Sabtu, 04 April 2020

ATURAN ADAT

Depan Ruang Jenazah, 'memunjung'

Aturan adat jangan sampai menyusahkan atau menghambat warga. Meskipun sifatnya hukum adat yang sudah barang tentu tidak tertulis, mau tidak mau harus diikuti oleh semua warga. Di Bali dikenal dengan awig-awig. Sifatnya turun temurun. Harusnya awig-awig mengikuti perkembangan jaman.
Hari Jumat pagi 13 Maret 2020, saya ditelpon adik dari Bali mengabarkan bahwa Bapak telah tiada. Saya seketika nyari-nyari tiket ke Bali keesokan harinya. Lumayan mahal. Mungkin karena mendadak. Rp 1,7 juta one way. Untung tiket belum deal, adik berpesan tunggu berita selanjutnya dari Bali, jangan buru-buru. Akhirnya benar bahwa upacara akan dilangsungkan 2 minggu kemudian.
Akhirnya agar tidak terlalu lama saya absen dari tempat kerja, saya pulang ke kampong tanggal 22 maret. Lumayanlah ambil cuti 1 minggu.
Pelan-pelan dibahas mengapa harus nunggu 2 minggu. Ternyata awig-awig desa adat menyatakan bahwa jika sedang ada upacara/ kegiatan di Pura Desa maka pada saat itu tidak diperkenankan ngubur jeazah ataupun ngaben. Waduh. Apa boleh buat, memang aturannya yang nota bene disampaikan oleh ketua adat, yang dominan bersifat subjektif tersebut harus diikuti.
Sambil nunggu hari yang telah disepakati, jenazah orang tua ditip dulu di rumah sakit. Sudah tentu perlu biaya, yang tidak sedikit. Biaya ambulance, biaya peti, biaya perawatan, biaya penitipan. Tergantung lama tidaknya jenazah dititip. Ya apa boleh buat. Masih mending 2 minggu. Bagaimana kalau nunggu 2 bulan?
Opsi lain memang masih ada. Jenazah disemayamkan di rumah dulu selama tidak diperbolehkan ngaben. Nah apa tidak semakin repot kalau begini. Harus menunggui mayat siang malam. Belum lagi masyarakat yang datang harus disediakan makan, ya minimal kopi. Bayangkan kalau sampai 2 bulan kondisi begini.
Belum lagi masalah cuntaka atau ‘sebel’ istilah balinya. Dimana keluarga yang kena cuntaka tidak boleh masuk tempat suci. Atau tidak boleh ikut dalam kegiatan keagamaan. Meskipun ini sebenarnya masalah rasa, tapi akan sangat sulit jika berada di rantauan yang kegiatan keagamaannya berjalan baik.
Harusnya aturan itu ada batasnya. Sejauh mana yang ada dampaknya. Sejauh mana tidak ada hubungannya. Lha ini hanya karena ada renovasi tembok penyengker Pura. Harus menunggu renovasi selesai. Apa ndak menulitkan warganya.
Tentu itu adalah PR bagi generasi penerus. Mencari solusi agar tidak menyulitkan warganya sendiri. Lha warganya sedang kemalangan kok malah dipersulit. Semoga ada perubahan.

Jumat, 03 April 2020

DAYA SAING

Dari Gocar, kawasan Airport
Saya landing di Ngurah rai Airport jam 3 sore tanggal 22 Maret 2020. Meski saya orang Bali tapi saya merasa asing di tanah sendiri.
Keluar dari pintu kedatangan, saya ikut arus orang saja. Kebanyakan orang-orang nunggu jemputan. Saya buka aplikasi Gojek dan nyantol satu Gocar. Tertera nama supir dan nomor plat kendaraan serta jenis kendaraan. Tarifnyapun tidak terlalu mahal. Rp 160ribu untuk tujuan Rumah Sakit di daerah Kapal.
Lewat chat saya diminta nunggu di gedung parkir umum depan lift. Saya tak tahu dimana lokasi yang dimaksud. Saya Tanya security yang jaga disana. Dengan sangat sopan dia menunjukkan lokasi yang saya tanyakan. Dan sayapun menuju tempat tersebut.
Sepanjang jalan kaki sambil menggendong dan menjinjing bawaan, supir taxi atau mungkin calo menawarkan angkutan. Meskipun saya sudah bilang bahwa saya sudah booking taxi tapi mereka tetap mengikuti saya. Bahkan ada yang menanyakan berapa harga taxi yang saya booking. Saya sangat merasa terganggu. Salah satu diantaranya masih ngotot menawarkan taxi. Lengan penuh tato, perawakan besar. Terkesan sangar. Saking jengkelnya, saya jawab, saya sudah booking taxi, ini lihat, apa saya batalkan ini. Dia diam dan bertanya pada istri saya di belakang saya. Apakah ibu orang bali, begitu saya dengar. Istri saya jawab dengan polos, iya saya dari bla bla bla.
Taxi yang saya booking pun tiba. Saya naik dan sepanjang perjalanan saya lebih sibuk mengikuti rute jalan dan nama jalan dari HP saya. Ngobrol sesekali dengan supirnya yang asli jawa timur itu.
Tak berapa lama saya tiba di Rumah Sakit tujuan, Rumah sakit Mangusada Kapal. Kakak dan beberapa orang sudah menunggu disana, sambil ‘mepunjung’ yaitu ngaturang prasadam bagi orang yang meninggal dan mayatnya masih disemayamkan. Kebetulan Jenazah Bapak saya dititip di sana selama dua minggu.
Setelah selesai acara Ngaben Bapak, saya kembali ke Batam tanggal 29 Maret 2020 hari minggu. Diantar adik saya dengan mobil langka espas tahun 90an. Sampai mendapat taxi online. Sampai dimanapun. Coba sekali di daerah meliling, tidak ada taxi yang respon. Geser lagi ke timur daerah sembung, juga tidak ada respon. Geser lagi sembung meranggi. Ternyata nyangkut satu. Dan tak berapa lama, taxipun tiba.
Sepanjang perjalanan ngobrol tiada henti dengan sang supir. Asli jawa timur. Supir taxi asli bali apakah tidak ada? Atau pada berlibur. Supir ini di bali sudah sejak sebelum BOM Bali satu. Dia bercerita bagaimana runyamnya perekonomian antara saat bom bali dan saat ini yaitu dampak wabah corona. Syukuri saja, kata dia. Mungkin waktunya kita lebih sering lagi bersama keluarga. Dia sudah seperti orang Bali meski masih muslim. Dia bangga hidup di bali. Dia beli tanah dibali. Waktu jaya jayanya pariwisata, dia bisa nabung tiap hari 500 ribu. Teman seprofesinya juga ada beberapa orang Bali. Tapi beda, kata dia. Orang Bali kurang gigih, cepat nyerah. Toh masih banyak punya tanah orang tua yang bisa sewaktu waktu dijual. Ya begitulah.

