Sabtu, 21 Desember 2019

PROSESI NIKAH ADAT JAWA

Suatu waktu saya diundang oleh kerabat dekat saya di acara nikahan anaknya.
Saat saya tiba dirumahnya, sedang berlangsung acara pengajian. Acara pengajian yang dihadiri oleh ibu-ibu disekitar komplek perumahan. Pengajian ini dipimpin oleh ustadz atau pemuka agama dilingkungan itu. Tadinya saya pikir seluruh anggota keluarga harus ikut dalam pengajian tersebut. Ternyata saya salah. Keluarga sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Karena saya baru saja tiba saya langsung diajak masuk rumah. Pengajiannya diadakan di tenda depan rumah. Sekitar jam 1 siang acara pengajian selesai. Peserta pengajian bubar dan masing-masing dibagikan bingkisan. Semua dihandle oleh petugas semacam EO. Tuan rumah hanya ngikutin saja apa arahan EO.

SIRAMAN : dimulai sekitar jam 4 sore. Setelah dirias tentu dengan segala pernak perniknya, calon mempelai wanita terlebih dahulu sungkem/ sujud dikaki kedua orang tua, memohon maaf atas segala dosa dan khilaf yang telah dilakukan. Kemudian mohon ijin dan doa restu kepada kedua orang tua bahwa dia akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki pilihannya. Disini si calon mempelai hanya membaca scrip yang sudah disiapkan. Namun membacanya penuh penghayatan. Saya juga merasa haru. Air mata seakan mau tumpah. Saya juga punya anak perempuan.

Kemudian si ibu memberikan petuah dan mendoakan semoga si calon pengantin bahagia, hidup rukun selamanya. Diakhiri dengan mencium dan memeluk si calon pengantin wanita.

Begitu juga hal yang sama dilakukan oleh si bapak kepada calon mempelai wanita. Kedua orang tuapun hanya membaca teks yang disipakan oleh EO.

Setiap adegan diarahkan oleh sang EO bak shooting adegan film. Apakah itu posisi duduk, cara berjalan, keadaan pakaian semua diatur oleh EO.
Kemudian si calon mempelai wanita digendong oleh sang ayah menuju tempat siraman yang telah disiapkan. Gentong berisi air, kemudian ada 7 jenis air bunga dicampurkan ke dalam gentong tersebut. Calon mempelai duduk di tempat duduk khusus.


Si pembawa acara memberikan prolog setiap bagian acara dengan bahasa jawa halus yang hampir tidak bisa saya mengerti artinya.

Diawali dari si ibu, menyiramkan air tersebut secara perlahan penuh penghayatan dari kepala, pundak, tangan dan kaki.
Berikutnya giliran si ayah calon mempelai melakukan hal yang sama seperti si ibu, dan terus bergiliran dilakukan oleh keluarga yang wanita saja asal sudah memiliki anak yang nikah. Ini semacam diberi kehormatan. Semua yang diberi kesempatan melaksanakan siraman, kemudian diberi bingkisan sebagai cinderamata. Saya tidak tahu apakah ini keharusan.

Selanjutnya adalah pemecahan kendi dihadapan calon mempelai wanita. Kendinya harus pecah. Pertanda selesainya acara siraman.

 SESERAHAN : rombongan calon mempelai pria tiba dengan membawa aneka jenis barang sebagai seserahan untuk calon mempelai wanita. Saya tidak tahu berapa jumlahnya dan lupa menanyakan apakah 9 atau sepuluh atau berapa. Sepertinya ada hitungannya.
Semua keluarga calon mempelai wanita berdiri menyambut kedatangan rombongan calon mempelai pria. Perwakilan keluarga mempelai pria berbicara dalam bahasa jawa halus. Yang saya tangkap adalah untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
Kemudian disambut oleh perwakilan keluarga mempelai wanita, juga memakai bahasa jawa halus. Intinya mungkin menerima kedatangan rombongan calon mempelai pria kemudian mempersilakan masuk dan menerima seserahan yang dibawa.
Sementara calon mempelai wanita tetap berada di dalam kamar, tidak boleh keluar menjumpai calon mempelai pria. Proses inilah yang disebut
MIDODARENI.

Saya bertanya ke om google, midodareni adalah proses menjelang akad nikah, dimana berasal dari kata widodari yang bermakna bidadari. Konon pada malam itu para bidadari turun dari kahyangan dan bertandang ke rumah calon mempelai wanita dengan tujuan ikut mempercantik calon pengantin wanita.

AKAD NIKAH : proses ini tidak bisa saya ikuti dari awal karena saya harus dirias pakaian adat jawa. Seumur umur baru kali ini saya menggunakan pakaian adat jawa. Pakai blangkon, baju jas, kain, sabuk yang di bali disebut bulang, keris dan sandal selop. Wah saya kelihatan gagah. Tapi bikin gerah. Akad nikah adalah proses yang kental nuansa agama. Kadang diselingi candaan dari pak penghulunya yang bikin hadirin yang menyaksikan pernikahan tersebut ger geran.

RESEPSI : prosesi disini, si mempelai wanita menuju pelaminan dimulai dari parade atau iring iringan keluarga mempelai wanita memasuki gedung. Semua keluarga kerabat dari pengantin wanita mengikuti dari belakang. Si pengantin dituntun oleh kedua orang tuanya. Wah saya benar benar punya pengalaman baru. Keluarga yang mengiringi sampai depan panggung. Si pengantin wanita duduk di pelaminan, disamping kirinya adalah orang tuanya.
Ki dalang/ pemandu acara terus memandu jalannya acara secara bergantian dengan bahasa jawa halus.
Iring-iringan pengantin pria kemudian memasuki tempat acara. Seperti halnya sewaktu acara seserahan, perwakilan keluarga mempelai pria mengutarakan maksud kedatangannya. Mungkin begitu karena menggunakan bahasa jawa halus. Kemudian disambut oleh perwakilan keluarga pengantin wanita, juga dengan menggunakan bahasa jawa halus.
Kemudian pengantin wanita dipersilakan menemui pengantin pria yang dituntun oleh kedua orang tuanya. Pengantin wanita melemparkan buntelan hingga mengenai pengantin pria, dan dibalas oleh pengantin pria, sebanyak 3 kali. Kemudian pengantin wanita membasuh kaki si pria dan membersihkannya. Maka kedua mempelai sudah boleh menuju pelaminan. Terasa sangat sacral. Sayapun tidak tahu pasti apa makna prosesi disini.
Sayapun ikut photo bersama keluarga. Desak desakan karena keluarga besar. Tak henti hentinya keluarga maupun undangan diberi kesempatan berphoto bersama pengantin.
Kaki saya terasa sangat pegel, rasanya gerah. Akhirnya saya ganti pakaian duluan. Dan duluan pulang ke hotel. Lega rasanya.

Pengalaman tak terlupakan.

Jumat, 13 Desember 2019

GOWES HUJAN


Mata saya susah terpejam lagi. Hujan mulai jam 2 pagi. Praktis saya tidur kurang lebih hanya 2 jam. Malamnya sembahyang saraswati di pura agung sampai jam 11 malam karena nungguin anak ujian agama susulan. Sampai dirumah harus persiapan gowes keesokan harinya. Dengan kerja cepat saya mompa sepeda, masang braket ke mobil, nyiapin pakaian dan safety. Beres jam 12 tengah malam, langsung tidur.

Jam 2an hujan deras, sangat berisik. Sampai pagi saya ndak bisa tidur lagi. Sesekali keluar lihat aliran air hujan di parit yang meninggi dan surut secara perlahan. Suara tetesan air dari atap bocor sangat mengganggu di plapon kamar tidur.

Sampai pagi hujan tidak kunjung berhenti. Chat di grup WA cukup ramai. Ada yang tidak jadi gowes, ada yang bertekad tetap gowes, ada yang menunggu hujan reda.

Saya sendiri sudah komit harus tetap gowes. Mau tetap hujan atau reda.
Saya samperin satu teman kerumahnya, dan berangkat bareng. Sementara rombongan yang jadi berangkat sudah pergi duluan dengan pick-up.

Wah sampai di lokasi, Harris barelang, hujan masih belum reda. Goweser pada dikasi mantel. Sudah siap-siap di garis start. Sayapun langsung mengikuti dari belakang meski ujan-ujanan.
Sampai di pitstop di Marinir Barelang, yang jaraknya sekitar 8 Km dari titik start, dengan guyuran hujan, para goweser diminta memasukkan kupon undian. Kemudian balik lagi menuju Harris sebagai titik finish.

Sempat berphoto-photo di jembatan 1.

Dengan pakaian basah kuyup, luar dalam, akhirnya sampai dititik finish. Sarapan nasi goreng. Cuaca masih gerimis. Acara diadakan di pantai. Pasirnya becek sehingga sepatu sering masuk lumpur pasir.
Acara demi acara berlangsung. Saya pulang duluan, tidak tahan semuanya basah.


Rabu, 11 Desember 2019

TANGKIL KE PURA MANDARA GIRI SEMERU AGUNG

Sehari sebelum kembali ke Batam saya berkesempatan ‘tangkil’ yang bahasa gampangnya adalah sembahyang, ke Pura Mandara Giri Semeru di Lumajang Jawa Timur. Menempuh perjalanan yang sangat jauh. Melewati Tol arah Probolinggo. Saya yang tidak tahu arah jalan harus dipandu oleh abang (kakak laki-laki) yang duduk di samping saya. Harus rajin ngasi komando, kiri, kanan, lurus, berhenti, dsb. Jika tidak ingin tersesat atau kebablasan.

Berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi. Itupun harus saya kejar-kejar karena pada malas-malasan. Antara jadi ke Lumajang atau ke tujuan lain. Saya putuskan, ke Lumajang. Ini semacam bayar kaul. Dulu sempat berjanji jika anak saya lulus kuliah, saya akan tangkil ke pura terbesar di Jawa Timur yaitu di Lumajang.

Sesekali saya ngobrol dengan kakak saya yang duduk disamping kemudi. Untuk mengurangi rasa ngantuk. Sementara kedua anak saya, istri dan ipar duduk di jok belakang dan tertidur. Karena ngobrol sesekali itulah sempat sekali kelewatan di tol pandaan. Harusnya belok kiri. Tapi tidak sempat baca plang arah tujuan. Terpaksa harus kluar tol terdekat dan muter lagi. Ternyata muternya tidak terlalu jauh. Inilah hebatnya perancang jalan tol. Mungkin sudah dipikirkan bagaimana mengantisipasi orang salah jalan.

Tiba di Lumajang sekitar jam 12 siang. Kaki saya lumayan kaku. Inilah resiko nyetir mobil manual. Apalagi di daerah yang macet.

Perut sudah mulai keroncongan. Tapi ditahan saja dulu. Toh belum ada yang komplin karena lapar.
Saya teringat Pura di Gunung Salak Bogor.  Lokasi pura sama-sama disebelah kanan tanjakan jalan. Arsitekturnya sedikit beda. Yang ini memadukan arsitektur bali dan Jawa timur. Memasuki jaba sisi, ada bangunan lumayan besar, cukup tinggi dari pondasinya. Ya style Bali. Kalau di Bali namanya Wantilan. Biasanya untuk pentas seni. Saya naik ke wantilan, banyak pengunjung yang duduk duduk bahkan tidur-tiduran. Mungkin terasa nyaman karena lantainya adem.Ternyata ini masih daerah untuk umum. Melihat dari pakaiannya, bisa dipastikan bukan orang hendak sembahyang.

