Selasa, 02 Desember 2014

FB - Media Caper, media Pamer, Media Curhat

Sampai saat ini Facebook (FB) merupakan media sosial yang paling banyak digunakan orang. Tidak diketahui pasti berapa pengguna facebook diseluruh dunia kecuali pemilik server Facebook. Media ini sebenarnya sangat effective jika digunakan dengan tujuan positif. Misalnya untuk komunitas suku, komunitas keagamaan, spiritual, bisnis atau promosi suatu barang ataukah sebagai tempat berdiskusi.
Namun sebagian besar pengguna FB tidak lebih menggunakan FB hanya sebagai tempat pamer, misalnya sedang berada dimana, sedang ngapain atau pamer memiliki sesuatu yang orang lain tidak memilikinya.
Di FB kita bebas mengundang setiap orang yang kita ketahui namanya untuk berteman dengan kita, baik orang tersebut kita kenal maupun tidak kita kenal langsung. Setiap orang yang menjadi teman kita akan selalu melihat postingan yang kita buat dan bebas untuk mengomentarinya. Seharusnyalah yang namanya teman pertemanan di FB tidak boleh ada rasa emmbenci atau sakit hati atau tersinggung, toh keputusan ada di ujung jari kita untuk mengklik tombol unfriend.
Saya beberapa kali mengalami hal yang tidak mengenakkan. Beberapa contoh misalnya : pertama, atas dasar pertemanan dan juga kenal baik di darat, ketika seorang ibu membuat status di FB sedang berada disuatu tempat lagi happy-happy sementara malam itu adalah piodalan disuatu pura di Batam. Karena situasinya dilingkungan tempat ibadah, saya mengomentari statusnya dengan satu kalimat pendek 'odalan kok di ...............(suatu tempat-red)' terus si ibu itu mereply kembali dengan kata-kata yang tidak enak dibaca oleh orang tua. Penulis sungguh tidak nyaman membacanya, apalagi dia berkomentar silih berganti dengan orang lain. Entah apa namanya perasaan saat itu, kaget, marah, kecewa, entah apa lagi, karena sama sekali tidak menduga sebelumnya. Membaca replynya saja saya merasa malu, kok jawabannya begitu. Tanpa pikir panjang, langsung yang bersangkutan saya unfriend, bahkan sampai saat ini saya tidak bertegur sapa jika bertemu.
Kejadian yang kedua: kejadian setelah ulangan akhir semester ganjil, kebetulan saya yang menyediakan soal ulangan dari tahun sebelumnya, hanya mengeprint ulang karena guru yang bersangkutan sedang berhalangan. Ketika saya mengoreksi jawaban murid ternyata 50% dapat nilai jelek. Nah saya merasa prihatin kemudian memposting status di FB yang intinya mengapa sampai setengah dari jumlah siswa mendapat nilai jelek, dan intinya ngajak pengurus pasraman mereview kenapa, apa siswa tidak tertarik dengan pelajaran agama? atau masalah lain? Nah belum apa-apa guru yang bersangkutan tersinggung dan mutung, parahnya lagi dikomentari miring oleh teman yang lain. Waduh benar-benar kaget saya membaca tanggapannya, rasanya marah luar biasa tapi tak tahu marah ke siapa. Betapa gampangnya orang tersinggung dan marah. Padahal maksud saya ingin tahu apa yang terjadi dengan siswa, bukan dengan gurunya. Saya jelaskan kepada yang bersangkutan, entah mau terima atau tidak saya tidak mau tahu. Menghindari jadi masalah yang melebar kesana kemari, postinganpun langsung saya hapus.
Kejadian ketiga : dalam suatu acara, seorang yang mewakili lembaga tertinggi hindu berkesempatan memberikan kata sambutan, tanpa teks, kesannya mencla mencle, bicaranya tidak lancar. Nah saya mebuat status di FB, ini juga atas dasar rasa prihatin karena merasa memiliki lembaga tersebut,kok yang namanya mewakili lembaga tertinggi agama seprovinsi bicaranya begitu blepotan. Saya bikin status sebenarnya hanya saran, sebaiknya kalau memberi sambutan itu ditulis biar jelas, siapa saja tamu yang hadir, dari perwakilan mana saja. Nah ini juga yang bersangkutan malah tersinggung. Malu juga membaca replynya, langsung postingan itu saya remove.
Kesimpulan saya : Bagi sebagian orang, Media FB bukanlah untuk media yang sifatnya serius, hanya untuk fun saja, saling sanjung, saling pamer, media untuk membuat sekedar senang orang lain.