Rabu, 01 April 2020

SALAH PAHAM COVID’19

Petugas disinfectant.

Sangat menggegerkan. Bikin acara amburadul. Semua harus dischedule ulang. Itulah akibat wabah covid’19 yang mengglobal. Tidak mengenal tempat, waktu, siapa saja rentan tertular virus satu ini. Berita mengenai virus ini juga berseliweran, entah mana yang benar mana yang salah. Mana yang harus dipercaya, susah.
Saya di bali. Di kampong, saat upacara pengabenan Ayah saya. Banyak acara yang harus dibatalkan untuk mengikuti anjuran pemerintah. Yang utama adalah tidak boleh kumpul-kumpul. Ada sangsi hukumnya, demikian yang disampaikan ketua Adat di kampong. Nah bagaimana tidak kumpul-kumpul, ka nada upacara keagamaan. Kan ndak mungkin acara Ngaben dicancel. Akhirnya disepakati, acara tetap jalan, tapi usahakan jangan ada yang share photo atau videonya di medsos.
Tadinya direncanakan ada pengiring tabuh angklung, terpaksa dibatalkan dan cukup baleganjurnya saja. Tapi juga harus dibatalkan karena melibatkan beberapa penabuh. Ya apa boleh buat. Kita cukup pakai kaset saja.
Yang datang ‘madelokan’ juga tidak ramai amat karena masing-masing daerah membatasi warganya untuk bepergian. Kecuali keluarga dekat.
Saya bersama adik dan ipar naik mobil ke rumah sakit Mangusadha di Kapal menjemput jenazah Bapak. Ini sehari setelah Nyepi. Ada surat edaran Gubernur Bali bahwa semua warga tidak boleh keluar masuk kota. Jika terpaksa keluar harus ada ijin dari kepala desa setempat. Adik sayapun sudah ngurus surat ijinnya. Didampingi oleh ‘pecalang’ yaitu security adat di bali berangkat kenuju rumah sakit.
Setiap sudut kampong yang dilewati dijaga oleh pecalang dan jalan ditutup kayu/ bamboo. Sampai di kotapun terlihat pemandangan serupa. Bahkan jalan utama antar kota juga ada yang ditutup. Mungkin ini berlebihan. Bisa dibayangkan jika truk truk yang beriringan dari jawa tidak boleh lewat, apa tidak kelimpungan ekonomi di bali.
Saat hari Pengabenan, tamu memang kliatan banyak yang datang. Tak terkecuali tetangga yang dulu adik kelas, yang terakhir ketemu saat di SMA. Katanya dia ODP orang dalam pengawasan. Yang habis meeting di beberapa kota dan berinteraksi dengan banyak orang yang bisa jadi diantaranya tertular virus covid19. Makanya dia ODP. Dia menolak saya ajak salaman. Dan dia sudah pakai masker. Ketika ngobrol, datanglah petugas keamanan Babinmas meminta si tetangga ini pulang, secara hati-hati untuk menyampaikan agar tidak salah paham.
Seluruh bagian sudut sudut rumah saya dan orangnya kemudian disemprot disinfektan oleh petugas di kampong. Ternya di kampong cukup tanggap masalah begini.
Sepulangnya dia dari rumah saya, ternyata pihak keluarganya tidak terima. Salah paham. Bahkan jika ada tetangga yang ke rumahnya, langsung diusir. Sampai membuat status yang kurang nyaman di medsos. Yang akhirnya postingan statusnya di remove sendiri.
Itulah sosialisasi ke masyarakat agar masyarakat kelas bawah masih kurang. Masih menimbulkan kesalah pahaman.
Semoga segera berakhir wabah ini.