Dari tatanan tri mandala, daerah ini adalah nisata mandala/ jaba sisi. Dimana aktifitas social ekonomi masih berlangsung. Istri saya membeli sarana sembahyang berupa canang di daerah ini. Kebetulan ada ibu-ibu yang menawarkan canang. Ternyata canang dihargai sukarela.

Kemudian naik ke mandala utama pelataran tempat sembahyang. Disamping tangga naik ada tulisan DILARANG MASUK KECUALI SEMBAHYANG. Istri saya menyiapkan saranya sembahyang dan aturan. Lapor ke Jro Mangku yang bertugas saat itu. Kami duduk agak jauh dari tempat Jro Mangku Mepuja cari tempat teduh. Cuaca sangat panas.

Ternyata saya salah. Saya pikir pura ini rame oleh pendatang yang hendak sembahyang. Ternyata sepi. Apalagi hari minggu, yang kalau di Batam hari minggu adalah hari sekolah minggu bagi anak-anak pasraman.

Sambil menuju parkiran saya keliling dan tengok kiri kanan sambil ambil beberapa photo. Lingkungannya cukup asri. Disisi kiri ada bangunan seperti penginapan. Ada toilet/ kamar mandi.

Senin, 09 Desember 2019

SARJANA BARU


Akhir Nopember 2019 saya menghadiri undangan sidang terbuka wisuda Sarjana anak saya. Anak saya kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya yaitu dibawah naungan Yayasan Assosiasi Wartawan Surabaya. Biasa desebut AWS STIKOSA Surabaya. Mulai kuliah awal Agustus 2015. Ujian tugas akhir pada 22 Oktober 2019 dan dinyatakan lulus. Bisa ikut wisuda 30 Nopember 2019.
Cerdas berkomunikasi di era digital. Demikian tema sidang terbuka senat tersebut. Dilaksanakan di gendung Dyandra Convention Center Surabaya. Tema tersebut juga menjadi dasar pembekalan wisudawan yang disampaikan oleh dua narasumber, salah satunya adalah pemilik salah satu media online di Surabaya.
Saya membayangkan suasana menjelang wisuda akan rame sekali dan peserta wisuda dan para orang tua akan berjejal. Ternyata saya salah. Jumlah wisudawan/i hanya 84 orang. Para orang tua ketika saya masuk ternyata sudah duduk rapi yang rata-rata dua orang yaitu ibu dan bapaknya. Undangan memang hanya untuk 2 orang. Tak ada terdengar suara anak-anak yang berisik. Hanya saya datang bertiga dengan anak saya berumur 10 tahun. Saya duduk di barisan yang kebetulan masih kosong. Sesekali saya ambil gambar backdrop stage dari posisi tempat duduk.
Acara dimulai tepat jam 09.00. pimpinan STIKOSA dan diikuti ketua Yayasan, para dosen memasuki ruangan. Paling depan adalah tarian daerah jawa timur.
Acara juga dimeriahkan dengan paduan suara mahasiswa stikosa.
Tibalah pada puncak acara pengukuhan sarjana. Satu persatu calon wisudawan dipanggil ke atas panggung. Saya sangat terharu ketika anak saya dapat giliran naik ke panggung. Rasanya air mata ini mau tumpah. Selesai pengukuhan, para sarjana baru dipersilakan menemui orang tua masing-masing di tempat duduknya. Sayapun menyalami dan memeluk erat anak saya sambil mengucapkan selamat nak. Saya seakan bisu, ndak ada kata-kata keluar dari mulut saya selain mengucapkan selamat. Saya sangat bangga. Kini anak saya sudah menjadi sarjana.
Terima kasih semuanya yang telah mensupport anak saya, kakek neneknya di bali, saudara-saudaranya yang sengaja datang dari Bali untuk menghadiri acara wisuda anak saya.

Senin, 25 November 2019

Kecewa

Capek tapi hambar. Tak ngerti juga mengapa begitu. Apakah ini memang sudah karmaku begitu. Harus bangun pagi-pagi, entah mengapa juga kok susah tidur. Semalamnya habis pertemuan banjar. Itupun setelah pulang dari merias ruangan di aula pasraman untuk acara hari ulang tahun Sad Guru.

Pertemuan banjar hingga jam 11 malam, ada yang dibicarakan serius. Kemudian keliling nyari nyari ATM karena perlu duit. Tapi ternyata semua ATM pada jam 11 malam pada ada maintenant system. Tidak bisa narik duit.

Pagi itu hari minggu istri saya menyiapkan makanan untuk acara hari itu di pura. Syukur ada yang bisa bantuin. Sayapun harus turun tangan. Lumayan terbantu. Jam 09.00 makanan bisa siap dan berangkat.

Sampai di aula, persiapan dilanjutkan dengan bhakta dari Singapore. Bhakta adalah sebutan pengikut Ajaran Bhagavan Sri Sathya Sai Baba. Tahun ini adalah perayaan ulang tahunnya ke 94.
Jam 10.00 acara dimulai. Masing-masing mempersiapkan diri. Saya sendiri masih harus nyambi ngontrol keperluan lainnya.

Kaos dibagikan untuk 20 orang anak kelas 5 dan 6 SD dan mereka harus ikut di acara tersebut. Disinilah letak permasalahannya. Saya ternyata salah ngasi tulisan sablon di kaos. Seharusnya 94 tapi tertulis 84. Waduh fatal. Apa boleh buat. Terlanjur di cetak. Ya dipakai saja. Banyak yang mempertanyakan ini. Saya tidak bisa jawab.

Acara selesai. Tiba giliran makan. 70 bungkus gado-gado ternyata sebagian dipindahkan dari meja. Karena tempatnya tidak cukup untuk tempat prasmanan. Akibatnya tidak semua kebagian gado-gado. Ketika saya ditanya saya katakan habis. Tapi ternyata masih ada beberapa bungkus dibelakang. Anehnya kok selama acara tidak ada yang ngeh, bahasa indonesianya ‘tidak ada yang lihat dengan sadar’.

Saya tidak rela jika dituduh menyembunyikan makanan. Akhirnya saya suruh membawa semua makanan tersebut ke bus. Itu hak dia.
Berangkat menuju lokasi bhakti social. Perlu sekitar 1 jam untuk persiapan pengemasan. Begitu selesai pembagian bingkisan, hujan turun dengan derasnya. Beberapa saat sebelum bubar datang 2 orang petugas kepolisian. Ngajak bisik bisik. Ya akhirnya saya harus salam temple. Itulah tradisi, mungkin.

Sampai dirumah, hujan tambah deras dan petir menyambar-nyambar. Rumah kebanjiran. Saat sedikit agak reda, barang diturunkan dari mobil. Basah kuyup. Berangkat lagi ke batam center antar teman. Ternyata daerah batam center tidak ada hujan sama sekali.

Langsung menuju pura jemput anak dan istri. Sampai disana sudah jam 4 sore. Ternyata saya lupa makan siang. Perut kok bunyi-bunyi. Untunglah masih ada sisa makanan sebagai pengganjal perut.
Sampai di rumah harus bersih-bersih rumah karena banjir. Terasa capek luar biasa. Tapi ya dinikmati saja.

Dimanakah letak kecewanya.

Ya itu ternyata ada yang kecewa padahal tidak ikut kerja.

Siapapun bisa jika hanya ngasi ide, sementara yang mengerjakan orang lain.

Kamis, 07 November 2019

'Dedudonan' Acara


Mirip nama beberapa restoran, seperti de bottle, de patros. Kata de mirip dengan kata ‘the’ pada bahasa inggris. Saya bukan ahli bahasa. The dalam bahasa Inggris menunjukkan kata benda dari kata yang mengikutinya. Apakah De dengan The artinya sama? Bisa jadi. Entahlah. Mungkin karena yang menulis terbiasa makan di restoran tersebut. Atau yang bersangkutan terbiasa berbahasa Inggris. Saya tidak berniat mencari tau jawaban keduanya itu.

Saya coba masukkan key word ‘dedudonan’ di google. Dalam hitungan 0,4 detik google menemukan lebih dari 25 ribu kata dudonan. Bukan ‘dedudonan’. Jika mode viewnya dipilih Gambar, maka bermacam macam contoh file gambar yang berisi judul dudonan akan tampil. Satupun belum menemukan kata dedudonan.

Atau mungkin bermaksud menggunakan bahasa bali yang super halus. Sehalus halusnya biar orang yang baca kagum. Ataukah mungkin pencetus kata ‘dedudonan’ adalah seorang ahli bahasa Bali. Artinya saya tidak upgrade pengetahuan berbahasa bali saya. Padahal, bukankah lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia saja jika merasa tidak pede dengan bahasa Bali halus? Untuk apa menulis sesuatu jika kita sendiri tidak tau maknanya, atau salah makna. Dari pengalaman bertahun tahun saya biasa bikin ‘dudonan acara’ dimana kata ‘dudonan’ saya gunakan bahasa Indonesia ‘susunan acara’ atau ‘rangkaian acara’. Mungkin lebih mudah dimengerti oleh orang kebanyakan, apalagi dalam kontek upacara ini bukan hanya untuk orang Bali.

Entahlah.

Saya ibarat sedang bertanya dalam sebuah sangkep di bale bengong. Dimana pesertanya semua bengong. Mengapa tidak pakai kata ‘dudonan’, saya belum pernah menemukan kata ‘dedudonan’, kata saya. Tak satupun peserta sangkep menanggapi pertanyaan saya. Ya sudahlah, pikir saya. Toh kalau ditanya semua orang pasti mengerti pesan yang mau disampaikan adalah rangkaian acaranya. Bukan judulnya.

Kalau kita perhatikan bahasa jurnalistik, kualitas judul adalah mencerminkan isi tulisan. Judulnya saja sudah tidak bermutu, bagaimana isinya. Misalnya kalau kita baca Koran, penulisan judulnya saja salah atau kurang menarik, maka orang tidak akan tertarik membaca isinya.
Saya menyesal harus menulis ini. Tapi inilah ungkapan hati saya yang gundah. Hati saya terusik jika saya merasa diabaikan. Dan inilah jawabannya.

Selamat menyongsong upacara Piodalan dengan penuh keiklasan.

Rabu, 30 Oktober 2019

Menjaga Kesucian Pura

Pura wajib dijaga kesuciannya. Siapa lagi yang harus menjaga kesucian pura, kecuali kita umat hindu. Bagaimana kita memberi contoh batasan-batasan kesucian pura baik itu kepada internal umat hindu maupun kepada orang luar yang kebetulan berkunjung ke pura sementara kita sendiri yang tidak tau batasannya.
Coba perhatikan photo di bawah.

Photo tersebut adalah photo setelah pelaksanaan ngenteg linggih di salah satu Pura di Tanjung Pinang Kepri. Situasinya mungkin dalam euphoria kegembiraan karena baru saja selesai diadakan upacara ngenteg linggih pura tersebut.

Umat berjejer di area yang kalau umat Hindu sembahyang ya menghadap ke sana. Dan disana pula letak 'altar' Jro Mangku saat memimpin persembahyangan bersama. Barisan belakang bagian tengah kelihatan posisinya lebih tinggi, apakah mereka naik ke atas altar jro mangku? Saya tidak tau persis karena saya tidak berada di situ saat itu.

