan dengan anggaran yang dimiliki masing-masing caleg.
Masing-masing caleg tentu memiliki strategi tersendiri untuk
menarik simpati masyarakat. Dari iming-iming bantuan sarana lingkungan,
pengobatan bahkan ada yang memberikan bantuan nyata seperti pembuatan jalan,
pengaspalan jalan kampong, dan sebagainya. Tentu diharapkan saat pencoblosan nanti
masyarakat akan memilih dia. Secara umum para caleg berharap banyak dari simpati
komunitasnya terlebih dulu, kemudian berusaha mencari dukungan ke komunitas
lain.
Bagaimanakah halnya dengan umat hindu atau masyarakat Bali
di batam? Umat hindu harus buka mata buka hati bahwa urusan politik bukanlah
hal yang kotor atau tabu untuk dibicarakan. Siapakah yang akan memperjuangkan
hak-hak umat hindu jika tidak memiliki wakil di dewan. Siapakah yang akan
mengusulkan kepentingan-kepentingan umat hindu di daerah yang akan dimasukkan
dalam peraturan daerah misalnya.
Umat hindu di rantau sepatutnya bersyukur karena ada umat
yang maju menjadi caleg. Tentu harus didukung, bukan malah dicemooh. Dukungan harus
dengan usaha nyata, bukan sekedar omongan manis dibibir. Tentu berbeda dengan
urusan ‘ngayah’ di pura misalnya. Ngayah dipura boleh dibilang suka-suka hati,
mau datang silakan, ndak datang juga tidak ada yang komplin, apalagi didenda. Kata
ngayah justru sering dijadikan tameng untuk mencari alasan pembenaran.
Meski sudah dibentuk team sukses internal, bahkan saat
pembentukannya bagaikan mengadakan suatu
ikrar bersama kebulatan tekad untuk mendukung sang caleg namun nyatanya masih
terkesan mandul. Apakah apa-apa yang diutarakan hanya isapan jempol belaka. Sampai
saat saya menulis ini sama sekali tidak ada usaha team sukses yang mencerminkan
usaha kesuksesan caleg yang juga berarti kesuksesan bersama. Penulis cuman bisa
berangan-angan barangkali Team sukses ini sedang menyusun strategi untuk
melakukan suatu gebrakan jitu.
Langganan:
Komentar (Atom)