Jumat, 29 Mei 2020

Bantuan Pandemi Covid-19

Tanggal 20 Mei 2020 bertepatan dengan pembagian bantuan dari Pemko Batam yang kedua kalinya. Saya kebetulan di rumah karena pas libur menjelang Lebaran.
Ada seorang Ibu-ibu manggil manggil istri saya dari jalan. Ketika saya keluar, si Ibu itu nanya istri saya apakah ada di rumah. Saya bilang lagi ke pasar belanja. Si Ibu itu berpesan, silakan ambil bingkisan bantuan beras ke rumah pak RT. Nah saya pikir Ibu itu Istrinya pak RT atau istri salah satu pengurus RT. Saya jawab iya bu, terima kasih nanti kami ambil.
Kebetulan juga ada pesan di grup WA warga dari pak RT bahwa aka nada pembagian bingkisan dari Pemko, silakan ambil ke rumah. Demikian tulis pak RT. Saya kira semua akan dapat, berhubung di pesan WA tidak ada disebutkan bingkisannya untuk siapa saja.
Ketika istri saya datang, saya bilangin kalau tadi ada ibu-ibu yang nyuruh ambil beras bantuan dari pemko ke rumah pak RT. Istri saya jawab, ndak usah lah. Kita kan ndak dapat. Saya bersikeras agar istri saya ke rumah pak RT, berhubung tadinya, istri pak RT atau siapa gitu nyuruh ambil beras. Saya sedikit memaksa agar istri saya jalan. Akhirnya dia ke rumah pak RT. Katanya, nama kami tidak ada. Jadi tidak dapat bingkisan.
Istri saya balik dan ngadu ke saya. Saya ragu-ragu entah siapa tadi yang ngasi tau ke rumah? Apa mungkin istri RT sebelumnya. Nah istri saya ke rumah istri RT yang dulu itu. Ternyata si istri RT lama itu yang tadinya ngasi tau ke rumah. Ternyata dia ngira kami dapat bantuan.
Nah saya konfirmasi ke grup WA Tanya ke pak RT apakah bantuan itu untuk semua warga. Atau apakah semua warga dapat. Kemudian pak RT reply kalau bantuan tersebut tidak semua warga dapat. Ada 6 rumah warga yang tidak dapat. Denger- denger issu bahwa jika suami masih bekerja, maka tidak dikasi bantuan. Lha apakah ada warga yang suaminya ndak kerja? Ini bantuan dari Pemko untuk kedua kalinya.
Akhirnya pak RT japri saya, dia bilang ada warga yang seharusnya dapat bantuan tapi tidak diambilnya. Kalau bapak mau silakan ambil ke rumah. Beberapa menit lagi pak RT melanjutkan japrinya ke saya, mungkin dia mikir. Nanti sore saya antar ke rumah bapak, kata dia. Lha tadi paginya saja istri saya saya suruh ke rumah pak RT, berarti kan saya mau juga. Saya reply, ndak usah pak, lain kali saja kalau memang saya dapat jatah akan saya ambil.
Saya bukan mempermasalahkan karena saya tidak dapat. Tapi cara pak RT mempertimbangkan siapa yang dapat dan siapa yang tidak dapat. Atas dasar apa RT memutuskan itu. Toh semua warga kondisinya rata rata sama. Saya hanya khawatir dan  jadi berprasangka buruk. Jangan jangan ada diskriminasi. Saya tidak melanjutkan chat saya, saya bilang terima kasih di grup bahwa saya sudah clear. Kalau saya tambahin pasti masalahnya jadi panjang.
Harusnya RT mempertimbangkan hak dan kewajiban warganya. Jangan hanya menuntut kewajiban warga, tapi haknya juga harus diberikan. Jika itu sudah terpenuhi, maka pakailah pertimbangan kedua yaitu atas dasar kemanusiaan.
Ya demikianlah gara gara covid-19.