Klarifikasi salah satu umat yang kebetulan hadir di acara tersebut, kemungkinan iya.
Seharusnya daerah tersebut adalah daerah suci. Disarankan untuk tidak naik sampai kesana karena tidak berkepentingan.
Kenapa kalau berphoto tidak cukup di area tempat duduk yang biasa umat saat sembahyang. Jadi tidak melebihi altar pemujaan jro mangku, bahkan jangan sampai menginjaknya.
Apa nanti tindakan kita jika orang luar melakukan hal yang sama dengan itu.
Diam ataukah menegurnya?
Masih ingatkah saat kita memulai membiasakan diri melepas alas kaki jika masuk ke mandala utama.
Sulit bukan? Apalagi mandala utama dalam kondisi basah atau becek. Rasanya kaki ngilu nginjek tanah. Apalagi ditambah alas kakinya baru dan mahal. Tambah ndak konsentrasi sembahyang ke mandala utama. Tapi begitu menjadi kebiasaan, semuanya jadi biasa saja.

Demikianlah sekelumit kisah.

Kurir CSR

Banyak hal menarik yang mau saya tulis. Sudah beberapa tahun tergabung dalam team social kemasyarakatan perusahaan atau sering disebut CSR. Yaitu pemberian bantuan kepada masyarakat sekitar perusahaan. Kebetulan programnya dialokasikan untuk  sekolah sekolah dilingkungan perusahaan. Sasarannya adalah sekolah dasar negeri. Selama ini bantuannya berupa sarana olah raga. Seperti bola kaki, bola basket, bola sepak takraw, badminton dan almari buku. Biasanya sebelum pemberian bantuan, beberapa hari sebelumnya, team akan survey dulu ke sekolah sekolah. Paling tidak untuk mendapatkan data nama sekolah, nama kepala sekolah dan jabatannya.
Beberapa kejadian unik yang saya alami selama ini.
Pertama, jika momentnya pas moment penerimaan siswa baru, ada kepala sekolah yang sangat sulit dijumpai. Barangkali takut kalau yang datang orang tua calon siswa yang mau komplin. Misalnya komplin kenapa anaknya ndak diterima disekolah tersebut, atau mau melobi kepala sekolah agar anaknya diterima. Dugaan saya begitu.
Kedua, saat memasuki halaman sekolah, ada security yang  curiga ndak mau bukakan pagar. Ditanya dulu apa keperluannya. Mau ketemu siapa. Nah setelah diberitau maksud kedatangan kita untuk memberikan sumbangan, seketika pagar dibukanya.
Ketiga, saat kita memasuki halaman sekolah dan bertanya kepada seseorang yang berseragam sekolah dikatakan bahwa kepala sekolah dibilang ada rapat ndak bisa diganggu. Mungkin memang kepala sekolahnya berpesan begitu kepada bawahannya.
Keempat, biasanya saat kita memasuki lingkungan sekolah kita clingak clinguk bingung mau menuju kemana. Kadang saya perhatikan beberapa guru atau pegawai pada ngintip dari jendela. Mungkin bertanya Tanya kok ada tamu mau ngapain itu. Bahkan ada yang kliatan  pada sinis. Jangankan mempersilakan masuk, nyapa saja tidak mau.
Kelima, pernah juga kejadian mungkin saking curiganya si kepala sekolah, kami dipanggil 4 mata oleh kepala sekolah, yang menanyakan apakah nanti ada embel-embelnya dikemudian hari. Apakah bapak jujur dan tidak menipu, demikian Tanya sang kepala sekolah itu. Kebetulan kami kelupaan memakai tanda pengenal perusahaan. Kami tidak memakai seragam perusahaan.
Keenam, rata rata penerimaannya kurang antusias. Mungkin jauh dari expektasi mereka. Lha wong sumbangan kita nilainya hanya sekitar 6 jutaan. Sementar mereka berharap ada sumbangan berupa proyek. Jangankan nawari minum, sekedar basa basipun tidak.
Ketujuh, tapi ada juga yang sangat baik. Diajak ke ruang kepala sekolah. Dijamu snack dan minum. Seperti tamu pada umumnya. Dipersilakan mencicipi snack yang telah disediakan. Sepertinya enak. Apalagi belum sarapan. Kami basa basi juga pura-pura tidak mau, padahal kepingin. Nah saat barang datang, kamipun keluar ruangan. Photo-photo, dan ternyata kami tidak dipersilakan masuk lagi. Maka kamipun pergi dengan menyisakan rasa lapar. Bagaikan kehilangan kesempatan emas.
Delapan, kita disambut resmi, anak-anak dikumpulkan dihalaman. Dewan guru semua hadir. Ada acara penyambutan resmi sekolah. Ada pembawa acara, dan sambutan dari kepala sekolah.
Hihihihi

MUBAZIR

MUBAZIR, trending topic kata dalam diskusi di grup WA. Tak banyak yang sadar makna kata tersebut. Padahal yang namanya bubazir adalah sesuatu yang sia sia alias tiada guna alias pemborosan. Kenapa menanggapinya berbeda. Ya tak terlepas dari karakter seseorang. Pengalaman seseorang. Bisa juga kadar ego yang berbeda. Sama sekali tidak bisa diterima akal sehat saya, saat mengumpulkan keperluan upacara menjelang piodalan, bagian perlengkapan mengumumkan perlu kelapa sekian sekian. Perlu telor sekian sekian. Tanpa merinci untuk apa saja dan berapa yang dibutuhkan. Orang-orang seakan berlomba untuk nyumbang. Mungkin sudah melebihi dari kebutuhan. Ya maklumlah, orang itu berbeda beda. Mungkin akan sangat senang jika dipuji.
Ketika saya usul, sebaiknya bikin list keperluan, perlu berapa, yang tersedia berapa, siapa yang bertanggung jawab, dsb. Tanggapanpun beragam. Ada yang bilang tidak usah dibuat list karena umat merasa dibatasi untuk berdana punia. Ada yang bilang list kita buat masing-masing, katanya dia tidak sempat monitor karena sibuk kerja. Welehhhhh. Saya berkesimpulan, dan harus memaklumi, meskipun merasa emosi dibuatnya, ya memang tingkat kecerdasan tiap orang berbeda. Ada yang suka kerja sistematis. Ada yang suka kerja serabutan. Saya sampai ngasi contoh bagaimana cara ngontrol kebutuhan. Saya bikinkan tabelnya, tentu meniru cara-cara tahun lalu sebagai referensi.
Begitu juga masalah besarnya iuran bagi yang anaknya ikut upacara rajasewala atau menek kelih. Di awal sudah disampaikan berapa besar iurannya, jika ada yang keberatan agar segera disampaikan ke panitia. Namun tidak ada yang usul. Berarti setuju.
Nah malah ketua lembaga yang bak pahlawan. Bukannya member solusi, malah hanya kesannya bikin masalah mentah lagi. Wong nyatanya tidak ada umat yang keberatan dengan besarnya iuran upacara tersebut, ini kok beranggapan jangan sampai ada umat yang merasa terbebani. Darimana sumbernya. Bukankah umat hindu di batam kaya kaya semua? Nah beragam pendapat, bukannya mengerucut. Hanya ngalor ngidul. Pasti sulit cari titik temu. Akhirnya saya usul ke ketua, agar ambil aja keputusan sebagai ketua. Dengan catatan para orang tua yang anaknya ikut upacara tersebut nanti diajak bicara dari hati kehati. Yang penting melaksanakan upacara dengan didasari hati tulus iklas.
Demikian sodara.


Senin, 21 Oktober 2019

Bunga Tidur

Ada orang bilang jika sesorang masih ngurusi arti mimpi berarti orang tersebut ndak punya kerjaan. Masak cuman mimpi diurusin. Mimpi kan cuman bunga tidur.
Tapi bagi saya, mimpi kadang sangat mengganggu perasaan saya. Itulah namanya mimpi buruk. Toh sebenarnya kalau mimpi buruk tinggal berdoa atau sembahyang.
Saya terjaga pukul 3 pagi. Karena mimpi itu. Susah tidur lagi, kepikiran apa sih arti mimpi tersebut. Saya nyalakan tv lagi entah siaran apa ndak penting. Yang penting bikin mata ngantuk lagi. Dan bisa bangun siang.
Begitu runutnya mimpi itu sampai ke orang-orang dekat saya dengan jelas diuraikan. Saya mendapat segepok uang dalam kantung plastic kresek. Entah kenapa rasanya sudah sering saya tidur di jalanan yang diterangi lampu jalanan dan sinar rembulan. Posisi jalan tersebut agak di ketinggian. Saat saya pindah ke tempat lain itulah saya menemukan segepok uang yang sudah diikat ikat karet. Banyak sekali. Kemudian Saya sembunyikan disuatu tempat.
Saya tau ada kawan yang bingung nyari-nyari duitnya yang ilang. Dia bersama istrinya. Saya pernah lihat orang itu. Orang Bali tapi jarang kumpul-kumpul. Dia kerja di perusahaan mcdermot. Katanya itu uang gajinya sebulan. Wow tinggi sekali gajinya, begitu pikir saya. Saya pura pura ndak tau duitnya yang hilang tersebut.
Warga Bali yang ada di batam ini berkumpul membicarakan masalah kehilangan duit tersebut. Ada jero mangku Putu disana. Saya tetap pada pendirian saya bahwa saya tidak akan mengaku menemukan duit tersebut. Bahkan saya sudah merencanakan beli sesuatu. Saya berpikir dalam hati, bener juga kata orang, jika menemukan uang satu rupiah pasti sibuk mengembalikannya. Namun jika menemukan uang segepok, pasti tidak mau mengembalikannya.
Saya mersasa dihantui. Jika ada mobil polisi lewat saya merasa ketakutan. Merasa bahwa saya dikejar kejar polisi.
Saya membuang karet karet pengikat duit tersebut dari saku saya dan ada orang yang mengambilnya dan katanya dia tau persis bahwa karet itu adalah karet pengikat duit tersebut. Saya tidak berani membelanjakan duit tersebut dan terus menyimpannya. Jika dibelanjakan pasti akan ketahuan karena ada serinya.
Saat para warga berkumpul di suatu acara kayak pertemuan banjar gitu, jero mangku Agung ketemu serpihan remote mobil saya. Sama persis. Padahal disana tertulis nama saya. Saya pura-pura tidak tau.
Saya masih bimbang antara saya mengembalikan uang yang saya temukan tersebut atau tetap tidak ngakui kalau saya dapat uang. Kalau saya ngaku, bagaimana caranya, kan sudah terlanjur bilang tidak tau.
Pada akhirnya saya memutuskan untuk mengembalikan uang tersebut. Saya berusaha mencari cara untuk mengatakannya. Namun saya keburu terjaga, pada jam 3 pagi itu. Dalam mimpi itupun saya sempat bertanya dalam hati, apakah ini kejadian sungguh-sungguh terjadi atau hanya mimpi.
Ya demikianlah mimpi.

