Saat saya tiba dirumahnya, sedang berlangsung acara pengajian. Acara pengajian yang dihadiri oleh ibu-ibu disekitar komplek perumahan. Pengajian ini dipimpin oleh ustadz atau pemuka agama dilingkungan itu. Tadinya saya pikir seluruh anggota keluarga harus ikut dalam pengajian tersebut. Ternyata saya salah. Keluarga sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Karena saya baru saja tiba saya langsung diajak masuk rumah. Pengajiannya diadakan di tenda depan rumah. Sekitar jam 1 siang acara pengajian selesai. Peserta pengajian bubar dan masing-masing dibagikan bingkisan. Semua dihandle oleh petugas semacam EO. Tuan rumah hanya ngikutin saja apa arahan EO.
SIRAMAN : dimulai sekitar jam 4 sore. Setelah dirias tentu dengan segala pernak perniknya, calon mempelai wanita terlebih dahulu sungkem/ sujud dikaki kedua orang tua, memohon maaf atas segala dosa dan khilaf yang telah dilakukan. Kemudian mohon ijin dan doa restu kepada kedua orang tua bahwa dia akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki pilihannya. Disini si calon mempelai hanya membaca scrip yang sudah disiapkan. Namun membacanya penuh penghayatan. Saya juga merasa haru. Air mata seakan mau tumpah. Saya juga punya anak perempuan.
Kemudian si ibu memberikan petuah dan mendoakan semoga si calon pengantin bahagia, hidup rukun selamanya. Diakhiri dengan mencium dan memeluk si calon pengantin wanita.
Begitu juga hal yang sama dilakukan oleh si bapak kepada calon mempelai wanita. Kedua orang tuapun hanya membaca teks yang disipakan oleh EO.
Setiap adegan diarahkan oleh sang EO bak shooting adegan film. Apakah itu posisi duduk, cara berjalan, keadaan pakaian semua diatur oleh EO.
Kemudian si calon mempelai wanita digendong oleh sang ayah menuju tempat siraman yang telah disiapkan. Gentong berisi air, kemudian ada 7 jenis air bunga dicampurkan ke dalam gentong tersebut. Calon mempelai duduk di tempat duduk khusus.
Si pembawa acara memberikan prolog setiap bagian acara dengan bahasa jawa halus yang hampir tidak bisa saya mengerti artinya.
Diawali dari si ibu, menyiramkan air tersebut secara perlahan penuh penghayatan dari kepala, pundak, tangan dan kaki.
Berikutnya giliran si ayah calon mempelai melakukan hal yang sama seperti si ibu, dan terus bergiliran dilakukan oleh keluarga yang wanita saja asal sudah memiliki anak yang nikah. Ini semacam diberi kehormatan. Semua yang diberi kesempatan melaksanakan siraman, kemudian diberi bingkisan sebagai cinderamata. Saya tidak tahu apakah ini keharusan.
Selanjutnya adalah pemecahan kendi dihadapan calon mempelai wanita. Kendinya harus pecah. Pertanda selesainya acara siraman.
SESERAHAN : rombongan calon mempelai pria tiba dengan membawa aneka jenis barang sebagai seserahan untuk calon mempelai wanita. Saya tidak tahu berapa jumlahnya dan lupa menanyakan apakah 9 atau sepuluh atau berapa. Sepertinya ada hitungannya.
Semua keluarga calon mempelai wanita berdiri menyambut kedatangan rombongan calon mempelai pria. Perwakilan keluarga mempelai pria berbicara dalam bahasa jawa halus. Yang saya tangkap adalah untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
Kemudian disambut oleh perwakilan keluarga mempelai wanita, juga memakai bahasa jawa halus. Intinya mungkin menerima kedatangan rombongan calon mempelai pria kemudian mempersilakan masuk dan menerima seserahan yang dibawa.
Sementara calon mempelai wanita tetap berada di dalam kamar, tidak boleh keluar menjumpai calon mempelai pria. Proses inilah yang disebut
MIDODARENI.
Saya bertanya ke om google, midodareni adalah proses menjelang akad nikah, dimana berasal dari kata widodari yang bermakna bidadari. Konon pada malam itu para bidadari turun dari kahyangan dan bertandang ke rumah calon mempelai wanita dengan tujuan ikut mempercantik calon pengantin wanita.
AKAD NIKAH : proses ini tidak bisa saya ikuti dari awal karena saya harus dirias pakaian adat jawa. Seumur umur baru kali ini saya menggunakan pakaian adat jawa. Pakai blangkon, baju jas, kain, sabuk yang di bali disebut bulang, keris dan sandal selop. Wah saya kelihatan gagah. Tapi bikin gerah. Akad nikah adalah proses yang kental nuansa agama. Kadang diselingi candaan dari pak penghulunya yang bikin hadirin yang menyaksikan pernikahan tersebut ger geran.
RESEPSI : prosesi disini, si mempelai wanita menuju pelaminan dimulai dari parade atau iring iringan keluarga mempelai wanita memasuki gedung. Semua keluarga kerabat dari pengantin wanita mengikuti dari belakang. Si pengantin dituntun oleh kedua orang tuanya. Wah saya benar benar punya pengalaman baru. Keluarga yang mengiringi sampai depan panggung. Si pengantin wanita duduk di pelaminan, disamping kirinya adalah orang tuanya.
Ki dalang/ pemandu acara terus memandu jalannya acara secara bergantian dengan bahasa jawa halus.
Iring-iringan pengantin pria kemudian memasuki tempat acara. Seperti halnya sewaktu acara seserahan, perwakilan keluarga mempelai pria mengutarakan maksud kedatangannya. Mungkin begitu karena menggunakan bahasa jawa halus. Kemudian disambut oleh perwakilan keluarga pengantin wanita, juga dengan menggunakan bahasa jawa halus.
Kemudian pengantin wanita dipersilakan menemui pengantin pria yang dituntun oleh kedua orang tuanya. Pengantin wanita melemparkan buntelan hingga mengenai pengantin pria, dan dibalas oleh pengantin pria, sebanyak 3 kali. Kemudian pengantin wanita membasuh kaki si pria dan membersihkannya. Maka kedua mempelai sudah boleh menuju pelaminan. Terasa sangat sacral. Sayapun tidak tahu pasti apa makna prosesi disini.
Sayapun ikut photo bersama keluarga. Desak desakan karena keluarga besar. Tak henti hentinya keluarga maupun undangan diberi kesempatan berphoto bersama pengantin.
Kaki saya terasa sangat pegel, rasanya gerah. Akhirnya saya ganti pakaian duluan. Dan duluan pulang ke hotel. Lega rasanya.
Pengalaman tak terlupakan.
















