Rabu, 11 Desember 2019

TANGKIL KE PURA MANDARA GIRI SEMERU AGUNG

Sehari sebelum kembali ke Batam saya berkesempatan ‘tangkil’ yang bahasa gampangnya adalah sembahyang, ke Pura Mandara Giri Semeru di Lumajang Jawa Timur. Menempuh perjalanan yang sangat jauh. Melewati Tol arah Probolinggo. Saya yang tidak tahu arah jalan harus dipandu oleh abang (kakak laki-laki) yang duduk di samping saya. Harus rajin ngasi komando, kiri, kanan, lurus, berhenti, dsb. Jika tidak ingin tersesat atau kebablasan.

Berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi. Itupun harus saya kejar-kejar karena pada malas-malasan. Antara jadi ke Lumajang atau ke tujuan lain. Saya putuskan, ke Lumajang. Ini semacam bayar kaul. Dulu sempat berjanji jika anak saya lulus kuliah, saya akan tangkil ke pura terbesar di Jawa Timur yaitu di Lumajang.

Sesekali saya ngobrol dengan kakak saya yang duduk disamping kemudi. Untuk mengurangi rasa ngantuk. Sementara kedua anak saya, istri dan ipar duduk di jok belakang dan tertidur. Karena ngobrol sesekali itulah sempat sekali kelewatan di tol pandaan. Harusnya belok kiri. Tapi tidak sempat baca plang arah tujuan. Terpaksa harus kluar tol terdekat dan muter lagi. Ternyata muternya tidak terlalu jauh. Inilah hebatnya perancang jalan tol. Mungkin sudah dipikirkan bagaimana mengantisipasi orang salah jalan.

Tiba di Lumajang sekitar jam 12 siang. Kaki saya lumayan kaku. Inilah resiko nyetir mobil manual. Apalagi di daerah yang macet.

Perut sudah mulai keroncongan. Tapi ditahan saja dulu. Toh belum ada yang komplin karena lapar.
Saya teringat Pura di Gunung Salak Bogor.  Lokasi pura sama-sama disebelah kanan tanjakan jalan. Arsitekturnya sedikit beda. Yang ini memadukan arsitektur bali dan Jawa timur. Memasuki jaba sisi, ada bangunan lumayan besar, cukup tinggi dari pondasinya. Ya style Bali. Kalau di Bali namanya Wantilan. Biasanya untuk pentas seni. Saya naik ke wantilan, banyak pengunjung yang duduk duduk bahkan tidur-tiduran. Mungkin terasa nyaman karena lantainya adem.Ternyata ini masih daerah untuk umum. Melihat dari pakaiannya, bisa dipastikan bukan orang hendak sembahyang.

Dari tatanan tri mandala, daerah ini adalah nisata mandala/ jaba sisi. Dimana aktifitas social ekonomi masih berlangsung. Istri saya membeli sarana sembahyang berupa canang di daerah ini. Kebetulan ada ibu-ibu yang menawarkan canang. Ternyata canang dihargai sukarela.

Kemudian naik ke mandala utama pelataran tempat sembahyang. Disamping tangga naik ada tulisan DILARANG MASUK KECUALI SEMBAHYANG. Istri saya menyiapkan saranya sembahyang dan aturan. Lapor ke Jro Mangku yang bertugas saat itu. Kami duduk agak jauh dari tempat Jro Mangku Mepuja cari tempat teduh. Cuaca sangat panas.

Ternyata saya salah. Saya pikir pura ini rame oleh pendatang yang hendak sembahyang. Ternyata sepi. Apalagi hari minggu, yang kalau di Batam hari minggu adalah hari sekolah minggu bagi anak-anak pasraman.

Sambil menuju parkiran saya keliling dan tengok kiri kanan sambil ambil beberapa photo. Lingkungannya cukup asri. Disisi kiri ada bangunan seperti penginapan. Ada toilet/ kamar mandi.