Jumat, 20 September 2019

Nasib Pasien BPJS

Sore itu istri saya dirujuk ke rumah sakit terdekat dari rumah saya. Kalau ditarik garis lurus mungkin hanya berjarak 600M. Tapi mana ada jalan bisa lurus gitu. Emangnya bisa lewat di udara. Jalannya tetap berkelok kelok menyusuri gang/ jalan sempit perumahan, yang banyak polisi sedang tidurnya. Entah kenapa disebut polisi tidur. kenapa tidak polisi jengking. Kenapa tidak disebut sekuriti tidur saja. Entahlah.
Istri saya langsung duduk dikursi antrian depan pendaftaran. Saya tolah toleh dimana ambil antrian. Mata saya tertuju ke mesin pencetak antrian otomatis. Saya pencat dan pilih pasien bpjs. Kluarlah kertas antrian nomor 305. Berarti sudah ada 305 pasien yang mendaftar sampai detik itu. Sayapun bergegas ke petugas pendaftaran yang tidak jauh dari mesin antrian tersebut.
Saya dipanggil, tepatnya nomor antrian saya tertera di display counter, 305. Diminta isi data pasien dan disuruh menuju ruang periksa dokter. Spesialis penyakit dalam.
Jam 18.00 pasien mulai dipanggil. Sekitar satu jam kemudian nama istri saya dipanggil. Sayapun masuk nemenin istri ke ruang dokter. Perawat ngukur tekanan darah. Ternyata tensinya 189. Apa iya kata saya dalam hati. Baru kali ini tekanan darahnya tinggi, kata saya. Dokter hanya mengecek denyut jantung, itupun sambil sama sama duduk di kursi. Yang menurutku ini sangat tidak etis. Ini harus di rawat, kata dokternya. Sayapun bilang ok dok.
Kemudian cek darah dan cek kencing.
Kesan ramah tidak ada sama sekali di wajah perawat ketika masuk ke ruang administrasi rawat inap. Saya kaget, kamar kelas 1 dan 2 full, kata petugas disitu. Adanya kamar kelas 3. OKlah kata saya, yang penting istri saya di rawat dan sembuh.

Jam 10 malam istri saya baru dapat kamar, masih syukur tidak jadi ke kelas 3, katanya ada kamar kelas 2 yang kosong. Kamipun di antar ke kelas 2 yang ternyata kosong. Ada 4 tempat tidur kosong. Lho katanya tadi semua ruangan full, ini kok kosong, kata hati saya.
Di malam kedua diperiksa dokter. Besok boleh pulang. Kata dokter yang tanpa ngecek kondisi fisik istri saya. Hanya Tanya-tanya apakah masih diare, masih mual-mual? Sayapun pulang karena anak saya tidak diperbolehkan ikut nungguin di rumah sakit.
Ya syukurlah istri dah sehat kembali. Pagi itu sekitar jam 9 istri saya boleh pulang. Saya cuti 2 hari. Itulah BPJS. Yang patut disyukuri. Meski yang kata orang, kalau pasien BPJS kamar rawat inap kelas 1 pasti full, adanya kamar kelas 3. Tapi sebaliknya jika pasien umum yang bayar cash, yang ada hanya kamar kelas 1, kamar kelas 3 full. Demikian.

Kamis, 05 September 2019

Pertemuan tanpa Perpisahan

Saya pernah nulis tentang masalah ini di blog saya ini. Beberapa hari yang lalu. Kini jadi kenyataan. Tanggal 28 Agustus 2019. Owner perusahaan memanggil kedua direktur yaitu direktur lama dan direktur baru. Sebut saja begitu. Mereka meeting di Singapore. Tersebar isu bahwa dorektur lama hari itu juga sudah tidak kerja di perusahaan ini lagi. Semua asset perusahaan yang dia pakai selama ini harus disita dan dikembalikan ke perusahaan. Laptop, kartu HP dan lain lain. Genap 10 tahun dia menjabat direktur di perusahaan ini.
Mulai hari itu dia tidak diperbolehkan masuk perusahaan lagi. Semua benda milik pribadinya dikemasin dan dihantar ke rumahnya.
Ending masa jabatan yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, tanpa kata perpisahan yang sempat disampaikannya ke karyawan. Seandainya saja dia dikeluarkan secara baik-baik, mungkin akan ada acara perpisahannya.
Ataukah ini sebuah karma. Bisa jadi. Dulu sewaktu dia baru masuk perusahaan menggantikan direktur sebelumnya juga dia sama sekali tidak ada respeknya kepada mantan direktur yang digantikannya. Sama sekali tidak menghargai mantan direktur itu. Bahkan sempat mantan direktur sebelumnya itu ditinggalnya di suatu acara, bahkan harus naik taxi sendiri.
Kini hal yang sama menimpa dirinya. Bahkan lebih sadis, mungkin. Dia baru beberapa hari masuk kerja setelah 10 hari cuti berlibur kebeberapa Negara bersama keluarganya yang di Indonesia. Di Indonesia, di batam dia juga punya istri "muda"orang Indonesia.
Mantan direktur ini sebenarnya baik dan sangat familiar hal manajerial perusahaan. Meski sering marah-marah, orangnya temperamental, tapi itu demi kemajuan perusahaan. Banyak memiliki gagasan-gagasan ide sebagai terobosan perbaikan. Improvement, kaizen, dia pacu. Bagaimana mengurangi cost. Menaikkan penjualan. Melokalisasi pemasokan bahan baku. Disiplin karyawan juga dia monitor. Tidak segan segan dia akan mengeluarkan karyawan yang tidak disiplin, atau kontraknya tidak diperpanjang jika masih terikat kontrak.
Dia juga sangat mensupport urusan welfare karyawan. Ada family gathering tiap tahun. Ada olah raga bulu tangkis. Ada futsal. Ada senam aerobic. Ada olah raga sepeda, yang kalau ada event keluar kota, tidak pernah lupa membelikan oleh-oleh bagi anggota team yang tidak bisa ikut. Entah kenapa biasanya yang diminta beli oleh-oleh itu adalah saya.
Sisi kurang baiknya, atau minimal yang jadi beban membekas yang dipendam karyawan yaitu suka memarahi tanpa kenal tempat. Termasuk saya sendiri memendam rasa itu.
Dimanapun.
Paling suka marah saat meeting. Jarang memarahi karyawan hanya empat mata. Paling doyan gebrak meja saat meeting.
Dulu jika diperhatikan, jika sorenya ada jadwal meeting dengan staff, dia tidur dulu, setelah bangun dia ukur sendiri tensinya. Jika tekanan darahnya lagi naik, dipastikan dia berusaha mengurangi amarahnya saat meeting. Dan sebaliknya jika tensinya rendah maka dia marah seenaknya dalam rapat. Itulah ciri khasnya.
Jika mau manggil karyawan untuk menghadap, harus dicari, tidak peduli sedang ngapain. Bisa dibilang sangat egois.
Suka tidur bahkan ngorok di kursi kerjanya. Padahal mejanya satu ruangan dengan staff. Dia tidur tanpa pandang jam. Klo ngantuk ya tidur. Meja saya kebetulan di depan dia. Sangat risih jika denger dia mendengkur.
Satu kesalahan fatal yang dilakukan yaitu terlalu mengikuti kemauan orang ketiga, yang deket dengan istrinya, yang mengisi kantin perusahaan. Orang ketiga ini terlalu jauh ikut campur urusan perusahaan. Karyawan yang dia tidak sukaipun bisa dia rekomendasikan agar dikeluarkan. Luar biasa pengaruhnya.
Terakhir sang direktur ini buka PT baru bersama orang ketiga tersebut. Anak dari yang punya kantin itu. Disinilah fatalnya. Keuangan perusahaan jadi tidak sehat lagi.
Kita lihat nanti apa yang terjadi. Apakah masih kuat atau hanya tinggal kenangan.

Kamis, 29 Agustus 2019

Tokoh Agama

Di Indonesia saat ini diakui ada 6 Agama resmi. Konghucu adalah agama resmi yang terakhir diakui Negara. Saya pikir sebagian besar tahu agama apa saja. Islam, Kristen, katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.
Undangan dari wali kota batam. Kepada para tokoh agama di batam.
Acara Silaturahmi Pimpinan Forum Koordinasi Perangkat Daerah (FKPD) dengan Tokoh Agama kota Batam tanggal 28 Agustus 2019, hari Rabu. Undangan disampaikan lewat penyelenggara Hindu Kota Batam. Dihimbau para ketua lembaga agar bias hadir di acara tersebut. Terutama ketua Parisada Kota Batam dan Ketua Wanita Hindu kota Batam wajib hadir karena ada penandatanganan kesepakatan bersama.
Bertempat di Aula Engku Hamidah kantor walikota batam, jam 10.00 sampai selesai.
 Paling tidak ada 3 perwakilan Hindu di sana. Ditambah satu tokoh Hindu yang datang menyusul.
Photo Papan kesepakatan bersama di share ke grup WA. Ternyata kolom untuk perwakilan Hindu tidak ada. Lha wong nama perwakilan agama lain semua ada, termasuk Konghucu. Coba perhatikan Photo di bawah. Kasak kusuk dan sangat marah dalam hati. Begitu pengakuan salah satu yang saya hubungi.
Saya malah menyarankan agar lembaran kesepakatan tersebut jangan dipakai. Bila perlu pergi meninggalkan tempat acara.
Ini masalah serius. Malah sensitive. Jika dibiarkan, kedepannya pasti juga akan terjadi. Bagaimana jika kejadian ini terjadi pada agama lain? Cukupkah panitia bilang maaf, ini tidak disengaja, hanya kelupaan. Apa kita cukup bangga memaafkannya?
Anehnya di share di grup, ndak ada yang berani komentar. Apa yang harus dilakukan. Apa pura pura tidak baca. Mustahil!. Coba kalau ada info ngajak makan-makan atau masak-masak, ngelawar. Seketika rame tanggapannya.
Photo pertama.


Tentunya sangat bersyukur kita punya tokoh agama yang mumpuni. Sepak terjangnya sudah seharusnya dihormati, diperhitungkan. Baik dari internal maupun external. Wali kotapun akhirnya di lobi karena ini adalah acara wali kota. Hanya dalam hitungan menit, lembaran kesepakatan yang baru sudah bias datang. Artinya apa. Kita harus berani bersuara. Jangan ngedumel di kamar mandi sendiri.

Photo kedua.


