![]() |
| Depan Ruang Jenazah, 'memunjung' |
Aturan adat jangan sampai menyusahkan atau menghambat warga. Meskipun sifatnya hukum adat yang sudah barang tentu tidak tertulis, mau tidak mau harus diikuti oleh semua warga. Di Bali dikenal dengan awig-awig. Sifatnya turun temurun. Harusnya awig-awig mengikuti perkembangan jaman.
Hari Jumat pagi 13 Maret 2020, saya ditelpon adik dari Bali mengabarkan bahwa Bapak telah tiada. Saya seketika nyari-nyari tiket ke Bali keesokan harinya. Lumayan mahal. Mungkin karena mendadak. Rp 1,7 juta one way. Untung tiket belum deal, adik berpesan tunggu berita selanjutnya dari Bali, jangan buru-buru. Akhirnya benar bahwa upacara akan dilangsungkan 2 minggu kemudian.
Akhirnya agar tidak terlalu lama saya absen dari tempat kerja, saya pulang ke kampong tanggal 22 maret. Lumayanlah ambil cuti 1 minggu.
Pelan-pelan dibahas mengapa harus nunggu 2 minggu. Ternyata awig-awig desa adat menyatakan bahwa jika sedang ada upacara/ kegiatan di Pura Desa maka pada saat itu tidak diperkenankan ngubur jeazah ataupun ngaben. Waduh. Apa boleh buat, memang aturannya yang nota bene disampaikan oleh ketua adat, yang dominan bersifat subjektif tersebut harus diikuti.
Sambil nunggu hari yang telah disepakati, jenazah orang tua ditip dulu di rumah sakit. Sudah tentu perlu biaya, yang tidak sedikit. Biaya ambulance, biaya peti, biaya perawatan, biaya penitipan. Tergantung lama tidaknya jenazah dititip. Ya apa boleh buat. Masih mending 2 minggu. Bagaimana kalau nunggu 2 bulan?
Opsi lain memang masih ada. Jenazah disemayamkan di rumah dulu selama tidak diperbolehkan ngaben. Nah apa tidak semakin repot kalau begini. Harus menunggui mayat siang malam. Belum lagi masyarakat yang datang harus disediakan makan, ya minimal kopi. Bayangkan kalau sampai 2 bulan kondisi begini.
Belum lagi masalah cuntaka atau ‘sebel’ istilah balinya. Dimana keluarga yang kena cuntaka tidak boleh masuk tempat suci. Atau tidak boleh ikut dalam kegiatan keagamaan. Meskipun ini sebenarnya masalah rasa, tapi akan sangat sulit jika berada di rantauan yang kegiatan keagamaannya berjalan baik.
Harusnya aturan itu ada batasnya. Sejauh mana yang ada dampaknya. Sejauh mana tidak ada hubungannya. Lha ini hanya karena ada renovasi tembok penyengker Pura. Harus menunggu renovasi selesai. Apa ndak menulitkan warganya.
Tentu itu adalah PR bagi generasi penerus. Mencari solusi agar tidak menyulitkan warganya sendiri. Lha warganya sedang kemalangan kok malah dipersulit. Semoga ada perubahan.

