![]() |
| Dari Gocar, kawasan Airport |
Keluar dari pintu kedatangan, saya ikut arus orang saja. Kebanyakan orang-orang nunggu jemputan. Saya buka aplikasi Gojek dan nyantol satu Gocar. Tertera nama supir dan nomor plat kendaraan serta jenis kendaraan. Tarifnyapun tidak terlalu mahal. Rp 160ribu untuk tujuan Rumah Sakit di daerah Kapal.
Lewat chat saya diminta nunggu di gedung parkir umum depan lift. Saya tak tahu dimana lokasi yang dimaksud. Saya Tanya security yang jaga disana. Dengan sangat sopan dia menunjukkan lokasi yang saya tanyakan. Dan sayapun menuju tempat tersebut.
Sepanjang jalan kaki sambil menggendong dan menjinjing bawaan, supir taxi atau mungkin calo menawarkan angkutan. Meskipun saya sudah bilang bahwa saya sudah booking taxi tapi mereka tetap mengikuti saya. Bahkan ada yang menanyakan berapa harga taxi yang saya booking. Saya sangat merasa terganggu. Salah satu diantaranya masih ngotot menawarkan taxi. Lengan penuh tato, perawakan besar. Terkesan sangar. Saking jengkelnya, saya jawab, saya sudah booking taxi, ini lihat, apa saya batalkan ini. Dia diam dan bertanya pada istri saya di belakang saya. Apakah ibu orang bali, begitu saya dengar. Istri saya jawab dengan polos, iya saya dari bla bla bla.
Taxi yang saya booking pun tiba. Saya naik dan sepanjang perjalanan saya lebih sibuk mengikuti rute jalan dan nama jalan dari HP saya. Ngobrol sesekali dengan supirnya yang asli jawa timur itu.
Tak berapa lama saya tiba di Rumah Sakit tujuan, Rumah sakit Mangusada Kapal. Kakak dan beberapa orang sudah menunggu disana, sambil ‘mepunjung’ yaitu ngaturang prasadam bagi orang yang meninggal dan mayatnya masih disemayamkan. Kebetulan Jenazah Bapak saya dititip di sana selama dua minggu.
Setelah selesai acara Ngaben Bapak, saya kembali ke Batam tanggal 29 Maret 2020 hari minggu. Diantar adik saya dengan mobil langka espas tahun 90an. Sampai mendapat taxi online. Sampai dimanapun. Coba sekali di daerah meliling, tidak ada taxi yang respon. Geser lagi ke timur daerah sembung, juga tidak ada respon. Geser lagi sembung meranggi. Ternyata nyangkut satu. Dan tak berapa lama, taxipun tiba.
Sepanjang perjalanan ngobrol tiada henti dengan sang supir. Asli jawa timur. Supir taxi asli bali apakah tidak ada? Atau pada berlibur. Supir ini di bali sudah sejak sebelum BOM Bali satu. Dia bercerita bagaimana runyamnya perekonomian antara saat bom bali dan saat ini yaitu dampak wabah corona. Syukuri saja, kata dia. Mungkin waktunya kita lebih sering lagi bersama keluarga. Dia sudah seperti orang Bali meski masih muslim. Dia bangga hidup di bali. Dia beli tanah dibali. Waktu jaya jayanya pariwisata, dia bisa nabung tiap hari 500 ribu. Teman seprofesinya juga ada beberapa orang Bali. Tapi beda, kata dia. Orang Bali kurang gigih, cepat nyerah. Toh masih banyak punya tanah orang tua yang bisa sewaktu waktu dijual. Ya begitulah.