Senin, 26 Agustus 2019

PEMBINAAN UMAT HINDU BATAM

Jumat 23 Agustus 2019 bertempat di Aula Pasraman Jnana Sila Bhakti Batam,  umat Hindu khususnya yang berada di Batam, mendapat pembinaan dari ketua Prajaniti Pusat dan Pengurus Parisada Pusat. Untuk mengisi waktu kosong beliau sebelum menjadi narasumber di acara Dharma Camp siswa pasraman untuk tingkat SMP. Acara Dharma Camp diselenggarakan selama dua hari yaitu pada Sabtu 24 Agustus siang sampai Minggu 25 Agustus Sore.
Acara Pembinaan tersebut dimulai pukul 20.30 molor 30 menit dari jadwal yang ditentukan. Narasumber baru tiba di Batam sekitar pukul 18.00. terus check in hotel dan makan malam.
Sekitar 60 orang peserta siap menanti kehadiran KS Arsana di aula pasraman yang ‘hangat’. Sedianya acara ini dikhususkan bagi pasangan yang sudiwadani saja. Namun nyatanya hanya sebagian kecil peserta yang pasangan sudiwadani yang hadir. Selebihnya adalah peserta umat umum.
Secara logika acara seperti ini seharusnya dihadiri oleh antusias umat Hindu yang tinggi. Namun kenyataannya yang hadir hanya beberapa persen dari seluruh umat hindu di batam. Apakah ini artinya tingkat kesibukan umat Hindu di Batam untuk urusan duniawi cukup tinggi?
Di suatu kesempatan, ketua lembaga hindu menghimbau dan menhajak seluruh umat Hindu untuk lebih memperdalam ajaran agamanya. Terutama bagi pasangan yang mengikuti sudiwadani. Pernikahan bukan hanya semata-mata karena cinta. Namun jauh dari itu suami harus mampu memberikan pemahaman agama yang lebih jauh kepada istri. Jangan sampai nelpon tengah malem hanya untuk menyampaikan rencana pisah sebagai suami istri. Demikian ketua lembaga mencontohkan.
Tema dari pembinaan tersebut yaitu Mewujudkan keluarga Sejahtera Melalui Peningkatan Crada dan Bhakti. Lebih specific, KS Arsana menyampaikan materi pembinaan dengan judul Menjadi Dharmika. Memaparkan tentang ajaran Hindu dengan contoh-contoh yang mudah dipahami dan masuk akal.
Dipenghujung acara, pasangan yang pernah disudiwadani diminta maju berpasangan suami istri, mengungkapkan perasaannya masing-masing. Bahkan ada yang sampai berlinang air mata.
Testimony bagaimana pengalaman seorang istri semenjak memeluk Hindu. Rata-rata mengatakan bangga dan merasa damai. Begitu juga ada satu keluarga yang beberapa tahun yang lalu melaksanakan sudiwadani, kembali ke jalan Dharma. Sampai matipun akan tetap di jalan Dharma.
Acara berakhir pukul 11.30 tengah malam. Masih dilanjutkan keesokan harinya sabtu pagi.
Igstng2019









Tiap tahun ada acara dengan Tema ini.
Kali ini saya perhatikan judul spanduknya
sudah benar

Rabu, 21 Agustus 2019

KETIKA NAKHODA BERGANTI

Ketika Nakhoda Berganti, ombak datang, kapal oleng, para perompak menyelamatkan dirinya masing2.
Kenapa saya susah menilai seseorang disini. Siapa teman siapa, siapa lawan siapa. Yang dulunya saya lihat akrab sekarang jaga jarak. Yang dulunya saling cuek, sekarang saling berangkulan. Dulunya kliatan seseorang berjasa sekali baik terhadap perusahaan maupun pribadi, sekarang dicuekin. Bahkan ada yang di phk karena mungkin sudah tidak ada artinya di matanya.
Sementara saya cuek cuek saja. Ndak pernah pro ke siapa-siapa. Semua saya jadikan teman. Cumin ke teman tertentu saya sedikit jaga jarak.
Dalam hati saya hanya senyum-senyum. Kalau memperhatikan situasi di sini. Pokoknya kalau dipikir malah jadi mbulet. Ribet. Dulu satu kapal, sekarang saling serang. Terlalu banyak isu. Isu kantin kek, isu taman, isu sepatu, isu uniform. Bahkan sampai ke isu mobil.
Intinya, orang luar terlalu banyak ikut campur urusan PT. bukan Cuma ikut campur, tapi malah ingin jadi penentu. Missal ada karyawan yang tidak dia sukai, jika karyawan kontrak pasti tidak boleh diperpanjang. Hebat. Padahal hanya berawal dari jualan kantin. Kini lagaknya melebihi direktur. Maklum istri lokalnya direktur adalah orang yang punya kantin. Inilah awal kisruh dalam perusahaan.
Belum lagi isu pengalihan modal perusahaan ke perusahaan milik keluarga kantin. Ini sangat krusial. Bias jadi bekerjasama dengan konsultan bayaran perusahaan. Seolah tidak ada yang dilanggar. Seharusnya selisih keuntungan perusahaan menjadi harta pemilik perusahaan atau pemilik modal.
Misalnya kalau kita berjualan. Untung 10 rupiah. Yang dilaporkan ke perpajakan 5 rupiah, dan dilaporkan ke induk perusahaan juga 5 rupiah. Nah yang 5 rupiah lagi disimpan tidak dilaporkan kemana-mana. Dalam kurun waktu sekian tahun yang 5 rupiah 5 rupiah tersebut terus berakumulasi. Inilah yang disinyalir digelapkan oleh para petinggi yang bias di ajak kong kalikong. Berbeda dengan perusahaan milik Negara. Bias diaudit oleh bpk atau kpk.
Kini nakhoda kapal berganti. Entah apa gebrakannya untuk eluruskan laju kapal. Yang jelas para perompakpun sudah kasak kusuk mendekati nakhoda baru.
Selamat menikmati.


Senin, 19 Agustus 2019

ITU PURAKU

Secara sepontan itulah kalimat yang terucap dari seorang anak kecil. Kami memasuki areal Pura tepatnya disamping parkiran pura agung, atau biasa disebut parkiran Kak Dadut. Baru saja pulang dari mengikuti pawai Budaya dan Pembangunan hari kemerdekaan RI ke 74 di komplek RH Fisibililah batam center. Mengambil rute dari depan edukits menuju simpang lampu merah Gelael.
Nama lengkapnya saya lupa, biasa dipanggil Nanda yang pernah saya tulis disini juga, yang saya provokasi di grup WA, minta bantuan yang bias ngurus sekolahnya, yang sudah 2 tahun putus, pindah dari Palembang.
Kebetulan Nanda dan Ibunya ikut satu mobil dengan saya sekeluarga. Disamping jalan masuk akses ke pura, ada beberapa orang berboncengan motor, ada sekitar 6 motor. Spontan si Nanda itu bilang, lho ada apa orang itu ke Pura kami. Ini Puraku lho. Meski hanya berucap dalam mobil, tapi ucapannya yang polos membuat saya kagum. Terlepas apakah dia bercanda atau serius.
Memasuki Mandala Utama (areal suci tempat sembahyang) si Nanda ini buru buru buka sepatu dan kaos kakinya. Mau sembahyang Ganesha, kata dia. Saya coba intip, dia duduk bersila di hadapan patung Ganesha dan mencakupkan kedua tangannya di atas ubun-ubun. Hanya dia yang tau doa apa yang dia lantunkan.
Disaat teman temannya asyik bermain, anak ini juga ada disana tapi asyik dengan pikirannya sendiri sambil menggerak gerakkan kedua tangannya meniru orang nari bali. Entah tarian apa yang ada di benaknya.
Sekian

Kamis, 15 Agustus 2019

Dipindah Keluar agar berada di dalam

Pengumuman BOP
Om swastyastu,
Megharapkan kehadiran umat yg mempunyai waktu sambil memgantar putra putri ke pasraman untuk bergotong royong pada minggu 11 agu 2019.
Kegiatan:
1. Matur piuning
2. Membongkar pondasi tembok penyengker didekat bale kul kul.
Lebih detail akan di koordinasi dilapangan.
Atas kerjasamanya kami haturkan terima kasih.

Demikianlah isi pengumuman BOP yang di forward oleh klian banjar saya.
Tembok penyengker yang dimaksud seperti gambar dibawah.
Ada yang bertanya mengapa kok pondasi tembok yang kokoh harus dibongkar. Apakah dulu tidak bertanya. Sayang sekali pondasi beton kokoh harus dibongkar. Duit yang sudah dikeluarkan jadi mubasir. Kenapa tidak dilanjutkan saja temboknya. Demikian pertanyaan bagi yang peduli atau punya otak usil seperti saya.

Memangnya kita harus bertanya ke siapa. Apa perlu “nunasang” istilah bertanya ke orang pintar seperti di Bali. Padahal dulu sering ada wacana, kita bukan membawa Bali ke Batam. Jadi maksudnya tidak mutlak harus semua seperti di Bali. Ya nggak juga. Terus apakah kita tidak perlu ada rujukan. Jika perlu rujukan, siapa atau kemana rujukannya. Jangan sampai sama-sama buta tapi ngasi tau arah jalan.

Setelah saya mereka reka mencari jawaban dengan asumsi sendiri, karena saya tidak pernah mendengar kapan dibahas, siapa saja yang ikut membahas, saya tidak tau. Ternyata mungkin posisi bale kulkul harus berada di jeroan/ mandala utama. Saat ini bale kul kul berada di luar mandala utama karena temboknya berada di dalam. Untuk menjadikan bale kul kul berada di jeroan, maka tembok penyengker dibuat di luar. Perhatikan photo.
Gbr 1, Pandangan dari Dalam.
Tembok penyengker ada di dalam


Saya mencoba mencari referensi di dunia maya dimana seharusnya letak Bale Kul kul apakah di Mandala Utama atau di Madya Utama atau di Nista Mandala. Jika itu masalahnya. Ataukah ini hanya ide pribadi seseorang yang harus diikuti semua orang.

Pertama saya copast dari link http://www.babadbali.com/pura/plan/pucak-gegelang5.htm
Nista Mandala terdapat palinggih pengapit lawang 2 buah kiri dan kanan, palinggih gedong, paruman alit, bale gong, perantenan (dapur), serta bale kulkul. Antara jaba sisi (Nista mandala) dengan Maddya mandala dibatasi oleh tembok penyengker dan terdapat 2 buah candi bentar bagian utara dan selatan serta di tengah-tengah ke dua candi bentar itu terdapat candi gelung. Dengan adanya dua buah candi bentar ini sirkulasi pemedek pada saat pujawali dapat diatasi untuk menuju ke jeroan atau kembali (mepamit) dari jeroan ke jaba sisi.
Nah disini dikatakan bahwa Bale Kul kul letaknya di Nista Mandala. Apakah si admin link ini salah tulis? Apa maksudnya Madya Mandala?
Yang ke dua saya menemukan link http://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2012/03/halaman-pura.html  yang saya copast sebagai berikut : Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama, di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya

bale gong, perantenan (dapur suci),
bale kulkul,
bale pesandekan (tempat menata tetandingan banten),
bale pesamuan (untuk rapat-rapat), dll.
Di nista mandala ada pelinggih "Lebuh" yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir, penjual makanan, wisata dll.
Disini juga dikatakan Bale Kul kul letaknya di Madya Mandala.
Yang ketiga saya menemukan link : https://hindualukta.blogspot.com/2015/12/struktur-pura-yang-benar.html  disitu dinyatakan bahwa, Madya Mandala adalah zona tengah dimana umat beraktivitas dan fasilitas pendukung. Pada zona ini terdapat Bale Kul-kul, Bale Gong, wantilan, Bale Pesandekan, dan Perantenan. Di beberapa Pura, Bale Kul-kul dan Perantenan ada di Nista Mandala.
Disinipun jelas dikatakan bahwa Bale Kul kul termasuk sarana pendukung yaitu terletak di Madya Mandala.
Gb 2, Pandangan dari Luar.
Tembok Penyengker akan disambung

Kembali ke kondisi di Pura Agung. Tidak jelas pemisahan mana Madya Mandala dan mana Nista Mandala. Yang jelas ada Mandala Utama dengan pintu masuk dua buah apit surang kiri kanan dan Kori Agung. Ada juga pintu akses dari sisi kiri ke Sri Lalita. Di Mandala Utama ada Padmasana, Bale Barong, Bale Paselang, Bale Pegat, Bale Pawedan dan Taman Sari. Setelah tembok dipindah keluar, maka Bale Kul kul akan berada di dalam Mandala Utama.
Gb.3, Day 1 gotong royong

Selasa, 13 Agustus 2019

Niat Bantu (‘catatan pribadi’)

