Rabu, 01 April 2020

SALAH PAHAM COVID’19

Petugas disinfectant.

Sangat menggegerkan. Bikin acara amburadul. Semua harus dischedule ulang. Itulah akibat wabah covid’19 yang mengglobal. Tidak mengenal tempat, waktu, siapa saja rentan tertular virus satu ini. Berita mengenai virus ini juga berseliweran, entah mana yang benar mana yang salah. Mana yang harus dipercaya, susah.
Saya di bali. Di kampong, saat upacara pengabenan Ayah saya. Banyak acara yang harus dibatalkan untuk mengikuti anjuran pemerintah. Yang utama adalah tidak boleh kumpul-kumpul. Ada sangsi hukumnya, demikian yang disampaikan ketua Adat di kampong. Nah bagaimana tidak kumpul-kumpul, ka nada upacara keagamaan. Kan ndak mungkin acara Ngaben dicancel. Akhirnya disepakati, acara tetap jalan, tapi usahakan jangan ada yang share photo atau videonya di medsos.
Tadinya direncanakan ada pengiring tabuh angklung, terpaksa dibatalkan dan cukup baleganjurnya saja. Tapi juga harus dibatalkan karena melibatkan beberapa penabuh. Ya apa boleh buat. Kita cukup pakai kaset saja.
Yang datang ‘madelokan’ juga tidak ramai amat karena masing-masing daerah membatasi warganya untuk bepergian. Kecuali keluarga dekat.
Saya bersama adik dan ipar naik mobil ke rumah sakit Mangusadha di Kapal menjemput jenazah Bapak. Ini sehari setelah Nyepi. Ada surat edaran Gubernur Bali bahwa semua warga tidak boleh keluar masuk kota. Jika terpaksa keluar harus ada ijin dari kepala desa setempat. Adik sayapun sudah ngurus surat ijinnya. Didampingi oleh ‘pecalang’ yaitu security adat di bali berangkat kenuju rumah sakit.
Setiap sudut kampong yang dilewati dijaga oleh pecalang dan jalan ditutup kayu/ bamboo. Sampai di kotapun terlihat pemandangan serupa. Bahkan jalan utama antar kota juga ada yang ditutup. Mungkin ini berlebihan. Bisa dibayangkan jika truk truk yang beriringan dari jawa tidak boleh lewat, apa tidak kelimpungan ekonomi di bali.
Saat hari Pengabenan, tamu memang kliatan banyak yang datang. Tak terkecuali tetangga yang dulu adik kelas, yang terakhir ketemu saat di SMA. Katanya dia ODP orang dalam pengawasan. Yang habis meeting di beberapa kota dan berinteraksi dengan banyak orang yang bisa jadi diantaranya tertular virus covid19. Makanya dia ODP. Dia menolak saya ajak salaman. Dan dia sudah pakai masker. Ketika ngobrol, datanglah petugas keamanan Babinmas meminta si tetangga ini pulang, secara hati-hati untuk menyampaikan agar tidak salah paham.
Seluruh bagian sudut sudut rumah saya dan orangnya kemudian disemprot disinfektan oleh petugas di kampong. Ternya di kampong cukup tanggap masalah begini.
Sepulangnya dia dari rumah saya, ternyata pihak keluarganya tidak terima. Salah paham. Bahkan jika ada tetangga yang ke rumahnya, langsung diusir. Sampai membuat status yang kurang nyaman di medsos. Yang akhirnya postingan statusnya di remove sendiri.
Itulah sosialisasi ke masyarakat agar masyarakat kelas bawah masih kurang. Masih menimbulkan kesalah pahaman.
Semoga segera berakhir wabah ini.