Malam itu 8 agustus 2019, untuk ketiga kalinya ibu itu datang ke rumah. Pinjem duit untuk bayar listrik dan beli obat untuk suaminya. Tiap bulan pinjam duit. Sebelumnya pada bulan Juni, Juli sudah pinjam. Janji akan dikembalikan tanggal 25 agustus setelah anak-anaknya gajian. Saya was was juga jika nanti ternyata tanggal yang dijanjikan tidak juga dibayar. Entahlah. Itu janji mereka. Selebihnya serahkan kepada Yang di atas. Menurut apa yang dia sampaikan di WA hanya kamilah yang bias membantu kesulitan mereka.
Kondisi keluarga ini kurang lebih seperti tulisan saya yang berjudul ‘Mengubah Jalan Hidup’. Benar tidaknya nanti kedepannya, ya hanya mereka sekeluarga yang tau dan yang di atas.
Suatu hari minggu, kami ajak si ibu dan suaminya ini bagi sembako. Sepertinya mereka suka diajak bakti social begini. Memang suka ataukah ada niat lain, saya tidak tau.
Banyak suara suara yang mengganggu di ingatan saya yang sampai ke telinga saya. Diantaranya dengan nada mengingatkan untuk berhati-hati karena hanya dimanfaatkan. Kita bantu orang hindu dari bali saja, demikian kata yang lainnya. Kalau dia ternyata balik lagi ke islam, bagaimana. Demikian omongan-omongan mereka. Ditambah lagi suatu waktu istri salah satu Jro mangku pernah melabrak si ibu itu saat berjualan ternyata menggunakan penutup kepala/kerudung. Mereka memang pernah bilang ke saya bahwa si ibu itu berjualan dengan berjilbab hanya untuk menarik simpati pembeli yang dilingkungan mayoritas muslim. Yang penting hati kami hindu. Hanya Hyang Widhi yang tau, demikian kata si ibu waktu itu, dan saat di mandala utama Pura Agung.
Bias jadi warga hindu satu banjar dengannya merasa terbebani. Bias jadi. Saya tidak tau. Hubungan keluarga si ibu ini dengan warga banjarnya sepertinya tidak harmonis. Saya belum pernah nanya apakah ikut ‘mebanjar’ ikut suka duka perkumpulan banjar atau tidak.
Seandainya warga banjar tidak sreg dengan si ibu itu, kenapa harus dijauhi. Bukankah harusnya dirangkul, diarahkan. Dengan demikian dia semakin tebal keyakinan hindunya. Apalagi anak-anaknya sudah pada beranjak dewasa. Tentu pergaulannya dengan umat agama lain.
Terakhir saya denger ketua lembaga kota yang juga seorang guru agama hindu sudah berkunjung ke tempat tinggal ibu itu didampingi penyelenggara hindu kota batam. Ini gara-garanya saya memposting atau memprovokasi anggota grup WA agar bertindak sesuatu membantu keluarga tersebut. Tahun ajaran baru sekolah sudah berjalan. Sementara anak si ibu itu yang paling kecil tidak bias sekolah. Kesulitan tehnis ngurus kepindahannya. Tak terbayang bagaimana psikis anak kecil yang tidak sekolah sementara melihat kawan kawannya pada sekolah. Syukurlah ada janji untuk membantu si anak tersebut untuk sekolah.
Saya menyarankan kepada si ibu agar berusaha mengajak anaknya ikut sekolah agama hindu di pasraman. Minimal dia mulai bias bergaul dengan sesame anak hindu.
Semoga semuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Nanda (kaos merah)

Selasa, 06 Agustus 2019

Selamat jalan Sobat

Selasa 6 juli 2019, sangat sedih saat bangun pagi baca pesan di grup WA yang isinya menginformasikan bahwa seorang teman yang selama ini opname di rumah sakit Awal Bros batam telah pergi untuk selamanya, ke alam sana yang damai.
I Ketut Sugirat Jelantik, meninggal karena inveksi di hatinya dan menurut informasi teman teman juga ada gangguan pencernaan. Ketika saya bersama keluarga berkesempatan bezuk ke rumah sakit, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Masih terpasang selang oksigen dan infuse. Sepertinya masih ada respon. Ketika buang air kecil masih bias bilang ‘pipis’ meski pakai pempers. Ketika saya pamitanpun dia masih bias merespon kata-kata saya. Dia mengagguk ketika saya bilang ‘yang sabar tut, tetap semangat, pasti sembuh’.
Hanya mukjizat yang menyembuhkan suami saya, demikian kata istrinya yang setia mendampingi. Kami berusaha menghibur istrinya agar tabah dan serahkan kepada Hyang Kuasa, tetep berdoa. Keajaiban pasti datang.
Meninggalkan seorang istri yang asli jawa dan seorang putri yang sedang menginjak dewasa. Termasuk warga Bali yang senior di Batam. Bekerja di perusahaan swasta di pulau bulan.
Saya masih ingat sekitar tahun 90an. Ketika itu saya kerja di muka kuning, dan tinggal kost di daerah batu aji bersama istri saya. Tut Sugirat waktu itu datang tergopoh gopoh ke kosan saya membawa lamaran kerja. Bukan untuk dia, tapi untuk warga bali seorang gadis. Dengan senang hati saya menerimanya dan beberapa hari kemudian si gadis yang namanya saya lupa, langsung kerja. Sempat kerja satu atau dua hari saja. Namun kabur tanpa memberi tahu. Katanya lebih suka kerja di hotel. Tidak tahan duduk lama-lama di produksi yang menjemukan.
Setelah itu jarang sekali ketemu almarhum ini. Namanya juga jarang terdengar. Sudah punya istri dan anak. Saat ngantar anaknya mulai ikut sekolah agama hindu di pasraman itulah saya ketemu almarhum. Dia manggil saya Bli Ngurah. Saya inget kata-katanya ketika berjumpa di pura. Bli Ngurah sehat? Bli Ngurah awet muda. Kata dia waktu itu.
Hari ini saya sangat sedih tidak bias ikut prosesi pemulangan jenasahnya mulai dari rumah sakit, terus ke rumah duka dan selanjutnya ke bandara untuk dikirim jenazahnya ke bali. Saya kerja dan ndak bias ditinggalkan.
Selamat jalan semoga damai di alam sana. Kelaurga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan.

Di Rumah Duka - sebelum jenazah tiba

Suasana haru keluarga dan umat

Minggu, 04 Agustus 2019

Kuningan

Saya tidak akan membahas apa makna hari raya kuningan yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Indonesia. Hari Raya sebagai rangkaian terakhir hari Raya Galungan. Yang jatuh 10 hari setelah Galungan.
Pagi itu persembahyangan dilaksanakan di Pura Satya Darma Mukakuning. Meski ada juga sebagian uma yang sembahyang pagi di Pura Agung. Satu Jro Mangku stand by di Pura Agung yaitu Jro Mangku Putu Satria Yasa. Dan satu lagi Jro Mangku Agung Arif memimpin sembahyang bersama di Pura Satya Dharma.
Sehari sebelumnya ada pengumuman via WA dari ketua UKHB Unit Kerohanian Hindu Batamindo bahwa persembahyangan pagi dilaksanakan pada pukul 09.00. Saya mencoba memberikan masukan meski hanya masukan iseng-iseng. Artinya usulan saya tidak serius. Sembahyang sebaiknya dilaksanakan jam 7 atau jam 8 pagi. Kalau sembahyang jam 9 bukankah matahari sedang terik teriknya. Tidak ada yang menanggapi usulan saya tersebut. Hanya komentar angin lalu bahwa kalau sembahyang dilaksanakan terlalu pagi, nanti banyak umat yang datang terlambat. Terus yang salah siapa. Dalam hati saya, walah beginilah cara pemimpin umat mengatur umatnya.
Saya datang jam 9 pagi toh persembahyangan juga belum dimulai. Saya masih ingat setahun yang lalu 2018 saat persembahyang kuningan juga. Waktu itu saya buru buru berangkat dari rumah untuk sembahyang. Sampai di pura muka kuning jam 7 pagi. Eh kaget juga, ndak ada orang. Sempat curiga pada diri sendiri apa saya salah hari. Tunggu 30 menit, belum juga ada umat lain yang nongol. Tunggu sampai satu jam. Belum juga ada yang datang. Tunggu satu setengah jam, masih sendiri. Akhirnya saya sms ketua ukhb. Apakah ada persembahyangan di pura muka kuning. Dijawab, oo ada. Jam 9 akan dimulai. Datag saja ke pura muka kuning, katanya. Saya memang tidak bilang kalau saya sudah nunggu lama di pura.
Kali ini cuaca cukup bersahabat. Mendung mendung dan tidak gerah. Persembahyangan memang molor hamper satu jam karena sound system tidak normal. Jam 11 selesai sembahyang dan ngelungsur. Sayapun pulang bersama anak dan istri.
Malam harinya saya bersama anak dan istri sembahyang ke pura agung. Berangkat agak telat sekitar jam 7.30 malam. Sorenya ada kegiatan antar sumbangan. Saya tiba, acara persembahyangan sudah dimulai, dan sampai acara dharma wacana yang kedengeran dari parkiran diisi oleh penyelenggara Hindu Kota Batam.
Saya ambil posisi duduk agak ke depan. Biasa istri saya seperti ada yang kurang lengkap jika tidak dapat mekidung.
Selesai sembahyang, ada doa tambahan untuk umat yang lagi opname di rumah sakit. Semoga cepat sembuh.
Pengumuman, isinya ajakan atau himbauan dari ketua PHDI kota Batam tentang megang teguh ajaran Hindu. Jika istri dari non Hindu, si suami harus bertanggung jawab penuh terhadap pemahaman ajaran Hindu kepada istri. Wah sempat berpikir mengapa harus ada himbauan seperti ini. Harusnya secara kelembagaan harus ada program yang mengcover masalah masalah keumatan.
Pengumuman kedua dari ketua PHDI provinsi, I wayan Jasmin. Intinya beliau menyampaikan kabar gembira bahwa setelah berjuang dengan gigih, dikabulkan oleh pusat untuk mendirikan gedung secretariat bersama di lingkungan Pura Agung. Dana 600 juta disetujui. Namun tahap awal akan turu bantuan 250 juta. Bertahap tiap tahun. Tepuk tangan umat menyambut berita tersebut.
Pengumuman ketiga, dari ketua Paruman Walaka, Dr. I Wayan Catra Yasa. Baru pulang dari Nepal membawakan misi agama hindu ditingkat Internasional. Beliau membawa oleh-oleh entah apa namanya, kain kuning katanya sebagai blessing dari salah satu kuil di Nepal. Lima orang yang di blessing, katanya. Yaitu kedua Jero Mangku, Ketua BOP, Ketua PHDI Kota Batam, dan penyelenggara Hindu Batam.
Kenapa yang lainnya tidak di Blessing?
Suasana Persembahyangan di pura Sathya DHarma MK


Jumat, 19 Juli 2019

Direktur 'Preman' VS Direktur 'Karbitan'

Saya bergabung di perusahan assembly Valve di daerah Latrade Tanjung Uncang Batam pada tahun 2007 sekitar bulan Juni. Karyawannya tidak banyak. Tidak lebih dari 100 orang. Beberapa staff office. Presdirnya orang Jepang. Sudah agak berumur. Dulu katanya sempat bekerja di Kantor Pemerintahan di Batam. Saat itu mungkin belum ada Pemko. Sekarang namanya Badan Pengusahaan Batam. Sebelum dibubarkan atau digabung ke Pemko Batam.

Sebut saja namanya Mr. Takai. Dari awal saya bergabung, saya lihat performa direktur ini kurang greget. Hanya sekedar jalan. Terkesan sering ‘dibohongi’ staff local. Terlalu banyak excuse. Maklum lama kerja dengan orang kita. Terlalu Indonesia style. Saya sering dipanggil ke ruangannya, yang khusus. Tentu urusan kerjaan. Mejanya penuh tumpukan kertas. Apa saja. Kiri kanan, depan belakang. Pokoknya bertumpuk tumpuk. Sering saya lihat si direktur ini hanya mainan game di laptopnya. Bukan Game yang canggih. Hanya sekelas Solitaire.

Tahun 2009 masuklah penggantinya, sebut saja namanya Mr. Fu. Darah segar. Sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan di Muka Kuning. Banyak yang sudah mengerti tipe direktur ini kasar. Banyak gebrakan. Mirip temperamental. Biasa gebrak-begrak meja kalau meeting. Biasa bergurau kalau ngobrol diluaran.
Mr. Fu sangat berprestasi untuk membat perusahaan profit. Marginal profit, sales dikurangi cost material saat dia baru masuk hanya sekitar 20%. Cost down dipacu. Effisiensi disana sini. Profit naik secara significant. Hanya bagian yang punya authority saja yang paham. Laporan ada 3 jenis, paling tidak. Laporan original, laporan untuk ke head office dan laporan ke pajak yang dipakai acuan oleh pemegang saham. Kini, marginal profit saja sudah mencapai hamper 40%. Dua kali lipat.

Sang direktur ini ndak peduli marah kepada siapa, dimana saja kalau ada laporan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Bukan rahasia lagi, yang bikin laporan terpaksa ABS, asal bapak senang. Dibuatlah laporan yang bagus-bagus. Selisih antara kenyataan dengan yang dilaporkan ke head office cukup besar. Perusahaan sangat royal mengeluarkan duit untuk social, welfare, atau beli peralatan kerja seperti computer, printer dsb.

Sang direktur ini suka tidur di kursinya. Padahal di ruangan bersama dengan staff lainnya. Bahkan ngorok yang bikin telinga risih mendengarnya. Sebelum meeting biasanya tidur dulu. Ngumpulin tanaga untuk marah-marah saat meeting.

Kemungkinan duit masih ada banyak. Perlu cari spare brankas. Maka issuenya sang direktur bikin PT sendiri, gabung dengan kawannya. Mengalirlah duit simpanan ke brankas barunya. Tentu harus ada yang bias diajak sejalan. Agar usaha ini mulus. Perusahaan baru ini bak broker. Sebagai supplier yang mensupply barang-barang kebutuhan Tomoe. Cara nyerobotnyapun dengan cara yang tidak professional. Banyak supplier aslinya yang di putus ditengah jalan. Tentu mereka kelimpungan karena stoknya tidak bisa dijual.

Disamping sebagai supplier Tomoe, juga berfungsi sebagai distributor produk jadi. Tanpa usaha mencari pembeli. Malah salesman Tomoe difungsikan untuk mencari pembeli local. Sebagai karyawan Tomoe harusnya merasa digencet. Tapi pertanyaan besarnya, mengapa pada diem anteng-anteng saja. Ya ibarat anak kecil disuruh ambil sesuatu, cukup senang walau hanya dikasi permen.

Kini, akhir 2018 beredar isu direktur ini bakal diganti. Kasak kusuk, ada yang senang, tentu ada yang tidak. Calon pengganti nyapun datang di awal 2019. Namanya Mr. Tsu. Yang stylenya 180 derajat berbeda. Yang selalu jadi bulan-bulanan. Harga dirinya sering dijatuhkan. Hand over rencananya bulan april namun mundur ke Juni. Bulan juni Mr Tsu secara organisasi sudah menduduki jabatan direktur, sementara yang digantikannya sebagai advisor. Sepertinya Mr Fu berat melepas jabatannya. Mr Tsu, yang sekelas direktur, masih pontang panting dibuatnya. Harusnya focus ke isu manajemen. Tidak semua tanggung jawab diberikan oleh Mr Fu. Maka, keputusan apapun masih lewat Mr. Fu. Katanya sampai September. Tanda tangan juga harus oleh dia. Ya kita tunggu saja.

Jumat, 12 Juli 2019

Budaya Bali

Rabu 10 Juli 2019, jadwal latihan megambel seminggu sekali. Sudah lama vacuum tidak  latihan. Terbentur hari ujan, anak-anak lagi ujian, acara banjar.
Waktu menunjukkan jam 2 sore, salah satu anggota group di WA mengingatkan kalau hari ini jadwal latihan. kemudian dikonfirmasi beberapa anggota lainnya. ada 5 anggota yang bisa hadir, plus satu orang yang tinggal di pura. Total 6  orang ditambah dua anak kecil. beberapa yang lainnya tidak ngasi alasan.
Saya dari rumah jam 7.30 malam. Perkiraan jam 8 malam teng sudah pada kumpul. Berangkat sama anak saya. sampai di pura sekitar jam 8 malam. weh apa saya ndak baca WA terbaru, pikir saya agak ragu. Kok ndak ada orang. Sepi hanya terdengar suara anjing menggonggong.
Saya agak lama di mobil sambil buka-buka WA. Kemudian ke atas ke mandala utama sembahyang. Sambil nunggu kawan-kawan datang. Saya memutuskan jika sampai jam 8.30 malam ndak ada yang datang, maka saya akan pulang.
Akhirnya beberepa orang datang. Latihan alakadarnya. Niat ndak niat latihan. Anggap melatih melemaskan tangan.
Jam 9.45 malam istirahat, minum dan makan snack. habis itu kemas-kemas peralatan dan pulang.

Rabu, 10 Juli 2019

Kurir Spiritual

 

Jangan pernah membayangkan bagaimana seorang ibu dengan dua orang anaknya hidup di sebuah gubuk reot tanpa listrik, tanpa sumber air layaknya PDAM. Atau paling tidak ada sumber mata air. Letaknya di tengah perkebunan sayur dan jauh dari jalan utama. Masih mending di siang hari. Betapa sunyinya di malam hari. Mungkin hanya terdengar suara-suara hewan malam. Anda tidak akan mengerti.
Untuk menyambung hidup, bersama dua anaknya yang masih kecil, yang besar kelas 5 SD dan yang kecil belum sekolah, si Ibu ini bekerja sebagai buruh kebun sayur milik seorang majikan, yang dibayar jika panen sayuran dan kalau panennya berhasil atau laku dijual.
Dengan mengendarai sepeda motor butut ibu ini mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Jaraknya tidak terlalu jauh sekitar 3km, naum jika hujan akan sangat becek dan berdebu jika di musim panas. bahkan si ibu ini pernah jatuh dari motor karena jalan licin. Dengan motor itu juga si ibu itu membawa sayuran ke pasar untuk jual.
Dalam kondisi si ibu yg sangat tidak beruntung itu, malahan musibah lain datang. Suaminya terpaksa harus dipenjara. Gara-gara dia mengancam istrinya dan mau dibunuh. Si suami tidak pernah memberi nafkah ke istri dan anaknya. Bahkan jarang pulang. Alasannya kerja tapi tidak jelas dimana. Si ibu ini otomatis berjuang sendiri menghidupi kedua anaknya.
Mungkin anda bertanya. Kok saya sampai di pelosok kebun sayur begitu.
Saya kebetulan ikut di ssg batam yaitu organisasi spiritual lintas agama yaitu organisasi yang diajarkan untuk mengikuti ajaran Guru Spiritual Sai Baba. Kebetulan ada sponsor atau bekerja sama dengan sai bhakta Singapore. Saya diminta mencarikan beberapa tepatnya 4 keluarga kurang mampu yang perlu dibantu. Berkat bantuan seorang teman di forum RT/RW grup whatapps. Ini salah satu keluarga yang diusulkan dapat bantuan. Tiap bulan saya ngantar rombongan ke rumah ibu itu. Sampai berita ini saya tulis, sudah empat kali memberikan bantuan. Dengan membawa beberapa jenis bantuan seperti beras, susu, kopi, gula, mi, the. Menyusuri jalan semak-semak.
Demikianlah tugas kurir spiritual seperti saya.

Rabu, 03 Juli 2019

Presiden Taxi

Awal tahun 2019 sampai pertengahan tahun 2019 situasi politik tanah air memang lagi memanas. Ajang pemilu legislative dan pilpres dilaksanakan serentak di tanah air maupun luar negeri. Tepatnya 17 april 2019. Pileg sendiri gaungnya tidak begitu kelihatan, nyaris tertutup oleh pilpres. Puncak kampanye awal april. Gegap gempita masa kampanye. Smua mengklaim ratusan juta peserta yang hadir. Jor joran. Luar biasa. Semua orang bebas mengekpresikan dirinya. Tak terkecuali di medsos. Saling caci saling maki, suguhan tiap hari, tiap jam, tiap menit. Dengan mudahnya orang memojokkan kubu lawan dengan mencap ini semua gara gara rezim yang berkuasa saat ini. Rezim yang harus ditumbangkan. Rezim yang membuat Negara hancur. Rezim yang membuat bangsa porak poranda. Sangat mengherankan memang. Bahkan saya sempat denger ungkapan tersebut saat saya makan siang di warung makan. Namun tidak perlu ditanggapi meskipun hati bertentangan.
Tak terkecuali, kawan saya yang sudah mampu ngredit mobil baru yang dipakai sebagai taxi on line. Menurut dia betapa susahnya hidup di jaman jokowi. Cari penumpang sangat susah. Beda dengan dulu. Padahal setau saya, dari jaman dulu, tidak pandang siapa presidennya, sopir angkot atau taxi ya komentarnya begitu. Penumpang tidak bakalan datang sendiri kalau kita tidak rajin mencarinya.
Saat naik angkot. Supir ngeluh susah cari penumpang. Menjelang siding MK penetapan presiden terpilih. Mudah mudahan presidennya ganti, demikian kata sopir itu. Heran. Apa dengan ganti presiden hidupnya dijamin akan berubah. Penumpang akan dengan mudahnya didapat? Bukan malah sebaliknya? Mengingat track record dan prestasi nol calon yang dibelanya. Tanda tanya besar sebenarnya, apanya dibela capres kayak gitu. entahlah.

Selasa, 02 Juli 2019

SUSAHNYA ORANG SAKIT

Suatu kesempatan teman saya pernah bilang ‘hindari berurusan dengan yang dua ini’ yaitu dokter dan polisi. Artinya jangan pernah sakit karena kalau sakit itu susah sembuh, cari dokter susah dan berbelit belit. Begitu juga jika berurusan dengan polisi. Makanya hindari melakukan pelanggaran criminal. Hal sepele bias jadi tambah runyam. Hilang ayam harus rela kehilangan sapi juga. Kurang lebih begitu maksud kawan saya itu.
Hari rabu di akhir bulan juni 2019, sekitar jam 7 malam saya sampai di rumah sakit pemerintah daerah menjenguk tetangga yang lagi opname di ICU. Namanya pak Min. umurnya sebaya dengan saya. Baru sempat jenguk padahal sudah masuk rumah sakit ‘hb’ hari sabtu sebelumnya. Hari seninnya dikabarkan bisa pulang, jadi saya urungkan bezuk ke rumah sakit waktu itu.
Sempat bertanya beberapa kali ke pengunjung rumah sakit otorita batam maupun kepada petugas yang kebetulan saya jumpai. Ketemulah bangsal ICU namun tidak berani masuk. Saya mencoba mencari nomor hp istri tetangga saya itu, ibu Karjini. Nomornya ndak aktif. Coba cari di hp istri saya. Ketemu nomor WAnya. Saya hubungi, ndak di respon. Untung menantu (ponakannya) lewat depan ruang tunggu keluarga pasien. Akhirnya kami jumpa ibu Karjini dan cerita panjang lebar.
Pertama pak Min masuk rumah sakit HB tgl 22 Juni 19 hari sabtu. Tekanan darahnya tinggi. Hari seninnya diharuskan pulang. Itu prosedur, kata perawatnya. Menjelang siap-siap mau pulang, saat buang air besar ternyata keluar darah. Akhirnya dimasukkan ke UGD. Dirujuk ke rumah sakit AWB. Lama tidak ada jawaban dri AWB apakah kamar ICU tersedia. Setelah sore baru ada jawaban dan jawabannya pun mengecewakan, tidak ada kamar.
Hanya modal nekat, bu karjini membawa suaminya ke AWB. Di sana dikatakan pak Min harus operasi dan harus dirujuk ke rumah sakit OB. Lama juga tidak ada konfirmasi ketersediaan kamar di OB. Yang mengherankan bahwa keluarga pasien ditanya perawat, apakah mempunyai kenalan atau keluarga yang menjadi dokter. Agar prosesnya bias cepat. Resiko meninggalnya pasien cukup besar jika tidak ditangani segera. Nah apakah berarti jika pasien tidak punya kenalan dokter tidak perlu ditangani dengan cepat? Ternyata sehat itu milih milih.
Menjelang subuh, pak min baru sampai di rumah sakit yang dirujuk yaitu OB, sekupang. Sorenya dipoerasi pembuluh darah di otak. Sampai berita ini saya tulis, pasien masih di rawat di rumah sakit.

Kamis, 20 Juni 2019

Mengubah Jalan Hidup

Kamis 11 April 2019, saya di hubungi oleh kawan saya Bro Made Sugiartha lewat WA mengabarkan bahwa ada sekeluarga umat Hindu yang perlu dibantu. Apakah ada sisa beras bhakti social. Seketika saya reply ‘ada’. Ambil kerumah, satu karung.
Kami chat WA  panjang lebar masalah keluarga tersebut yang nama aslinya Bapak Nur Rohman, tapi lebih senang dipanggil Pak Yudistira. Beliau asal Bukit asam Palembang. Keluarga ini telah di sudiwadani sekitar dua tahun lalu. Bersama 4 anaknya dari 5 orang anaknya memeluk Hindu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Semenjak memeluk Hindu rupanya nasib berkata lain. Beliau dikucilkan dari keluarga dan masyarakat sekitar. Sampai berdampak ke tempat kerja. Sempat berurusan dengan hukum. Akibatnya harus kelur dari tempat kerja. Kisah hidup keluarga ini pernah dimuat di salah satu majalah hindu. Hidup cocok dengan keyakinan Hindu namun tidak tahan intimidasi warga sekitar. Akhirnya hijrah ke Batam bersama keluarga. Beliau memiliki lima orang anak.. 3 laki2 dua perempuan.. ke empat anaknya sdh kembali ke jalan dharma namun satu anak perempuan nya yg nomor dua masih islam karena dari kecil ikut neneknya. Satu anaknya yg laki2 sulung pernah kerja di Jakarta. Saat ini yg bikin miris 2 anaknya putus sekolah yang usia 15 dan 10 tahun.
Keluarga ini butuh bantuan dana cash untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar sewa rumah. Do something bro, demikian kata teman saya itu. OK kita usahakan pelan-pelan bro, demikian kata saya. Lembaga Hindu sudah tahu masalah ini, dan sudah mengucapkan selamat datang di jalan dharma. Hanya sebatas itu. Bagus juga dari pada tidak ada respon sama sekali, pikir saya.
Istrinya perlu bantuan modal jualan. Perlu 2 juta. Tapi saya usahakan minta bantuan kawan-kawan Singapore dan dikasi pinjaman lunak 5 juta rupiah. Malamnya langsung dikasikan ke rumahnya. Dia sangat senang dengan kehadiran kami berdua. Saya dan bro made ‘bantug’ sugiartha. Mereka antusias menceritakan kisah hidupnya. Kami hanya setia mendengarkan, sekali sekali bro made bantug meyakinkan apa yang mereka ceritakan.
Istri pak Yudistira ini sempat jualan beberapa kali, meski harus berbusana ala muslim. Ya alasannya karena lingkungan. Namun mungkin karena kecapekan si ibu itu sakit dan tidak bias jualan. Sampai tulisan ini saya buat belum jualan lagi. Alasannya cari tempat yang lebih murah dan lokasinya lebih ramai.
Setiap ada kegiatan saya berusaha cari tau apakah pak yudistira hadir. Minimal tau, karena tidak bias jemput antar kerumahnya. Saya ajak bhakti social beberapa kali. Adakah kepedulian dari pengurus lembaga? Saya tidak mengetahuinya. Barangkali sudah berbuat sesuatu secara diam-diam.
Entahlah

Senin, 17 Juni 2019

Mahluk bernama kebersamaan

Seminggu sebelum tanggal yang direncanakan akan diadakan check kesehatan atau disebut medical seva gratis, telah diumumkan di depan umat. Bahkan dikatakan acara tersebut diselenggarakan oleh Pasraman Jnana Sila Bhakti Batam yang bekerjasama dengan WHDI dan SSG (SAI Devotees Singapore).
Seharusnya tanggal 16 Juni pasraman libur, menurut perhitungan masuk tiga kali berturut-turut dan sekali libur. Kemudian pihak pasraman membuat pengumuman di grup WA. Dikatakan tgl 16 juni ada pemeriksaan kesehatan gratis. Namun hanya sebatas himbauan. Tidak ada kalimat wajib masuk. Saya reply pembuat pengumuman. Memang tidak disebutkan kata libur, tapi kalo dibaca sepintas memang boleh datang boleh tidak. Ya saya tunggu perkembangannya.
Beberapa hari menjelang acara, kok tidak ada perkembangan. Semuanya diem. Saya sudah memperkirakan begitu. Saya bikin perencanaan. Bagi bagi tugas. Sampai gotong royong mempersiapkan aulapun tidak ada respon dari kedua lembaga, whdi dan pasraman. Beberapa kali saya share ulang di grup. Satupun tidak ada yang menanggapi undangan saya. Saya sampai berpikir, apakah undangan saya ini salah? Bagaimana kalau saya buat pengumuman ngajak ngelawar? Akan sama kah?
Akankah kejadian tgl 18 nopember 2019 terulang lagi? Saya agak pesimis. Waktu itu adalah perayaan ultah Baba di Pasraman, pinjem ruangan aula. Sudah diplankan dan sengaja disediakan prasadam/ makan siang untuk umat dan siswa pasraman. 200 pax. Tiba-tiba dibuat pengumuman bahwa pasraman diliburkan. Tentu saja makanan mubasir. Ini ulah siapa? Kenapa tidak bicara terus terang apa maksud dibalik semua itu. Kan seharusnya pihak penyelenggara tidak perlu menyediakan makanan sebanyak itu.
Di tanggal 16 juni saya cross check bhakta yang lainnya. Ok tidak ada masalah. Saya bersama istri mempersiapkan makanan 200 pax. Ditambah 45 porsi dari catering vegy. Pikiran terus was was apakah umat bakalan hadir 200 orang. Ya pasrah saja. Dan berdoa kepada Baba.
Syukurlah kendaraan berjejer di areal pura agung, berarti umat cukup ramai yang datang. Sedikit lega.
Jam 9.30 rombongan bhakta Singapore datang dengan dua bus. Ada 50 orang dalam  rombongan. Mereka breafing terlebih dahulu dan doa bersama. Situasi terasa sedikit crowded. Kemudian satu persatu masuk ke ruang pemeriksaan. Saya perhatikan pemeriksaannya termasuk professional. Cukup lengkap.
Disediakan prasadam 200 pax untuk umat. Hamper habis. Tersisa sekitar 10 bungkus.
Beberapa yang disebut tokoh umat tidak tampak hadir. Mungkin belum bangun atau ada kesibukan lain atau memang anti dengan kegiatan yang berbau aneh baginya.
Entahlah.

Sabtu, 15 Juni 2019

Hidup islam, mati Hindu

untuk kesekian kalinya, hal serupa terjadi lagi. ada orang bali yang dikabarkan meninggal di batam. tentu saling bertanya siapa gerangan orangnya yang tidak pernah selama ini bertegur sapa atau berjumpa sekalipun.
photonya pun di share ke grup umat hindu kepri. sekilas info katanya masih hindu. lha tapi kok ndak ada yang kenal.
saat itu lagi ada pemakaman bayi yang meninggal dalam kandungan padahal sudah berumur 7 bulan kandungan. orang tuanya bernama wayan budi dan istrinya ibu erni. jro mangku Putu Satriayasa menerima telpon dari Bali, mengabarkan kalau ada orang bali meninggal di Batam. Kasak kusuklah umat yang hadir di kuburan saat itu. Oo ternyata ada yang kenal. dulu pernah kerja di Batam View hotel, termasuk orang bali pertama di Batam yang kerja di hotel.
info lebih jauh, yang meninggal itu dulunya sudah masu islam ikut istri, namun sudah cerai. punya 3 orang anak. sempat sukses selama kerja, sudah menjabat GM. pernah tinggal di Kijang. karena cerai dia tinggal sendirian di perumahan Oma batam center namun tidak pernah berinteraksi dengan umat hindu di kepri.
Penjajagan dilakukan oleh para pemuka umat, menggali info sebanyak banyaknya. dapat kabar dari keluarganya di bali bahwa almarhum adalah hindu, dulu istrinya disudi wedani di bali dan sempat minta buku buku hindu. keluarganya ini minta umat hindu di batam membantu mengkremasi jenasah secepatnya. bila perlu malam itu. ini cerita versi keluarganya di bali.
Versi kedua datang dari mantan istrinya yang diundang ke batam. menurut antan istrinya, sewaktu nikah si almarhum masuk islam ikut istrinya. barangkali bagi si almarhum ini tidak lah penting. setelah nikah pergilah ke bali, si suami tidak menjelaskan ke istrinya apakah itu pernikahan atau bukan. Istrinya cuman tau itu sekedar ramai adat budaya. ktp si almarhum dan kartu keluarga semua tertera hindu. Istri almarhu sepakat mantan suaminya diselesaikan secara hindu - di kremasi seperti permintaan kelaurganya di bali.
Para tokoh umat dan Jero Mangku sepakat membantu menyelesaikan almarhum untuk dikremasi. dengan catatan ada pihak keluarga yang datang ke batam.
Ibu-ibu nya sibuk mejejahitan di Pura. Jenasah masih di Rumah Sakit bhayangkara.
Dua orang anggota keluarganya yaitu Kakak almarhum dan anaknya tiba di batam hari Rabu 12 juni'19 malam. sekalian pertemuan di rumah umat yang sedang ada acara di batam center.
Kremasi dilaksanakan di krematorium milik Budha di Sembau Nongsa kamis 13 juni'19. memerlukan waktu 8 jam ditambah 4 jam pendinginan agar jenasah menjadi abu.
keesokan harinya hari jumat, abu jenasah di hanyut ke laut.